Home / Sumut / Tim SAR Temukan Jenazah Wakapolres Labuhanbatu

Tim SAR Temukan Jenazah Wakapolres Labuhanbatu

image_pdfimage_print

Personel Tim SAR gabungan mengevakuasi jenazah Wakapolres Labuhanbatu Kompol Andi Chandra ke Rumah Sakit Umum Daerah Labuhanbatu, di Rantauprapat, Minggu (22/4). (Foto: LintasMedan/ist)

Medan, 22/4 (LintasMedan) – Tim pencarian dan penyelamatan atau SAR gabungan, Minggu, akhirnya menemuka Wakapolres Labuhanbatu Kompol Andi Chandra dalam kondisi meninggal dunia, setelah seharinya sebelumnya dinyatakan hilang dalam musibah kapal boat tenggelam di Sungai Berombang, Kecamatan Panai Hilir, Kabupaten Labuhanbatu, Sumut.

Informasi yang dihimpun lintasmedan.com, jasad Kompol Andi Chandra ditemukan oleh tim gabungan TNI dan Polri sekitar pukul 10.00 WIB dan lokasi penemuannya berada pada jarak sekitar dua kilometer dari lokasi tenggelamnya kapal tersebut.

“Tadi pagi pencarian dilanjutkan, sekitar pukul 10.00 Wakapolres Labuhanbatu Kompol Andi Chandra ditemukan tim gabungan dalam keadaaan meninggal dunia,” kata Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol. Rina Sari Ginting.

Jenazah Andi Chandra selanjutnya dibawa ke Rumah Sakit umum di Rantau Prapat, Labuhanbatu. Dari rumah sakit, jenazah selanjutnya dibawa ke rumah duka di Kota Pematangsiantar.

Andi meninggalkan seorang istri dan dua orang anak yang masih kecil. Istrinya merupakan lulusan Bintara yang saat ini berdinas di Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang, Jawa Tengah.

Andi baru pindah ke Polres Labuhanbatu sejak Januari 2018 lalu. Kedua anaknya masih tinggal bersama ibunya di Semarang.

Kapal yang ditumpangi Kapolres Labuhanbatu AKBP Frido Situmorang dan Andi Chandra bersama enam orang personel polisi lainnya itu tenggelam Sabtu (21/4) sekitar pukul 16.00 WIB.

Beberapa saat sebelum peristiwa kapal kayu itu tenggelam, Kapolres Labuhanbatu Frido Situmorang dan rombongan baru selesai mengunjungi Satuan Pol Air di Berombang.

“Insiden kapal tenggelam terjadi saat perjalanan pulang menuju Tanjung Sarang Elang. Kita pikir ketika itu almarhum juga loncat. Karena kita masing-masing menyelamatkan diri,” ujarnya.

Menurut Frido, mereka memilih naik kapal karena akses jalan jalur darat rusak.

“Kalau jalur darat, musim hujan kan, jalannya lobang-lobang dan memang waktu agak lama dikit, dan itu memang sudah sering digunakan,” tuturnya. (LMC-03)

About Lintas Medan