Home / Headline / OTG Masih Jadi Dilema Penanganan Covid-19

OTG Masih Jadi Dilema Penanganan Covid-19

Rapat Sosialisasi Perwal No. 27/2020 tentang Pedoman Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) bersama aparatur kecamatan, di Posko Gugus Tugas, Jalan Rotan Medan, Senin (23/11). (Foto:LintasMedan/ist)

Medan, 25/11 (LintasMedan) – Kasus Orang Tanpa Gejala (OTG) terpapar Covid-19 masih terus menjadi pembahasan serius. Pasalnya para OTG yang diharuskan untuk melakukan isolasi mandiri selama 14 hari di rumah justru kerap tak menjalani aturan itu, karena merasa tidak memiliki gangguan kesehatan. Padahal kondisi tersebut bisa menularkan virus kepada oranglain yang tubuhnya lebih rentan dan ini masih menjadi dilema dalam upaya memutus mata rantai virus tersebut.

“Banyak warga yang masuk kategori OTG dan diintruksikan menjalani isolasi mandiri tidak taat aturan. Seharusnya mereka tidak boleh keluar rumah, namun belum sampai 14 hari sebagaimana seharusnya yang bersangkutan sudah berkeliaran yang dikhawatirkan rentan menularkan ke yang lain,” kata Juru Bicara Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Medan Mardohar Tambunan di Posko Gugus Tugas, Jalan Rotan Medan, kemarin.

Untuk itu ia meminta warga juga ikut memantau kasus seperti ini di wilayahnya masing-masing. Apabila ada warga yang masuk kategori OTG, tetapi tidak diikuti gejala seperti demam, batuk dan sesak harus isolasi mandiri di rumah.

Meski demikian kata Mardohar isolasi mandiri harus dilakukan di rumah yang benar-benar layak dan memadai untuk dilakukannya isolasi mandiri.

“Untuk itu, saya minta kepada seluruh jajaran Kecamatan Medan Tembung untuk melakukan pengawasan. Pastikan rumah yang dijadikan tempat isolasi mandiri benar-benar layak. Apabila tidak layak, mereka bisa menjalani isolasi mandiri di Gedung P4TK Jalan Setia Budi, Kecamatan Medan Helvetia dan RS Lions Club di Jalan T Amir Hamzah,” katanya di hadapan jajaran Kecamatan Medan Tembung yang mengikuti Sosialisasi Perwal No. 27/2020 tentang Pedoman Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB).

Mardohar selanjutnya mengungkapkan, jumlah warga yang masuk kategori OTG di Kota Medan saat ini cukup banyak. Umumnya, mereka berusia antara 20-50 tahun dan tidak diikuti gejala sakit sama sekali.

“Ini yang perlu diawasi bersama. Sebab, rentan menularkan virus Corona, terutama kepada anak-anak dan orang yang berusia lanjut. Mencegah terjadinya penularan, mereka harus menjalani isolasi mandiri,” katanya.

Apalagi saat ini, kata Mardohar rumah sakit tidak lagi menangani OTG yang tidak diikuti gejala.

Sementara itu Jojor Simamora dari Dinas Kesehatan (epidemiologi kesehatan muda) berharap para Kepling juga berrgerak secara fleksibel namun tetap dalam aturan yang berlaku dalam memantau warga yang terpapar covid-19.

“Jadi jangan ada lagi yang sering buang badan ketika menangani kasus Covid 19 PD wilayahnya. Karena pada masa pandemi semua harus dipermudah jangan ada yang mempersulit, masyarakat perlu penanganan yang cepat,” papar Jojor.

Kepling kata dia harus mengetahui dengan detail jika ada kasus yang terjadi agar dapat menjadi referensi bagi pimpinan yang lebih tinggi dalam mengambil keputusan secara tepat dan akurat dalam penanganannya. “Saya pesankan Kepling harus memiliki data yang akurat yang nantinya menjadi bagian dari dasar mengambil keputusan bagi pimpinan wilayah yang lebih tinggi seperti lurah dan camat dalam penanganan kasus Covid 19. Kita semua tidak bisa lepas dari tanggung jawab amanah yang diberikan kepada kita, maka bekerjalah dengan ikhlas,” katanya.

Kepling juga harus memberi teguran jika masih ada warga di sekitar lingkungan itu yang berkeliaran tidak menggunakan masker.(LMC/Irma yuni)

About Lintas Medan

Kelvin Benjamin Jersey