Psikolog: Kedekatan Orang Tua Pengaruhi Tumbuh Kembang Anak

Psikolog Elizabeth Santosa menyampaikan paparan seputar tumbuh kembang anak dalam acara workshop bertajuk “Grow Happy Parenthing” yang digelar Nestle Lactogrow di Medan, Rabu (7/8). (Foto: LintasMedan/Irma)

Medan, 7/8 (LintasMedan) – Psikolog anak, Elizabeth Santosa mengatakan, kedekatan antara anak dengan orang tua penting dijalin sejak usia dini karena akan sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak.

“Kesibukan orang tua khususnya kaum ibu di luar rumah karena bekerja bukan menjadi alasan mengabaikan waktu kebersamaan dengan anak,” katanya di Medan, Rabu.

Elizabeth mengemukakan hal tersebut pada acara workshop bertajuk “Grow Happy Parenthing” yang digelar Nestle Lactogrow.

Menurut dia, kedekatan antara orangtua dan anak dapat dibentuk melalui kepekaan orang tua terhadap kebutuhan anak, respon orang tua terhadap kebutuhan anak serta mengajak anak bicara dan bermain untuk menstimulasi perkembangannya.

“Orang tua juga sebaiknya rutin menghabiskan waktu dengan anak, misalnya berolahraga bersama, karena membiasakan hidup aktif dapat meningkatkan kesehatan psikologis dan fisik,” ujarnya.

Anak yang memiliki kerekatan yang baik dengan orang tua cenderung mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi, mudah bergaul, mandiri, bisa berinteraksi dengan orang dewasa dan bisa memimpin.

“Perhatian terhadap tumbuh kembang anak efektif diterapkan secara intens hingga anak memasuki usia 14 tahun,” paparnya.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa orang tua selain memastikan asupan nutrisi yang cukup kepada anak, juga harus memperhatikan kematangan emosi anak.

“Kematangan emosi dan kebahagian anak dapat dibantu dengan memperaktekkan perilaku positif, misalnya mengajarkan kebiasaan bersyukur,” kata Elizabeth.

Dikatakannya, anak yang pintar bersyukur akan tumbuh menjadi sosok yang optimis, berempati tinggi dan lebih bahagia.

Selain psikolog Elizabeth Santoso, pihak Nestle Indonesia saat menggelar workshop tersebut juga menghadirkan pembicara lain, yakni Dr. Ariani Dewi Widodo.

Menurut dokter spesialis anak itu, orang tua perlu secara rutin memastikan makanan yang dikonsumsi anak-anak mereka bergizi seimbang dan mengandung probiotik guna membantu agar nutrisi dapat terserap lebih baik.

Dari sejumlah probiotik, kata dia, “lactobacillus reuteri” merupakan salah satu jenis yang telah teruji secara klinis aman dan bermanfaat bagi tubuh.

“Pemberian probiotik dapat dilakukan melalui susu atau makanan yang difermentasi, seperti tempe dan yoghurt,” tuturnya. (LMC-02)




Pemko Medan Apresiasi IOM Bantu Pendidikan Anak Pengungsi

Walikota Medan H.T Dzulmi Eldin (kiri) menerima piagam penghargaan dari International Organization for Migration (IOM) yang diserahkan Kepala Kantor IOM perwakilan Indonesia Mariam Kohkar (kanan), di rumah dinas walikota Medan, Rabu (17/10). (Foto: LintasMedan/ist)

Medan, 17/10 (LintasMedan) – Pemerintah Kota (Pemko) Medan mengapresiasi program lembaga internasional yang menangani pengungsi atau International Organization for Migration (IOM) membantu kelangsungan pendidikan anak-anak pengungsi.

“Pemko Medan mengapresiasi dan mendukung program IOM untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak pengungsi,” kata Walikota Medan H.T. Dzulmi Eldin saat menerima audiensi Kepala Kantor IOM perwakilan Indonesia Mariam Kohkar, di rumah dinas walikota Medan, Rabu (17/10).

Dalam pertemuan yang berlangsung dalam suasana penuh keakraban itu, Walikota menyatakan bahwa anak-anak pengungsi juga mempunyai hak mendapatkan pendidikan dan kesehatan.

Sebagaimana diketahui, IOM merupakan organisasi antar-pemerintah dalam bidang migrasi. Organisasi ini bekerja erat dengan mitra pemerintah, organisasi antar pemerintah, dan non pemerintah.

IOM juga mempromosikan migrasi yang tertib dan manusiawi agar menguntungkan semua pihak, dengan cara memberikan layanan jasa dan nasihat bagi negara dan bagi para migran.

Kepala Kantor IOM perwakilan Indonesia Mariam Kohkar, menjelaskan bahwa pihaknya bekerja untuk mendorong praktik migrasi yang tertib dan manusiawi, mempromosikan kerjasama internasional dalam isu migrasi.

Selain itu, menurut dia, IOM membantu menemukan solusi praktis terhadap isu migrasi dan menyediakan bantuan kemanusiaan bagi kelompok yang membutuhkan, termasuk bagi pengungsi dan pengungsi internal.

Pada kesempatan itu juga, Mariam menyampaikan program-program pihaknya dalam menangani persoalan pengungsi yang ada di Medan.

Salah satunya adalah soal pendidikan anak-anak pengungsi. Pihaknya berencana memasukkan anak-anak pengungsi itu ke sekolah yang ada di Medan.

“Kami juga mengatakan akan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Medan untuk memberikan vaksinasi campak Rubella bagi anak-anak pengungsi,” paparnya.

Dalam audiensi itu, Mariam Kohkar memberikan piagam penghargaan kepada Walikota Medan yang dinilai memiliki sikap kemanusiaan dan perhatian yang besar pada migran di ibu kota Provinsi Sumut itu. (LMC-04)




Pemprov Sumut Khawatirkan Tingginya Angka Kelahiran Anak

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PPKB) Provinsi Sumut, Ria Nofida Telaumbanua. (Foto: LintasMedan/Irma)

Medan, 13/11 (LintasMedan) – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara melalui Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PPKB) setempat menghkhawatirkan tingginya angka kelahiran anak di daerah itu selama kurun waktu hampir enam tahun terakhir.

“Peningkatan jumlah penduduk Sumatera Utara dari 12,9 juta menjadi 14,1 juta jiwa dalam kurun waktu 2010-2016 menunjukkan pertambahan sekitar 187 ribu per tahun,” kata Kepala Dinas PPKB Sumatera Utara (Sumut), Ria Nofida Telaumbanua dalam acara jumpa pers, di kantor gubernur Sumut, Medan, Senin.

Menurut dia, angka kelahiran di Sumut pada 2016 mencapai 2,36 per seribu penduduk, atau lebih tinggi dari angka kelahiran nasional yang 2,6 per seribu penduduk.

Angka tersebut didasarkan atas perhitungan rata-rata anak yang dilahirkan seorang wanita pada usia subur (15-49 tahun).

Peningkatan angka kelahiran yang cukup signifikan di Sumut tersebut, lanjutnya, bisa berdampak pada kemiskinan, pengangguran, putus sekolah serta persoalan terkait ketahanan dan kesejahteraan keluarga.

Ia menilai, keterbatasan jumlah petugas lapangan menjadi kendala utama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Provinsi Sumut selama ini dalam menekan tingginya angka penghentian penggunaan alat kontrasepsi (drop out) di tingkat kabupaten/kota.

Menyikapi kendala yang dihadapi BKKBN tersebut, kata dia, Dinas PPKB sebagai satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang baru dibentuk di lingkup Pemprov Sumut sesuai dengan tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) akan mengambil alih sebagian besar Tupoksi BKKBN setempat.

“Kami juga berwewenang memantau distribusi obat dan alat kontrasepsi yang penyalurannya merupakan tanggungjawab BKKBN,” ucapnya.

Meski demikian, Ria mengaku bahwa beban tugas dan kewenangan SKPD yang baru dipimpinnya itu hanya bisa berjalan maksimal jika dibarengi kerja sama dan sinergitas dari instansi terkait, antara lain dinas kesehatan, tenaga kerja dan BKKBN Wilayah Sumut.

“Untuk menekan laju pertumbuhan penduduk di Sumut, kami membutuhkan dukungan dan sinergitas dari beberapa instansi pemerintah terkait,” ujarnya.

Dikatakannya, Dinas PPKB Sumut dalam melaksanakan sejumlah program kerja hingga saat ini masih mengandalkan dana dari APBD yang jumlahnya relatif terbatas dan dukungan dana dari Pemerintah pusat belum ada dialokasikan.

“Kita harus akui, untuk menurunkan laju pertumbuhan penduduk di Sumut sebesar 0,1 poin saja untuk angka kelahiran itu tidak mudah. Perlu ada kerja keras dan anggaran yang cukup,” tambahnya. (LMC-02)




Bocah Keturunan India Juara Kompetisi Anak Jenius

Rahul. (Foto: LintasMedan/BBC)

London, 21/8 (LintasMedan) – Rahul, bocah laki-laki berusia 12 tahun dari London utara, Inggris, Senin, menjuarai sebuah kompetisi dalam program televisi berjudul Channel 4’s Child Genius.

Rahul mengalahkan lawannya yang berusia sembilan tahun – Ronan – dengan skor 10-4 dalam final program tersebut.

Rahul, memiliki tingkat kejeniusan atau IQ yang cukup tinggi dan merupakan anggota Mensa atau organisasi orang-orang jenius yang memiliki IQ di atas rata-rata.

Kompetisi diikuti 19 anak berusia delapan sampai 12 tahun dalam program yang berlangsung selama sepekan.

Ia keluar sebagai pemenang setelah dengan tepat menjawab soal tentang para seniman di abad ke 19 William Holman Hunt dan John Everett Millais.

Rangkaian acara Child Genius ini dimulai pada hari Senin dan ditayangkan setiap malam pada minggu ini. Acara tersebut adalah program yang paling banyak ditonton di televisi Channel 4 Inggris setiap hari, dengan jumlah penonton yang menyaksikan acara final mencapai 1.8 juta orang.

Dalam acara final, subyek yang dipilih Rahul adalah inovasi dan metodologi medis Edward Jenner di Inggris pada abad ke 18. Baik Rahul, maupun lawannya, Ronan mencetak nilai 15 di bidang masing-masing.

Ia tadinya diperkirakan akan berhadapan dengan anak berusia 11 tahun, Joshua dalam final hari Sabtu. Namun pengetahuan tentang London tahun 1666 membuatnya Ronan lolos ke final.

Rahul mengatakan ia “sangat senang bisa menang” dan mengucapkan selamat kepada Ronan serta para kontestan lainnya.

Dylan, 12 tahun, menempati posisi ketiga dengan Joshua di tempat keempat. Satu-satunya anak perempuan dalam final tersebut, Aliyah berusia 10 tahun, menempati posisi kelima.

Rahul membuat para khalayak dan pembawa acara kuis Richard Osman begitu terkesan di babak pertama, dengan menjawab setiap pertanyaan dengan benar.

Ayah Rahul, Minesh, memasukkannya ke dalam kompetisi tersebut dan menyebut kesuksesannya sebagai sebuah ‘prestasi fenomenal’.

Meski acara ini menuai kritikan karena menempatkan anak-anak di bawah tekanan, pembawa acara mengatakan bahwa ia ‘tidak keberatan orang-orang mengalami sedikit trauma.’

“Saya tidak keberatan jika orang-orang harus melewati kesulitan,” kata Osman, sang pembawa acara. (LMC-03/BBC)




Aktivitas Pornografi Anak di Indonesia Mengkhawatirkan

Ilustrasi

Bukit Tinggi, 16/4 (LintasMedan) – Aktivitas Pornografi Anak di Indonesia dewasa ini sudah sangat mengkhawatirkan, karena dapat mengubah watak anak-anak yang terus menyaksikan tontonan tersebut dan akhirnya mereka tidak memiliki nilai-nilai agama maupun adat ketimuran lagi.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) Yohana Yembise mengatakan ada 25 ribu aktivitas pornografi anak, baik diunduh maupun diunggah di internet setiap harinya di Indonesia berdasarkan data dari Interpol dan Polri.

“Saya kaget karena ada 50 ribu aktivitas pornografi di Indonesia tiap harinya di mana 25 ribu adalah pornografi anak,” kata Yohana di Bukit Tinggi, Sumatera Barat, Minggu.

Pantauan dari KemenPPPA bersama lembaga pantauan dan analisis media daring Katapedia, pada September hingga November 2016 ada 1.200 ciutan di Twitter mengenai pornografi anak.

Untuk menangani masalah ini, KemenPPPA akan bekerja dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika. “Kami akan meniru Filipina yang bekerja sama dengan intelejen menangani kasus cyber crime ini,” jelas Yohana.

Ia juga meminta orang tua dan pihak sekolah mengawasi dan membatasi anak menggunakan telepon canggih. Keluarga, kata Yohana, adalah kunci utama menjaga anak.

“Kita lihat sekarang banyak anak-anak yang kurang berkomunikasi sama orang tua karena sibuk main gawai. Saya imbau orang tua untuk mengawasi anak-anak karena banyak sekali konten pornografi ada disana,” kata Yohana.

Dia juga meminta orang tua untuk meluangkan waktu dan mengajak anak-anak tersebut bermain di luar agar mereka tidak selalu bermain gawai.

KemenPPPA juga memiliki program “Kabupaten Layak Anak” di mana salah satu indikatornya adalah anak-anak harus bebas dari pornografi. “Jadi saya minta kepala daerah untuk meminta dinas pendidikan mengimbau pihak sekolah untuk membatasi penggunaan telepon genggam di sekolah,” kata dia. (LMC-03/AN)




Pemko Komitmen Jadikan Medan Kota Layak Anak

 Wakil Wali Kota Medan Akhyar Nasution (kedua kiri) melepas balon ke udara dalam rangkaian acara peringatan Hari Anak Nasional Tingkat Kota Medan, di Gedung Dharma Wanita Medan, Selasa (29/11). (Foto: LintasMedan/ist) Wakil Wali Kota Medan Akhyar Nasution (kedua kiri) melepas balon ke udara dalam rangkaian acara peringatan Hari Anak Nasional Tingkat Kota Medan, di Gedung Dharma Wanita Medan, Selasa (29/11). (Foto: LintasMedan/ist)

Wakil Wali Kota Medan Akhyar Nasution (kedua kiri) melepas balon ke udara dalam rangkaian acara peringatan Hari Anak Nasional Tingkat Kota Medan, di Gedung Dharma Wanita Medan, Selasa (29/11).

Medan, 29/11 (LintasMedan) – Pemerintah Kota Medan menegaskan komitmennya untuk mewujudkan Medan sebagai Kota Layak Anak (KLA), guna melindungi anak dari berbagai kekerasan, diskriminasi dan eksploitasi.

“Sejak tahun 2010 sampai dengan 2014, Kota Medan telah berkomitmen untuk mewujudkan setiap satu kelurahan di 21 Kecamatan menjadi kelurahan layak anak,” kata Wakil Wali Kota Medan Akhyar Nasution pada peringatan Hari Anak Nasional Tingkat Kota Medan, di Gedung Dharma Wanita Medan, Selasa.

Upaya menjadikan ibu kota Provinsi Sumut itu menjadi kota layak anak, lanjutnya, terus dilakukan Pemko Medan diantaranya dengan membangun komitmen dalam meningkatkan perlindungan anak dan memenuhi hak-hak anak.

Disebutkannya, kebijakan pengembangan kota layak anak telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

Akhyar menambahkan, anak perlu dilindungi karena setiap anak terlahir dengan segenap potensi yang baik. Hak-hak anak yang harus dipenuhi dan dilindungi bersama, antara lain hak untuk bermain, mendapatkan pendidikan dan perlindungan.

Selain itu hak mendapatkan nama dan identitas, hak mendapat makanan, akses kesehatan, rekreasi serta hak untuk berkembang memiliki peran yang sesuai dengan kemampuan dan intelektual perkembangan usianya.

Hari Anak Nasional 2016 menyoroti tiga Isu anak, yakni kekerasan seksual anak, perkawinan anak dan prostitusi terhadap anak.

Isu tersebut sesuai dengan tema Hari Anak Nasional, yakni Stop Kekerasan pada Anak.

“Peringatan ini dapat menjadi motivasi kita khususnya orang tua untuk lebih meningkatkan kepedulian dan pemenuhan serta memberikan perlindungan kepada anak,” ujar Wakil Wali Kota Medan. (LMC-02)




Pemko Binjai Diminta Maksimalkan Pendidikan Karakter Anak

Tayangan video yang berisi penganiayaan seorang siswi SMP di Binjai, oleh kakak kelasnya. (Foto: LintasMedan/ist)

Ilustrasi – Tayangan video yang berisi penganiayaan seorang siswi SMP di Binjai, oleh kakak kelasnya. (Foto: LintasMedan/ist)

Medan, 9/9 (LintasMedan) – Anggota DPRD Provinsi Sumut Muchri Fauzi Hafiz minta Pemerintah Kota (Pemko) Binjai memaksimalkan kualitas pendidikan karakter anak bangsa mulai dari jenjang pendidikan sekolah dasar (SD).

“Pendidikan karakter efektif cegah tindakan kekerasan di kalangan generasi muda,” katanya , di Medan, Rabu.

Muchri menyatakan hal itu menanggapi beredarnya video di dunia maya yang memperlihatkan seorang siswi SMP  melakukan tindakan kekerasan kepada siswi lainnya di sekitar taman depan sekolah mereka di Binjai, baru-baru ini.

Menurut dia, globalisasi dan perkembangan teknologi yang luar biasa telah banyak menggeser sistem pergaulan dan perilaku generasi muda dewasa ini.

Agar generasi muda memiliki kemampuan untuk menyaring berbagai pengaruh perkembangan zaman tersebut, pihaknya berharap Pemko Binjai perlu memasukkan pendidikan berbasis karakter dalam kegiatan ekstra kurikuler wajib.

Penguatan pendidikan berbasis karakter tersebut, antara lain dengan memperkuat materi pendidikan terkait dengan budaya, adat istiadat, agama, dan pendidikan yang memperkuat nilai-nilai luhur bangsa.

Untuk mengintensifkan penerapan pendidikan berbasis karakter di “kota rambutan” itu, menurut dia, perlu didukung dengan peraturan walikota (Perwal) atau peraturan daerah (Perda).

Mencermati tindakan kekerasan yang dilakukan seorang siswi di Binjai, Muchri berharap Pemko setempat seyogyanya segera melakukan evaluasi yang komprehensif terkait pelaksanaan pendidikan karakter di sejumlah sekolah.

Ia menambahkan pendidikan karakter penting untuk membentuk generasi muda yang unggul, mandiri, pantang menyerah dan mampu hadapi tantangan jaman.

“Karena itu, perlu adanya pembangunan mental yang kuat di masyarakat khususnya di bidang pendidikan baik dari tingkat dasar hingga tingkat menengah,” ujar anggota Fraksi Partai Demokrat asal daerah pemilihan Kota Binjai dan Kabupaten Langkat itu. (LMC-01)