Home / Feature / 21 Tahun PTPN IV, Membangun Industri Hilir yang Berdaya Saing Demi Kesejahteraan Rakyat

21 Tahun PTPN IV, Membangun Industri Hilir yang Berdaya Saing Demi Kesejahteraan Rakyat

Oleh Irma Yuni

(Foto: Ilustrasi)

Medan, 3/3 (LintasMedan) – Sektor bisnis PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV dengan didukung pertumbuhan industri hilir sawit yang tangguh dan berkelanjutan, diprediksi berpeluang menarik minat investor ketika kelak badan usaha milik negara (BUMN) ini “listing” di Bursa Efek Indonesia .

Suntikan dana yang diperoleh melalui mekanisme penawaran umum atau go public tersebut  tentunya akan semakin memperkuat posisi keuangan perusahaan perkebunan yang didirikan pada 11 Maret 1996 itu  untuk mengembangkan usahanya secara maksimal, tanpa harus menunggu kucuran dana dari Pemerintah melalui APBN.

Bahkan dana yang diperoleh dari penjualan sebagian saham akan memacu perusahaan perkebunan tersebut untuk melakukan diversifikasi usaha berbasis hasil perkebunan.

Sebab, peningkatan nilai tambah dari produk-produk perkebunan tersebut dipastikan sangat efektif dan efisien mendorong pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan kerja, dan menjamin kesinambungan produksi dalam jangka panjang.

Tujuan lain yang tidak kalah pentingnya adalah agar BUMN perkebunan yang memiliki puluhan unit usaha di sembilan kabupaten di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) itu dapat memperbaiki kinerja, tata kelola serta beroperasi lebih transparan dan profesional.

Untuk memperoleh sumber pendanaan alternatif itu, PTPN IV yang bernaung di bawah manajemen PTPN III Holding Company, menargetkan dapat menawarkan saham perdana (initial public offering/IPO) pada semester I tahun 2018.

Pada dasarnya, ada dua keuntungan yang diperoleh investor dengan membeli atau memiliki saham:

1. Dividen
Dividen merupakan pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan dan berasal dari keuntungan yang dihasilkan perusahaan. Dividen diberikan setelah mendapat persetujuan dari pemegang saham dalam rapat umum pemegang sahan (RUPS).

2. Capital Gain
Capital Gain merupakan selisih antara harga beli dan harga jual. Capital gain terbentuk dengan adanya aktivitas perdagangan saham di pasar sekunder. Misalnya Investor membeli saham ABC dengan harga per saham Rp 3.000 kemudian menjualnya dengan harga Rp 3.500 per saham yang berarti pemodal tersebut mendapatkan capital gain sebesar Rp 500 untuk setiap saham yang dijualnya.

Penawaran saham perdana ke publik merupakan keputusan strategis. Selain memenuhi kebutuhan modal IPO, juga merupakan proses transformasi manajerial dari perusahaan yang bersifat tertutup menjadi perusahaan terbuka.

Transformasi manajerial merupakan komitmen untuk pengelolaan perusahaan agar lebih transparan, akuntabel dan independen. Tidak saja berorientasi pada pengembangan usaha, transformasi juga memiliki misi lain yaitu peningkatan kontribusi bagi negara dan kesejahteraan rakyat.

Manajemen berkeinginan kuat agar setelah IPO, saham PTPN IV bertahan bagus terus dan diminati masyarakat.

Keinginan tersebut patut dinilai sebagai hal yang wajar, karena tahun 2016 kinerja PTPN IV semakin membaik dengan perolehan laba sebesar Rp572 miliar lebih dan tahun 2017 ditargetkan naik minimal 25 persen.

Dalam upaya meningkatkan pendapatan, perusahaan juga melakukan efisiensi secara terus menerus dalam segala bidang.

Sekadar diketahui, PT Perkebunan IV bergerak di bidang usaha agroindustri. Yakni, mengusahakan perkebunan dan pengolahan komuditas kelapa sawit dan teh yang mencakup pengolahan areal dan tanaman, kebun bibit, dan pemeliharaan tanaman menghasilkan, pengolahan komoditas menjadi bahan baku berbagai industri, pemasaran komuditas yang dihasilkan dan kegiatan mendukung lainnya.

Dengan terus berkembangnya industri kelapa sawit, PTPN IV merencanakan untuk mengembangkan industri hilir kelapa sawit dengan memproduksi minyak goreng bekerjasama dengan salah satu mitra bisnis BUMN yang strategis di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangke.

Selain itu Perseroan juga sedang membangun Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBG) dengan kapasitas terpasang 2 x 1.000 KWH di Mandoge dan Bah Jambi, Kabupaten Simalungun.

Perseroan juga telah melakukan ekspansi bisnis untuk perluasan kebun kelapa sawit ke Sulawesi dan Aceh melalui anak perusahaan PT Agro Sinergi Nusantara dan PT Sinergi Perkebunan Nusantara.

Memasuki usia 21 tahun, PTPN IV berkomitmen untuk terus mengembangkan industri hilir yang memiliki daya saing kuat.

Sebagai perusahaan perkebunan, PTPN IV berkomitmen ingin menjadi perusahaan agribisnis yang berdaya saing tinggi, tumbuh dan berkembang bersama masyarakat secara berkelanjutan serta mengembangkan sistem perekonomian yang ramah lingkungan.

PTPN IV bersama masyarakat akan berusaha untuk menghasilkan produk dan jasa bidang kelapa sawit, teh, industri hilir dan bidang usaha yang lainnya secera efesian dan bermutu tinggi.

Di bidang usaha inti (core business), PTPN IV yakin minyak sawit dan turunannya (derived product) memiliki prospek pasar yang semakin cerah ke depan.

Apalagi, Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian berkomitmen menumbuhkan industri pengolahan kelapa sawit di dalam negeri sebagai pelaksanaan kebijakan nasional hilirisasi di sektor agro.

Pasalnya, sektor ini memberikan sumbangan besar bagi perekonomian nasional melalui peningkatan nilai tambah, kinerja nilai ekspor, penyerapan tenaga kerja, pemerataan kesejahteraan masyarakat, dan kontribusi pada penerimaan negara.

Peluang pasar itu disikapi Direktur Utama PTPN IV Dasuki Amsir beserta segenap jajarannya dengan merealisasikan sejumlah program dan kebijakan strategis, diantaranya replanting kelapa sawit hingga empat persen setiap tahun.

PTPN IV memiliki perkebunan kelapa sawit dan pabrik kelapa sawit, baik milik induk maupun anak perusahaan berserta plasma binaan, yang mampu menghasilkan sekitar satu juta ton CPO per tahun.

Membaiknya kinerja usaha PTPN IV selama hampir lima tahun terakhir, berkaitan erat dengan peningkatan produktivitas tandan buah segar (TBS) sawit hingga mencapai 21,50 ton per hektare (Ha) dengan komposisi grade I sebesar 70 persen.

Sementara volume produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) PTPN IV pada 2016 naik dari 4,8 ton per/Ha menjadi 5,1 ton/Ha. Sedangkan, produktivitas teh rata-rata 2,50 ton per/Ha.

Ilustrasi: Area perkebunan teh milik PTPN IV di Kabupaten Simalungun, Sumut. (Foto: LintasMedan/ist)

Sawit mendominasi

PTPN IV meyakini bahwa peningkatan produktivitas TBS dan produk turunan sawit memegang peran penting dalam mendongkrak pendapatan perusahaan, karena tanaman sawit masih mendominasi areal perkebunan perusahaan tersebut.

Di satu sisi, optimisme itu cukup rasional jika dikaitkan dengan besarnya manfaat dari produk CPO yang turut memperkokoh posisi kelapa sawit di tengah kebutuhan antar minyak dan lemak nabati yang semakin tinggi.

Sedangkan di sisi lain, industri kelapa sawit mempunyai rantai bisnis yang cukup panjang dan terkait satu sama lainnya.

Jejaring yang membentuk sebuah sistem ini akan melibatkan banyak pemain atau pihak yang berkepentingan. Mulai dari penyiapan lahan, pembibitan, industri penunjang, pengolahan di industri hulu sampai pada industri hilir.

Menurut data Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), peningkatan produksi CPO PTPN IV hingga mencapai 5,1 ton/Ha berada di atas rata-rata produksi nasional yang saat ini masih berkisar antara 3,6 hingga 3,7 ton/Ha.

Namun demikian, angka itu masih dapat ditingkatkan karena secara potensial menurut penelitian kebun-kebun sawit di dalam negeri mampu menghasilkan hingga 35 ton TBS/Ha/tahun dengan rendemen 26 persen (oil extration rate) yang berarti 9,1 ton minyak sawit/Ha/tahun.

Berdasarkan catatan Holding Company PTPN III, 95 persen PTPN bergerak pada hulu (upstream) yang didominasi industri kelapa sawit, sehingga yang perlu dikejar dan digenjot adalah dari sisi kapasitas.

Masalahnya, tingkat produktivitas PTPN saat ini baru mencapai rata-rata 18,5 ton per hektare, masih jauh lebih rendah dibanding produktivitas perkebunan swasta yang mencapai 24 ton per hektare.

Untuk mengejar ketertinggalan tersebut perlu dua pekerjaan rumah bagi PTPN, yaitu memperkuat riset dan pengembangan dan menekan rata-rata biaya yang saat ini berkisar 20-35 persen, atau lebih tinggi dibanding biaya perkebunan swasta.

Dalam upaya peningkatan daya saing, BUMN perkebunan perlu mendayagunakan secara optimal sumber daya alam seperti kesuburan tanah, iklim, cadangan plasma-nutfah yang tersedia secara melimpah sebagai nilai tambah keunggulan yang dimiliki Indonesia.

Selain itu, PTPN I hinga XIV yang tergabung di dalam Holding Company PTPN III tanpa terkecuali harus terkoneksi dalam satu jaringan teknologi informasi komunikasi menggunakan solusi skala internasional.

Berdasarkan data dan analisis tersebut, agaknya patut dijadikan acuan bahwa pengembangan sistem pembelajaran dan kreasi pengetahuan merupakan salah satu prasyarat untuk peningkatan daya saing perusahaan-perusahaan publik di sektor perkebunan.

Privatisasi BUMN perkebunan melalui penawaran saham perdana melalui pasar modal merupakan salah satu langkah untuk memperdalam pasar keuangan di dalam negeri yang akhirnya meningkatkan perekonomian nasional.

Khusus mengenai rencana IPO PTPN IV,  menurut penulis BUMN perkebunan ini sudah sepatutnya turut dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat, salah satunya dengan mulai mengizinkan untuk terlibat langsung dalam kepemilikan saham.

Fakta memperlihatkan bahwa perusahaan milik negara yang telah diprivatisasi baik secara langsung melalui pasar modal dan cara lainnya mempunyai hasil kerja yang relatif lebih baik dibandingkan yang masih penuh dikelola dalam birokrasi.

Privatisasi yang dimaksudkan adalah upaya untuk meningkatkan nilai dari perusahaan (value creation) baik dengan meningkatkan ‘leverage’ aset yang dimiliki dan/atau dengan melibatkan pihak
swasta dalam pemilikan BUMN.

Satu hal lagi yang patut dicermati bahwa privatisasi tidak identik dengan pemutusan hubungan kerja massal, tetapi justru di Indonesia selama ini berkaitan positif dengan kesejahteraan karyawannya.

Kementerian BUMN menekankan bahwa program IPO harus mendapat dukungan yang solid dari karyawan BUMN sehingga perusahaan negara bisa semakin berhasil.

Dukungan itu bisa diberikan dengan meningkatkan kinerja sehingga skala usaha dan struktur permodalan BUMN semakin kuat.

Sejalan dengan hal itu, perlu pula dikembangkan kebijakan-kebijakan publik yang lebih komprehensif guna mendukung peningkatan daya saing Indonesia di sektor perkebunan.

Hal ini, mengingat pengembangan sawit sejalan dengan program Nawa Cita yang digagas Presiden RI Joko Widodo (Jokowi).

Dalam substansi konsep besar untuk memajukan Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian itu, tersirat bahwa ilmu pengetahuan, pengetahuan dan inovasi menjadi faktor penyelamat untuk mempertahankan bisnis dan usaha perkebunan.

Dengan demikian, kemajuan industri perkebunan dapat dicapai secara berkelanjutan apabila ditunjang oleh lembaga riset yang kuat untuk menghasilkan teknologi dan inovasi yang mendukung.

Tanpa lembaga-lembaga riset serta pengembangan aktivitas pembelajaran dan kreasi pengetahuan secara berkelanjutan, maka BUMN perkebunan akan terus tertinggal dan memiliki posisi tawar lebih rendah.*** (Penulis adalah Wartawati/Redaktur Pelaksana LintasMedan.com).

Catatan: Artikel ini disajikan dalam rangka mengikuti Lomba Karya Tulis “Jurnalistik N4 Award” Tahun 2017 yang digelar PTPN IV.

About Lintas Medan

Comments are closed.

Scroll To Top