Home / Advetorial / Jadikan Medan Kota Kopi Indonesia

Jadikan Medan Kota Kopi Indonesia

Nota Kesepakatan Bersama ( MOU ) antara TFR Consultant Management yang dipimpin Tondi Rangkuti dan Major Management yang dipimpin Putra GT , ingin menjadikan Medan Kota kopi. (Foto:lintasMedan/ist)

Pada 6 Juni 2016, di Barn Kupie Jln. Gagak Hitam/ Ring Road No. 11 – 12 Medan dilakukan Nota Kesepakatan Bersama ( MOU ) antara TFR Consultant Management yang dipimpin Tondi Rangkuti dan Major Management yang dipimpin Putra GT dalam rangka membentuk kolaborasi dan sinergi antar dua Perusahaan yang berlainan bidang.

Nota kesepakatan bersama ini bermuara kepada visi bersama antar kedua pimpinan yaitu ‘menjadikan Medan sebagai Kota Kopi Indonesia.

Ketika dimintai penjelasan tentang jargon ini, Bung Tondi panggilan akrab pimpinan TFR Consultant Management menyatakan bahwa Medan sebagai Kota Kopi Indonesia bukan berarti Medan adalah Kota Produsen Kopi atau bukan sebagai Hulu dari industri Kopi. Tapi Medan sebagai Hilir dari industri Kopi atau Trend Setter dari penikmat kopi Indonesia.

Tondi FR menambahkan Provinsi Aceh, Sumatera Utara dan Pulau Sulawesi tidak dapat dipungkiri sebagai pusat Hulu atau Perkebunan Kopi di Indonesia, dan sudah sangat terkenal di Mancanegara. Sebut saja seperti Kopi Gayo, Solong, Sidikalang dan lainnya. Sementara Medan yang memiliki pelabuhan Belawan merupakan tempat pengiriman Kopi dan Komoditas lain sekaligus tempat transit dari produk Kopi.

“Keunggulan Aceh dan Sumatera Utara dalam produksi Kopi berkualitas tinggi membuat tumbuh menjamurnya sejumlah cafe di Kota Medan dengan produk utama minuman berbahan dasar kopi,” kata Putra GT.

Fenomena tersebut bahkan telah berlangsung selama lima tahun belakangan ini.

Namun tak dapat dipungkiri bahwa seiring banyaknya café – café yang muncul menjamur dan dengan cepat juga satu persatu colaps.

“Banyak orang atau pebisnis yang berfikir menjalankan sebuah café itu mudah dan atau seperti membuka kedai Nasi. Padahal mengelola restaurant lebih rumit ketimbang mengelola Hyper Mart,”katanya.

Sebab, kata dia café dan restaurant modern adalah menjual makanan dan minuman yang memiliki nilai tambah dengan bahan baku dasar yang juga produk makanan minuman.
Kemudian bagaimana memberikan pelayanan terbaik serta meletakkan nilai tambah dalam pelayanannya.

“Untuk itu dibutuhkan satu management modern dalam pengelolaan café dan restaurant. Tidak bisa mengabaikan satu lini pun dari bidang management”, ujarnya.

Atas dasar keunggulan dan kelemahan inilah kemudian TFR Consultant Management dan Major Management bersepakat untuk bekerjasama. Setelah melakukan analisis SWOT sedemikian rupa maka kedua perusahaan menangkap peluang besar dan berniat untuk mengembangkan Medan menjadi industri retails penikmat Kopi Indonesia.

Putra GT mengatakan Cafétaria adalah produsen makanan minuman, diasumsikan sebagai produk primer. Tapi dalam bentuk pemasarannya haruslah dengan perspektif produk tertier. Yang mana customer-nya menginginkan nilai tambah.

“Seluruh aspek yang merupakan pendorong demand para tamu untuk hadir di suatu café haruslah diakomodir pengelola, sejauh yang mereka mampu” katanya.

Dua perusahaan ini yakni TFR Consultant Management dan Major Management adalah ingin menyatukan Core Advantage yang dimiliki kedua perusahaan untuk menggarap secara bersama seluruh bidang stakeholder dalam industri jasa tertier. Seperti Cafetaria, Production House, Event Organizing. Sehingga Medan ke depannya memiliki industri Jasa yang modern dan professional hingga ke depannya dapat menjadi icon atau trend setter yang sesuai dengan jargonnya – Medan Kota Kopi Indonesia.

Ini telah mulai direalisir kedua pihak dengan menggarap beberapa event Bulan Ramadhan yang menarik untuk salah satu client dari TFR Consultant Management – Cafe Barn Kupie yang ada di seputaran ring road Medan.(rel)

About Lintas Medan

Comments are closed.

Scroll To Top