Home / Medan / Brilian Moktar Tampung Keluhan Pedagang Tradisional

Brilian Moktar Tampung Keluhan Pedagang Tradisional

image_pdfimage_print

Anggota DPRD Sumut Brilian Moktar saar menerima aspirasi pedagang di kegiatan reses baru baru ini.(Foto:lintasmedan/ist)

Medan, 6/3 (LintasMedan)) – Puluhan pedagang tradisional yang tergabung dalam Persatuan Pedagang Pasar Tradsional Sumut (P3TSU) menyampaikan aspirasi dan keluhan terhadap pengelolaan pasar dan nasib pedagang ke anggota DPRD Sumut, Dapil Medan, Brilian Moktar dalam acara reses anggota DPRD Sumut, Sabtu.

Dalam penyampaian aspirasi tersebut perwakilan pedagang dari beberapa pasar tradisonal di Medan tersebut menyampaikan beragam keluhan, antara lain kondisi pasar yang buruk, pengelolaan pasar yang tidak baik oleh oknum PD Pasar, premanisme yang mengganggu kenyamanan pedagang serta masalah pemindahan lokasi pasar aksara dan polemik pasar timah.

Salah seorang perwakilan pedagang pasar Halat mengatakan kondisi drainase di pasar tersebut sangat buruk. Pihaknya sudah menyampaikan agar dilakukan perbaikan, tapi tetap tidak ditindaklanjuti. Pedagang lantas mempertanyakan dana yang ditarik dari pedagang tapi pembangunan di pasar tidak berjalan.

Sementara, seorang pedagang pasar Pringgan mengeluhkan pengelola pasar yang tidak jelas. Sebelumnya masa pengelolaan pasar oleh perusahaan swasta telah habis, namun belum ada tindaklanjut dari PD Pasar terkait pengeloaan pasar tersebut.

“Jadi kami luntang lantung sekarang, tidak tahu siapa pengelola pasarnya. Kami tidak tahu apakah pengelolaan itu diperpanjang atau tidak, pihak Pemko Medan belum memberikan keterangan. Belum ada rincian apa pun yang kami dengar, sementara banyak pedagang yang sudah pindah, hanya tinggal beberapa orang saja,” ujarnya.

Menanggapi itu Brilian Moktar menilai keluhan-keluhan pedagang merupakan hal yang wajar. Ia mengungkapkan pedagang bisa melakukan protes jika sudah membayarkan sejumlah uang namun tidak ada tanggungjawab dari penjaga malam. Dirut PD Pasar harus segera mengambil langkah siapa yang akan mengambil alih pengelolaan pasar pringgan.

“Dirut harus segera mengorientasi pasar, apa saja kelemahan pasar-pasar yang ada. Pasar yang genting saat ini pasar Aksara dan Pasar Timah yang lainnya itu hanya perlu pembenahan seperti genteng bocor, drainase, sampah dan kenakalan petugas. Dirut harus dekat dengan pedagang, karena yang menghidupkan pasar itu pedagang,” ungkapnya.

Ia menolak pengembangan pasar timah jika ada transaksi yang harus dibayarkan, namun akan mendukung jika pengembangan pasar timah dilakukan seperti pasar titi kuning yang dinilai membantu pedagang kecil.

“Pasar Titi Kuning menjadi contoh pengembangan pasar ke depan. Pedagang kecil dibiarkan berdagang, sementara toko-toko lain di pasar itu berdagang barang yang tidak dijual pedagang tradisional di pasar. Kalau tidak begitu, tidak usah dikembangkan. Masih banyak lahan yang bisa jadi investasi si pengembang, kenapa harus pakai tanah pemerintah?” tegasnya.

Ia juga menyesalkan adanya pembiaran oleh oknum tertentu terhadap pasar timah, ia meminta agar aparat keamanan dan jaksa turun tangan mengatasi masalah yang dihadapi pedagang pasar timah. Agar tidak ada pembiaran apalagi permainan oknum tertentu dengan pengembang.
Premanisme

Sementara seorang pedagang pasar simpang limun yang tidak mau disebutkan namanya mengadukan nasib pedagang di pasar simpang limun yang kerap kali diperas oleh orang setempat dengan alasan uang keamanan dan sebagainya. Ia juga mengadukan pungutan uang tempat dari rumah-rumah yang ditempati untuk berdagang yang sangat tinggi.

“Areal berdagang kami awalnya oleh swasta, tapi karena sudah ditutup, jadi kami berdagang di jalan. Kami yang awalnya legal menjadi ilegal. Sudah dijanjikan akan diberikan tempat, tapi sampai enam tahun sekarang tidak ada solusinya. Kami ingin bagaimana solusi untuk kami dari PD Pasar,” ujarnya.

Brilian mengimbau agar Dirut PD Pasar bekerja sama dengan kooperasi atau Dinas Perdagangan agar menggunakan program Presiden Jokowi untuk menciptakan seribu pasar di Indonesia. Sehingga pembangunan pasar bisa menggunakan dana dari pusat.

“Ke depan jangan ada lagi pasar yang retribusi dari pedangannya ditarik oleh PD Pasar, tapi pedagangnya berdagang di kaki lima. Ini banyak terjadi seperti di Pasar Perguruan, Industri, Simpang Limun dan lainnya. Pemko Medan melalui PD Pasar harus membuat gebrakan seperti itu, ini penting,” ungkapnya.

Ketua P3TSU, Zulkifli Chaniago mengungkapkan bersama Brilian akan memperjuangkan nasib pedangan tradisional di Sumut dan Medan khususnya. Dalam acara reses tersebut sudah dirangkum keluhan-keluhan dari pedagang, dan akan ditindak lanjuti.(LMC/rel)

About Lintas Medan

Kelvin Benjamin Jersey