Home / Hukum / Polisi Dinilai Lambat Tangani Kasus Gas Oplosan

Polisi Dinilai Lambat Tangani Kasus Gas Oplosan

Sutrisno Pangaribuan (Foto:LintasMedan/irma)

Sutrisno Pangaribuan (Foto:LintasMedan/irma)

Medan, 20/9 (LintasMedan) – Aparat kepolisian di Sumatera Utara dinilai lambat dalam menangani kasus penggerebekan gudang yang diduga tempat pengoplosan gas Elpiji di kawasan Jalan Ring Road Pasar III Tanjung Sari, Medan Selayang.

Apalagi hingga saat ini, aparat hukum tersebut terkesan menutup-nutupi siapa aktor intelektual di balik tindakan melawan hukum dan meresahkan masyarakat itu.

“Masyarakat merasa tidak puas dengan kinerja polisi terkait kasus ini,” ujar anggota Komisi A DPRD Sumut Sutrisno Pangaribuan menjawab pers di Medan, Minggu.

Politisi PDI-P itu menilai pengoplosan gas merupakan kejahatan luar biasa yang berimbas kepada kerugian masyarakat bahkan dampaknya cukup besar bagi stabilitas keamanan.

Menurut Sutrisno dari hasil pengamatannya di lapangan, cenderung ada dua nilai kejahatan yang dilakukan oleh pihak pengoplos gas, yakni sengaja memindahkan gas bersubsidi menjadi non subsidi.

Kejahatan ke dua, pelaku tidak memindahkan seluruh isi gas 3 Kg ke tabung non subsidi, namun hanya mengurangi sebagian isinya.

Setelah isi gas berkurang, maka harga gas 3 Kg tersebut sengaja dijual murah di pasaran, sehingga masyarakat menganggap harganya sudah stabil dari kondisi sebelumnya dimana harga gas subsidi melonjak dan susah diperoleh.

“Warga tidak tahu kalau gas yang berada dalam tabung miliknya sudah berkurang dan mereka menjadi korban penipuan,” papar politisi muda yang dikenal vokal ini.

Lambatnya aparat mengungkap kasus ini, sekaligus menimbulkan dugaan polisi sengaja memberi kesempatan kepada aktor utamanya untuk menghilangkan jejak maupun bukti-bukti keterlibatan oknum tersebut.

“Aneh, jika polisi mengaku tidak tahu siapa pemilik perusahaan pemasok gas oplosan ke gudang yang mereka grebek dan masih terus melakukan penyelidikan,” cetus Sutrisno.

Sebagai wakil rakyat yang menangani persoalan hukum, dia menegaskan akan terus mengawal kasus ini dan segera menyurati Kementerian Hukum dan HAM guna mempertanyakan siapa pemilik perusahaan pemasok gas tersebut.

Menurut Sutrisno tidak sulit bagi dewan mempertanyakan nama pemilik PT PT Gas Antar Santara yang beralamat di Jalan Jala, Rengas Pulau, Medan Marelan, yang disebut-sebut sebagai perusahaan pengoplos gas.

“Mungkin saja pemilik perusahaan usai kejadian langsung mengubah nama melalui akte notaris, tapi
kalau dalam SK Menkumham kan tidak semudah itu,” kata Sutrisno.

Menurut Sutrisno dalam menangani kasus ‘mafia’ Migas ini tidak lagi bisa dilakukan setingkat Polsek Medan Sunggal, dia berharap Polda Sumut segera mengambil alih persoalan itu hingga selesai dan terang benderang.(LMC-02 )

About Lintas Medan

Kelvin Benjamin Jersey