Home / Hukum / Mahasiswa: Usut Dalang Premanisme di Kampus UIN

Mahasiswa: Usut Dalang Premanisme di Kampus UIN

Mahasiswa UIN Sumut saat memberi keterangan, Jumat (25/11) mengenai ‘insiden berdarah’ di kampus mereka saat menggelar unjukrasa di lokasi itu baru-baru ini.(Foto:LintasMedan/ist)

Medan, 25/11 (LintasMedan) – Kalangan mahasiswa di Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara mendesak aparat kepolisian setempat segera bertindak dan mengusut tuntas aksi sejumlah massa diduga preman yang menyerang saat berlangsung unjuk rasa mahasiswa di kampus tersebut, baru-baru ini.

“Kami yakin bentrok mahasiswa ditunggangi sejumlah preman. Mereka tiba-tiba ramai di luar pagar kampus dan menyerbu ke dalam membawa senjata tajam dan sebagian bertato,” kata mahasiswa UIN Sandia, Jumat yang mengaku melihat penganiayaan yang dilakukan kepada sejumlah rekannya.

Akibat peristiwa itu, sedikitnya belasan mahasiswa UIN terluka dan sebagian mengalami kritis masih dirawat di rumah sakit Haji Medan.

Muhammad Tohir Munthe salah seorang mahasiswa korban pemukulan kepada wartawan mengatakan, peristiwa berdarah di kampus UIN bermula dari lanjutan turnamen futsal yang digelar oleh rekannya Alamsyah Toyyib Hasibuan yang juga Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (SEMA FITK) UIN, Sabtu (19/11).

Ketika pertandingan sedang berlangsung salah seorang pegawai rektorat berinisial ‘H’ minta untuk segera dihentikan karena lapangan akan dipakai untuk persiapan acara reunian para pegawai biro, Minggu.

Namun, saat itu Alamsyah memohon untuk bersabar karena pertandingan masih berlangsung.

“Rekan kita Alamsyah minta waktu 10 menit untuk menyelesaikan pertandingan. Namun pegawai tersebut malah emosi, memukul dan mencekik serta menyandarkannya ke dinding dengan tudingan melawan,” beber Tohir.

Akibatnya Alamsyah mengalami luka lembam dan korban dibawa kerumah sakit, kemudian melaporkan penganiayaan itu ke Polsek Percut Sei Tuan.

Masalah itu berlanjut, Senin (21/11) dengan aksi damai mahasiswa mengatasnamakan Aliansi Lembaga Mahasiswa Cinta Damai Kampus dan Kesatuan Mahasiswa Anti Kekerasan UIN SU.

Mereka berdemo di depan kantor Rektorat meminta oknum pegawai “H” bertanggungjawab dengan penganiayaan yang dilakukannya kepada Alamsyah.

Diduga ingin melakukan pembelaan kepada pegawai Rektorat H, sejumlah mahasiswa UIN lainnya mengatasnamakan Satuan Mahasiswa Pemuda Pancasila (Satma-PP) justru menyerang dan memukuli Muhammad Tohir Munthe yang ketika itu sedang bersama dengan Alamsyah di kantin Fakultas Dakwah.

“Saat unjukrasa berlangsung kami berdua berada di kantin Fakultas Dakwah, tiba-tiba diserang dari belakang dan dipukuli,” katanya.

Beruntung keduanya diselamatkan salah seorang dosen dan diamankan di kantor Fakultas Tarbiyah. Alamsyah yang kembali menjadi korban mengalami luka robek di telinga dan memar di wajah, begitu juga Tohir.

Aksi damai mahasiswa di depan kantor Rektorat pun berubah menjadi huru hara dan rintihan kesakitan, karena mahasiswa Satma PP berupaya membubarkan aksi tersebut dengan kekerasan dan membawa senjata tajam yang melukai beberapa mahasiswa.

“Sempat terjadi baku hantam, bahkan ada yang kepalanya kena cangkul dan kini masih dirawat di rumah sakit,” kata Tohir yang ketika itu juga dibawa oleh rekan-rekannya ke rumah sakit bersama Alamsyah.

Perseteruan dua kubu mahasiswa UIN ini kemudian coba dilerai pihak rektorat hingga massa yang berdemo pun membubarkan diri.

Sayangnya setelah massa bubar tidak berapa lama kembali terdengar jerit dan tangis akibat sejumlah massa dari luar pagar yang berbaur dengan mahasiswa menyerbu masuk dan kembali melakukan penyerangan secara membabi buta .

“Banyak mahasiswa yang menjadi korban dan bersimbah darah,” kata Tohir didampingi Ketua Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Medan, Muhammad Ali Hanafiah Ba’amar, Sekretaris Dian Suhandary dan pengurus IKA PMII H Fadly Yasir saat memberi keterangan kepada wartawan di Masjid Ulul Albab Kampus UIN Jalan Sutomo Medan.

Disebutkannya, sejumlah rekannya yang masih dirawat antara lain, Wira (mahasiswa Fak Syariah) mengalami patah lengan, Gadesa, M Yusuf, Ari Ananda dan lainnya.

“Bahkan korban lainnya Jhony Sandri Ginting mahasiswa Fak Syariah juga dihadang dan pukuli di depan gerbang kampus saat ingin membawa Wira ke rumah sakit. Perlakuan ini sungguh sangat biadab dan tidak berprikemanusiaan,” sesalnya.

Peristiwa tersebut sudah dilaporkan ke pihak kepolisian, bahkan menurut mereka beberapa aparat berseragam juga berada di lokasi saat insiden penyerangan berlangsung, namun karena jumlah personil yang sedikit mereka tak mampu berbuat banyak untuk menghadang ratusan massa. (LMC-02)

About Lintas Medan

Comments are closed.

Scroll To Top