Home / Luar Negeri / Resep Sukses Pendidikan Vietnam

Resep Sukses Pendidikan Vietnam

image_pdfimage_print
Pelajar Vietnam mengenderai sepeda menuju sekolah mereka, di Hanoi. Catatan OECD menunjukkan hampir 17 persen siswa berusia 15 tahun termiskin di Vietnam berada di antara 25 persen siswa berkemampuan terbaik dunia. (Foto: LintasMedan/BBC)

Pelajar Vietnam mengenderai sepeda menuju sekolah mereka, di Hanoi. Catatan OECD menunjukkan hampir 17 persen siswa berusia 15 tahun termiskin di Vietnam berada di antara 25 persen siswa berkemampuan terbaik dunia. (Foto: LintasMedan/BBC)

Hanoi, 21/6 (LintasMedan/BBC) – Vietnam menempati posisi 12 pada peringkat penilaian kemampuan pelajar internasional (PISA) yang dibuat Organisasi Pembangunan dan Kerja Sama Ekonomi (OECD).

“Bercokolnya Vietnam di posisi 12 pada peringkat PISA terkini merupakan prestasi yang menakjubkan, kata Direktur OECD Andreas Schleicher, di Hanoi, baru-baru ini.

Dalam penilaian yang dibuat Organisasi Pembangunan dan Kerja Sama Ekonomi (OECD) tersebut, siswa-siswi berusia 15 tahun dari Vietnam mampu memperoleh nilai lebih tinggi dalam pelajaran membaca, matematika dan ilmu pengetahuan ketimbang sejumlah pelajar-pelajar dari negara maju, termasuk Amerika Serikat dan Inggris.

Padahal, tahun ini merupakan tahun pertama para pelajar Vietnam mengikuti penilaian internasional itu.

“Ini menjadi catatan prestasi mengejutkkan baik bagi para pejabat Vietnam maupun bagi pengamat luar,” ujar Andreas Schleicher.

Ada tiga faktor utama yang berkontribusi terhadap hasil yang mengesankan itu, yakni kepemimpinan yang berkomitmen, kurikulum yang terfokus, dan berinvestasi pada guru.

Pejabat-pejabat pada tingkat tertinggi pemerintahan Vietnam sudah berpikir mengenai tantangan yang mereka hadapi dalam mendidik anak-anak mereka.

Sementara hingga saat ini masih tergolong sedikit negara-negara lain menunjukkan kemampuan berpikir ke depan serta tekad yang sama.

Kementerian Pendidikan Vietnam telah merancang rencana jangka panjang. Mereka tampak ingin belajar dari negara-negara dengan kinerja terbaik mengenai cara melaksanakan rencana itu dan siap untuk memberikan dukungan keuangan yang diperlukan.

Hampir 21 persen pengeluaran pemerintah pada 2010 dialokasikan untuk pendidikan – proporsi yang lebih besar dibandingkan negara-negara OECD lainnya.

Pemerintah Vietnam mengalokasikan 21 persen anggaran belanja negara pada 2010 untuk pendidikan – proporsi yang lebih besar dibandingkan negara-negara OECD lainnya.

Para pendidik di Vietnam juga telah merancang kurikulum yang terfokus agar siswa memperoleh pemahaman mendalam tentang konsep dan penguasaan keterampilan inti.

Bandingkan itu dengan kurikulum rumit namun dangkal yang biasa ditemukan di Eropa dan Amerika Utara dan Anda akan memahami mengapa begitu banyak siswa-siswa Vietnam unggul.

Siswa-siswa itu diharapkan untuk melalui pendidikan dengan tidak hanya mampu membaca apa yang mereka pelajari di kelas, tetapi menerapkan konsep-konsep dan praktik pada konteks asing.

Ruang-ruang kelas Vietnam memiliki kesan tegas, dengan guru-guru yang menantang siswanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menuntut.

Mereka fokus mengajar beberapa hal dengan baik dan dengan pengertian yang bisa membawa siswa maju.

Guru-guru di Vietnam sangat dihormati, baik di kalangan masyarakat maupun di ruang kelas.
Itu mungkin merupakan faktor budaya, namun juga mencerminkan peran yang diberikan pada guru dalam sistem pendidikan, yang jauh melampaui peran sebagai pengajar di sekolah dan mencakup dimensi –dimensi seperti dukungan dan kesejahteraan siswa.

Para pengajar diharapkan berinvestasi dalam pengembangan kemampuan profesional mereka. Bahkan, guru-guru matematika, terutama mereka yang bekerja di pelosok, menerima pelatihan kemampuan lebih dibandingkan rata-rata di negara-negara OECD.

Guru-guru ini tahu bagaimana cara menciptakan lingkungan belajar yang positif, membina disiplin yang baik di dalam kelas, dan membantu membangun sikap positif siswa terhadap pendidikan.

Hal ini juga dibantu dorongan dari orang tua, yang umumnya memegang harapan tinggi bagi anak-anak mereka, dan oleh masyarakat yang menghargai pendidikan dan kerja keras.
Tidak bersekolah

Apa yang telah dicapai dunia pendidikan Vietnam dalam waktu yang begitu singkat sangat luar biasa.

Catatan menunjukkan hampir 17 persen siswa berusia 15 tahun termiskin di Vietnam berada di antara 25 persen siswa berkemampuan terbaik dunia.

Namun sekitar 37 persen anak-anak berusia 15 tahun di Vietnam tidak bersekolah dan tantangannya sekarang adalah untuk membawa mereka ke ruang kelas.

Hasil pengujian PISA, yang didasari oleh hasil ujian anak-anak yang berada di ruang kelas, tidak menjelaskan nasib mereka yang tidak bersekolah.

Pemerintah setempat telah memprioritaskan pendidikan semua anak berusia 15 tahun ke bawah dan sejauh ini sistem pendidikan telah menyerap anak-anak yang kurang beruntung dan memberi mereka akses pendidikan yang sama.

Namun untuk mencapai dan mempertahankan kualitas lebih sulit daripada memperluas kuantitas, dan Vietnam harus berhati-hati tidak menurunkan kualitas pendidikan untuk memperluas akses ke lebih banyak anak.

Catatan OECD menunjukkan hampir 17 persen siswa berusia 15 tahun termiskin di Vietnam berada di antara 25 persen siswa berkemampuan terbaik dunia.

Keseimbangan

Sebagaimana ditunjukkan negara-negara dengan performa tertinggi, keunggulan umumnya dikaitkan dengan memberikan masing-masing sekolah otonomi yang lebih besar dalam kurikulum dan tes, apalagi ketika sekolah-sekolah itu mampu memberikan pertanggungjawaban.

Bagi Vietnam ini berarti mereka harus menemukan cara untuk menyeimbangkan kepemimpinan yang terpusat dengan lingkungan otonom yang fleksibel bagi masing-masing sekolah.

Bila semua anak-anak yang terdaftar di sekolah menengah memperoleh keterampilan dasar setidaknya dalam matematika dan ilmu pengetahuan pada 2030 – dan bila pasar tenaga kerja di negara itu mampu menyerap dan menggunakan semua bakat itu.

Bila Vietnam tidak bisa meningkatkan permintaan untuk keterampilan yang lebih tinggi, maka warga Vietnam yang memperoleh pendidikan bisa memilih untuk membawa keahlian mereka ke tempat lain. (LMC/BBC)

About Lintas Medan