Home / Headline / Walikota Medan Prihatin Angka Perceraian Tinggi

Walikota Medan Prihatin Angka Perceraian Tinggi

Walikota Medan H.T Dzulmi Eldin (kedua kanan) saat menerima kunjungan silaturrahmi Ketua Pengadilan Agama Kelas I Medan, Misran (kanan), di Medan, Rabu (11/4). (Foto: LintasMedan/ist)

Medan, 11/4 (LintasMedan) – Walikota Medan, H.T Dzulmi Eldin mengaku prihatin terhadap tingginya angka perceriaan di ibu kota Provinsi Sumatera Utara itu yang selama tahun 2017 dilaporkan mencapai lebih dari 2.000 kasus.

“Saya sangat prihatin dan merasa miris dengan tingginya angka perceraian di Kota Medan,” katanya saat menerima kunjungan silaturrahmi Kepala Pengadilan Agama Kelas I Medan, Misran beserta staf, di Medan, Rabu (11/4).

Ia menilai, tingginya kasus perceraian di Medan tersebut sudah tergolong luar biasa yang tidak bisa dibiarkan begitu saja.

Karena itu, menurutnya, mutlak diperlukan langkah-langkah dan kepedulian untuk menekan tingginya angka perceraian tersebut.

Dikatakan Eldin, secara psikologus anak akan menjadi korban dari perceraian, termasuk masa depan mereka dikhawatirkan juga ikut terganggu.

“Untuk itu, saya berpesan kepada pasangan suami istri agar berpikir panjang sebelum memutuskan perceraian,” kata Walikota.

Ia juga berharap Pengadilan Agama Kelas I Medan berupaya semaksimal mungkin untuk menekan angka perceraian di kota tersebut.

Sebelum memutuskan perkara perceraian, pihak Pengadilan Agama seyogyanya terlebih dahulu melakukan mediasi.

“Saya berharap mediasi yang dilakukan dapat mengubah keinginan pasangan suami istri yang ingin bercerai menjadi tidak bercerai. Insha Allah dengan mediasi yang baik dilakukan pihak PA, perceraian dapat diatasi,” katanya.

Pada kesempatan itu, Kepala Pengadilan Agama Kelas I Medan, Misran menjelaskan bahwa dari 3.000 kasus yang ditangani instansinya, sekitar 80 persen diantaranya merupakan kasus perceraian.

Sedangkan sisanya 20 persen lagi menyangkut kasus yang lain seperti masalah warisan, harta gono-gini, hak asuh anak serta ekonomi syariah.

Faktor utama penyebab kasus perceraian, antara lain menyangkut masalah ekonomi, kurang bertanggung jawab, adanya pihak ketiga serta adanya campur tangan keluarga. “

“Pemicu utama perceraian yang kita tangani adalah faktor ekonomi. Dari 80 persen kasus perceraian yang kita tangani, lebih 50 persen pemicunya disebabkan karena faktor ekonomi,” paparnya.

Misran menambahkan, pihaknya juga berupaya sekuat tenaga melakukan mediasi dengan pasangan suami istri yang mengajukan gugatan cerai.

Pada saat melakukan mediasi, Pengadilan Agama Kelas I Medan selalu berupaya melibatkan mediator dari kalangan orang-orang terdekat, keluarga dan ulama agar pasangan suami istri berdamai kembali sehingga mengurungkan niat melakukan perceraian. (LMC-04)

About Lintas Medan

Comments are closed.

Scroll To Top