Warga Medan: Nezar Djoeli Buktikan Janji Politiknya

Anggota DPRD Sumut H.M Nezar Djoeli. (Foto: LintasMedan/dok)

Medan, 31/10 (LintasMedan) – Kalangan warga Kota Medan menilai anggota Fraksi Partai NasDem DPRD Provinsi Sumatera Utara (Sumut) periode 2014-2019, H.M Nezar Djoeli telah membuktikan sebagian besar janji politiknya saat kampanye pemilu legislatif tahun 2018, terutama kepada masyarakat di daerah pemilihannya Medan-A.

Pernyataan tersebut diungkapkan H. Natar Hasibuan, salah seorang tokoh masyarakat di Kota Medan, di sela acara reses pertama tahun sidang kelima Ketua Komisi A DPRD Sumut Nezar Djoeli dengan ratusan warga di Jalan Sisingamangaraja Medan, Rabu (31/10).

“Saya menilai hingga saat ini Pak Nezar telah membuktikan sekitar 80 persen dari janji politiknya pada masa kampanye pemilu tahun 2014 lalu,” ujar Natar.

Disebutkannya, beberapa janji politik yang telah direalisasikan Nezar selama sekitar empat mengemban amanah di DPRD sumut, antara lain memperjuangkan sejumlah warga kurang mampu agar mendapat pelayanan kesehatan secara gratis melalui program penerima bantuan iuran (PBI) Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Dalam hal menyikapi keluhan warga yang kesulitan memperoleh air bersih di kawasan utara Kota Medan, Nezar telah berhasil memperjuangkan ke Pemprov Sumut agar membangun sarana pemurnian air atau water purification di beberapa titik.

Selain itu, lanjutnya, legislator yang dikenal kritis itu juga gencar memperjuangkan alokasi dana yang bersumber dari APBD untuk pembangunan delapan rumah ibadah di daerah pemilihan (Dapil) Medan-A dan telah menuntaskan keluhan masyarakat seputar distribusi air yang tidak lancar di Kelurahan Bantan Timur, Kecamatan Medan Tembung.

Dapil Medan-A pada pemilu legislatif tahun 2014 dan 2019 di Sumut meliputi 11 kecamatan, yakni Kecamatan Medan Kota, Medan Amplas, Medan Denai, Medan Area, Medan Perjuangan, Medan Timur, Medan Tembung, Medan Deli, Medan Marelan, Medan Labuhan dan Medan Belawan.

“Kita sudah tahu rekam jejaknya selama empat tahun mengemban tugas sebagai wakil rakyat di DPRD Sumut. Karena itu, kita siap mengusung dan memperjuangkan agar Pak Nezar terpilih lagi menjadi anggota DPRD Sumut periode 2019-2024,” kata Natar.

Sebelumnya, Nezar Djoeli saat melakukan kegiatan reses di Kecamatan Medan Kota tersebut masih mendengar ragam keluhan warga setempat.

Beberapa keluhan yang mengemuka adalah soal dugaan pungutan liar (pungli) saat pengambilan ijazah, pungli dalam hal pengurusan surat di kantor lurah, pendistribusian air bersih yang kurang lancar di sebagian wilayah Kecamatan Medan Kota dan kondisi tanggul rusak di Kelurahan Kampung Nelayan, Kecamatan Medan Labuhan.

Mendengar berbagai keluhan warga tersebut, Nezar kembali menegaskan bahwa dirinya senantiasa siap menjadi jembatan komunikasi untuk menampung dan menindaklanjuti aspirasi dan keluhan masyarakat.

“Aspirasi maupun keluhan warga yang diserap melalui reses kali ini akan menjadi bahan masukan untuk selanjutnya bisa dijadikan rujukan bagi Pemerintah Provinsi Sumut dalam menyusun berbagai program pembangunan,” ucap dia.

Khusus mengenai dugaan praktik pungli di sekolah dan keluhan soal tagihan air yang dianggap merugikan pelanggan, Nezar berjanji akan menindaklanjuti ke dinas pendidikan setempat dan PDAM Tirtanadi. (LMC-02)




Jenny Berutu Terus Perjuangkan Percepatan Pembangunan Pakpak Bharat

Jenny Berutu. (Foto: LintasMedan/dok)

Medan, 6/9 (LintasMedan) – Anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara (Sumut), Jenny Riany Luci Berutu bertekad untuk terus berkontribusi memperjuangkan percepatan pembangunan Kabupaten Pakpak Bharat dan wilayah di sekitarnya agar setara dengan daerah lain.

“Kita akan terus berjuang melalui jalur legislatif untuk memajukan pembangunan di Pakpak Bharat dan beberapa kabupaten di sekitarnya,” katanya di Medan, Kamis.

Menurut politisi yang dia, masih banyak permasalahan yang disampaikan oleh warga di daerah pemilihannya yang meliputi Pakpak Bharat, Dairi dan Karo ketika dirinya menampung aspirasi mereka.

Untuk menjawab permasalahan tersebut, lanjutnya, mutlak dibutuhkan optimalisasi pembangunan di sejumlah sektor, antara lain infrastruktur jalan, pendidikan, kesehatan, pertanian dan sektor-sektor yang diyakini potensial mendorong laju pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat.

Jenny Berutu mengatakan, dirinya sejak terpilih menjadi anggota DPRD Sumut periode 2014-2019 terus berupaya memperjuangkan aspirasi masyarakat dan mendorong Pemerintah Provinsi Sumut agar meningkatkan alokasi anggaran pembangunan kepada tiga kabupaten tersebut.

Namun, diakuinya, tekad dan kerja kerasnya untuk mendorong percepatan pembangunan di wilayah itu masih belum maksimal.

Karenanya, dia berkeinginan untuk terus memperjuangkan aspirasi dan harapan masyarakat setempat melalui jalur lembaga legislatif.

Dalam upaya mewujudkan keinginan itu, Jenny memutuskan untuk maju dalam bursa bakal calon anggota DPR RI pada pemilihan umum (Pemilu) legislatif tahun 2019.

Bakal calon anggota DPR RI dari Partai NasDem ini akan mewakili daerah pemilihan (Dapil) Sumut 3 yang meliputi Kabupaten Langkat, Batu Bara, Asahan, Dairi, Pakpak Bharat, Karo, Simalunugn, Kota Binjai, Tanjung Balai dan Pematang Siantar.

Ia berharap keputusannya untuk memperjuangkan percepatan pembangunan di dapilnya tersebut dapat diterima dan didukung oleh semua kalangan.

“Sudah bulat hati saya untuk jadi anggota DPR RI apabila dipilih rakyat,” ucap politisi yang juga dikenal aktif sebagai pengurus di beberapa organisasi tersebut.

Jenny menambahkan, kaum perempuan harus mampu bangkit dan memperjuangkan haknya dalam kursi legislatif sebesar 30 persen.

“Sebenarnya kaum perempuan dalam politik memiliki peranan penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena itulah peluang tersebut harus mampu diisi dan dimanfaatkan untuk kepentingan bersama,” tuturnya. (LMC-02)




Keprihatinan Ratna Sarumpaet Terhadap Demokrasi Indonesia

Aktivis HAM dan pro demokrasi Ratna Sarumpaet bersama anggota DPR Raden Muhammad Syafii (Romo) pada acara dialog aktivis di Medan, Jumat (27/1) malam.(Foto:lintasmedan/irma)

Medan, 27/1 (LintasMedan) – Siapa tak kenal nama Ratna Sarumpaet. Wanita paruh baya ini adalah pejuang dan aktivis Hak Azasi Manusia (HAM).

Namanya sudah berkibar dari kasus Marsinah seorang buruh yang tewas akibat memperjuangkan hak-hak buruh di masa Orde Baru.

Masih ada getar dari bibir Ratna tatkala kembali menyinggung dan menyebut nama Marsinah. Matanya terlihat berkaca-kaca.

Menurutnya kasus Marsinah inilah yang mengawali tekadnya terpanggil menjadi aktivis.

“Saya terpanggil karena merasa di kasus itu ada penzaliman terhadap perempuan,” kata seniman ini pada acara Silaturahmi Aktivis Sumatera Utara di Medan, Jumat malam.

Aktivis pro demokrasi kelahiran, Tarutung, Tapanuli Utara – Sumatera Utara 16 Juli 1949 itu mengaku heran masih ada manusia tidak mengerti asal-usulnya yang terlahir dari rahim seorang perempuan.

“Wanita adalah rahim dan rahim itu adalah awal dari kehidupan. Jadi sangat zalim jika ada orang yang tak mengerti asal usulnya terlahir dari rahim perempuan,” ucap ibu empat anak ini.

Tekanan yang dihadapi akibat berbeda pendapat dengan rezim pemerintah bukan hal baru bagi Ratna Sarumpaet.

Kritik lewat jalur seni yang dilakukannya terhadap kasus Marsinah membuat Ratna terseret dan terpaksa berhadapan dengan hukum pada rezim Orde Baru.

Begitu juga di era pemerintahan Presiden Habibie, Ratna juga kerap melakukan kritik dan menolak sistem pengangkatan Habibie menggantikan Suharto.

“Di sini saya bukan menolak orangnya tapi sistem pengangkatan Habibie yang dilakukan tidak demokrasi,” ucapnya.

Perlawanan juga dilakukan alumni Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia (UKI) ini pada pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.

Dia menilai segala peraturan dan Undang-undang di era itu terkesan jauh meninggalkan nilai-nilai Pancasila.

“Sedikitnya ada empat kali saya berhadapan dengan hukum akibat tidak sependapat dengan rezim pemerintah,” ucapnya.

Namun, di era rezim pemerintah saat ini dia mengaku lebih prihatin.

Tuduhan makar diterima Ratna Sarumpaet tatkala melakukan kritik pedas terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap kurang pro rakyat. Gerak geriknya pun kerap diawasi aparat.

Meski demikian sejumlah tekanan itu tak melemahkan tekad dan semangat seorang Ratna Sarumpaet untuk terus berjuang mengusung kebebasan berdemokrasi di negeri ini.

Salah satunya dengan senantiasa memotivasi kalangan aktivis sebagaimana yang dilakukannya pada dialog di Medan tersebut.

“Jadi sistem demokrasi di Indonesia memang sangat memprihatinkan, namun biarlah waktu yang menjawab dan Allah pasti punya jalan untuk menolong saya dan menolong kita semua,” ucap ibu dari artis Atiqa Hasiholan ini. (LMC-02)




Sutrisno Pangaribuan Terus Kritis Meski Dimusuhi

Sutrisno Pangaribuan (Foto:LintasMedan/ist)

Kiprah Sutrisno Pangaribuan dalam dunia politik terbilang baru.

Namun sikap kritis politisi muda PDI Perjuangan ini semakin melejitkan namanya.

Sebagai anggota DPRD Sumatera Utara Sutrisno kerap menyuarakan tekad ingin mengembalikan citra lembaga Legislatif itu yang belakangan semakin terpuruk.

Rentetan kasus dugaan suap yang turut menyeret sejumlah rekannya anggota dan mantan anggota DPRD Sumut hingga kini masih terus diproses penyidik KPK.

Peristiwa itu pula yang membuat Sutrisno langsung bereaksi keras saat dia menilai masih ada kebijakan-kebijakan yang terkesan tidak pro rakyat, serta oknum yang coba bermain-main dengan uang rakyat.

“Semua yang ada di legislatif ini saya anggap sebagai rekan kerja, mari sama-sama kita perbaiki citra lembaga ini,” kata pria kelahiran Purbatua Tapanuli Selatan, 15 Mei 1977 ini, saat berbincang-bincang dengan LintasMedan, kemarin.

Sutrisno menyadari jika kritik pedas yang terlontar kadang ‘menyerang’ ke arah lembaga legislatif itu sendiri, dan membuat beberapa pihak bereaksi dan gerah.

Dia malah mengajak mereka yang merasa terganggu untuk berdiskusi dalam upaya kembali membangun marwah lembaga DPRD Sumut.

“Mari kita bicara dan berdiskusi baik-baik, asal jangan menyerang pribadi saya siap,” ujar aktivis GMKI ini.

Sikap kritis Sutrisno, menurut dia sudah terbangun sejak kanak-kanak.

Ayahnya yang berprofesi sebagai guru kerap berpesan agar jangan pernah menggantungkan hidup pada orang lain.

Pesan sebagai ‘cerita malam’ sebelum tidur dari sang ayah ini sangat mempengaruhi perjalanan hidupnya hingga kini, sebab kata Sutrisno pesan itu memiliki arti dari kemerdekaan berpikir, bersikap serta bertindak.

Lahir di tengah keluarga sederhana, ayah seorang Guru SD Negeri Golongan II dan ibu petani.

“Sejak kecil hingga tamat SMP setiap pulang sekolah saya pasti ikut bekerja di sawah dan di kebun. Makanya warna kulit saya hitam karena terbiasa panas-panasan di tengah sawah di Desa Purbatua,” katanya tertawa.

Dalam memori kehidupannya masih terekam bagaimana tinggal di desa yang serba keterbatasan.

“Pergi ke pasar di kota Padangsidimpuan yang berjarak sekitar 60 KM dari desa kami hanya sekali dalam setahun untuk beli baju Natal,” ungkap anggota DPRD Sumut daerah pemilihan (Dapil) 7 (Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Padangsidimpuan, Padang Lawas, Padang Lawas Utara ) itu.

Pengalaman hidup susah itu pula yang membangun kesadarannya kelak akan pulang, mengambil tanggung jawab membantu rakyat agar berani bermimpi untuk membangun harapan baru di masa depan.

Sikap kritis itu pula yang sejak menjadi aktivis mahasiswa terus dibangun suami Endang Marlyna Panjaitan, SE, MM, Ak ini dan akan tetap dipertahankan hingga kini duduk di legislatif.

Menurut Sutrisno kritis yang dipertahankannya kini lebih memiliki kerangka berpikir, berbicara dan bersikap yang jelas.

Juga memiliki kemampuan analisis, mengedepankan objektivitas dan rasionalitas.

“Jadi saya tidak pernah memilih untuk bermusuhan dengan siapapun. Kritik jangan ditanggapi dengan emosi tapi anggap saja semua ini sebagai seni peran kita untuk berlomba-lomba melakukan perbaikan,” ucap Sutrisno tersenyum.

Diapun mengaku tak akan pernah berhenti untuk kritis, meski harus menuai ‘musuh bersama’.

Kritik pedas pun kembali ia lontarkan ketika melihat begitu banyaknya jadwal kunjungan dewan ke luar provinsi pada 2017.

Sutrisno berharap agar wakil rakyat di lembaga itu tidak lagi terlalu banyak melakukan kunjungan kerja ke luar provinsi karena diyakini akan mengeluarkan biaya yang cukup besar, tanpa tujuan yang terlalu signifikan untuk kepentingan rakyat.

Dalam agenda, kata dia terlihat, ada 5 kali masing-masing badan anggaran (Banggar) dan badan musyawah (Banmus) dewan melakukan kunjungan ke luar provinsi dengan rata-rata sekali pergi menghabiskan Rp21 juta anggaran perdewan.

Dia menilai sejumlah rekannya di DPRD Sumut sudah cukup berpengalaman dalam menyusun anggaran, sehingga tidak lagi perlu repot-repot berkunjung ke luar provinsi untuk belajar.

Sutrisno berharap kinerja DPRD Sumut kedepan semakin meningkat, sebagaimana hasil bahasan pada rapat kerja (Raker) dewan baru-baru ini di Sibolangit.

“Saya berharap dewan membuat kegiatan dengan kinerja yang semakin meningkat sehingga publik benar-benar melihat bahwa kita bekerja,” ujarnya.

Belum hilang dalam ingatan publik tentang insiden perampasan palu yang dilakukannya saat sidang paripurna Pemilihan Wakil Gubernur Sumut beberapa waktu lalu.

Usai merampas palu paripurna Sutrisno bahkan mengancam akan melaporkan proses Pilwagub Sumut ke KPK karena menilai adanya dinamika yang tidak sehat dalam proses tersebut.

Namun niat itu  diurungkannya dengan beberapa alasan paska berdiskusi dengan Ketua DPRD Sumut H Wagirin Arman.

“Sebelum paripurna Pilwagub Sumut berlangsung sudah ada permintaan agar KPK ikut memantau. Namun jika nantinya sampai kepada proses penyelidikan tentu akan menjadi tugas kita bersama untuk ikut membantu penegak hukum,” ucap alumni Fakultas Teknik Kimia USU Medan Tahun 1996-2005 ini.

Sutrisno menyadari jika rangkaian persoalan hukum yang lalu dan hingga kini masih diselidiki KPK turut membawa kegelisahan secara kolektif di lembaga DPRD Sumut.

“Pimpinan yakni Pak Wagirin Arman mengingatkan saya ketika kami ngobrol berdua dan berdiskusi mencari solusi perbaikan citra DPRD Sumut kedepan,” ungkap Sutrisno. (LMC-01)




Salomo Terapkan Sistem Kekeluargaan di Biliar

Salomo Pardede (kiri) bersama pebiliar Marlando (Lando) Sihombing peraih medali emas PON XIX/2016 (tengah) dan pelatih.(Foto:lintasmedan/ist)

Salomo Pardede (kiri) bersama pebiliar Marlando (Lando) Sihombing peraih medali emas PON XIX/2016 (tengah) dan pelatih.(Foto:lintasmedan/ist)

Bandung, 25/9 (LintasMedan) – Membina olahraga hingga mampu menghasilkan atlet berprestasi tidaklah gampang.

Namun Salomo Pardede, selaku Ketua Pengurus Provinsi (Pengprov) Persatuan Olahraga Biliar Seluruh Indonesia (POBSI) Sumatera Utara punya tips tersendiri untuk tetap mampu mempertahankan atletnya dari ‘rampokan’ daerah lain.

Menurut pengusaha perhotelan yang juga anggota DPRD Sumut ini, cukup banyak daerah yang mengincar atlet yang telah mati-matian dibinanya.

Termasuk pebiliar Marlando (Lando) Sihombing, peraih medali emas PON 2016 dan Jaka Kurniawan bahkan pernah mendapat tawaran Rp1.5 Miliar untuk memperkuat daerah lain.

“Sistem kekeluargaan itu yang diterapkan dalam membina olahraga biliar di Sumut, sehingga semua atlet senantiasa merasa diperhatikan. Itu yang membuat mereka tak bergeming dan tetap bertahan membela Sumut,” kata Salomo di sela perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX/2016 di Bandung, Minggu.

Pengprov POBSI Sumut di bawah kepemimpinannya boleh merasa bangga, usai para atletnya meraih prestasi spektakuler di PON Jawa Barat dengan raihan sementara 1 emas 3 perunggu.

Cabor ini bahkan masih memiliki peluang menambah pundi-pundi medali hingga, pesta olahraga nasional itu berakhir 29 September nanti.

“Kita optimistis dua hingga tiga medali masih bisa diraih pebiliar Sumut,” tutur Salomo.

Prestasi biliar daerah ini terus bergeliat sejak 2008, bahkan dua bulan Salomo dilantik memimpin organisasi olahraga itu, Sumut mampu meraih medali perunggu di PON Kalimantan Timur lewat atletnya M Fadly.

Politisi Gerindra ini terbilang ‘bertangan dingin’ dimana prestasi biliar Sumut terus muncul di kancah olahraga nasional.

Misalnya Kejurnas Semarang tahun 2010 M Fadly dan kawan-kawan kembali berhasil meraih 1 emas dan 2 perunggu.

“Itu sekaligus merupakan emas pertama Sumut di ajang kejuaraan biliar nasional,” ujar Salomo bangga.

Selanjutnya prestasi demi prestasipun terus bermunculan, yakni pada Kejurnas 2014 di Pekalongan Sumut meraih 1 emas, 2 perak dan 2 perunggu.

Kemudian Porwil 2015 di Bangka Belitung, para pebiliar provinsi ini kembali menunjukkan kemampuannya dengan raihan 2 emas, 5 perunggu sekaligus menempatkan Sumut sebagai peringkat ke 4 se Indonesia dan terkuat di luar Pulau Jawa.

Pengprov POBSI Sumut memang memiliki sejumlah pebiliar muda dan handal, seperti Jaka dan Lando misalnya yang pernah membawa nama Indonesia di kancah SEA Games 2013.

Keduanya mampu mempersembahkan medali perunggu untuk Indonesia di nomor Double English Ball.

Namun, kata Salomo Pengprov POBSI tidak serta merta lupa untuk melakukan pembibitan.

Dikatakannya, biliar khususnya untuk kategori putera cukup memasyarakat di Sumut.

Tinggal bagaimana seorang pembina olahraga untuk memberi keyakinan bahwa olahraga ini punya image positif dan mampu menjamin masa depan jika benar-benar berlatih secara serius.

“Pebiliar pemula yang awalnya datang lihat-lihat, kemudian saya pantau mainnya bagus dan serius langsung kita arahkan untuk latihan dan diarahkan. Semuanya begitu sampai mereka berprestasi,” kata Salomo.

Dari keseriusannya membina cabor tersebut, hingga kini Sumut punya segudang pebiliar muda yang bahkan telah disiapkan menjadi tim lapis kedua menghadapi PON empat tahun mendatang.

Sejauh ini Salomo mengakui, masih kesulitan untuk mencari bibit pebiliar puteri.

Salah satu kendalanya adalah asumsi negatif akan olahraga ini yang masih melekat di kalangan masyarakat.

“Makanya kedepan kita akan terus sosialisasikan hingga ke sekolah-sekolah dan kampus, road show ini dimulai awal 2017,” katanya.

Dia ingin pembinaan cabor tersebut mendapat dukungan seratus persen dari orangtua atlet. ( LMC-02)




Cerita Inspiratif Dari Remaja Medan

Chelsea Hadi.(Foto:LintasMedan/ist)

Medan, 11/5 (LintasMedan) – Sosok remaja berprestasi menjadi pemicu bangkitnya semangat remaja-remaja lain.

Chelsea Hadi, penyanyi asal Medan yang memiliki prestasi dan pengalaman yang sangat luas di bidang tarik suara punya pengalaman yang bisa dijadikan panutan bagi remaja-remaja lain di Indonesia khususnya di Medan.

Chelsea yang merupakan mahasiswi Fakultas Kedokteran USU ini, mengatakan bahwa keyakinan dan kegigihan merupakan salah satu kunci dari pencapaian yang telah diperolehnya hingga saat ini.

“Menjadi pribadi yang memiliki keyakinan yang tinggi serta pribadi yang memiliki kegigihan merupakan landasan sukses seorang anak muda,”‘ kata remaja 19 tahun ini.

“Keyakinan dan kegigihan yang ditanamkan didalam pribadi juga harus konsisten karena keyakinan dan kegigihan yang cuma berlangsung dengan sesaat tidak akan bisa membuat sesuatu bagi pribadi seseorang,” tambahnya.

Penyanyi yang pernah dikontrak oleh Trans TV ini juga mengatakan bahwa kedekatan dengan orang tua menjadi salah satu kunci kesuksesannya. Menurutnya, dukungan orang tua adalah suatu hal yang sangat vital bagi perkembangan seorang anak.

Sejak kecil, kegiatan bernyanyi yang ditekuni oleh Chelsea selalu di dukung oleh orang tuanya, bahkan prestasi yang dicapai ketika menjadi salah satu finalis di Indonesian Idol dan Indonesia Mencari Bakat (IMB) merupakan hasil dari dukungan dan semangat yang diberikan oleh kedua orang tuanya.

Berbagai pencapaian telah diraih oleh Chelsea hingga saat ini. Pada tahun 2014 yang lalu, dengan sangat luar biasa Chelsea berhasil menjadi finalis di beberapa perlombaan besar di Indonesia antara lain, Indonesian Idol, Indonesia Mencari Bakat (IMB), dan Bintang Asik Trans. Chelsea mengatakan bahwa pengalaman yang diperoleh di perlombaan-perlombaan tersebut merupakan pengalaman yang berharga bagi dirinya dan semua itu merupakan hasil dari kinerja dan kegigihannya serta dukungan dari kedua orang tuanya.

Chelsea sangat mensyukuri apa yang sudah diperolehnya hingga saat ini. Namun, ia mengaku bahwa titik pencapaiannya tidak hanya sampai disitu saja, ia masih memiliki obsesi untuk meraih prestasi-prestasi yang lebih luar biasa lagi. Ia juga punya harapan agar remaja-remaja lain yang seusianya dapat memiliki semangat mengejar impian seperti yang dimilikinya agar semakin banyak talenta-talenta yang lahir di Indonesia.(LMC-07)

BIODATA
Nama Lengkap : Chelsea Hadi
Tempat, tanggal lahir : Medan, 21 Juli 1996
Alamat : Jalan Nusa Hijau Malibu Indah
Nama Ayah : Hadi Surachman
Nama Ibu : Misslita Liong

Riwayat Pendidikan :

• TK Sutomo 1 Medan
• SD Sutomo 1 Medan
• SD Singapore International School Medan
• SMP Singapore International School Medan
• SMA ST. Thomas International School Medan
• S-1 Fakultas Kedokteran USU

Prestasi :
• Top 20 Indonesian Idol 2014
• Top 15 Indonesia Mencari Bakat (IMB) 2014
• Bintang Asik (Trans TV) 2014
• Palladium Singing Star 2014
• Christmas Season Medan 1 – 3
• 3rd Winner SEC 2012
• 1st Winner SEF 2012
• 3rd Best Speaker SEF 2012
• 2nd IEC Debate Open
• 1st Speech Contest by US Consulate Medan
• Saat ini bergabung di kelompok debat FK USU .




Rospita Motivator Bagi Wanita Pekerja

Rospita Pandingan SE (Foto:ILintasMedan/irma)

Rospita Pandingan SE (Foto:LintasMedan/irma)

“Selesaikan pekerjaan hari ini dan jangan tunda sampai besok’, kalimat itu adalah semboyan bagi Rospita Pandiangan SE saat bertugas.

Dia hanya wanita biasa yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan lembaga legislatif DPRD Sumatera Utara.

Namun prinsip Rospita dalam menjalankan tugasnya sebagai abdi negara itu pantas dicontoh para perempuan pekerja khususnya di kalangan PNS.

Tentunya sangat tidak berlebihan jika Rospita sosok yang pantas menjadi motivator bagi wanita pekerja di Peringatan International Women’s Day atau Hari Perempuan Internasional 8 Maret 2016.

Hari di mana para perempuan di seluruh dunia, memperingati keberhasilan dalam berbagai bidang, termasuk ekonomi, politik dan sosial.

“Saya tidak mau menunggu hingga besok, kalau memang bisa diselesaikan ya harus tuntas hari ini,” tegasnya saat berbincang-bincang dengan LintasMedan, kemarin.

Menurut ibu empat anak ini, prinsip itu pula yang membuatnya terus semangat dalam bekerja hingga menjelang masa pensiun setelah 34 tahun mengabdi sebagai PNS.

Apa yang dikatakan Rospita itu memang terbukti dari kesehariannya saat menjalankan tugas di gedung wakil rakyat.

Tak jarang ibu rumah tangga ini, harus berhadapan langsung dengan puluhan bahkan ratusan demonstran yang datang ke gedung DPRD Sumut ingin menyampaikan aspirasi mereka.

Rospita yang menjabat sebagai Kasubag Pelayanan Masyarakat dan Aspirasi, harus menghadapi mereka sendirian, jika tak seorangpun wakil rakyat yang datang menerima pendemo.

Rospita juga berupaya untuk tetap bersabar dan menenangkan pengunjukrasa yang terkadang mengumbar sumpah serapah dan caci maki.

Dia yang penuh sabar dengan ciri keibuannya terus meyakinkan massa bahwa aspirasi mereka segera disampaikan ke para wakil rakyat, hingga akhirnya persoalan selesai pada hari itu.

Tak jarang massa yang datang terus mendesak dan ngotot ingin bertemu dengan wakil rakyat.

Namun meski dibikin repot naik turun gedung DPRD Sumut dan mencari-cari anggota dewan di dalam ruangan mereka, Rospita tetap mampu mengumbar senyum saat bertegur sapa.

“Ini semua memang bagian dari amanah dan tanggungjawab bertugas. Itu sajalah agar membuat tetap semangat dan rasa takutpun hilang,” katanya tertawa.

Rasa bangga  juga terpancar dari wajah istri Naken Berutu ini, tatkala dirinya dipercaya sebagai dirigen menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya di setiap sidang paripurna DPRD Sumut. (Irma)




Razman : Saya Dibayar Standar Tidak Mahal

Razman Arif Nasution

Medan, 25/7 (LintasMedan) – Razman Arif Nasution pengacara Gatot Pujo Nugroho mengakui  berkomiten untuk memberikan perlindungan hukum terhadap kliennya yang juga Gubernur Sumatera Utara itu bukan semata-mata karena materi.

“Untuk seseorang yang datang meminta perlindungan hukum, namun dia tidak memiliki uang, sebagai advokat kita wajib memberikan pembelaan,” kata Razman, yang dihubungi LintasMedan, kemarin.

Hal itu disampaikannya untuk menepis anggapan miring segelintir masyarakat terhadap dirinya, bahwa komitmennya menjadi pengacara Gatot hanya karena materi.

“Saya cuma dibayar standar dan bukan berarti mahal untuk menangani kasus ini dan itu wajar-wajar saja,” katanya.

Meski demikian dia menegaskan akan membela kliennya itu secara profesional dalam menghadapi proses hukum Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) terkait kasus suap hakim PTUN Medan.

“Saya akan mati-matian membela Pak Gatot meskipun banyak hujatan ,” kata Razman.

Karena, sebutnya sebagai seorang pengacara dia terikat dengan sumpah profesi advokat dan wajib memberikan perlindungan hukum kepada siapapun yang meminta perlindungan.

Razman menyampaikan bahwa profesi pengacara sama dengan profesi dokter.

“Seorang dokter tidak boleh menolak pasien meskipun yang datang itu adalah musuhnya. Jadi advokat juga seperti itu, saya ini kan lawyer profesional yang integritasnya sudah teruji,” tegasnya.

Akrab dengan Gatot

BISA dibilang, Razman Arif Nasution kini masuk jajaran pengacara papan atas. Kiprah pria tambun kelahiran Singkuang, Mandailing Natal itu moncer di level nasional tatkala dipercaya sebagai pengacara Komjen Budi Gunawan saat praperadilan melawan KPK di PN Jakarta Selatan dan menang.

Seolah kasus BG itu menjadi pintu pembuka bagi Razman menangani kasus-kasus besar. Buktinya, Sutan Bathoegana juga memakai jasanya. Terbaru, alumni Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) itu dipercaya Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho dan istri keduanya Evi Susanti. Juga asisten pribadi Gatot, Mustafa, saat ketiganya menjalani pemeriksaan sebagai saksi di KPK, dalam kasus suap hakim PTUN Medan.

Bagaimana proses Gatot akhirnya menunjuk dirinya? Razman bercerita panjang lebar. Pria kelahiran 8 September 1970 itu mengaku kenal dengan Gatot pada 2005. Saat itu musim kampanye pilkada Kota Binjai. Gatot sebagai Ketua DPW PKS Sumut, sedang Razman Ketua Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) Sumut.

Dilanjutkan dengan masa kampanye Pilwako Sibolga, Razman semakin akrab dengan Gatot. Kedekatannya dengan Gatot makin kental tatkala Razman ikut berjuang mengkampanyekan pasangan Gatot-Tengku Eri di pilgub Sumut.

“Jadi, saya dengan Pak Gatot bukan asing lagi. Saya sudah lama berhubungan baik dengan beliau,” ujar Razman.

Lantas, begitu mendapat panggilan dari KPK sebagai saksi, Gatot intens berkomunikasi lewat telepon dengan suami Nur Elly Rambe itu. Gatot pun ingin bertemu langsung.

“Waktu itu Pak Gatot menghubungi langsung, minta bertemu di Jakarta, lantas Selasa sore (21/7) beliau mampir ke kantor saya, bersama dengan Ibu Evi Susanti. Jadi, bukan saya yang berinisiatif menghubungi beliau,” cerita Razman.

Pertemuan di kantor Razman berlangsung cukup lama. Gatot berkonsultasi, membeber masalah yang dihadapi, dan Razman bersama timnya langsung mempelajari konstruksi hukum kasus suap itu.(LMC-02/JPNN)




“Bang Samuel” Janjikan Pemerataan Pembangunan di Medan

Bakal calon walikota Medan 2015 Ir. Samuel RB Panjaitan (kanan), berialog dengan pedagang di sekitar pasar tradisional Simpang Limun Medan, baru-baru ini. (Foto: LintasMedan/ist)

Bakal calon walikota Medan 2015 Ir. Samuel RB Panjaitan (kanan), berialog dengan pedagang di sekitar pasar tradisional Simpang Limun Medan, baru-baru ini. (Foto: LintasMedan/ist)

Medan, 5/6 (LintasMedan) – Bakal calon Walikota Medan 2015-2020 Samuel RB. Panjaitan (50), berjanji merealisasikan pemerataan program pembangunan guna meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat.

“Pembangunan di Medan dewasa ini belum seimbang, sehingga akhirnya banyak masyarakat yang merasa  kurang diperhatikan.” katanya di Medan, Jumat.

Menurut pria yang akrab disapa “Bang Samuel” ini, kebijakan pembangunan yang terlalu bertumpu di inti kota selain memperparah tingkat kemacetan lalu lintas, juga ikut menambah kesenjangan antarkawasan, antarkecamatan dan antarkelurahan.

Kondisi ini, lanjutnya, disebabkan antara lain tidak terintegrasinya sistem dan kebijakan tata ruang.

Salah satu kawasan yang mengalami ketimpangan pembangunan itu adalah wilayah Medan utara.

“Seharusnya, arah dan kebijakan pembangunan serta tata ruang Kota Medan sepenuhnya menyentuh pada kepentingan masyarakat luas agar konsep kesejahteraan rakyat bisa terimplementasi secara benar dan tepat sasaran,” tuturnya.

Untuk meminimalisir ketimpangan pembangunan di ibu kota Provinsi Sumut itu, Samuel mengaku telah menyusun konsep pembangunan berkeadilan yang di dalamnya mencakup program-program pro rakyat.

Skala prioritas dari program pembangunan itu, antara lain pembangunan sarana infrastruktur jalan, pendidikan, air bersih, pusat-pusat kegiatan ekonomi dan jasa yang tertata dengan baik.

Dia juga menyatakan pentingnya meningkatkan porsi anggaran pembangunan untuk menopang program pengentasan kemiskinan, penciptaan lapangan kerja baru di sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Sejalan dengan program tersebut, kata Samuel, mutlak diterapkan sistem pengawasan dan pelayanan publik berbasis informasi dan teknologi (IT).

“Sesungguhnya tidak sulit untuk memimpin Medan, asalkan orang yang memimpin tahu dan mampu memacu kinerja pembangunan secara transparan, merata dan berkeadilan,” kata pengusaha yang memiliki beberapa perusahaan berskala besar ini. (LMC-01)




Siti Rabiah 25 Tahun Jadi Dukun Beranak

Siti Rabiah (Foto:LintasMedan/irma)

Siti Rabiah (Foto:LintasMedan/irma)

Medan, 3/6 (LintasMedan) – Berpengalaman selama 25 tahun menangani proses persalinan, namun Siti Rabiah tetap menganggap profesi yang ditekuninya bukanlah pekerjaan yang gampang.

Saat menangani pasien yang akan melahirkan, wanita yang dikenal sebagai dukun beranak di Desa Suka Damai Kecamatan Aceh Singkil, Kabupaten Aceh Singkil ini, mengaku tetap was-was dan khawatir akan keselamatan  ibu maupun bayi yang sedang dibantunya dalam proses persalinan itu.

Beberapa desa, di Kabupaten Aceh Singkil termasuk Desa Suka Damai merupakan wilayah terbelakang dan tertinggal. Untuk membantu proses persalinan di desa yang terletak di wilayah aliran sungai itu hanya mengandalkan dukun beranak dan tanpa bantuan medis.

“Warga mempercayakan saya untuk membantu proses persalinan dan saya melakukannya hanya berdasarkan naluri saja,” kata Rabiah di Kantor Yayasan Kippas di Medan Senin.

Bahkan, kata dia saat selesai proses persalinan, baik ibu maupun bayi yang baru dilahirkan sama sekali tak mendapat perobatan medis namun hanya mengandalkan ramuan dari rempah-rempah.

“Biasanya memotong tali pusar bayi juga pakai sembilu (bambu), kemudian dilumuri kunyit dan pinang agar tidak infeksi,” paparnya.

Saat ini Rabiah mengaku bisa bernafas lega karena adanya penerapan kemitraan antara bidan dengan dukun beranak di Kabupaten Aceh Singkil yang dimulai sejak akhir tahun 2012.

Kerja Rabiah yang awalnya menangani seluruh proses persalinan menjadi sedikit ringan, meski tenaganya sebagai dukun beranak masih sangat dibutuhkan.

“Dukun beranak masih sangat dibutuhkan untuk membantu dari aspek psikologis jelang melahirkan serta mengurut-urut pasien, sedangkan proses persalinan dibantu oleh bidan desa di Puskesmas,” kata Rahma Efrida Pohan AM, Keb salah seorang Bidan Desa Kemitraan Aceh Singkil.

Dari program kemitraan antara dukun beranak dan bidan desa tersebut menjadikan Kabupaten Aceh Singkil di bawah kepemimpinan Bupati Safriadi SH, mendapat penghargaan dari United Nations Secretariat.

Lembaga di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ini mengirimkan informasi melalui email ke Dinas Kesehatan Aceh Singkil, bahwa program kemitraan Dukun dan Bidan untuk mengurangi angka kematian ibu dan anak, berthasil dipilih sebagai Second Place Winner (Peringkat kedua untuk the 2015 United Nations Public Service Award untuk kategori Improving The Delivery of publik service).

Menurut Kepala Puskesmas Kecamatan Aceh Singkil Dr Ismunandar, sebelum program ini dilaksanakan, angka kematian ibu dan anak di Kabupeten Aceh Singkil dinilai cukup tinggi, mencapai angka 30 persen dari total persalinan.

Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) setempat tahun 2010 menunjukkan bahwa 38,28 persen kelahiran di kabupaten itu ditangani oleh dukun. Data kabupaten menunjukkan bahwa 122 dukun terlibat aktif dalam membantu proses persalinan pada tahun yang sama.

Dikatakan Isunandar, melalui program kemitraan dukun dan bidan angka kematian ibu dan anak di Aceh Singkil langsung bisa ditekan, pada tahun 2013 hanya terjadi satu kematian ibu saat persalinan sedangkan tahun 2014 sama sekali tidak ada korban meninggal dunia.

“Umumnya pasien meninggal akibat pendarahan, apalagi dari pengakuan dukun beranak beberapa warga justru baru tahu hamil pada saat akan melahirkan,” kata Ismunandar.(LMC-02)