Home / Headline / Kepala BNN dan Gubernur Sumut Pimpin Pemusnahan Narkoba

Kepala BNN dan Gubernur Sumut Pimpin Pemusnahan Narkoba

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Pol. Budi Waseso (kedua kiri) didampingi Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi (kanan),  memperlihatkan sejumlah barang bukti narkoba yang akan dimusnahkan, di Lapangan Merdeka Medan, Kamis (19/10). (Foto: LintasMedan/ist)

Medan, 19/10 (LintasMedan) – Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) RI Komjen Pol Budi Waseso dan Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Tengku Erry Nuradi memimpin pemusnahan barang bukti narkoba yang terdiri dari 191 kg shabu, 43.450 butir pil ekstasi dan 520 kg ganja, di Lapangan Merdeka Medan, Kamis.

“Narkotika dan Obat-obatan terlarang ini merupakan barang bukti dari hasil tangkapan BNN, Polri, Becukai dan TNI serta masyarakat di wilayah Aceh dan Sumut dalam beberapa bulan terakhir,” kata Budi Waseso saat memberikan keterangan kepada pers sebelum memimpin pemusnahan barang haram tersebut.

Dalam acara pemusnahan tersebut, turut hadir Walikota Medan HT Dzulmi Eldin, Walikota Binjai Muhammad Idaham, Walikota Tebingtinggi Umar Junaidi, Walikota Tanjung Balai M Syahrial, Bupati Karo Terkelin Brahmana dan Bupati Tapsel Syahrul Pasaribu.

Budi Waseso menjelaskan, Sumut dan Aceh termasuk Kepri, Kalbar dan Kaltim termasuk pintu gerbang masuknya narkotika karena berdekatan dengan negara tetangga.

Saat ini, lanjutnya, sebanyak 72 jaringan pengedar narkotika internasional dari 11 negara menjadi pemasok narkoba ke Indonesia.

Dikatakan Budi, Indonesia merupakan salah satu pangsa pasar terbesar dari para pemasok narkoba dan menjadikan negeri ini sebagai laboratorium sebelum melepas produk-produk baru.
“Semua jenis narkotika laku di sini (Indonesia),” kata mantan Direktur Reskrim Polri itu.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa sebagian besar narkotika yang masuk ke Indonesia adalah produk dari China.

Selama tahun 2016, pihaknya memperkirakan ada sekitar 250 ton narkotika asal China yang masuk ke Indonesia.

Selain itu, masuk pula prekusor atau bahan pemula untuk membuat narkotika sebanyak 1.097,6 ton.
“Pada tahun 2016 kita hanya bisa mengamankan 3,4 ton sabu. Sementara yang masuk lebih dari 300 ton sabu dan tidak ada data yang mengatakan bahwa sabu itu keluar dari Indonesia, jadi jumlah sabu sebanyak itu terserap habis. ini memprihatinkan,” ujarnya.

Budi Waseso mengaku semula tidak percaya dengan data yang menyebutkan selama tahun 2016 ada sebanyak 250 ton narkoba jenis sabu-sabu masuk dari China ke Indonesia.

Namun, ia akhirnya mempercayai data tersebut setelah memperoleh dari sumber resmi, yaitu Kementerian Narkotika China.

“Ada empat kepala Kepolisan di negara bagian di China yang juga menyampaikan ke saya, bahwa narkotika jenis sabu sebanyak 250 ton masuk ke Indonesia. Mereka juga mempunyai data produksi dari daerah mana saja sabu-sabu tersebut masuk ke pasar gelap di Indonesia,” katanya.

Selain China, diperkirakan masih ada sekitar 10 negara lain yang juga memasok narkoba ke Indonesia.

Dia menyebutkan bahwa 72 jaringan internasional pengedar narkotika di Indonesia menyisihkan 10 persen dari keuntungan perdagangan narkotika di Indoensia untuk operasi regenerasi pangsa pasar.

“Narkotika berakibat pada kesehatan dan memperpendek usia manusia. Para bandar tahu kalau generasi pangsa pasar yang saat ini akan habis. Maka mereka perlu membuka pangsa pasar berikut, tagetnya anak anak TK, SD, SMP dan nanti berikutnya mereka akan menjad pasar ketika beranjak SMA atau kulah,” paparnya. (LMC-02)

About Lintas Medan

Comments are closed.

Scroll To Top