Sri Mulyani Sebut Film ‘Bumi Manusia’ Sangat Layak Ditonton

Ilustrasi:  Poster Film Bumi Manusia. (Foto: LintasMedan/dok)

Jakarta, 19/8 (LintasMedan) – Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani ikut menonton film ‘Bumi Manusia’ karya Hanung Bramantyo bersama orang terdekat.

Sri Mulyani mengajak serta suaminya dan sejumlah pejabat Kementerian Keuangan untuk menonton di hari ulng tahun ke-74 Kemerdekaan RI, Sabtu (17/8).

“Film ini sangat layak ditonton,” sebut Menkeu dalam Instagramnya, @smindrawati, Minggu (18/8).

Menurutnya, film yang disutradai oleh Hanung Bramantyo ini adalah adaptasi dari buku maha karya penulis besar kebanggaan Indonesia Pramoedya Ananta Toer.

Disebutkannya, banyak nilai yang bisa diambil dari adegan ke adegan yang ditayangkan, termasuk menyadari berharganya kesetaraan hak setelah Indonesia merdeka.

“Agar kita semua menyadari betapa berharganya arti dari persamaan hak dan perlakuan yang kita peroleh setelah kemerdekaan,” tuturnya.

Mantan Deputi Gubernur Bank Dunia itu berharap ke depannya, semakin banyak film Indonesia yang dapat menggugah rasa nasionalisme.

Film Bumi Manusia mulai tayang di jaringan bioskop Indonesia pada 15 Agustus 2019.

Film ini mengisahkan tentang Minke (Iqbaal Ramadhan), anak pribumi yang diperbolehkan bersekolah di HBS. HBS merupakan sekolah khusus untuk orang-orang Eropa, khususnya Belanda.

Sedangkan, orang-orang Indonesia yang boleh bersekolah di HBS hanyalah mereka yang berasal dari kalangan ningrat atau pejabat.

Namun, Minke diperbolehkan bersekolah di HBS karena kemampuan hebatnya dalam menulis. Meski bukan dari golongan ningrat atau pejabat, Minke memiliki pemikiran yang revolusioner.

Pemain ini dibintangi oleh Iqbaal Ramadhan, Mawar de Jongh, Sha Ine Febriyanti, Donny Damara, Ayu Laksmi, dan masih banyak lainnya. (LMC-03/KC)




Dewi Sandra Batasi Kegiatan Luar Rumah

Dewi Sandra. (Foto: LintasMedan/dok)

Jakarta, 2/5 (LintasMedan) – Penyanyi sekaligus aktris Dewi Sandra mengaku akan membatasi kegiatannya di luar rumah dan fokus untuk menjalankan ibadah selama Ramadhan 1440 H.

“Insha Allah. (Saya) memang sudah enggak (banyak kegiatan). Kecuali dua kegiatan, tetapi in line. Seperti tahun lalu, saya bertemu The Little Hijabi karena ini in line dengan fokus mau beribadah dan tetap enggak keluar dari konteks,” ujar Dewi di sela-sela konferensi pers kampanye #SELALUBERSYUKUR Wardah di Jakarta, Kamis.

Kalaupun harus berkegiatan di luar, Dewi akan lebih memprioritaskan berbagai kegiatan yang sejalan dengan ibadahnya.

Ramadhan, lanjut perempuan berdarah Inggris-Indonesia itu, menjadi momentum untuk kembali mencari jati diri tanpa sibuk pada kegiatan seperti 11 bulan lain.

“Going back to mencari diri kita ini siapa. (Sudah kegiatan) 11 bulan. Apalagi di dunia ini, distorsi terlalu banyak. Kita disibukkan dengan tanggung jawab dengan keluarga, dengan deadline,” kata aktris kelahiran Rio de Janeiro Brasil itu.

Dewi mengaku rindu untuk kembali ke tanah suci Mekah dan Madinah saat Ramadhan sebagaimana pada Ramadhan 1439 H.

Ketika berada di Mekah dan Madinah, Dewi merasa lebih fokus beribadah tanpa pusing memikirkan hal lain seperti menu takjil, buka puasa, dan sebagainya.

“Enggak perlu mikir takjilnya apa, buka puasanya apa, baju apa (saat Lebaran). (Aku) fokus solat di masjid, duduk di dalamnya (sambil) membaca Al-Quran. Fokusnya itu saja dan aku rindu itu,” tuturnya. (LMC-03/ANC)




Musisi Senior Dian Pramana Poetra Meninggal Dunia

Dian Pramana Poetra (kanan) bersama rekan duetnya Deddy Dhukun. (Foto:LintasMedan/ist)

Jakarta, 27/12 (LintasMedan) – Dunia musik Tanah Air kembali berduka. Hari ini, Kamis (27/12), seorang musisi senior Dian Pramana Poetra menghembuskan napas terakhirnya di usia 57 tahun. Pemilik tembang Kau Seputih Melati ini meninggal usai berjuang melawan penyakit leukimia.

Jenazah disemayamkan di rumah duka Jalan Tebet Barat VI H No 3 Tebet Jakarta Selatan

Sehari sebelum meninggal, almarhum Dian memang sempat dikabarkan drop sebelum mengisi sebuah acara di Banyuwangi. Ia lalu dilarikan ke Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Hermina Jatinegara, Jakarta Timur.

Sebelumnya, sejak era 1980an nama Dian P sudah banyak dikenal masyarakat sebagai musikus Indonesia.

Bakat musik Dian P sendiri, mengalir dari ayahnya yang juga seorang pemusik jazz.

Di ajang festival Lomba Cipta Lagu Remaja 1980, Dian sempat meraih juara tiga lewat lagu “Pengabdian”.

Selain sebagai seorang penyanyi dan pencipta lagu, ia juga pernah berduet dengan Deddy Dhukun yang terkenal dengan panggilan grup itu yaitu 2D.

Di antara lagunya yang populer dan meledak di pasaran yaitu “Keraguan” yang diciptakan oleh 2D sendiri. Sebelumnya pernah membentuk trio K3S (Kelompok 3 Suara) bersama Deddy Dhukun dan Bagoes A. Ariyanto. Trio ini juga sempat mengeluarkan beberapa buah album yang cukup dikenal pada masanya salah satunya tembang “yang terbaik untuk kita”.(LMC/int)




Marsha Timothy Raih Piala Citra 2018

Marsha Timothy memenangkan Piala Citra untuk kategori Pemeran Utama Wanita Terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) Tahun 2018. (Foto: LintasMedan/ist)

Jakarta, 9/12 (LintasMedan) – Marsha Timothy yang merupakan pemeran utama film ‘Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak’ berhasil meraih Piala Citra untuk kategori Pemeran Utama Wanita Terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2018.

“Saya tidak pernah terpikirkan, bermimpi pun enggak berani, tapi saya di sini. Terima kasih, terutama untuk keluarga saya, ibu, kakak saya, terutama Lala yang selalu ada sejak awal karier saya,” kata Marsha di atas panggung Piala Citra, Taman Ismail Marzuki Jakarta, Minggu (9/12).

Sementara itu, aktor Gading Marten meraih Piala Citra 2018 untuk kategori Pemeran Pria Terbaik melalui film ‘Love For Sale’.

Dalam film ‘Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak’, Marsha memerankan sosok Marlina, seorang janda yang berjuang bertahan hidup sendirian usai suaminya meninggal.

Di tengah rasa duka, Marlina harus berjuang mempertahankan hidupnya ketika bertemu dengan empat pencuri yang bertekad membunuhnya.

Film tersebut ditulis dan digarap oleh Mouly Surya yang juga memenangkan kategori Skenario Asli dan Sutradara Terbaik.

Film ‘Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak’ berhasil memboyong tiga kategori utama dalam malam Piala Citra FFI 2018, yaitu Sutradara Terbaik, Pemeran Utama Wanita Terbaik, dan Film Cerita Panjang Terbaik.

Dengan tiga kemenangan utama ini, film ‘Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak’ berhasil keluar sebagai juara umum Piala Citra Festival Film Indonesia 2018 dengan kemenangan sepuluh dari 15 nominasi yang diterimanya.

Berikut nama-nama nominator dan pemenang FFI Tahun 2018:

Pemeran Utama Wanita Terbaik
1. Della Dartyan – Love for Sale
2. Dian Sastrowardoyo – Aruna dan Lidahnya
3. Marsha Timothy – Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak — MENANG
4. Prisia Nasution – Lima
5. Putri Ayudya – Kafir

Pemeran Utama Pria Terbaik
1. Adipati Dolken – #TemanTapiMenikah
2. Ario Bayu – Sultan Agung
3. Gading Marten – Love for Sale — MENANG
4. Iqbaal Ramadhan – Dilan 1990
5. Oka Antara – Aruna dan Lidahnya
6. Vino G Bastian – Chrisye

Pemeran Pria Pendukung Terbaik
1. Egi Fedly – Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak
2. Yoga Pratama – Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak
3. Ence Bagus – Guru Ngaji
4. Marthino Lio – Sultan Agung
5. Nicholas Saputra – Aruna dan Lidahnya – MENANG
6. Teuku Rifnu Wikana – Wage

Pemeran Wanita Pendukung Terbaik
1. Ayu Laksmi – Sekala Niskala
2. Dea Panendra – Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak – MENANG
3. Dewi Irawan – Ayat-Ayat Cinta
4. Hannah Al Rashid – Aruna dan Lidahnya
5. Karina Suwandi – Sebelum Iblis Menjemput
6. Ruth Marini – Wiro Sableng

Pemeran Anak Terbaik
1. Alifa Lubis – Koki-Koki Cilik
2. Bima Azriel – Petualangan Menangkap Petir
3. Fatih Unru – Petualangan Menangkap Petir
4. Ni Kadek Thaly Titi Kasih – Sekala Niskala
5. Ida Bagus Putu Raditya Mahijasena – Sekala Niskala –MENANG
6. Lil’li Latisha – Kulari ke Pantai
7. Maisha Kanna – Kulari ke Pantai

Sutradara Terbaik
1. Edwin – Aruna dan Lidahnya
2. Mouly Surya – Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak — MENANG
3. Kamila Andini – Sekala Niskala

Penulis Skenario Asli Terbaik
1. Andi Bachtiar Yusuf, M Irfan Ramli – Love for Sale
2. Mira Lesmana, Gina S Noer, Riri Riza, Arie Kriting – Kulari ke Pantai
3. Kamila Andini – Sekala Niskala
4. Mouly Surya, Rama Adi – Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak – MENANG
5. Vera Veridia – Koki-Koki Cilik

Penulis Skenario Adaptasi Terbaik
1. Johanna Wattimena, Upi – #TemanTapiMenikah
2. Rano Karno – Si Doel The Movie
3. Titien Wattimena – Aruna dan Lidahnya – MENANG

Film Terbaik
1. Aruna dan Lidahnya
2. Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak – MENANG
3. Sekala Niskala
4. Sultan Agung

Penata Rias Terbaik
1. Darto Unge – Sultan Agung
2. Didin Syamsudin – Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak
3. Jerry Okatvianus – Wiro Sableng – MENANG
4. Retno Astuti – Wage
5. Novie Ariyanti – Sebelum Iblis Menjemput

Penata Busana Terbaik
1. Adrianto Sinaga, Nadia Adharina – Wiro Sableng – MENANG
2. Bambang Sugiarto – Wage
3. Gemailla Gea Geriantiana – Chrisye
4. Meutia Pudjowarsito – Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak

Pengarah Artistik Terbaik
1. Adrianto Sinaga – Wiro Sableng
2. Allan Sebastian, Edy Wibowo – Sultan Agung
3. Frans XR Paat – Wage
4. Frans XR Paat – Kafir
5. Frans XR Paat – Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak – MENANG

Penata Suara Terbaik
1. Aria Prayogi, M Ichsan Ramadhita – Wiro Sableng
2. Khikmawan Santosa – Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak – MENANG
3. Satrio Budiono, Krisna Purna – Sultan Agung
4. Yasuhiro Morinaga, Trisno, Hardianus Eko – Sekala Niskala

Penata Musik Terbaik
1. Aghi Narottama, Bemby Gusti, Toni Setiaji – Kafir
2. Aksan Sjuman – Kulari ke Pantai
3. Aria Prayogi – Wiro Sableng
4. Ken Jenie, Mar Galo – Aruna dan Lidahnya
5. Zeke Khaseli, Yudhi Arfani – Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak – MENANG

Pencipta Lagu Tema Terbaik
1. Teman Tapi Menikah oleh Ade Avery, Jessilardus Mates, Ayudia Bing Slamet – #TemanTapiMenikah
2. Juara oleh Mhala Numata, Tantra Numata – Naura dan Genk Juara
3. Ku Lari Ke Pantai oleh Rayi Putra, Astono Andoko, Anindyo Baskoro – Kulari ke Pantai – MENANG
4. Rindu Sendiri oleh Tarapti Iktiar Rinrin, Muhammad Abbidzar Nur Fauzan – Dilan 1990

Penyunting Gambar Terbaik
1. Cesa David Lukmansyah – Hujan Bulan Juni
2. Kelvin Nugroho – Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak – MENANG
3. Teguh Raharjo – Sebelum Iblis Menjemput
4. W Ichwan Diardono – Aruna dan Lidahnya

Penata Efek Visual Terbaik
1. Canary Project – Kafir
2. Danny S Kim, Teguh Raharjo – Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak
3. Geppetto Animation – 22 Menit
4. Keliek Wicaksono – Wiro Sableng – MENANG
5. X Joe, Hery Kuntoro – Sultan Agung

Pengarah Sinematografi Terbaik
1. Anggi Frisca – Sekala Niskala
2. Batara Goempar – Sebelum Iblis Menjemput
3. Hani Prayoga – Wage
4. Ipung Rachmat Syaiful – Wiro Sableng
5. Yunus Pasolang – Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak — MENANG

Film Animasi Terbaik
1. Keluarga Satu Setengah
2. Knight Kris
3. Si Juki The Movie – MENANG
4. Terrorvision 3000
5. Thank You
6. The Awakening Lullaby

Film Dokumenter Pendek Terbaik
1. Andreas: Melawan Realitas
2. Angin Pantai Salenko
3. Deathcrow 48
4. Di Bawah Langit yang Sama
5. Lahir di Darat Besar di Laut
6. Neraka di Telapak Kaki
7. Ojek Lusi
8. O-Sepig
9. Pagi yang Sungsang
10. Rising for Silence – MENANG

Film Dokumenter Panjang Terbaik
1. Lakardowo Mencari Keadilan
2. Nyanyian Akar Rumput – MENANG
3. Semesta

Film Pendek Terbaik
1. Elegi Melodi
2. Har
3. Joko
4. Kado – MENANG
5. Melawan Arus
6. Siko
7. Topo Pendem. (LMC-03/AN)




Seniman Medan Sosialisasikan Pentingnya Belajar Seni Kreatif

T Rangkuti (nomor -2 dari kiri). (Foto:LintasMedan.Com)

Bang T Rangkuti bersama rekannya Rudy D Nasution adalah dua profesional kelahiran Medan yang sudah malang melintang di dunia musik Nasional.

Bang T Rangkuti yang juga dikenal dengan inisial “TFR” juga memiliki profesi sebagai konsultan dalam bidang Managemen, Music Production & Education yang saat ini tengah aktif mengkonstruksi 4 unit Bisnis Pandan House Group di Tanjung Pandan Belitung.

Salah satu terobosan yang dilakukan adalah dengan menawarkan Program Ekstra Kurikulum untuk sekolah tingkat SMP, SMA & SMK.

Sebuah program “ EKSTRA KURIKULUM SENI KREATIF BERBASIS IPTEK ” yang akan menjawab tantangan dunia pendidikan Indonesia di abad 21.

Dengan membawa Brand ‘Digital Guru’ & bekerjasama dengan salah satu Lembaga yang memiliki legitimasi untuk melaksanakan program pelaksanaan pendidikan.

TFR yang menjabat sebagai Direktur Program & Pendidikan di ‘Digital Guru’, bersama rekannya Rudy D Nasution sebagai Direktur Pengembangan Bisnis melakukan sosialisasi & coaching clinic di 22 sekolah di provinsi Bangka Belitung, khususnya di Kota Tanjung Pandan.

LintasMedan.Com (LMC) mencoba menggali lebih dalam apa sebenarnya sasaran dari program Excul dari Digital Guru & seberapa besar manfaatnya bagi dunia pendidikan.

Berikut wawancara singkat dengan TFR, Selasa (27/11).

LMC : Apa sasaran yang ingin dicapai dari kegiatan sosialisasi & coaching clinic yang dilakukan Digital Guru di sekolah – sekolah?.

TFR : Saya perlu menggambarkan landasan filosofis mengapa ‘Digital Guru’ menawarkan program ‘Seni Kreatif berbasis Iptek’.
Pertama, Dunia pendidikan Indonesia membutuhkan jawaban yang lebih konkrit terhadap tantangan globalisasi, yang salah satunya adalah Informasi, dan kita semua tahu informasi dapat diakses begitu mudah karena mediumnya digital.

Informasi ini dalam berbagai bentuk, misalnya, berita, hiburan dan lain sebagainya, yang ternyata berimplikasi pada terangkutnya begitu banyak aspek negatif yang kemudian dikonsumsi oleh berbagai elemen masyarakat dan yang sangat berbahaya adalah dapat dikonsumsi oleh anak – anak kategori masih belajar. Dari tingkat TK hingga SMA.

Pemerintah memang sudah meletakkan proteksi fundamentalnya, misal melakukan proteksi jaringan, sosialisasi ke pengguna & orang tua, dan UU ITTE. Nah dalam perspektif pertama ini, kita menyebutnya Resolusi.
Resolusi dari ‘Digital Guru’ terhadap permasalahan ini adalah pentingnya untuk melakukan proteksi semenjak dini terhadap generasi muda & siswa siswi didik dari bahaya konten Negatif Media Digital. Misal, Konten Gosip & Hoax, Kekerasan, Kriminal, Pornography & imoralitas, Takhyul, Mitos, kebencian SARA & konten politik yang tidak mendidik.

Inilah yang kami sosialisasikan, dan yang menjadi concern dari kami adalah implikasinya, bahwa telah terinjeksi-nya ke alam bawah sadar siswa siswi didik tentang hal – hal imoral, akulturasi budaya & bahkan mengarahkan generasi muda untuk mengikutinya, dalam artian seluruh potensi kreatif dari generasi muda tergiring kepada kegiatan untuk meniru bahkan memproduksi hal – hal yang tidak memiliki derajat seni & budaya yang benar, bahkan tidak memiliki nilai kompetensi sama sekali.

Maka landasan filosofis kedua adalah ‘Solusi’. Kita tidak bisa berhenti pada kepemahaman Resolusi, kita harus berikan jalan keluar.
Ini kami jawab dengan keharusan untuk dilaksanakannya kegiatan Ekstra Kurikulum Seni Kreatif yang berbasis IPTEK. Yang merupakan subjek & goalnya. Kami telah melakukan Coaching Clinic di tujuh Sekolah. Dua sekolah swasta sudah memberikan permintaan untuk pengadaan & pelaksanaannya.

LMC : Mengapa Ekstra kurikulum ini menjadi solusi?.

TFR : Kita ingin generasi baru semenjak dini dapat menjadi lebih fokus dalam hal pengetahuan & keahlian Seni Kreatif, khususnya bidang Music Computer Digital & Multimedia. Sehingga generasi muda inilah yang akan menjadi pelindung diri mereka & masyarakat, yaitu memiliki kemampuan untuk memproduksi konten Digital yang merupakan karya sendiri, diproduksi sendiri & dengan kualitas yang baik.

Baik dari aspek seni, teknologi & memiliki nilai edukatif. Bukan sekedar semata – mata mengejar viewers atau menjadi viral & iklan. Lagipula, kegiatan Excul sekolah yang sudah berjalan selama ini tidak lagi update & jelas tidak mengakomodir amanah RPJMN yang telah disusun oleh Depdikbud, yang telah meletakkan pendidikan yang harus berlandaskan IPTEK. Bidang IPTEK dimaksud ada 4 : Informasi, Komputasi, Otomasi & Komunikasi. Ini tidak terimplementasikan.

LMC: ”Ini program yang sangat bagus, Apakah Pemerintah dapat mengakomodir & mengimplementasikannya, apa harapan abang ?”.

TFR : Yang menjadi prioritas kami adalah pilot projects. Yaitu bagaimana program kami ini dapat diterima di sekolah swasta di beberapa Provinsi. Target awal kami adalah 5 Provinsi yaitu Sumut, DKI Jakarta, Jabar, Yogyakarta & Babel. Tak perlu banyak secara kuantitas. Tapi bagaimana secara kualitas program ini dapat berjalan & memang teruji bermanfaat bagi siswa didik. Jika menggunakan orientasi ekonomi, belanja sekolah swasta yang independen tentu sudah cukup bagi kami. Dan adalah suatu kehormatan bagi kami apabila Pemerintah Daerah & juga Pemerintah Pusat, melalui Depdikbud, dapat menerima program kami ini sebagai jawaban dari tantangan pendidikan Nasional masa kini, dan mengakomodir ke dalam program eksta kurikulum yang diimplementasikan di sekolah – sekolah. Bahkan secara Nasional.

LMC : Apakah tidak ada kontraktor lain yang memiliki ide & mampu melaksanakan program yang digagas oleh Digital Guru ?”.

TFR : Siapapun dapat melakukan program seperti yang kami gagas ini, asal memiliki 4 kompetensi. Pertama, kemampuan mendesign silabus & kurikulum. Kedua, kemampuan men-suplai tenaga pengajar & instruktur, ketiga, kemampuan untuk melakukan pengadaan infrastrukturnya, keempat melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan belajar mengajarnya secara kontinyu. Sebagai informasi kami punya pengalaman & stakeholders di setiap bidang kompetensi & industri tersebut. Bahkan sudah melakukan gentle agreement dengan 4 distributor musical instrument & 2 distributor computer. Kami siap berkompetisi secara sehat dengan kontraktor lainnya.

LMC: Apa ekspektasi Anda terhadap Dinas Provinsi Dikbud Sumatera Utara terhadap program ini ?”.

TFR : Sebagai seorang yang tumbuh besar di Sumatera Utara. Ada harapan & kebanggaan pribadi saya, bahwa Provinsi Sumut dapat menjadi pionir dalam pelaksanaan program ini. Dan ini relevan dengan slogan & semangat Pak Edy Rahmayadi sebagai Gubsu, yaitu mencapai “Sumut Bermartabat”. Dan pembentukan mental bermartabat tentu tidak bisa serta merta dikonstruksi atau diperbaiki di hilir. Hulunya adalah bidang pendidikan. Dan tentu sangat penting untuk menjaga & mendidik generasi muda Sumatera Utara. Karena untuk bermartabat itu haruslah dimulai dari sikap mental & moral. Kebudayaan yang berasal dari kata ‘Budi & Daya’. Jika daya fikirnya baik, maka kreativitas yang diproduksi juga akan baik, budi yang baik. Nah, tentu sangat membanggakan jika Sumut menjadi percontohan bagi provinsi lainnya, bahkan Nasional.(LMC)




Penyanyi Rani Dahlan Meriahkan Penutupan GEMES 2018

Penyanyi Melayu, Rani Dahlan. (Foto: LintasMedan/dok)

Medan, 4/11 (LintasMedan) – Penyanyi Melayu ternama, Rani Dahlan tampil memeriahkan penutupan rangkaian acara Gelar Melayu Serumpun (GEMES) Tahun 2018 di halaman Istana Maimun Medan, Minggu (4/11) malam.

Ribuan pengunjung menikmati lagu-lagu dilantunkan Dahlan yang juga dikenal sebagai pencipta lagu ‘Medan Kusayang’ tersebut.

Acara GEMES 2018 yang berlangsung sejak 2 November, ditutup secara resmi oleh Wakil Walikota Medan Akhyar Nasution.

“Mari kita jadikan Gemes 2018 sebagai momentum untuk melestarikan seni dan budaya Melayu,” kata Akhyar dalam pidatonya pada penutupan GEMES 2018.

Pihaknya berharap event seni budaya Melayu tersebut masuk dalam kalender tetap Dinas Pariwisata Kota Medan, sehingga rutin digelar setiap tahun.

Terkait dengan harapan itu, Akhyar minta Dinas Pariwisata Kota Medan melakukan evaluasi penyelenggaraan GEMES agar saat acara serupa digelar tahun 2019 dapat berlangsung lebih semarak dan mampu meningkatkan minat wisatawan berkunjung ke ibu kota Provinsi Sumut itu.

GEMES 2018 diikuti peserta dari negara-negara ASEAN, yakni Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, dan Singapura.

Sementara untuk peserta dari dalam negeri, antara lain Aceh, Jakarta, Sumsel, Riau, Jambi, dan Bengkulu.

Sedangkan, peserta dari Sumut meliputi Kabupaten Langkat, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Batu Bara, Labuhan Batu Utara, Asahan, serta Kota Binjai, Tebing Tinggi, Tanjung Balai dan Sibolga.

Beberapa saat sebelum event seni budaya Melayu yang digelar Pemerintah Kota (Pemko) Medan tersebut ditutup, para hadirin juga disuguhkan dengan penampilan para penari dari sejumlah kontingen, termasuk dari negara-negara ASEAN.

Pagelaran kesenian Melayu negara-negara serumpun yang berlangsung selama tiga hari tersebut diisi dengan berbagai pertunjukan kesenian, hiburan band Melayu, fashion show dan pameran beragam produk kerajinan khas Kota Medan, termasuk Batik dan songket hasil para pengrajin binaan Dekranasda Kota Medan. (LMC-04)




Tompi Persembahkan Lagu untuk Asian Para Games 2018

Tompi dan putrinya, Cut Malka Ayesha. (Foto: LintasMedan/ist)

Jakarta, 24/9 (LintasMedan) – Penyanyi Tompi (40) dan putrinya, Cut Malka Ayesha mempersembahkan sebuah lagu untuk Asian Para Games 2018 bertajuk “I Wanna Dance”.

Namun, karena kesibukan Tompi menggarap video lain, lagu yang dinyanyikan oleh Ayesha itu tak sempat dimasukan menjadi lagu tema Asian Para Games 2018.

Pelantun tembang “Sedari Dulu” itu menjelaskan, awalnya lagu tersebut memang dia persiapkan untuk mini album putrinya.

Kemudian, Tompi pun mengubah sedikit lirik lagu itu menjadi lebih berkaitan dengan tema Asian Para Games 2018 yang mulai digelar di Jakarta pada 6 Oktober mendatang.

“Jadi sebenarnya lagu ini memang saya siapkan buat single-nya Ayesha. Saya ada plan buat bikin mini albumnya Ayesha, mungkin sekitar empat, lima,” tuturnya.

Tompi yang juga dokter ahli bedah pelstik itu juga mengungkapkan bahwa sampai menitikkan air mata ketika menggarap video para atlet difabel dari Indonesia yang ikut Asian Para Games 2018.

“Secara konten, menurut saya menarik banget,” tutur sutradara video musik untuk lagu tema Asian Para Games 2018, “Song of Victory”, ini.

“Nah, waktu saya ngerjain ini tuh, keterlibatannya ternyata emosional banget. Baru sekali saya pegang kamera sampai mengeluarkan air mata,” ujarnya.

Tompi mengakui bahwa dirinya belum banyak berguna bagi orang-orang lain ketika melihat para atlet difabel bersiap untuk berlaga dalam Asian Para Games 2018.

“Melihat teman-teman atlet difabel ini membuat saya merasa saya belum ngapa-ngapain selama ini,” ucapnya.

Karena itu, Tompi menawarkan diri untuk terlibat dalam penggarapan proyek musik Asian Para Games 2018. Bahkan, Tompi bersedia membuat video para atlet tanpa dibayar. (LMC-05/KC)




Kisah Haru Rasyid Rajasa Tetap Nikahi Adara Meski Menderita Kanker

Resepsi pernikahan Rasyid Rajasa dan Adara Taista. (Foto:LintasMedan/ist)

Jakarta, 22/5 (LintasMedan) – Rasyid Rajasa sudah mengetahui sakit yang diidap Adara Taista sejak mereka masih pacaran. Namun kondisi itu tak menyurutkan niat Rasyid meminang Adara dan membina rumah tangga.

Diakui Rasyid Rajasa, ketakwaan Adara Taista-lah yang membuatnya kuat untuk menikahinya. Meskipun kebersamaan mereka hanya dalam hitungan bulan, karena Adara harus pergi selamanya menghadap Sang Khalik.

“Karena Adara itu mempunyai iman yang kuat. Saya merasa bisa di-track, di jalan Allah. Dan itu menurut saya yang paling utama,” ucap Rasyid Rajasa di Tempat Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Senin, 21 Mei 2018.

Menurut Rasyid, semasa hidup, almarhumah selalu mengingatkannya untuk salat berjemaah. Bahkan aktivitas ibadah itu sempat mereka jalani sebelum Adara Taista mengembuskan napas terakhir. “Dia selalu ngingetin saya untuk salat berjemaah begitu azan. Selalu,” ujarnya.

Meski berat, Rasyid berusaha ikhlas melepas kepergian istri tercintanya untuk selamanya. “Seperti saya sudah bilang, apa pun itu saya siap. Saya ikhlas,” tutur Rasyid Rajasa. Adara Taista meninggal dunia di Rumah Sakit Moriyama Memorial, Tokyo, Jepang, Sabtu, 19 Mei 2018, waktu setempat. Menantu Hatta Rajasa itu diketahui menderita sakit kanker kulit dan sebelumnya sempat menjalani pengobatan di Amerika Serikat.(LMC/Temp)




Gunakan Cadar, Ini Kisah Inara Istri Virgoun

Istri musikus Virgoun, Inara Idola bersama buah hati mereka. (Foto:lintasmedan/ist)

Jakarta, 22/5 (LintasMedan)- Istri musikus Virgoun, Inara Idola memutuskan untuk menggunakan cadar setelah kurang lebih dua tahun memutuskan untuk berjilbab. Hal tersebut diketahui dari sebuah video dan cerita yang disampaikan Ustad Derry Sulaeman, kawan dekat Virgoun melalui sebuah video di akun Instagramnya.

“Sempat virgoun curhat, seringkali dia marah ketika banyak laki-laki yang menggoda atau melihat kecantikan istrinya @inararusli di jalan,” tulis Derry, Senin 21 Mei 2018, sebagaimana dikutip dari Tempo.co.

Ia melanjutkan, bahkan pengalaman tersebut menurut cerita Virgoun sempat terjadi di area tempat beribadah. Saat istrinya berjalan lebih dulu, Virgoun sempat mendapati dua remaja laki-laki membicarakan istrinya tersebut. Namun kegalauannya karena punya istri cantik sekarang telah terobati, setelah kemarin Inna memakai niqab (cadar) dipakaikan oleh istri saya,” lanjut Derry.

Dengan keputusan Inara memakai cadar, menurut Derry Virgoun bias lebih lega. “Sekarang kecantikan maminya @starlaidola (akun Instagram anak Inara dan Virgoun) terlindungi, sekarang hanya untuk Virgoun aja.”

Dalam wawancara terpisah tahun lalu, Inara sempat menuturkan soal perjalanan hijrahnya, dari mulai menutup aurat pada Desember 2016.

Mantan personel girl band Bexxa ini menyebut, serentetan peristiwa memantapkannya meninggalkan gaya berbusana seksi yang bertahun-tahun melekat padanya. Niat berhijab sudah ada dalam diri Inara Idola sejak 2014 lalu. Namun karena masih ada ganjalan, urung terlaksana. Niatannya sudah ada sejak ia mengandung putrinya.

Keputusan menggunakan jilbab muncul saat ia merasa perlu terus mencari tahu tentang keridaan Allah dalam kehidupan. “Rasa ingin tahu itu semakin menjadi ketika aku dan suami diberi cobaan bertubi-tubi. Salah satunya cobaan yang datang dari luar, menguji kesetiaan kami berdua. Terutama mengujiku,” ungkap Ina.

Ujian itu bentuknya godaan dari pria berkeluarga. “Dia pengusaha. Ayahnya juga seorang pengusaha – perusahaannya salah satu perusahaan raksasa di Indonesia. Dia sudah berkeluarga dan sudah punya anak. Namun sepertinya rumah tangganya kurang harmonis sehingga dia ‘mencari-cari’ (wanita lain) di luar,” cerita Inara Idola.

Inara Idola tidak curiga ketika pria itu berkenalan dengannya dan mulai chat dengannya lewat ponsel. Namanya juga ingin berteman, pikir Inara Idola saat itu. “Aku kenal dia di sebuah acara, di mana aku diundang untuk hadir. Aku menganggapnya teman. Lagi pula suatu hari bisa menjadi rekan bisnis atau berbagi jaringan bisnis. Awal dia chat, sih sopan,” tutur Inara Idola.

Pria itu terus menggempur Inara Idola dengan chat, setiap hari. Pesan-pesannya menggambarkan isi hati pria yang sedang gencar mendekati wanita yang ditaksir. Inara Idola lama-kelamaan risi. “Chat-nya makin ke sini makin mengarah seolah dia siap meninggalkan keluarganya,” jelas bungsu dari empat bersaudara pasangan almarhum Yus Rusli dan Tri Merciana Lubis.

Kekayaan pria itu tidak menggodanya. Meski saat bersamaan, ia dan suami tengah mengalami krisis finansial. “Sama sekali enggak terpikir untuk berkhianat, naudzubillah. Itu sangat bertentangan dengan hati nuraniku, karena aku sudah berumah tangga,” tegas dia.

“Aku kuatkan niat hanya untuk mencari ridha Allah. Karena aku cinta suamiku, aku cinta keluargaku, aku cinta anakku, apa pun yang mengundang risiko pada rumah tangga kami, aku tinggalkan.”

Inara Idola lebih mendekatkan diri lagi kepada Tuhan, niat berhijab muncul kembali. Semakin bulat tatkala melihat keseriusan Virgoun mempelajari Islam lebih dalam. “Suamiku mualaf. Dia tertarik mempelajari Islam karena Allah yang mengizinkanku untuk memperkenalkan Islam. Melihat suamiku yang sudah bertekad untuk berhijrah menjadi seorang Muslim yang lebih baik, aku malu pada diriku sendiri yang terlahir sebagai Muslim,” ungkap wanita kelahiran 19 Februari 1993 ini. “Karena itu, pada Desember 2016, aku berhijrah mengikuti ajaran kitab suci Alquran dan sunah Nabi Muhammad, dengan menutup auratku,” ucap Inara Idola.(LMC/Tmp)




Maria Simorangkir Berjaya di Indonesian Idol 2018

Maria Simorangkir tampil di panggung Result and Reunion Show Indonesian Idol 2018 yang digelar di Ecovention Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara, Senin (23/4). (Foto: LintasMedan/ist)

Jakarta, 23/4 (LintasMedan) – Penyanyi asal Kota Medan Maria Simorangkir akhirnya berjaya di Indonesian Idol 2018, setelah empat bulan lebih bersaing di ajang pencarian bakat tersebut.

“Indonesia, inilah final result. Saya ingin bertanya, siapakah yang layak memegang gelar Indonesian Idol 2018. Apakah Abdul yang bakatnya sampai menarik perhatian 4 musisi Internasional, ataukah yang layak memegang predikat Indonesian Idol 2018 adalah Maria, yang mendapat sebutan penakluk lagu sulit diva dunia?,” kata presenter Daniel Mananta dalam Result and Reunion Show Indonesian Idol 2018, di Jakarta, Selasa dini hari.

Mendengar namanya disebut, Maria yang saat itu berdiri di sisi Abdul, sempat mengekspresikan wajah terkejut.

Senyum bahagia pun langsung merekah diiringi tepuk tangan meriah dari penonton di Ecovention Hall, Ancol, Jakarta Utara. Abdul yang otomatis menjadi runner up secara sportif langsung memeluk Maria sebagai ucapan selamat.

Maria merupakan kontestan termuda di Indonesian Idol 2018, usianya baru 16 tahun.
Ia dikenal dengan karakter suaranya yang powerful dan selalu bisa menaklukan lagu-lagu yang ia nyanyikan dengan apik dan memukau.

Maria mengalahkan rivalnya, Ahmad Abdul yang juga memiliki suara yang khas.

Kemenangan ini didapatkan oleh Maria atas hasil poling penonton dan penggemarnya. Malam ini Abdul tampil menawan dengan membawakan lagu “Won’t Go Home without You” yang dipopulerkan oleh Maroon 5, sedangkan Maria tampil sempurna saat menyanyikan “Stand Up For Love” dari Destiny’s Child.

Pada sesi berikutnya kolaborasi Ahmad Abdul-Glenn Fredly membawakan lagu “Kasih Putih” yang di-medley dengan “Hikayat Cinta” yang dipopulerkan Glenn Fredly bersama Dewi Perssik juga disambut standing ovation para

Selanjutnya masih ada duet Maria Simorangkir bersama Sandhy Sondoro yang membawakan lagu “Tak Pernah Padam” yang di-medley dengan lagu “Gejolak Cinta” milik Indah Dewi Pertiwi feat Sandhy Sondoro juga mampu memukau para juri.

Atas kemenangan itu, Maria berhak mendapatkan hadiah berupa uang tunai Rp 150 juta dan satu unit mobil, sedangkan Abdul selaku runner up mendapat hadiah Rp 100 juta dan satu unit mobil.

Maria juga berhak atas hadiah rekaman di Universal Music Indonesia.

Maria Simorangkir, lahir di Medan, Sumatera Utara, 7 Oktober 2001

Gadis belia yang memiliki kulit eksotisme atau yang sering disebut dengan kulit sawo matang ini sejak usia 2,5 tahun sudah menunjukkan bakat jadi seorang menyanyi.

Saat usia masih 12 tahun, Maria yang bernama lengkap Maria Dwi Permata Simorangkir ini pernah mengikuti ajang Indonesian Idol Junior 2014 dan berhasil masuk 5 besar.

Ayahnya yang bernama Maringan Simorangkir dan Ibunya, Rohani Simanjuntak selalu tampak mendukung bakat putrinya sejak ajang Indonesian Idol Junior 2014. (LMC-03/AN)