Home / Bisnis / Eksportir Diuntungkan dari Pelemahan Rupiah

Eksportir Diuntungkan dari Pelemahan Rupiah

image_pdfimage_print

Ilustrasi – Mata uang rupiah. (Foto: LintasMedan/dok)

Jakarta, 9/5 (LintasMedan) – Pergerakan nilai tukar rupiah yang terus mengalami pelemahan tidak serta merta membuat Indonesia dirugikan sepenuhnya, karena pelemahan mata uang Garuda itu ternyata mampu meningkatkan penerimaan bagi para eksportir.

“Dampak melemahnya Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat akan membuat eksportir senang tapi untuk importir agak menyulitkan, karena impor pakai dolar sementara menjual menggunakan rupiah sehingga ada kenaikan harga jual,” kata Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia Bidang Perdagangan, Benny Soetrisno, di Jakarta, Selasa.

Ia menilai melemahnya rupiah terhadap dolar Amerika Serikat hingga menyentuh Rp14.000 akan menguntungkan eksportir dan merupakan momentum untuk mendorong ekspor dan logistik nasional agar tidak kalah bersaing dengan negara lain.

Pihaknya akan merespon pelemahan rupiah ini dengan mendorong anggotanya meningkatkan ekspor berbagai komoditas nonmigas serta mendorong perbaikan logistik, karena tanpa adanya logistik yang baik maka komoditas tak bisa ekspor dan tidak bisa bersaing.

KADIN, katanya, bersama Kementerian Perdagangan akan terus melakukan negosiasi ke sejumlah negara dengan tujuan untuk mempermudah bea masuk ke negara tujuan.

“Kita perkirakan dengan adanya momen melemahnya rupiah terhadap dolar AS maka nilai ekspor bisa naik hingga 16 persen,” katanya.

Terkait dengan sistem logistik yang terhubung dengan jasa pelayanan transportasi, dia mengatakan, memiliki peran strategis dalam mensinkronkan dan menyelarasakan kemajuan antarsektor ekonomi dan antar wilayah demi terwujudnya pertumbuhan ekonomi yang inklusif sekaligus menjadi benteng bagi kedaulatan dan ketahanan ekonomi nasional.

Biaya logistik di Indonesia rata-rata membutuhkan 25 persen dari hasil penjualan produk manufaktur dan kondisi ini berpengaruh buruk terhadap daya saing industri nasional.

Angka itu, menurut Bank Dunia, lebih tinggi dibandingkan dengan biaya logistik di Thailand sekitar 15 persen, ataupun di Malaysia dan Vietnam yang hanya 13 persen.

Tingginya biaya logistik sektor manufaktur itu merefleksikan beberapa hal, antara lain pembatasan perdagangan, prosedur izin, dan kesenjangan infrastruktur.

Temporer
Sementara itu, kalangan pejabat Bank Indonesia (BI) meyakini pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir hingga hampir menyentuh Rp14.000 per dolar AS sifatnya temporer dan tidak akan terpuruk seperti pada 2013.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan, volatilitas yang terjadi saat ini memang sangat dipengaruhi oleh kebijakan bank sentral AS The Federal Reserve yang menaikkan suku bunga acuan pada Maret lalu dan diperkirakan masih akan menaikkan suku bunga acuan hingga tiga kali pada tahun ini.

“Kita sedang menghadapi suku bunga penyedia valas dunia naik dan beberapa bank sentral dunia juga sudah menaikkan suku bunganya, tentu terjadi sedikit volatility,” ujar Mirza dalam Seminar Nasional “Pengembangan dan Pembiayaan Industri Padat Karya Berorientasi Ekspor” di Yogyakarta, Senin.

Mirza menuturkan, pada 2013, saat The Fed baru memberikan aba-aba untuk menaikkan suku bunga acuannya saja rupiah sempat terpuruk hingga mengalami depresiasi mencapai 26 persen sepanjang 2013.

Begitu pula pada 2015, rupiah juga sempat `goyang` ketika The Fed menaikkan suku bunga acuan pertama kalinya.

Untuk tahun ini, lanjutnya, kendati rupiah terus mengalami pelemahan terhadap dolar AS, tidak akan seperti pada lima tahun lalu karena indikator makro ekonomi Indonesia masih relatif baik.

“Tahun 2018 agak sedikit goyang. Tapi tenang, menurut kami ini sifatnya temporer. Tidak akan goyang seperti 2013 karena kita jaga rasio makro dengan baik seperti inflasi dan fiskal, serta pemerintah juga akan terus melanjutkan deregulasi,” ujar Mirza. (LMC-04/AN)

About Lintas Medan