Home / Profil / Songket Sumut Beragam Varian

Songket Sumut Beragam Varian

image_pdfimage_print
T.Abdul Jabar menunjukkan salah satu desainer tenunan songket Sumatera Utara. (Foto:LintasMedan/ist)

T.Abdul Jabar menunjukkan salah satu desainer tenunan songket Sumatera Utara. (Foto:LintasMedan/ist)

Medan, 20/4 (LintasMedan) – Kain tenunan songket Sumatera Utara memiliki banyak varian dan penampilan (look), kata desainer Songket T.Abdul Jabarr, 26.

Ragam varian dan look tersebut yang ditampilkan dalam launching di puncak Hari Ulang Tahun (HUT) Pemerintah Provinsi Sumut (Pemprovsu) belum lama ini.

“Ada brand khusus dengan 22 varian dan 30 look tampil warna-warni di panggung lapangan merdeka puncak HUT Pemprovsu malam itu,” kata T.Abdul Jabar, Minggu .

Puncak HUT Pemprovsu malam itu ditandai dengan launching songket menyapa dunia. Tampilnya beragam corak dan warna kain tenunan songket Sumatera Utara yang dijahit menjadi baju itu seolah menyadarkan akan budaya harta karun yang selama ini “terkubur”. Adalah T.Abdul Jabar, 26, di belakang penampilan parade model songket yang berkesan itu.

Dia adalah anak muda yang menjadi desainer songket Sumut.
“Potensi pasar songket Sumut ini besar sekali. Terutama karena didukung faktor-faktor seperti otonomi daerah, dukungan pemerintah, serta popularitas songket yang dikenal hampir di seluruh Indonesia,” kata T.Abdul Jabar, desainer yang tergabung dalam komunitas MEIN Desainer Jakarta.

Dia menekankan, songket banyak memiliki keunggulan, dan kekuatan benang menjadikannya tidak dipengaruhi pada kondisi warna memudar seperti halnya batik. “Jadi kain tenunan songket ini pas banget untuk kemeja dan jas,” ujar pria yang sering terlibat dalam even Jakarta Fashion Week, dan Indonesia Fashion Week ini.

Dia menjelaskan kekayaan tenunan songket Sumut memiliki empat karakter dalam empat wilayah di Sumatera Utara.

Merujuk sejarah, songket Sumut, kata dia memiliki empat karakter yang khas yakni songket khas Deli, Langkat, Serdang, dan Batubara. Jika songket Deli bercorak warna kuning, dan navy, songket Langkat banyak sentuhan ornamen hijau, siak, dan ada juga pink, maka songket Serdang memiliki khas warna hitam, coklat dan hijau muda. Sedangkan songket Batubara warnya bercampur dengan warna yang sedang ngetrend Songket Sembilan Negara (sembilan warna).

“Inilah yang kita gali dan kita combine untuk terus dikembangkan menjadi produk handalan Sumatera Utara,” katanya.

Menurutnya, karena produk songket juga ada di beberapa daerah lain selain Sumut, maka hajatan songket menyapa dunia, bukan hanya semata Sumut. Tetapi paling tidak Sumut bisa jadi trendsetter sehingga kita menjadi acuan songket dengan design yang berbaur dengan internasional,” ucapnya.

Meski berbaur dengan design internasional, sambungnya, namun songket tetap harus ditampilkan dengan tidak meninggalkan fungsinya yang secara filosofis yakni sebagai pakaian menutup malu. “Karenanya untuk mengangkat songket Sumut ke dunia internasional, tetap harus dengan memerhatikan kesopanan. Sebab marwahnya songket adalah gaun tertutup,” tandasnya.

Songket memang istimewa. Tidak seperti bahan tenunan lain, songket bahkan harus dirawat secara khusus seperti cara penyimpanannya yang mesti secara khusus. “Sebab kalau belipat benang emasnya maka lipatannya akan kekal. Jadi cara penyimpanan songket yang baik dan benar adalah dengan digulung,” sebut T.Abdul Jabar.

Dengan segala kesitimewaan tersebut, T.Abdul Jabar berada dalam barisan desainer muda yang akan menduniakan songket. Dia merasa bahagia karena Pemprovsu di bawah kepemimpinan H.Gatot Pujonugroho memberikan perhatian dan dukungan serius untuk upaya menduniakan songket. Tahun ini target mereka menggelar konvensi songket, dan dia juga berharap di Medan akan ada kampung songket seperti halnya kampung batik di Malioboro.(LMC-02)

About Lintas Medan