Home / Luar Negeri / Polisi Cari Motif Pembunuhan Massal Las Vegas

Polisi Cari Motif Pembunuhan Massal Las Vegas

Sejumlah penonton berusaha menyelamatkan diri saat terjadi insiden penembakan di area konser musik countrey Las Vegas, Amerika Serikat, Minggu (1/10) malam waktu setempat. Sedikitnya 53 orang dan ratusan cedera akibat aksi penembakan brutal itu. (Foto: LintasMedan/BBC)

Las Vegas, AS, 3/10 (LintasMedan) – Kepolisian Amerika Serikat (AS) bersama institusi terkait hingga saat ini masih terus mencari motif Stephen Paddock, 64, melepaskan tembakan dari lantai 32 Hotel Mandalay Bay, Las Vegas, AS yang mengakibatkan sedikitnya 58 orang tewas dan 500 orang lebih lainnya cedera dalam konser musik country itu pada Minggu (1/10) malam waktu setempat.

Pascainsiden itu, polisi menemukan 16 senjata di kamar hotel tempat Stephen Paddock menginap, 18 senjata api lain dan bahan peledak di rumahnya di Nevada.

Namun sejauh ini, sejauh ini belum juga ditemukan alasan yang jelas motif pembunuhan massal tersebut.

Pihak penyidik ​​tidak menemukan kaitan Paddock dengan terorisme internasional, meski ada klaim dari apa yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS, yang menyebut Paddock masuk Islam beberapa bulan sebelumnya.

Sementara, Agen Khusus FBI, Aaron Rouse menyimpulkan bahwa penembakan ini tidak ada kaitannya dengan organisasi teroris internasional.

Sejumlah penyelidik menduga Paddock menderita gangguan psikologis, namun belum ada pengukuhan atas dugaan ini.

Sang penembak yang tewas itu juga tidak memiliki catatan kriminal atau kecenderungan politik ekstrem.

Stephen Paddock tinggal di sebuah komunitas warga lanjut usia di Mesquite, sebuah kota kecil timur laut Las Vegas.

Dia dilaporkan tinggal bersama seorang perempuan bernama Marilou Danley -sebuah media Australia menyebutnya warga Australia keturunan Indonesia.

Saat kejadian penembakan, Marilou Danley sedang berada di Jepang dan tampaknya tidak terlibat, demikian kata Sheriff Las Vegas, Joseph Lombardo.

Penembakan yang diyakini dilakukan oleh seorang pria bersenjata, Stephen Paddock tercatat sebagai penembakan massal terbesar dalam sejarah modern Amerika Serikat.

Jumlah korban meninggal dunia melampaui jumlah korban penembakan di kelab malam Florida tahun 2016 yang menyebabkan 49 orang meninggal dunia dan puluhan orang mengalami cedera. (LMC-03/BBC)

About Lintas Medan

Comments are closed.

Scroll To Top