Home / Sumut / Ikan Nila Jadi Menu Utama Kuliner di Danau Toba

Ikan Nila Jadi Menu Utama Kuliner di Danau Toba

Warga di sekitaran Danau Toba sedang memanen ikan nila hasil KJA yang kini menjadi mata pencaharian sebagian penduduk setempat baru-baru ini.(Foto:LintasMedan/irma)

Medan, 23/3 (LintasMedan) – Pemerintah berkomitmen untuk terus membudidayakan ikan nila di kawasan obyek wisata Danau Toba Sumatera Utara.

Pasalnya nila merupakan salah satu jenis ikan yang memenuhi syarat dan dikenal secara internasional bisa menjadi menu utama kuliner untuk kawasan wisata itu.

“Selama ini, nila merah dari Danau Toba terkenal memiliki kualitas ekspor khususnya ke Amerika Serikat dan Eropa,” kata kata Staf senior Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Saut Hutagalung, kemarin.

Dia mengatakan bahwa sektor kuliner juga turut menjadi andalan bagi wilayah maupun negara yang dikenal akan obyek wisatanya.

Kuliner yang dihidangkan di restoran-restoran sekitar obyek wisata cenderung menampilkan aneka pangan berbahan baku dari wilayah itu.

“Bisa dipastikan wisatawan manca negara pesan makanan di restoran sekitar Danau Toba tidak mengharapkan menu ikan salmon yang diimpor dari Norwegia atau Chile tetapi justru ikan nila dari Danau Toba yang terkenal di dunia itu,” paparnya.

Saat ini, kata Saut usaha perikanan yang ramah lingkungan harus terus dikembangkan agar sektor tersebut bisa tetap bersinergi dengan pariwisata.

Budidaya ramah lingkungan menurut dia dapat dicapai dengan dua cara yakni budidaya menggunakan pakan alami dan budidaya pakan buatan disertai teknologi pengendalian limbah yang ketat.

Budidaya nila merah dengan pakan alami menggunakan wolfia (Wolffia arhiza) untuk benih ikan sampai ukuran 10 – 12 cm dan lemna (Lemna minor) untuk pembesaran sampai ukuran konsumsi lima ekor per kilogram (kg). “Usaha budidaya rakyat di zonasi yang disediakan Pemerintah sangat cocok menggunakan pakan alami,” ujarnya.

Dikatakannya, keunggulan teknologi pakan alami atau mandiri ini antara lain kedua jenis tumbuhan (monokotil) air ini memiliki kandungan protein antara 30-40% dari berat kering, perkembangbiakan relatif cepat (Lemna dalam 48 jam, Wolfia 36 jam).

Kemudian, menekan signifikan (sekitar 60%) biaya produksi dibandingkan menggunakan pakan buatan (pellet) dan tentu ramah lingkungan.

“Dari uji coba di Boyolali, Jawa Tengah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Budidaya pakan alami dapat dilakukan di darat dan pemberian pakan segar dengan ditebar di keramba tiap hari,” jelasnya.

Sebaliknya kata Saut, budidaya menggunakan pakan buatan (pellet) dengan teknologi pengendalian limbah ketat relatif mahal dan cocok untuk usaha industri bukan usaha rakyat.

Penerapan teknologi meliputi pakan mengapung menurut Saut, lebih lama, formulasi pakan lebih efisien dan kurang senyawa phospor (P), rekayasa genetik ikan, cara pemberian makan lebih efisien (broadcasting) dan penyedotan limbah padat (syphoning).

“Tentu tergantung kebijakan Pemerintah sejauh mana budidaya seperti ini diijinkan beroperasi sepanjang memenuhi persyaratan ketat yang ditentukan,” kata Saut.

Pengembangan usaha budidaya keramba apung ikan nila merah di Danau Toba menggunakan pakan alami perlu dipertimbangkan. Sebab, selain memanfaatkan potensi perairan yang tidak mengganggu wisata, juga menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat dan dapat memperkaya branding pariwisata Danau Toba dengan menghadirkan menu ikan produksi Danau Toba.(LMC-02)

About Lintas Medan

Kelvin Benjamin Jersey