Home / Headline / Penyelidikan Hercules Tak Harus Diumumkan

Penyelidikan Hercules Tak Harus Diumumkan

Peristiwa jatuhnya pesawat Hercules di Jalan Jamin Ginting Padang Bulan Medan, Selasa (30/6). Sebagian dari korban adalah warga sipil, yang disebutkan merupakan anggota keluarga TNI AU.(Foto:LintasMedan/BBC) M

Jakarta, 1/7 (LintasMedan) – TNI Angkatan Udara sudah membentuk pantia penyelidik kecelakaan pesawat Hercules yang menewaskan lebih dari 100 orang, namun tak berkewajiban untuk mengumumkan hasilnya.

“Kami akan langsung melakukan evaluasi dan penyelidikan,” kata Juru Bicara TNI AU, Marsma Dwi Badarmanto, Rabu.

Hal itu akan dilakukan oleh panitia yang merupakan organisasi di TNI AU untuk penyelidikan jika terjadi insiden seperti ini. Namun hasilnya belum tentu akan diumumkan.

“Tergantung situasinya nanti, karena ini menyangkut kepentingan militer,” papar Badarmanto.

Sebelumnya, TNI AU memang tidak pernah mengumumkan hasil penyelidikan atas kecelakaan-kecelakaan yang menimpa pesawat-pesawat TNI karena menyangkut rahasia militer.

Salah satu kecelakaan pesawat TNI AU yang paling banyak menelan korban jiwa, terjadi pada pesawat jenis Hercules C-130, yang jatuh di sekitar Magetan, Jawa Timur, pada 20 Mei 2009.

Hasil penyelidikan atas kecelakaan yang menewaskan 100 korban -termasuk dua warga sipil di darat- itu sampai sekarang tidak diumumkan.

Sebagian dari korban adalah warga sipil, yang disebutkan merupakan anggota keluarga TNI AU.

Menurut Kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Tatang Kurniadi, hal itu memang prosedur yang normal di seluruh dunia. Baik dalam hal pembentukan panitia penyelidik sendiri, maupun ihwal tak diumumkannya hasil penyelidikan.

“Mereka tak punya kewajiban mengumumkan, karena terkait pertimbangan rahasia militer dan keamanan nasional. Hasil penyelidikannya bersifat konfidensial, yang hanya diserahkan kepada, misalnya KSAU, dan pihak pembuat pesawat,” kata Tatang Kurniadi.

“Berbeda dengan hasil penyelidikan KNKPT yang saya pimpin, untuk penerbangan sipil. Karena terkait dengan para penumpang yang membeli karcis,” tegas Tatang Kurniadi.

Pihak lain yang bisa mendapat hasil penyelidikan itu, misalnya presiden, panglima TNI, juga kalangan DPR bidang pertahanan.

Ini dibenarkan TB Hasanudin, Ketua Komisi I DPR, yang sudah beberapa periode duduk di komisi yang membidangi pertahanan. Namun dia mendengar penyebab kecelakaan selama ini adalah mesin.

“Hasil-hasil penyelidikan kecelakaan pesawat militer selama ini menunjukkan, penyebabnya adalah mesin,” kata TB Hasanudin.

Jadi masalahnya ada di perawatan, atau di kondisi mesin itu sendiri.

Ia menunjuk pada fakta bahwa sebagian besar pesawat TNI AU sudah cukup tua. Pesawat Hercules yang jatuh di Medan (30/06) buatan tahun 1964. Dan faktor usia itu terkait juga dengan kelaikan terbang.(LMC/BBC)

About Lintas Medan

Comments are closed.

Scroll To Top