Home / Bisnis / Bisnis Sawit Masih Sangat Cerah

Bisnis Sawit Masih Sangat Cerah

  • Medan, 27/6 (LintasMedan) – Kendati harga Tandan Buah Sawit (TBS) terus berfluktuasi dan cenderung menurun sejak setahun terakhir, kini harga TBS masyarakat (petani) berkisar Rp860 per kg hingga Rp1.010 per kg namun prospek bisnis komoditi “emas hijau” itu masih sangat cerah.

  Kepala Dinas Perkebunan Sumut Hj Herawati kepada wartawan mengatakan hal itu Kamis (27/6) di aula Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Jalan Brigjen Katamso Medan. Dia berbicara usai membuka dialog publik “Diesel 50 dan deklarasi Forum Wartawan Perkebunan (Forwabun) Sumatera Utara” yang diketuai Hendrik Hutabarat dan sekretaris Yoseph Pencawan.

    Hadir dalam kegiatan tersebut GM Bahan Tanaman PPKS Dr Edy Supriyanto  mewakili Dirut PPKS DR Iman Yani Harahap, Bagian Promosi PPKS Muhamad Akmal Agustira, Dosen Senior USU Erwin Masrul Harahap, Syahrial Pulungan dari Dinas Perkebunan Sumut, dan kalangan mahasiswa dari berbagai universitas di Kota Medan. Pembicara peneliti PPKS Cahyono Hermawan dan Asisten Tanaman PTPN IV Muchtar S Sinaga yang juga selaku Ketua DPD Sawitku Masa Depanku (Samade).

     Herawati menjelaskan bisnis cerah kelapa sawit karena penemuan berbagai produk turunan minyak kelapa sawit (CPO) terus dilakukan seperti bodiesel B20, bahan bakar yang bisa dipakai buat kendaraan.

     Ia menyebut kini produksi sawit Indonesia 40 juta ton. Namun jika diterapkan biodiesel B100, di atas B50, maka sawit yang dibutuhkan untuk bahan baku bisa mencapai 50 juta ton. “Itu artinya moratorium untuk perkebunan kelapa sawit perlu dibuka kembali,” kata Herawati.

    Menurutnya, jika produksi sawit bisa digunakan sepenuhnya untuk kebutuhan dalam negeri maka memberikan efek sangat positif bagi peningkatan komoditi itu. Satu sisi industri hilir kelapa sawit terus berkembang dan sawit kita tidak terperangkap dengan kemauan importir khususnya dari negara-negara Eropa yang black campaign (kampanye negatif) tentang sawit yang dianggap merusak lingkungan. Ekspor sawit kita banyak kali sehingga persyaratan RSPO (lingkungan berkelanjutan)  sudah dipenuhi pun, tetap banyak saja permintaan eksportir.

    “Kalau industri hilir sudah dikembangkan maka kita tak perlu ekspor lagi,” terangnya.

    Ia menambahkan saat ini lahan sawit di Sumut seluas 1,3 juta hektar dengan produksi 5 juta ton, menjadikannya nomor 2 terbesar di Indonesia. Untuk meningkatkan produksi itu perlu dilakukan banyak hal karena 50 persen dari luas 1,3 juta ton itu adalah milik petani.

    “Tapi untuk peningkatan sawit banyak hal yang harus disikapi seperti legalitas lahan,” katanya.

      Menurutnya, industri sawit mulai dari hulu hingga hilir saat ini terus dikembangkan oleh pemerintah. Salah satu pengembangan utama yakni menjadikan produk dari sawit sebagai bahan untuk menghasilkan energi seperti produksi biodiesel yang tujuannya mengurangi penggunaan BBM yang bersumber dari fosil.

    “Ada B20 dan sekarang B30 sedang dikembangkan. Bahkan kedepan para ahli juga sedang mengembangkan B50,” ungkapnya.

Jika hal ini berhasil, maka dipastikan sawit Indonesia tidak lagi menggantungkan nilai ekonomisnya dari sisi ekspor CPO. Justru nilai ekonomisnya akan semakin tinggi berkat produk turunan yang dihasilkan.

     “Bahkan jika sudah menerapkan B100 misalnya, tentu sawit kita tidak perlu ekspor lagi. Karena akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan produksi biodiesel di Indonesia. Sehingga tidak perlu lagi tergantung dari aturan-aturan dari negara lain seperti uni eropa yang masih menolak sawit Indonesia,” ujarnya.

     Sementara itu GM Bahan Tanaman PPKS, Edy Supriyanto mengatakan Sumatera Utara menjadi salah satu sentra kelapa sawit yang memegang peran penting dalam meningkatkan produksi sawit. Keberadaan PPKS senantiasa mendukung berbagai upaya pemerintah untuk mewujudkan peningkatan kualitas sawit. Dari sisi keilmuan, PPKS menurutnya memiliki peneliti-peneliti yang sangat kompeten dalam mencari peluang apa saja produk yang dapat dihasilkan sawit.

     “Namun hal itu tidak akan sampai kepada masyarakat jika tidak disosialisasikan. Dalam hal inilah peranan media massa sangat dibutuhkan,” pungkasnya.

                                          Deklarasi Forwabun

     Ketua Forwabun Sumut Hendrik Hutabarat bersama pengurus lainnya mendeklarasikan Forum Wartawan Perkebunan sebelum berlangsung dialog publik Diesel 50.

    Hendrik mengatakan sosialisasi terhadap kelapa sawit mulai dari industri hulu hingga industri hilir menjadi sebuah keniscayaan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang komoditas perkebunan penopang utama ekonomi Indonesia ini.

     “Meski sawit merupakan tanaman yang populer di Sumatera Utara, namun pengetahuan masyarakat tentang seluruh seluk-beluk sawit harus kita akui masih sangat  minim,” katanya.

     Hendrik menjelaskan, masih minimnya pengetahuan masyarakat tentang seluk-beluk sawit ini masih menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan sawit untuk terus menjadi penopang utama ekonomi. Kondisi ini juga bahkan dinilai menjadi bahan kampanye negatif oleh negara-negara asing seperti Uni Eropa untuk melancarkan kampanye hitam tentang sawit.

      “Padahal banyak sekali hal positif dari sawit yang langsung menyentuh kebutuhan kita dalam menjalani kehidupan. Industri hulu hingga hilir sawit seluruhnya menunjukkan bahwa sawit menjadi komoditi utama yang mampu mensejahterakan Indonesia,” ujarnya.(LMC/rel)

About Lintas Medan

Kelvin Benjamin Jersey