Home / Nasional / Mbak Tutut Temui Warga yang Rindu

Mbak Tutut Temui Warga yang Rindu

image_pdfimage_print

Mbak Tutut, didampingi Tommy Soeharto dan Bambang Trihatmodjo di Desa Jambudesa, Kecamatan Karang Anyar Kabupaten Purbalingga memeriahkan panen raya bersama petani.(Foto:LintasMedan/ist)

Di usia yang tidak lagi muda, 70 tahun,  bepergian jauh menggunakan transportasi darat tentu sudah tak lagi terlalu menarik hati Siti Hardiyanti Rukmana.

Dimana seharusnya putri pertama Presiden Soeharto ini, lebih banyak menghabiskan waktu untuk bercengkerama bersama cucu-cucu yang  lucu-lucu.

Namun saat ini Mbak Tutut melihat lain. Sebab di sana, pada rentang jarak ratusan kilometer ternyata ada sekian banyak warga menunggu kehadirannya.

Mereka menyatakan rindu. Tak hanya sekedar untuk bertemu namun seringkali pertemuan dengan warga itu menjadi tempat mereka mengadu. Bagi Mbak Tutut menemui mereka lebih penting meski harus menyita waktu untuk berkumpul bersama keluarga.

Sebagaimana, Kamis (21/3) malam lalu seperti sekian kali malam-malam terdahulu,  Mbak Tutut bersama rombongan  menuju Keresidenan Banyumas, tepatnya Desa Jambudesa, Kecamatan Karang Anyar Kabupaten Purbalingga.

Sebab, esok hari, pagi-pagi sekali, ia akan menemui warga yang bersuka cita memetik jerih payah hasil pertanian mereka.

Mbak Tutut dan adik-adiknya yakni Tommy Soeharto dan Bambang Trihatmodjo juga ikut serta berpanen raya bersama warga.

“Di mobil ini, selama perjalanan saya seringnya tidur,” kata Mbak Tutut kepada wartawan di Hotel Desa Wisata, Taman Mini, sepekan sebelumnya. Mbak Tutut sedikit terkekeh. Mungkin agak geli dengan pertanyaan wartawan yang ‘kepo’ sampai bertanya apa saja yang dilakukannya selama perjalanan-perjalanannya menyapa warga di sekian banyak daerah itu.

Di mobil Mercedes Sprinter Van yang kerap disopiri Iqbal dan Syamsul itulah memang, sekian waktu Mbak Tutut selama perjalanan dilewatkan. Mobil van yang lebih besar daripada VW Caravelle itu memang tampaknya nyaman. Tetapi jangan pernah lupa bahwa di usia yang tak lagi muda, kegiatan yang dilakukan Mbak Tutut tergolong membutuhkan stamina dan semangat di atas rata-rata. Asal tahu saja, jarak Jakarta-Purwokerto setidaknya 354 km.

“Selama perjalanan, kami dua kali sempat beristirahat di rest area,” kata Tomo, anggota rombongan yang berada di kendaraan lain. Sekali di jalur tol Cipali, sekali lagi di perjalanan antara Cirebon-Tegal. “Ibu Tutut keluar sekali, untuk pergi ke toilet,” kata dia.

Rombongan itu sampai di tempat transit di Purwokerto sekitar pukul 06.30 pagi. Hanya ada waktu sekitar satu jam buat Mbak Tutut sebelum bergerak lagi untuk ikut berpanen raya di Purbalingga. Saat menyapa wartawan sebelum kembali masuk mobil, dan bergerak, paras muka Mbak Tutut tak sedikit pun menampakkan keletihan.

“Wajah itu cerminan jiwa kita,” kata Mbak Tutut, saat kembali bertemu wartawan di kediaman adiknya, Bambang Tri, di Purwokerto, siang usai acara panen raya. “Bila batin kita senang dan bahagia, wajah kita pun akan secerah kebahagiaan yang kita rasa.”

Namun memang bagaimana mungkin Mbak Tutut tak akan senang. Hari itu ia akan bertemu saudara-saudara yang sangat disayanginya. Ia datang untuk menemani adiknya, Tommy Soeharto, ketua umum Partai Berkarya yang membina para petani yang tengah berbahagia itu. Ada pula Bambang Tri, yang tak kurang memberikan dukungan bagi aktivitas social adik mereka berdua.

“Bapak dan Ibu selalu meminta kita rukun dengan saudara. Meminta kami saling dukung, saling membesarkan. Jadi ini juga bagian dari bakti saya kepada kedua orang tua kami,” kata Mbak Tutut.

Berkaitan dengan sang ayah, menurut Mbak Tutut ada juga hal yang menjadi resep istimewa untuk menjaga staminanya dalam berkarya demi kemaslahatan bersama.

“Bapak selalu berpesan, “Nduk, libatkanlah selalu Tuhan dalam perjalanan hidupmu. Jangan sekali-kali kamu meninggalkan-Nya,” kata Mbak Tutut.

Tak heran bila saat panen raya itu Mbak Tutut terlihat sangat menikmati. Menikmati dialog dan percakapan dengan warga selama acara. Turut senang melihat wajah-wajah ceria penuh harapan dari para petani dan keluarganya di sawah tempat acara digelar. Tampak jelas, ada saling isi kegembiraan pada panen raya itu. Para petani bahagia tak hanya karena hasil panennya, tetapi juga karena kehadiran Mbak Tutut. Sementara Mbak Tutut sendiri terlihat menyesap keceriaan warga yang menjadi atmosfer acara tersebut.

Sungguh beruntung, keduanya saling memberikan bahagia. Sebab bukankah agama juga menegaskan, salah satu amal ibadah yang sangat disenangi Tuhan dilakukan umatNya adalah manakala umatnya memasukkan kebahagiaan ke dalam hati sesama. (LMC-01)

#IndonesiaBerkarya
#PartaiBerkarya
#Berkarya
#PanenRaya
#Purbalingga
#HutomoMandalaPutra
#SitiHardiyantiRukmana
#TommySoeharto

About Lintas Medan

Kelvin Benjamin Jersey