Pengunjung Indonesia Expo City Gemari Produk UMKM Medan

Walikota Medan H.T Dzulmi Eldin turut menjelaskan aneka produk unggulan usaha mikro, kecil dan menengah Kota Medan kepada para pengujung yang datang ke stand Pemko Medan di arena pameran Indonesia Expo City (IEC) 2019, di Simpang Lima, Kota Semarang, Rabu (3/7). (Foto: LintasMedan/ist)

Semarang, 3/7 (LintasMedan) – Sejumlah pengunjung pameran dagang Indonesia Expo City (IEC) menggemari berbagai produk usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) Kota yang ditampilkan dalam pameran di Simpang Lima, Kota Semarang, 3-6 Juli 2019.

Siaran pers Humas Pemko Medan, Rabu (3/7), menyebutkan banyak pengunjung pameran sangat tertarik dengan aneka produk unggulan UMKM yang ditampilkan di stand Pemko Medan.

Salah satu produk unggulan yang menarik perhatian pengunjung adalah lukisan wajah dari sabut kelapa.

Produk kerajinan itu terbilang langka dan unik karena hingga saat ini masih sangat sedikit pelukis menjadikan sabut kelapa sebagai media lukisan.

Selain lukisan darai bahan sabut kelapa, para pengunjung juga menggemari produk unggulan Kota Medan lainnya, seperti Batik dan Songket yang mengusung aneka motif kearifan lokal, produk makanan, suvenir dan kaligrafi.

Batik dan songket khas Medan selama ini giat dikembangkan oleh para pengrajin binaan Ketua Tim Penggerak PKK Kota Medan Hj Rita Maharani.

Melihat antusiasme pengunjung di stand Pemko Medan itu, Walikota Medan Dzulmi Eldin menyampaikan apresiasi dan menilai terdapat peluang untuk meningkatkan penetrasi berbagai produk UMKM Kota Medan di pasar dalam negeri dan luar negeri pada masa mendatang.

“Mari kita manfaatkan momentum penyelenggaraan IEC 2019 untuk memperkenalkan seluruh produk unggulan para pelaku UMKM dan pengerajin di Kota Medan,” ujarnya.

Sebab, lanjut Eldin, pameran yang digelar dalam rangkaian rapat kerja nasional (Rakernas) Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) tersebut dihadiri ratusan peserta dari seluruh ndonesia.

“Insya Allah produk unggulan kita mampu bersaing tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga luar negeri,” tuturnya.

Indonesia Expo City (IEC) 2019 yang diikuti sejumlah pemerintah kota dibuka secara resmi oleh Ketua Umum APEKSI Airin Rachmi Diany.

Momentum pameran tersebut juga dijadikan sebagai wadah untuk mempublikasikan perkembangan pembangunan dalam bidang tata kota yang berkelanjutan sekaligus meningkatkan kreativitas dan inovasi daerah dalam menjalin kerja sama dengan stake holders pembangunan khususnya swasta, guna meningkatkan investasi daerah. (LMC-04)




44 Tahun Avrist, Bagi 4 Tips Sehat Bahagia

Ilustrasi

Medan, 1/7 (LintasMedan) – Memasuki usia ke 44 tahun, Asuransi Avrist memberi empat tips sehat bahagia bagi masyarakat Indonesia khususnya yang berumur 40 tahun. Sebab memiliki impian hidup yang sehat merupakan keinginan setiap individu, apalagi jika hidup dihabiskan untuk bekerja mulai dari terbit matahari hingga terbenam.

Presiden Direktur PT Avrist Asuransi, Anna Leonita mengatakan, dengan pengalaman lebih dari 40 tahun melayani masyarakat Indonesia, pihaknya memiliki tekad untuk memberikan proteksi dan keamanan finansial sepanjang hidup dengan produk finansial yang terpadu.
“Kami bertekad menjadi mitra terpercaya setiap anggota keluarga Indonesia untuk memberikan rasa aman di saat mereka mengejar aspirasi di dalam hidupnya dimanapun mereka berada,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima wartawan, Senin (1/7).

Dijelaskannya, dalam mengalami siklus
hidup pekerjaan monoton, seperti bekerja 40 jam seminggu, melakukan hal yang sama selama 40 tahun, lalu kemudian pensiun dengan 40% dari gaji, maka secara psikologis orang Indonesia terjebak konsep hidup “Rat Race Cycle”, yaitu suatu konsep upaya pengejaran sesuatu tanpa henti tetapi tidak mendapatkan hasil maksimal.

Untuk itu, pihaknya memberi beberapa tips sehat dan bahagia yang mudah diterapkan di usia 40an, yakni pertama ubah gaya hidup dengan mengkonsumsi makanan gizi dan nutrisi seimbang. Kemudian segera perbaiki catatan bulanan keuangan yaitu perhatikan pemasukan dan pengeluaran setiap bulan.
“Perbaiki catatannya dengan mengkurasi, mulai dari yang paling penting hingga yang paling tidak. Seimbangkan keinginan dan kebutuhan yang urgensinya paling penting, dengan sistem prioritas,” ucapnya.

Untuk tips selanjutnya, kata Anna, harus bisa buat pos uang yang gunanya untuk membatasi antara kebutuhan dengan keinginan. “Bukan berarti kita tidak boleh memenuhi keinginan, tapi buatlah budget post nya. Pisahkan dari budget rutin seperti belanja bulanan, ongkos, investasi, dan tak terduga atau dana daruat. Dana darurat yang ideal untuk pasangan menikah dengan anak, adalah 12 kali pengeluaran bulanan rumah tangga,” paparnya.

Terpenting lagi, lanjutnya lagi memilih produk investasi yang menguntungkan. Karena asuransi adalah salah satu bentuk investasi jangka panjang yang bisa dinikmati disaat usia matang maupun dana darurat. Berinvestasi di asuransi dan di bank pastinya berbeda, tergantung kebutuhan dan profil calon nasabah.

Avrist Asuransi menawarkan produk-produk yang menunjang kehidupan baik individu, rumah tangga, maupun korporat. Preminya yang sangat terjangkau bisa dibayarkan baik secara bulanan maupun tahunan.

“Avrist merupakan perusahaan asuransi jiwa patungan pertama di Indonesia yang telah berdiri sejak tahun 1975. Avrist Assurance terus berkembang menjadi salah satu perusahaan asuransi jiwa terkemuka yang mampu bersaing di industri asuransi jiwa di Indonesia. Dengan pengalaman selama lebih dari 40 tahun, Avrist telah mengembangkan dan memantapkan beberapa kanal distribusi antara lain Agency, Bancassurance, Employee Benefit, dan Syariah, menyediakan produk-produk asuransi jiwa, asuransi kecelakaan dan kesehatan, asuransi berbasis syariah, asuransi jiwa kredit dan pensiun baik untuk perorangan maupun korporasi,” ungkapnya.

Beberapa polis unggulan dari Avrist Assurance adalah Avrist Sehati (produk asuransi dengan premi terjangkau dengan fasilitas penalangan biaya uang muka di rumah sakit bagi pemegang polis). Sedangkan Avrist Prime Protection merupakan produk asuransi jiwa perlindungan seumur hidup dengan premi terjangkau dengan masa bayar terpendek 5 tahun dengan masa asuransi bagi pemegang polis mencapai usia 80 tahun. “Kemudian ada produk asuransi jiwa andalan bernama Avrist Total Care dengan perlindungan terlengkap dengan uang pertanggungan hingga lebih dari 400%,” imbuhnya.(LMC/rel)




Pengembangan Wisata Pantai Timur Sumut Perlu Terintegrasi

Para peserta diskusi “Pembangunan Pariwisata Pantai Timur yang Bermartabat” berfoto bersama seusai mengikuti acara tersebut di Taman Siba Medan City Jalan Singgalang Medan, Minggu (30/6). (Foto: LintasMedan/ist)

Medan, 30/6 (LintasMedan) – Kawasan pantai timur Provinsi Sumatera Utara (Sumut) perlu dikembangkan secara terintegrasi karena diyakini memiliki potensi besar meningkatkan kunjungan wisatawan.

Penilaian tersebut terungkap dalam diskusi seputar pembangunan pariwisata pantai timur Sumut yang digagas Badan Koordinasi Pembangunan Masyarakat Pantai Timur (Badko PMPT) Sumut, di Taman Siba Medan City, Minggu.

Dalam diskusi bertajuk, “Pembangunan Pariwisata Pantai Timur yang Bermartabat” dengan moderator Ketua Badko PMPT Syarifuddin Siba tersebut, disebutkan jika kawasan wisata di masing-masing kabupaten/kota tersebut dikembangkan dan dikelola secara terintegrasi, maka lama tinggal atau kunjungan wisata diharapkan bisa diperpanjang.

Sebab, apabila wisatawan ingin menikmati seluruh destinasi dalam satu kawasan wisata bahari di pesisir timur Sumut yang terintegrasi tersebut kelak dipastikan tidak cukup ditempuh dalam sehari.

Kawasan wisata pantai timur Sumut yang berhadapan langsung dengan Selat Malaka terletak di sepanjang pesisir Kabupaten Langkat, Deli Serdang, Kota Medan, Kabupaten Serdang Bedagai, Batu Bara, Asahan hingga Labuhan Batu.

Para peserta diskusi menyatakan sepakat bahwa pengembangan kawasan wisata pantai timur Sumut secara terintegrasi efektif menarik kunjungan karena masing-masing destinasi atau desa wisata akan memasarkan secara terintegrasi berdasarkan kawasan atau tema masing-masing.

Menyikapi gagasan dalam diskusi tersebut, pihak Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Sumut berencana mempersiapkan satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) khusus untuk memfokuskan program pembangunan di wilayah pantai timur provinsi itu, terutama dalam pembangunan bidang kepariwisataan.

“Saat ini, kondisi kepariwisataan di kawasan pantai timur Sumut yang sudah terkelola masih sebatas seperti pengelolaan konvensional, belum secara profesional dan menyesuaikan dengan perkembangan destinasi masa kini,” kata Kepala Disbudpar Sumut, Wan Hidayati.

Sebagian besar pemerintah kabupaten/kota yang wilayahnya berada di sepanjang pantai timur Sumut terkesan berjalan sendiri-sendiri dalam mengembangkan sektor kepariwisataan di wilayahnya.

Hidayati menilai, pengelolaan kawasan wisata di sepanjang pantai timur Sumut memerlukan perhatian serius dan saling koordinasi, baik antarinvestor maupun sesama pemerintah daerah dan Pemerintah Provinsi Sumut.

Padahal, menurut dia, mengembangkan kawasan wisata pantai timur secara terintegrasi perlu direalisasikan agar lokasi wisata di masing-masing kabupaten/kota dapat dipetakan sesuai tema yang saling terkait.

Untuk mengawali rencana itu, menurutnya, terlebih dahulu perlu digagas dan dibangun obyek wisata yang memiliki daya tarik tinggi bagi wisatawan.

“Membangun obyek wisata tidak hanya bergantung pada pemerintah daerah, melainkan juga bisa dengan mendatangkan investor yang dukung oleh berbagai kemudahan dari pihak pemerintah,” ujarnya.

Ia menambahkan, pembangunan kepariwisataan pantai timur merupakan salah satu solusi tepat mendongkrak laju perekonomian masyarakat setempat, karena kemajuan pariwisata akan berdampak sangat signifikan bagi aktivitas ekonomi di kawasan tersebut.

“Kami akan memberi perhatian besar ke arah ini. Tolong dukung kami dan beri gagasan-gagasan agar dapat direalisasikan,” ujar Wan Hidayati.

Acara diskusi tersebut turut dihadiri Ketua PWI Sumut Hermansjah, pengurus Badko PMPT Azryn Maridha dan sejumlah tokoh masayarakat Melayu lainnya. (LMC-03)




Incar Pasar China, Petani Kopi Beralih ke Alpukat

ilustrasi -petani alpukat (Foto:LintasMedan/ist)

Kenya, 29/6 (LintasMedan) – Petani kopi di Kenya beralih menanam alpukat menyusul dilakukannya penandatangan perjanjian oleh pemerintah setempat untuk mengekspor buah tersebut ke China pada April lalu.

Seorang petani Kenya, Alexander Muchiri menanam dan merawat 30 pohon alpukat sejak tujuh tahun lalu di tanah pertaniannya di Kabupaten Muranga.

Pada tahun-tahun sebelumnya, sebagian besar alpukatnya dijual secara lokal dan hanya mampu memberikan penghasilan seadanya.

Dengan adanya penandatangan ekspor ke China, Muchiri mengatakan akan menanam lebih banyak pohon alpukat.

Sebab, kata dia akan ada pasar untuk menampung alpukat milik petani.

Pada tahun-tahun sebelumnya, hanya pialang yang datang membeli buah layak panen petani, namun mereka meninggalkan begitu saja buah yang kecil di pertanian tanpa ada yang bisa dijual.

“Akhirnya buah-buah kecil yang telah ikut dipetik akan terbuang begitu saja,” ujarnya.

Sekitar 2 kilometer dari pertanian Muchiri, Beatrice Mugure merawat 300 pohon alpukat. Dia biasa menanam kopi di lahan seluas delapan hektar dan kini beralih ke alpukat.

Hal itu dilakukan sejak beberapa tahun yang lalu ketika harga kopi turun dan pasar untuk alpukat meningkat.

Hingga kini Kenya sebagai satu-satunya negara Afrika pengekspor buah terbesar ke pasar konsumen China.

Kementerian Perdagangan Kenya mengatakan bahwa pasar China akan mengambil lebih dari 40 persen tanaman alpukat Kenya.

Tetapi ada satu standar persyaratan yang mesti dipenuhi,” kata Sekretaris Kabinet Kenya untuk Perdagangan dan Industrialisasi, Peter Munya.

“Pada alpukat mentah yang akan dikirim tidak boleh dihinggapi lalat, ini cukup menyulitkan sehingga harus dibuah keputusan untuk mengekspor alpukat beku,” kata Munya.

Petani atau pedagang diharuskan membekukan buah-buahan hingga minus 30 derajat Celcius untuk menyingkirkan hama dan minus 18 derajat untuk transit.

Munya mengatakan mereka akan membantu petani Kenya yang tidak memiliki fasilitas membekukan hasil tanaman mereka untuk diekspor ke China.(LMC/Voa)




Bisnis Sawit Masih Sangat Cerah

  • Medan, 27/6 (LintasMedan) – Kendati harga Tandan Buah Sawit (TBS) terus berfluktuasi dan cenderung menurun sejak setahun terakhir, kini harga TBS masyarakat (petani) berkisar Rp860 per kg hingga Rp1.010 per kg namun prospek bisnis komoditi “emas hijau” itu masih sangat cerah.

  Kepala Dinas Perkebunan Sumut Hj Herawati kepada wartawan mengatakan hal itu Kamis (27/6) di aula Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Jalan Brigjen Katamso Medan. Dia berbicara usai membuka dialog publik “Diesel 50 dan deklarasi Forum Wartawan Perkebunan (Forwabun) Sumatera Utara” yang diketuai Hendrik Hutabarat dan sekretaris Yoseph Pencawan.

    Hadir dalam kegiatan tersebut GM Bahan Tanaman PPKS Dr Edy Supriyanto  mewakili Dirut PPKS DR Iman Yani Harahap, Bagian Promosi PPKS Muhamad Akmal Agustira, Dosen Senior USU Erwin Masrul Harahap, Syahrial Pulungan dari Dinas Perkebunan Sumut, dan kalangan mahasiswa dari berbagai universitas di Kota Medan. Pembicara peneliti PPKS Cahyono Hermawan dan Asisten Tanaman PTPN IV Muchtar S Sinaga yang juga selaku Ketua DPD Sawitku Masa Depanku (Samade).

     Herawati menjelaskan bisnis cerah kelapa sawit karena penemuan berbagai produk turunan minyak kelapa sawit (CPO) terus dilakukan seperti bodiesel B20, bahan bakar yang bisa dipakai buat kendaraan.

     Ia menyebut kini produksi sawit Indonesia 40 juta ton. Namun jika diterapkan biodiesel B100, di atas B50, maka sawit yang dibutuhkan untuk bahan baku bisa mencapai 50 juta ton. “Itu artinya moratorium untuk perkebunan kelapa sawit perlu dibuka kembali,” kata Herawati.

    Menurutnya, jika produksi sawit bisa digunakan sepenuhnya untuk kebutuhan dalam negeri maka memberikan efek sangat positif bagi peningkatan komoditi itu. Satu sisi industri hilir kelapa sawit terus berkembang dan sawit kita tidak terperangkap dengan kemauan importir khususnya dari negara-negara Eropa yang black campaign (kampanye negatif) tentang sawit yang dianggap merusak lingkungan. Ekspor sawit kita banyak kali sehingga persyaratan RSPO (lingkungan berkelanjutan)  sudah dipenuhi pun, tetap banyak saja permintaan eksportir.

    “Kalau industri hilir sudah dikembangkan maka kita tak perlu ekspor lagi,” terangnya.

    Ia menambahkan saat ini lahan sawit di Sumut seluas 1,3 juta hektar dengan produksi 5 juta ton, menjadikannya nomor 2 terbesar di Indonesia. Untuk meningkatkan produksi itu perlu dilakukan banyak hal karena 50 persen dari luas 1,3 juta ton itu adalah milik petani.

    “Tapi untuk peningkatan sawit banyak hal yang harus disikapi seperti legalitas lahan,” katanya.

      Menurutnya, industri sawit mulai dari hulu hingga hilir saat ini terus dikembangkan oleh pemerintah. Salah satu pengembangan utama yakni menjadikan produk dari sawit sebagai bahan untuk menghasilkan energi seperti produksi biodiesel yang tujuannya mengurangi penggunaan BBM yang bersumber dari fosil.

    “Ada B20 dan sekarang B30 sedang dikembangkan. Bahkan kedepan para ahli juga sedang mengembangkan B50,” ungkapnya.

Jika hal ini berhasil, maka dipastikan sawit Indonesia tidak lagi menggantungkan nilai ekonomisnya dari sisi ekspor CPO. Justru nilai ekonomisnya akan semakin tinggi berkat produk turunan yang dihasilkan.

     “Bahkan jika sudah menerapkan B100 misalnya, tentu sawit kita tidak perlu ekspor lagi. Karena akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan produksi biodiesel di Indonesia. Sehingga tidak perlu lagi tergantung dari aturan-aturan dari negara lain seperti uni eropa yang masih menolak sawit Indonesia,” ujarnya.

     Sementara itu GM Bahan Tanaman PPKS, Edy Supriyanto mengatakan Sumatera Utara menjadi salah satu sentra kelapa sawit yang memegang peran penting dalam meningkatkan produksi sawit. Keberadaan PPKS senantiasa mendukung berbagai upaya pemerintah untuk mewujudkan peningkatan kualitas sawit. Dari sisi keilmuan, PPKS menurutnya memiliki peneliti-peneliti yang sangat kompeten dalam mencari peluang apa saja produk yang dapat dihasilkan sawit.

     “Namun hal itu tidak akan sampai kepada masyarakat jika tidak disosialisasikan. Dalam hal inilah peranan media massa sangat dibutuhkan,” pungkasnya.

                                          Deklarasi Forwabun

     Ketua Forwabun Sumut Hendrik Hutabarat bersama pengurus lainnya mendeklarasikan Forum Wartawan Perkebunan sebelum berlangsung dialog publik Diesel 50.

    Hendrik mengatakan sosialisasi terhadap kelapa sawit mulai dari industri hulu hingga industri hilir menjadi sebuah keniscayaan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang komoditas perkebunan penopang utama ekonomi Indonesia ini.

     “Meski sawit merupakan tanaman yang populer di Sumatera Utara, namun pengetahuan masyarakat tentang seluruh seluk-beluk sawit harus kita akui masih sangat  minim,” katanya.

     Hendrik menjelaskan, masih minimnya pengetahuan masyarakat tentang seluk-beluk sawit ini masih menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan sawit untuk terus menjadi penopang utama ekonomi. Kondisi ini juga bahkan dinilai menjadi bahan kampanye negatif oleh negara-negara asing seperti Uni Eropa untuk melancarkan kampanye hitam tentang sawit.

      “Padahal banyak sekali hal positif dari sawit yang langsung menyentuh kebutuhan kita dalam menjalani kehidupan. Industri hulu hingga hilir sawit seluruhnya menunjukkan bahwa sawit menjadi komoditi utama yang mampu mensejahterakan Indonesia,” ujarnya.(LMC/rel)




10 Pemda Berhasil Pertahankan Opini WTP

Foto: Kepala Perwakilan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Sumut VM Ambar Wahyuni (tengah) berbicara kepada wartawan di kantornya Rabu (26/6). (LintasMedan/Wie)

Medan, 26/6 (LintasMedan) –  Sebanyak 10 Pemerintah Daerah (Pemda) di Sumatera Utara berhasil mempertahankan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) lebih dua tahun berturut-turut.

Hal itu dikatakan Kepala Perwakilan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Sumut VM Ambar Wahyuni kepada wartawan di kantornya  Rabu (26/6). Saat itu, Ambar didampingi Kasubag Hasanah Humas dan TU Ludfi Noviandi, Pengendali Teknis  Namiko, Kasubaud Sumut III Nyra Yuliantina dan Pengendali Tehnis Dudi Agung Somantri.

    Ambar menjelaskan 10 Pemda yang berturut-turut mempertahankan WTP itu yakni Pemkab Labuhanbatu Selatan (WTP 6 kali). WTP 5 kali yakni Pemprov Sumut, Pemkab Dairi, Taput dan Tapsel. WTP 3 kali yakni Pemkab Humbahas, Tobasa dan Binjai. WTP 2 kali yakni Pemkab Padanglawas Utara dan Asahan.

    “Kalau WTPnya berturut-turut akan mendapat intensif,” katanya.

   Pemda yang opininya meningkat dari Wajar Dengan Pengecualian (WDP) ke WTP yakni Pemkab Batubara, Deliserdang, Serdang Bedagai, Gunungsitoli, Sibolga dan Tebingtinggi. Target WTP sebanyak 20 belum tercapai karena ada juga yang opininya turun dari WTP ke WDP yakni Pemkab Labuhanbatu Utara, Pakpak Bharat dan Pematangsiantar.

      Ambar menyebut Target WTP 100  persen seperti di Aceh tahun ini tidak tercapai di Sumut dan baru 50 persen saja. “Belum tercapai WTP biasanya karena masalah aset,” jelasnya.

     Namun perkembangan opini WTP terus mengalami peningkatan dan sebaliknya WDP mengalami penurunan. Tahun 2015  opini WTP 6, WDP 24, Tidak Memberikan Pendapat (TMP) 4. Tahun 2016, WTP 12, WDP 18, TMP 4. Tahun 2017, WTP 14, WDP 17 dan TMP 3′ Tahun 2018, WTP 17, WDP 13 dan TMP 3. “Tahun 2018, belum temasuk opini untuk Pemkab Nias Selatan,” kata Ambar.

     Ia menjelaskan proses penyusunan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) tahun 2018 memerlukan waktu 36 sampai 58 hari. “Tidak ada yang melampaui batas waktu 60 hari,” jelas Ambar.

    Sebab sesuai undang-undang (UU) Nomor 15 tahun 2004 tentang pemeriksaan pengelolaan keuangan dan tanggung jawab keuangan negara pasal 17 ayat 2, BPK wajib menyerahkan LHP atas LKPD kepada DPRD selambat-lambatnya dua bulan setelah menerima laporan keuangan dari Pemda.

     Tahun ini BPK belum memberikan opini kepada Nisel karena LKPD masih perlu diperiksa lanjutan lagi. BPK sendiri membentuk Tim 8 untuk membantu Pemda dalam menyelesaikan LKPD nya.

     Dalam hal penyerahan LKPD tahun 2018, Ambar menyebut di Sumut banyak kemajuan tepat waktu sampai 31 Maret 2019 sebanyak 28 Pemda. Tidak tepat waktu (lebih dari 31 Maret 2019) sebanyak 6 Pemda yakni Madinah, Pakpak Bharat, Karo, Nias Barat, Tanjungbalai dan Nisel.

    BPK sendiri sudah menyelesaikan 34 interim LKPD tahun 2018, namun khusus LKPD Nias Selatan masih dilaksanakan pemeriksaan secara terinci. “Jadi BPK sudah menyerahkan 33 LHP atas LKPD tahun anggaran 2018, kecuali Nias Selatan,” jelas Ambar.

                                          Tindak Lanjut

     Pencapaian Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan (TLRHP) per 19 Juni 2019 tertinggi Membahas sebesar 93,99 persen disusul Tobasa 92,90 persen dan Samosir 91,22 persen. Tiga daerah lainnya persentase terbawah yakni Nias Barat 56,51 persen, Labuhanbatu 62,12 persen dan Padanglawas 64,36 persen. Sedangkan TLRHP Pemprov Sumut hanya 78,58 persen.  Dari 34 entitas itu, TLRHP nya per 19 Juni 2019 hanya 76,11 persen. “BPK Perwakilan Sumut melaksanakan pembahasan tindak lanjut empat kali setahun,” kata Ambar. (LMC-02)




Prospek Saham Infrastruktur Diprediksi Cerah

Ilustrasi – Pengunjung mengamati papan elektronik yang menunjukkan pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG), di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta. (Foto: LintasMedan/dok)

Medan, 20/6 (LintasMedan) – Kalangan pengamat ekonomi dan bisnis di Sumatera Utara, memprediksi saham sektor infrastruktur memiliki prospek yang cerah hingga menjelang akhir tahun 2019.

“Saham sektor infrastruktur akan semakin bergairah, seiring dengan peningkatan pembanguan infrastruktur di Indonesia baik, seperti jalan tol, bandara, pelabuhan dan stasiun kereta api,” kata Gunawan Benjamin di Medan Kamis.

Berdasarkan catatan redaksi lintasmedan.com, pada pra pembukaan perdagangan saham, Rabu (19/6/2019), IHSG naik 32,12 poin atau 0,51 persen ke posisi 6.289,45,13.

Sektor saham infrastruktur menguat 1,87 persen dan membukukan penguatan terbesar.

Benjamin mengemukakan, emiten infrastruktur juga mendapat permintaan yang tinggi dari investor pascapemilu 2019.

Peningkatan harga saham sektor infrastruktur pada perdagangan sepekan terakhir, menurut dia, turut diikuti oleh membaiknya saham sektor manufaktur.

Menurut dia, prospek saham infrastruktur yang relatif cerah turut dipengaruhi oleh rencana Pemerintah untuk memindahkan ibu kota RI ke luar Pulau Jawa.

Jika pemindahan ibu kota Indonesia tersebut terealisasi, kata dia, total dana pembangunan yang dikeluarkan bisa mencapai ratusan triliun rupiah.

“Terkait dengan pemindahan ibu kota RI yang baru, tentunya akan dilakukan pembangunan sejumlah fasilitas umum, kawasan pemukiman serta sarana dan prasarana yang memadai. Sehingga saya kira prospek saham sektor infrastruktur masih gemilang dalam jangka panjang,” ujarnya.

“Dalam jangka pendek, saya memperkirakan investor dapat melirik saham sektor infrastruktur yang bergerak pada sub sektor telekomunikasi,” kata Gunawan.

Sebab, menurut dia, sub sektor telekomunikasi masih tergolong aman dan tidak berpengaruh pada isu eksternal sehingga meskipun pertumbuhan ekonomi global melambat, saham telekomunikasi tidak berdampak signifikan.

Harga saham PT Gihon Telekomunikasi Indonesia tbk (GHON), misalnya, dalam beberapa hari terakhir mengalami kenaikan sekitar 5,93 persen, Saham PT Jasnita Telekomindo tbk naik 5,4 persen, saham PT Cebtratama Telekomunikasi Indonesia tbk (CENT) naik 5,55 persen dan saham PT XL Axiata tbk (EXCL) naik 2,1 persen. (LMC-05)




PGN-Krakatau Steel Sepakati Kerja Sama Pengembangan Energi

Direktur Utama PT Perusahaan Gas Negara Tbk Gigih Prakoso (kiri) dan Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk Silmy Karim (kanan) serta Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno (tengah), saling berjabat tangan usai acara penandatanganan nota kesepahaman bersama antara PGN dengan Krakatau Steel, di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (20/6). (Foto: LintasMedan/ist)

Jakarta, 20/6 (LintasMedan) – PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) dan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk sepakat memulai kerja sama yang saling menguntungkan melalui penandatanganan nota kesepahaman atau MoU (Memorandum of Understanding).

MoU tersebut ditandatangani Direktur Utama PGN Gigih Prakoso dan Direktur Utama PTKS Silmy Karim di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis.

Melalui kesepakatan kerja sama tersebut, PGN dan Krakatau Steel akan memperkuat kerja sama di bidang pengelolaan dan pengembangan bisnis energi.

“PGN dan Krakatau Steel mempunyai kompetensi andal dalam bidang masing-masing, karena itu jika keduanya memperkuat kerja sama, maka akan terdapat saling tukar benefit,” kata Direktur Utama PGN Gigih Prakoso.

Ia memaparkan, MoU itu berisikan pengembangan bisnis saling menguntungkan dengan ruang lingkup terutama kerja sama pengembangan dan pengelolaan gas bumi di lingkungan Krakatau Steel Group.

Krakatau Steel merupakan produsen baja dan produk seejenisnya, membutuhkan layanan energi yang aman dan efisien.

Ia juga mengemukakan bahwa Krakatau Steel memiliki peran penting dalam struktur industri nasional sebagai hulu.

Untuk itu, kata dia, PGN berkomitmen menopang visi ke depan perusahaan industri peleburan besi baja tersebut.

“Salah satu tanggung jawab PGN selaku Sub Holding Gas, yaitu membantu memajukan perekonomian nasional dengan cara memberikan nilai lebih kepada sektor industri nasional.

Kedua perusahaan juga bersedia melakukan kerja sama dalam pengelolaan bisnis kelistrikan melalui anak usaha, serta kerjasama potensial lainnya.

“Itu semua kerja sama yang prioritas di antara kedua perusahaan, namun di luar tersebut, keduanya masih terbuka untuk kerja sama yang memberikan benefit kepada masing-masing pihak,” ujar Gigih.

Sementara itu, Direktur Utama PT Krakatau Steel Silmy Karim mengungkapkan bahwa hingga saat ini perusahaan yang dipimpinnya terus melakukan pengembangan kapasitas produksi baja.

Pada tahun 2025, kata dia, kapasitas produksi baja di kawasan industri Krakatau Steel akan meningkat hingga 10 juta ton per tahun.

Karena itu, kata Silmy, tidak hanya bidang energi yang dapat dikerjasamakan, tapi juga termasuk bidang logistik, air industri, pengembangan kawasan dan infrastruktur lainnya.

“Dari kerja sama ini, Krakatau Steel akan memperoleh peningkatan daya saing melalui efisiensi biaya produksi dengan pasokan gas yang kompetitif,” tuturnya.

Selain itu, pihaknya berharap memperoleh tambahan pendapatan melalui kerja sama pengelolaan bisnis gas bumi serta bertambahnya investor yang mendayagunakan kawasan industri yang dimiliki anak perusahaan PT Krakatau Steel. (LMC-05)




Barang Impor Sumut Masih Didominasi dari Tiongkok

Ilustrasi – Aktivitas ekspor impor di dermaga peti kemas Pelabuhan Belawan Medan. (Foto: LintasMedan/dok)

Medan, 20/6 (LintasMedan) – Tiongkok masih menjadi negara yang paling banyak melakukan impor ke Provinsi Sumatera Utara (Sumut) pada April 2019, baik dari sisi volume maupun nilai transaksi.

Data yang diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Kamis, menyebutkan nilai transaksi impor Sumut dari Tiongkok selama April 2019 tercatat sebesar 106,49 juta dolar AS.

“Impor barang modal dan bahan Sumut dari Tiongkok selama April 2019 mencapai 25,51 persen dari total impor Sumut selama priode yang sama sebesar 417,41 juta dolar AS,” kata Kepala BPS Sumut, Syech Suhaimi.

Golongan barang asal Tiongkok yang dominan diimpor oleh Sumut selama April 2019, antara lain mesin/pesawat mekanik, bahan bakar mineral, bahan kimia anorganik dan berbagai jenis bahan baku penolong lainnya.

Selain Tiongkok, menurut Suhaimi, beberapa negara di kawasan Asia juga masih menjadi pemasok terbesar berbagai jenis produk ke Sumut, yakni Singapura dan Malaysia.

Nilai impor Sumut dari Singapura selama April 2019 sebesar 49,87 juta dolar AS dan Malaysia sebesar 42,58 juta dolar AS.

Dari total nilai impor Sumut selama April 2019, lanjutnya, sebesar 165,89 juta dolar AS (39,74 persen) berasal dari Asia di luar ASEAN, sebesar 117,49 juta dolar AS (28,15 persen) berasal dari ASEAN.

Ia menambahkan, selama periode Januari-April 2019 terdapat 10 negara pengimpor terbesar atau sekitar 76,99 persen ke Sumut.

Disebutkannya, nilai impor Sumut dari 10 negara tersebut mengalami penurunan sebesar 8,31 persen dibandingkan periode Januari-April 2018.

Neraca perdagangan
Suhaimi menambahkan neraca perdagangan luar negeri Sumut selama April 2019 mengalami surplus sebesar 189,70 juta dolar AS, namun mengalami penurunan sebesar 30,94 persen jika dibandingkan Maret 2019 yang mencapai 274,69 juta dolar AS.

“Bahkan jika dibandingkan dengan April 2018, neraca perdagangan luar negeri Sumut mengalami penurunan sebesar 32,41 persen,” paparnya.

Surplus neraca perdagangan luar negeri Sumut dengan negara mitra dagang utama selama bulan April 2019 terjadi dengan AS senilai 20,55 juta dolar AS, Jepang (15,83 juta dolar AS), India (23,12 juta dolar AS), dan Belanda senilai 13,89 juta dolar AS.

Sedangkan defisit perdagangan luar negeri Sumut selama Januari-April 2019 terjadi dengan Singapura sebesar 44,86 juta dolar AS, Malaysia (25,19 juta dolar AS), Australia (22,18 juta dolar AS), Argentina (16,40 juta dolar AS) dan Tiongkok (4,30 juta dolar AS). (LMC-05)




Regal Springs Group Luncurkan Program “Kami Peduli 2023”

Chief Executive Officer (CEO) Regal Springs Group Achim Eichenlaub (Keempat kiri) berfoto bersama Presiden Komisaris Regal Springs Indonesia Sammy Hamzah (keenam kiri) dan jajaran pimpinan perusahaan penanaman modal asing tersebut pada acara peluncuran program “Kami Peduli 2023” di Indonesia, di Medan, Kamis (13/6). (Foto: LintasMedan/Irma Yuni)

Medan, 13/6 (LintasMedan) – Regal Springs Group, produsen budidaya ikan berdaging putih terbesar, meluncurkan program “Kami Peduli 2023” di Indonesia yang merupakan bagian dari upaya mendorong pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan di semua lini operasi perusahaan penanaman modal asing (PMA) tersebut.

“Program “Kami Peduli 2023″ merupakan program berkelanjutan terpadu pertama di dunia dalam bidang akuakultur dan perikanan di Indonesia,” kata Chief Executive Officer (CEO) Regal Springs Group, Achim Eichenlaub di Medan, Kamis.

Achim menyatakan hal tersebut pada acara peluncuran program “Kami Peduli 2023” sekaligus peluncuran Ecolabel Aquaculture Stewardship Council (ASC) pada kemasan produk Regal Springs di Indonesia.

Dalam acara yang turut dihadiri Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Sumatera Utara (Sumut), R Sabrina, ia menjelaskan bahwa Indonesia akan menjadi negara pertama di wilayah operasional bisnis Regal Springs Group dalam menghadirkan ikan berstandar internasional tersertifikasi bagi konsumen lokal.

“Visi kami adalah untuk menggerakkan standar budidaya dan pengolahan makanan yang berkelanjutan dan lebih berkualitas, sehingga kami dapat menjadi produsen ikan Tilapia secara bertanggung jawab yang terbaik di dunia,” paparnya.

Achim menyatakan optimistis Regal Springs Indonesia yang sebelumnya bernama PT Aquafarm Nusantara, secara bertahap mampu mewujudkan komitmennya menjadi perusahaan yang bergerak di bidang akuakultur dan pengolahan ikan terkemuka di dunia.

“Sebagai bukti komitmen tersebut, kami mengumumkan investasi besar melalui peluncuran “Kami Peduli 2023” di Indonesia. Dengan berinvestasi pada program “Kami Peduli 2023″ di Indonesia, Regal Springs Group mendorong pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan di semua lini operasi kami,” ujarnya.

Program “Kami Peduli 2023” di Indonesia, lanjut Achim, selaras dengan agenda Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yakni Sustainable Development Goals (SDGs) atau program pembangunan berkelanjutan.

Pada kesempatan itu, Sekdaprov Sumut Sabrina mengapresiasi program “Kami Peduli 2023” di Indonesia yang diluncurkan oleh Regal Springs Group.

Ia berharap perusahaan PMA yang juga mengembangkan investasi di Sumut itu memegang teguh komitmen untuk ikut menjaga kelestarian lingkungan, termasuk di wilayah perairan Danau Toba.

Dikatakan Sabrinba, ketika PT Aquafarm Nusantara belum berganti nama menjadi Regal Springs Indonesia pernah dikenakan sanksi karena dinilai termasuk salah satu perusahaan yang ikut berkontribusi mencemarkan Danau Toba.

Namun, ia membenarkan bahwa teguran dan sanksi tersebut telah direspon secara baik oleh PT Aquafarm Nusantara dengan melakukan perbaikan.

“Upaya pelestarian Danau Toba harus terus dilakukan, karena danau tersebut secara ekonomi dinilai memiliki potensi besar untuuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Sabrina.

Sangat terkesan
Sementara itu,  Presiden Komisaris Regal Springs Indonesia Sammy Hamzah, mengaku sangat terkesan dengan program “Kami Peduli 2023” di Indonesia yang diinisiasi oleh Regal Springs Group.

“Saya sangat terkesan dengan upaya yang telah dilakukan oleh Regal Springs Group untuk melaksanakan program “Kami Peduli 2023″ di Indonesia,” tuturnya.

Dalam upaya merealisasikan program tersebut, lanjut Sammy, pihaknya telah merekrut sejumlah pakar dan manajer yang berkompeten.

Selain itu, kata dia, Regal Springs Indonesia telah pula menandatangani perjanjian kerja sama dengan beberapa lembaga dan organisasi penelitian terkemuka untuk mempersiapkan implementasi filosofi bisnis yang berkaitan dengan program “Kami Peduli 2023” di seluruh lini bisnis perusahaan tersebut.

Dalam konteks penerapan program “Kami Peduli 2023”, Regal Springs Indonesia akan menerapkan sistem daur ulang keramba jaring apung untuk budidaya ikan Tilapia di Danau Toba dan sistem pemberian pakan secara otomatis kepada ikan yang dibudidayakan perusahaan tersebut di Danau Toba.

Disebutkannya, sistem daur ulang dilakukan dengan cara mengumpulkan sisa-sisa pencernaan dan mendaur ulang menjadi pupuk maupun pakan ternak.

Sedangkan sistem pemberian makanan secara otomatis akan diterapkan melalui proses pendistribusian pakan ikan secara lebih efektif dan memaksimalkan penggunaan pakan, sehingga dapat mengurangi pemborosan.
Penerapan kedua sistem itu, kata Sammy, diyakini akan berkontribusi besar untuk mengurangi dampak pencemaran ekosistem di perairan Danau Toba. (LMC-02)