Home / Luar Negeri / Jutaan Anak Nepal Korban Gempa Putus Sekolah

Jutaan Anak Nepal Korban Gempa Putus Sekolah

image_pdfimage_print
Anak-anak Nepal tinggal di pengungsian.(Foto:LIntasMedan/BBC)

Anak-anak Nepal tinggal di pengungsian.(Foto:LIntasMedan/BBC)

Nepal, 8/7 (LintasMedan) – Lembaga PBB yang mengurusi masalah anak-anak mengatakan sembilan dari 10 sekolah telah hancur di daerah-daerah yang terdampak gempa.

Unicef menyebutkan hampir 24.000 ruang-ruang kelas rusak atau hancur karena bencana gempa yang menghantam negara tersebut 12 hari lalu.

Unicef sedang berupaya mendirikan ruang-ruang belajar sementara bagi pengungsi anak-anak .

Saat ini sekolah di Nepal tutup, walaupun masih banyak bangunan yang utuh setelah gempa yang digunakan sebagai tempat peengungsian.

Sekolah-sekolah yang masih berdiri itu dijadwalkan akan dibuka pada 15 Mei nanti.
Perlindungan

Unicef mengatakan pendirian ruang belajar alternatif bagi anak-anak sangat mendesak, bukan hanya untuk keperluan belajar tetapi juga keselamatan mereka.

Juru bicara Unicef di Kathmandu Kent Page mengatakan kepada BBC: “Kita tahu bahwa anak-anak memerlukan sekolah bukan hanya untuk belajar; tetapi sekolah juga merupakan tempat aman bagi anak-anak yang mengalami trauma gempa bumi.
Unicef menyebutkan hampir 24.000 ruang-ruang kelas rusak atau hancur.

“Anak-anak memiliki tempat yang aman untuk melindungi mereka dari eksploitasi dan pelecehan, dan semua orang mengetahui di mana mereka dan apa yang mereka lakukan”.

“Unicef sudah mendirikan 30 tempat ramah anak di tenda-tenda dan permukiman darurat di Kathmandu.

“Di sini anak-anak dapat belajar dan bermain dan menyanyi serta menari di sebuah lingkungan yang aman.”

Kent mengatakan telah mengunjungi anak-anak di tenda pengungsian selama beberapa hari, dan mereka semua mengatakan padanya bahwa mereka ingin kembali ke sekolah.

“Mereka mau kembali ke sekolah, mereka ingin belajar, mereka ingin kembali ke kehidupan normal seperti orangtua mereka juga,” katanya.
Pendidikan gratis

Perwakilan Unicef di Nepal, Tomoo Hozumi, mengatakan ruang belajar darurat ini perlu disediakan secepatnya untuk menghindari peningkatan jumlah anak-anak putus sekolah.

Dia mengatakan: “Hampir satu juta anak-anak yang sebelum gempa bersekolah, sekarang tidak memiliki gedung sekolah.

“Saat ini sangat diperlukan pendirian ruang belajar alternatif, serta mengkaji dan memperbaiki bangunan, dan meluncurkan kampanye kesadaran masyarakat untuk mendorong keluarga agar mengirim anak-anak mereka kembali ke sekolah dan taman kanak-kanak.

“Gangguan terhadap pendidikan yang berkepanjangan dapat sangat berpengaruh bagi perkembangan anak-anak dan prospek masa depan,” tambahnya.

Di Nepal, anak-anak berusia antara lima dan sembilan tahun diberikan pendidikan gratis dari jam 9:30 hingga 15:00 setiap harinya.

Jumlah anak-anak yang terdaftar di sekolah di Nepal meningkat dalam tiga dekade terakhir.

Pada tahun 1990, tercatat 64% anak-anak di Nepal telah mendapatkan pendidikan di sekolah. Angka itu meningkat menjadi 95% dari jumlah anak-anak pada tahun ini.(LMC/BBC)

About Lintas Medan