Home / Peristiwa / Pengungsi Rohingya Mohon Bantuan Pemerintah Indonesia

Pengungsi Rohingya Mohon Bantuan Pemerintah Indonesia

image_pdfimage_print

Anak-anak pengungsi Rohingya di Medan ikut berdelegasi memperjuangkan nasib mereka ke Gedung DPRD Sumatera Utara di Jalan Imam Bonjol Medan, Selasa (12/5).(Foto:LintasMedan/irma)

Medan, 12/5 (LintasMedan) – Ratusan pengungsi Rohingya yang terdampar di Medan, berdelegasi ke Gedung DPRD Sumatera Utara, Selasa.

Para pencari suaka ini memohon bantuan Pemerintah Indonesia melalui lembaga legislatif di DPRD Sumut untuk turut mengambil inisiatif menyelesaikan persoalan Muslim Rohingya yang hingga kini nasibnya terkatung-katung dalam pengungsian.

Menurut Irwansyah dari Pusat Advokasi Hukum dan Hak Azasi Manusia, sedikitnya ada 300 an pengungsi Rohingya yang terpaksa mengungsi dan tinggal di beberapa titik lokasi di Kota Medan, akibat konflik di negara mereka di Myanmar.

“Dari jumlah tersebut beberapa di antaranya adalah anak-anak,” kata Irwansyah.

Mereka tidak diakui sebagai bagian dari warga negara Myanmar, padahal Rohingya telah ada berabad-abad lamanya. Mereka diusir dari tempat kelahirannya oleh etnis mayoritas Budhis.

Menurut Irwansyah, para pengungsi tersebut ada yang sudah tinggal selama lima tahun di Medan, tanpa memiliki kepastian bagaimana nasib dan masa depan mereka kelak.

“Bantulah kami Pak, kami tidak punya siapa-siapa selain Allah,” kata Shahay Deen salah seorang pengungsi Rohingya saat lima orang perwakilan mereka di terima anggota Komisi A DPRD Sumut.

Shahay bersama rekannya Abu Ahmad mengaku telah empat tahun menjadi pengungsi bahkan mereka telah fasih berbahasa Indonesia.

Di penampungan di bawah pengawasan Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) dan NGO internasional bernama International Organization for Migration(IOM), mereka pun tidak boleh bebas sebagaimana layaknya warga biasa.

Mereka bahkan tidak boleh mencari nafkah atau keluar dari lokasi penampungan sesuka hati. “Semua dalam pengawasan dan kebutuhan hidup yang sangat jauh dari cukup,” ujar Abu Ahmad.

Di hadapan anggota DPRD Sumut yakni Muhammad Hafez, Burhanuddin Siregar (Fraaksi PKS) dan Anhar Monel (Fraksi Demokrat), para pengungsi Rohingya ini memaparkan kondisi menyedihkan yang pernah dialami saat harus terusir dari negara mereka.

Menurutnya, di negara itu telah terjadi pembunuhan secara massal terhadap Muslim Rohingya, rumah-rumah dibakar dan para wanita diperkosa.

Kondisi itu terpaksa membuat mereka harus menyelamatkan diri dengan perahu-perahu tua dan menyeberang kenegara-negara tetangga, seperti Bangladesh, Thailand, Malaysia, dan Indonesia.

Hingga hari inipun, menurut mereka penderitaan Rohingya belum berakhir bahkan semakin memprihatinkan dan hidup dalam kemiskinan.

Oleh karenanya para warga Rohingya ini memohon agar pemerintah Indonesia bisa ikut mengadvokasi dan mendesak negara-negara ASEAN, PBB dan Komunitas Internasional serta semua pemerintah negara-negara di dunia untuk menekan pemerintah Myanmar supaya menghentikan segala bentuk dan kekerasan yang dilakukan terhadap etnis Rohingya.

Muhammad Hafez mengatakan akan membawa persoalan itu untuk di bahas di tingkat pimpinan DPRD Sumut. “Ini persoalan kemanusiaan, warga negara manapun dan agama apapun tidak boleh diperlakukan dengan cara-cara yang tidak manusiawi melanggar HAM,” kata Hafez.

Selain itu, dia menegaskan Komisi A DPRD Sumut segera mengagendakan untuk mengunjungi lokasi pengungsian para warga Rohingya di Medan.

“Kita segera meninjau lokasi tempat tinggal warga Rohingya di beberapa lokasi di Medan, apakah layak atau tidak,” katanya.(LMC-02)

About Lintas Medan

Kelvin Benjamin Jersey