Home / Sports / Edy: Bicara PSSI Tak Bisa Sambil Lalu

Edy: Bicara PSSI Tak Bisa Sambil Lalu

image_pdfimage_print

Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi yang juga Gubernur Sumatera Utara didampingi Sekjen PSSI Ratu Tisha saat memaparkan seputar program PSSI kepada wartawan di Medan, Rabu (5/12). (Foto:lintasmedan/irma)

Medan, 05/12 (LintasMedan) – Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi yang juga Gubernur Sumatera Utara menyampaikan sejumlah data dan program organisasi yang dipimpinnya itu, pada silaturrahmi dengan insan pers di Medan, Rabu.

Menurutnya bicara tentang PSSI tak bisa hanya sambil lalu saja, namun harus turut disertai dengan sejumlah data dan program.

Hal itu pula yang menjadi alasan baginya tak ingin bicara banyak saat dicecar sejumlah wartawan baru-baru ini, mempertanyakan tentang prestasi timnas Indonesia.

“Makanya saya cuma bisa bilang wartawannya harus baik, biar timnasnya baik, tapi justru saya dibully karena pernyataan singkat itu,” kata Edy.

Terkait hal itu pula Edy ingin bertemu dengan sejumlah insan pers di Sumut guna mengungkap kondisi nyata persepakbolaan Indonesia.

Kondisi itu pula yang membuatnya bertekad tetap mempertahankan jabatan Ketua Umum PSSI di tengah desakan mundur.

Menurut mantan Panglima TNI Angkatan Darat ini, jika dibanding negara lain, kondisi sepakbola Indonesia jauh tertinggal.

“Ketertinggalan itu bahkan saya paparkan di hadapan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) bersama sejumlah Menteri dan anggota DPR-RI,” kata Edy.

Bahkan dibanding Malaysia dan Singapura, kata dia Indonesia sangat jauh tertinggal baik dari jumlah pemain, pelatih, wasit maupun sarana stadion dan lainnya.

Berdasarkan data tahun 2016, papar Edy untuk jumlah pemain, Indonesia sangat minim di banding sejumlah negara lain.

Belanda memiliki 1.200.000 pemain dari 16.700.000 jiwa penduduk. Spanyol memiliki 4.100.000 dari 46.800.000 jiwa. Jerman memiliki 6.300.000 pemain dari 80.700.000 jiwa penduduk.

Thailand 1.300.000 pemain dari 64.600.000 jiwa penduduk. Singapura memiliki 190.000 dari 4.500.000 jiwa. Sementara Indonesia hanya memiliki pemain sebanyak 67.000 dari 250.000.000 jiwa.

Selain itu, jumlah pelatih yang dimiliki Indonesia juga jauh tertinggal.

Spanyol memiliki 22.000 pelatih, Jerman 28.668 pelatih, Thailand memiliki 1.100 pelatih, Malaysia memiliki 1.810 pelatih, Singapura memiliki 170 pelatih dan Indonesia memiliki 197 pelatih.

Sementara untuk kepemilikan wasit juga Indonesia dikatakannya masih minim. Spanyol memiliki 47 wasit, Jerman 43, Belanda 41, Thailand 19, Malaysia 26, Singapura 15, Vietnam 19 dan Indonesia hanya memiliki 5 orang wasit. “Itu pun saat ini yang aktif tinggal 2 wasit,” ungkapnya.

Begitu juga untuk kondisi sarana dan prasarana seperti kepemilikan stadion, Edy mengungkapkan jumlah sarana yang dimiliki Indonesia juga sangat minim. Menurutnya, Spanyol memiliki 109 stadion berstandar FIFA, Belanda 45 stadion standar FIFA dan 1.450 lapangan artifisial. Jerman 42 stadion standar FIFA dan 1.080 lapangan artifisial, Singapura memiliki 21 stadion standar FIFA dan Indonesia hanya memiliki 2 stadion standar FIFA dan 23 lapangan yang layak pakai.
“Stadion Teladan yang kita bangga-banggakan itu, tidak masuk dalam lapangan yang layak pakai itu,” kata Edy.

Oleh karena itulah, Edy mengharapkan agar media dapat memberikan dukungan kepadanya untuk bersama memajukan PSSI.

Sementara, Sekjen PSSI Ratu Tisha Destria yang hadir di kesempatan itu menambahkan, bahwa dalam kondisi serba terbatas tersebut, PSSI berhasil mengukir beberapa prestasi.

Bahkan, prestasi PSSI yang diraih pada tahun 2018, beberapa di antaranya ada yang baru pertama kali diraih sejak PSSI berdiri.

“Tim putri U-16 debut di AFC sejak pertama kali PSSI berdiri, sedangkan tim putri senior lolos putaran 1 olimpiade,” ungkapnya.

Futsal putra juga memperoleh peringkat 3 AFF Championship, Futsal Putri 8 besar Asia, tim putra putri U-16 berada di peringkat 8 besar Asia, Putra U-23 memperoleh 16 besar di Asian Games, tim sepakbola pantai yang telah diaktifkan kembali sejak 2010.

“Jadi PSSI itu tidak pernah berjalan tanpa arah. Bahkan karyanya pun sudah disiapkan hingga 2045 atau 100 tahun Indonesia Merdeka, karena memang komitmen yang paling penting,” ujarnya.(LMC-02)

About Lintas Medan

Leave a Reply

Kelvin Benjamin Jersey