Pemko Medan Terima Buku Pengelolaan Sampah dari Jepang

Wakil Walikota Medan Akhyar Nasution (kedua kanan) menerima buku pedoman pengelolaan sampah dari Direktur Kitakyushu Urban Center IGES Jepang Dr Hiroyuki Kage di Balai Kota Medan, Selasa (5/3). (Foto: LintasMedan/ist)

Medan, 5/3 (LintasMedan) – Pemerintah Kota (Pemko) Medan menerima buku tentang pedoman pengelolaan sampah dari Kitakyushu Urban Center Institute for Global Environtmental Strategies (IGES) Jepang.

Buku yang di antaranya berisi formal rencana kerja The Climate and Clean Air Coalition (CCAC) tersebut diserahkan Direktur Kitakyushu Urban Center IGES Jepang Dr Hiroyuki Kage kepada Wakil Walikota Medan Akhyar Nasution di Balai Kota Medan, Selasa (5/3).

“Pemko Medan sangat mengapresiasi dan merasa bangga atas partisipasi dan dukungan yang diberikan IGES, guna mengatasi permasalahan sampah,” tuturnya.

Dengan berpedoman pada bukut tersebut, lanjut dia, pengeloaan sampah yang akan dilakukan Pemko Medan nantinya dapat menghasilkan nilai ekonomis dan ramah lingkungan sekaligus permasalahan sampah di daerah itu dapat segera teratasi.

Pada kesempatan itu, pihaknya meminta kepada organisasi perangkat daerah (OPD) terkait dan seluruh pihak agar turut serta berkontribusi membantu Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Medan dalam menangani permasalahan sampah.

Akhyar juga mengajak semua pihak berperan aktif untuk memperbaiki mindset dan perilaku masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan serta mewadahi sampahnya masing-masing.

Sebelumnya, Direktur Kitakyushu Urban Center IGES Jepang Hiroyuki Kage mengaku, senang atas selesainya penyusunan buku pedoman CCAC tersebut.

“Pemberian Buku Pedoman CCAC merupakan salah satu bentuk kontribusi IGES bagi Pemko Medan agar Medan tetap menjadi kota yang aman, nyaman dan bersih,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, ia menyatakan bahwa Medan yang belum lama ini mendapatkan nilai rendah dalam hal pengelolaan sampah tidak tepat jika dikatakan sebagai kota terkotor.

“Bagi kami itu tidaklah benar, sebab Medan merupakan kota yang nyaman untuk disinggahi dan menjadi rumah bagi kami. Semoga dengan adanya Buku Pedoman CCAC ini, Pemko Medan dapat mengimplementasikannya,” ujar Hiroyuki Kage.

Sementara itu Kadis DKP Kota Medan, Husni menjelaskan bahwa IGES sejak Mei 2017 telah melakukan pendampingan kepada Pemko Medan dalam upaya mencari solusi permasalahan sampah di Medan.

Sebelum buku pedoman CCAC selesai, ada beberapa tahapan yang dilakukan Pemko Medan bersama tim IGES, di antaranya melakukan pendataan terkait jumlah sampah yang dihasilkan kota Medan setiap hari.

Setelah pendataan dilakukan, tim selanjutnya merumuskan serta saling berkoordinasi untuk proses pengolahan sampah sehingga menghasilkan turunan yang bisa dimanfaatkan.

Pihaknya berharap hasil pengolahan tersebut dapat menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

“Melalui buku pedoman CCAC, Pemko Medan telah memiliki work plan dalam pengelolaan sampah. Kami berharap ini menjadi awal yang lebih baik dalam menangani permasalahan sampah,” ujar Husni.

Pihaknya juga berharap seluruh pihak dapat ikut serta membantu Pemko setemat mewujudkan Medan menjadi kota zero waste. (LMC-04)




Walikota Medan Hadiri Perayaan HUT Kaisar Jepang

Walikota Medan H.T Dzulmi Eldin (kedua kiri) bersama para pejabat dan tokoh masyarakat menghadiri resepsi ulang tahun ke-85 Kaisar Jepang Akihito yang digelar Konsulat Jenderal Jepang di Medan di Grand Aston City Hall Medan, Selasa (4/12) malam. (Foto: LintasMedan/ist)

Medan, 4/12 (LintasMedan) – Walikota Medan, H.T Dzulmi Eldin beserta sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat menghadiri perayaan ulang tahun ke-85 Kaisar Jepang Akihito yang digelar Konsulat Jenderal Jepang di Medan dalam sebuah acara resepsi di Grand Aston City Hall Medan, Selasa (4/12) malam.

Walikota Medan dalam kata sambutannya menyampaikan, antara lain bahwa hubungan dan kerja sama antara Pemerintah Kota (Pemko) Medan dengan Jepang selama ini berjalan dengan baik, di antaranya diwujudkan melalui program pertukaran pelajar melalui program Sister City.

“Ada berbagai kerja sama yang disepakati oleh Pemko Medan dengan pemerintahan Jepang, selain pendidikan dan kebudayaan, juga sektor lainnya seperti ekonomi kerakyatan maupun penangulangan sampah dalam upaya menjadikan Kota Medan bersih sampah,” tambahnya.

Walikota berharap agar hubungan dan kerja sama yang sudah terjalin baik selama ini bisa terus ditingkatkan.

Terkait masalah sampah, Eldin mengatakan bahwa pihaknya saat ini sedang menjajaki kerja sama dengan Jepang, terutama dalam pemanfaatan teknologi pengolahan sampah yang dimiliki negara tersebut.

Ia juga berharap Pemerintah Jepang dapat memberi ruang dan mengalokasikan bea siswa bagi para pelajar berprestasi di Kota Medan.

Acara perayaan HUT Kaisar Jepang Akihito diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dilanjutkan dengan lagu kebangsaan Jepang, Kimigayo.

Konsul Jenderal Jepang di Medan Takeshi Ishii dalam sambutannya berharap agar berharap hubungan antara Kota Medan dengan Jepang yang selama ini terjalin dengan baik dapat terus ditingkatkan.

Dia juga mengajak segenap elemen masyarakat di Kota Medan dapat lebih mengenal Jepang lebih dekat dan menjadikan negara yang terletak di ujung barat Samudra Pasifik menjadi salah satu referensi tujuan wisata.

“Kami juga berharap agar pariwisata di Indonesia, khususnya Kota Medan juga semakin maju dan berkembang,” ucap Takeshi.

Pada kesempatan itu, pihaknya juga menyampaikan ucapan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas bencana alam melanda beberapa wilayah di Indonesia belum lama ini. (LMC-04)




Sumatera Utara Lahan Investasi Menggiurkan

Potensi sumber daya alam yang melimpah dan sumber daya manusia yang luar biasa, sejatinya menjadikan Sumatera Utara (Sumut) sebagai kawasan paling menarik untuk dijadikan tempat berinvestasi.

Namun, hal itu belumlah cukup, jika tidak dibarengi dengan kebijakan yang tepat dari para pemangku kepentingan di daerah ini.

Visi dan Misi Gubernur Sumut (Gubsu) Edy Rahmayadi dan Wakil Gubernur Sumut (Wagubsu) Musa Rajekshah dengan jargon ‘Sumut Bermartabat’ diyakini menjadi agenda yang baik untuk menciptakan daya tarik Sumut di mata investor.

Meski baru ‘seumur jagung’ kepemimpinan Edy Rahmayadi dan Musa Rajekshah, sudah menunjukan tekad menjadikan Sumut sebagai destinasi paling menggiurkan bagi para investor.

Keseriusan dan kesungguhan Gubernur dan Wagub menjadikan Sumut sebagai kawasan layak bagi investor, setidaknya tergambar dalam Nota Keuangan dan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Sumut 2019 yang disampaikan ke DPRD Sumut.

Dari pendapatan daerah yang ditargetkan sebesar Rp15,2 triliun, dengan usulan belanja daerah sebesar Rp15,4 triliun lebih, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut memfokuskannya untuk pencapaian visi misi Sumut Bermartabat, yakni lima poin penting seperti ketenagakerjaan, pendidikan, infrastruktur, kesehatan dan peningkatan daya saing dari sektor agraris dan pariwisata.

Untuk ketenagakerjaan misalnya, program peningkatan kesempatan kerja dan berusaha melalui penyediaan lapangan pekerjaan sebesar Rp82,7 miliar atau 1,68 persen. Kemudian peningkatan dan pemenuhan akses pendidikan Rp1,3 triliun lebih atau 27,91 persen, dan pembangunan infrastruktur yang baik Rp1,4 triliun lebih atau 28,64 persen, adalah yang paling signifikan.

Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi menghadiri sekaligus membuka Ya’ahowu Nias Festival 2018 yang diselenggarakan di Lapangan Orurusa, Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan, Sabtu (17/11/2018).(Foto:LintasMedan/ist)

Sementara poin peningkatan layanan kesehatan berkualitas sebesar Rp379 miliar lebih atau 7,73 persen. Serta peningkatan daya saing melalui sektor agraris dan pariwisata Rp 365 miliar lebih atau 7,43 persen, menjadi program yang terus mendapatkan tempat.

Melalui program pendidikan diharapkan akan lahir sumber daya manusia yang cerdas, memiliki keterampilan dan berdaya saing.

Pembangunan infrastruktur diharapkan dapat meningkatkan konektivitas, arus barang lebih efisien dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Begitu juga dengan program ketenagakerjaan, kesehatan dan peningkatan daya saing dari sektor agraris dan pariwisata, seluruhnya diharapkan dapat mempermudah dan mendorong investor untuk berinvestasi di daerah ini.

Sumut Jendela Dunia

Program yang diluncurkan baru-baru ini, juga menjadi bukti kebulatan tekad menjadikan Sumut sebagai kawasan yang pantas untuk diperhitungkan. Pemprov Sumut segera melakukan proses pemetaan potensi daerah lewat program yang disebut ‘Sumut Jendela Dunia’.

Yakni portal website berisi informasi audiovisual tentang data-data Sumber Daya Alam (SDA), wisata, pemerintahan, kemasyarakatan dan lainnya di Sumut. Portal ini akan terintegrasi dengan Sumut Smart Province.

Selain potensi SDA, program ‘Sumut Jendela Dunia’ juga berisi tentang prestasi-prestasi dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Sumut.
Dicontohkannya, salah satunya berupa database atlet-atlet Sumut. Selain itu, bisa pula menampilkan hasil-hasil penelitian Balitbang dan Dewan Riset Daerah.

Wakil Gubernur (Wagub) Sumut Musa Rajekshah dan General Manager PLN Wilayah Sumut Feby Joko Priharto menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) Layanan Satu Pintu di Balai Agung Astakona Kantor PLN Wilayah Sumut, Jalan Yos Sudarso Nomor 284 Medan, Senin (1/10/2018).(Foto:LintasMedan/ist)

Data-data ini akan menjadi etalase paling penting bagi Sumatera Utara, dimana para investor akan memiliki data awal tentang Sumatera Utara yang lengkap dari program ini.

Dengan daya dukung teknologi, investor yang ada di belahan bumi terjauh pun akan mampu mendapatkan informasi positif dan akurat lebih dini tentang Sumatera Utara, sebelum mereka menentukan pilihan.

Dalam program ini nantinya memuat kategori atau klasifikasi tentang potensi satu daerah di Sumatera Utara. Kunci yang paling penting dari program ini adalah validnya informasi dari data yang tersedia.

Jika keberpihakan anggaran dan program yang akan digulirkan fokus menjadikan Sumut benar-benar diperhitungkan, maka pertanyaan selanjutnya, Sumatera Utara punya apa?

Maka, jawabanya sangatlah mudah. Sumut selama ini sudah memiliki apa yang diinginkan investor, yang tidak ada dari Sumut adalah kesungguhan untuk menjadikan apa yang dimiliki benar-benar bermanfaat dan berguna bagi masyarakat Sumut.

Wakil Gubernur Sumatera Utara Musa Rajekshah menerima kunjungan pengusaha Korea di ruang kerjanya Lantai 9 Kantor Gubernur Sumatera Utara Jalan Pangeran Diponegoro Medan, Senin (1/10/2018). Kenjungan ini dilaksanakan untuk membahas investasi usaha di Sumatera Utara. (Foto:LintasMedan/ist)

Paling menggiurkan dari Sumut adalah soal potensi sumber daya alamnya yang melimpah. Wagub Musa Rajekshah pada beberapa kesempatan selalu mengajak para pengusaha dalam maupun luar negeri berinvestasi di Sumut, untuk pemenuhan kebutuhan energi untuk sektor industri, komersil maupun masyarakat.

Berbicara di Asian Energy Forum baru-baru ini, Musa Rajekshah membeberkan keunggulan Sumut dan menyiratkan pesan penting bahwa para investor akan menyesal jika tidak memanfaatkannya. Saat ini, Sumut memiliki potensi energi terbarukan meliputi tenaga air, panas bumi, biomasa, biogas dan tenaga surya.

Maka potensi energi terbarukan ini sangat mungkin dikembangkan lebih lanjut menjadi energi listrik sebagai upaya mendukung sistem kelistrikan di Sumut. Untuk tenaga air, Provinsi Sumut memiliki potensi sebesar 3.000 MW, sedangkan untuk panas bumi, Sumut memiliki potensi sebesar 2.000 MW.

Wakil Gubernur Sumatera Utara (Wagubsu) Musa Rajekshah dan Seketaris Daerah Provinsi Sumatera Utara (Sekda Provsu) R. Sabrina menghadiri kegiatan pertemuan dengan investor Jepang yang tergabung dalam Asean Nagoya Club di Hotel Mandarin Jakarta, Minggu (21/10/2018). Dalam pertemuan ini dibahas rencana kerjasama di bidang Kesehatan, Pertanian dan Pengelolaan Sampah Rumah Tangga. (Foto:LintasMedan/ist)

Sumut saat ini telah memanfaatkan tenaga panas bumi untuk pembangkit listrik yang berada di PLTP Sibayak dan PLTP Sarulla, dan ini menjadi nilai lebih dari Sumut dimana kawasan ini memiliki ketersediaan enegeri listrik yang melimpah. Untuk potensi panas bumi yang akan dikembangkan berada di kawasan Pusuk Buhit Simbolong Samosir, kawasan Sorik Marapi, Mandailing Natal dan kawasan Ria-Ria Tapanuli Utara juga menjadi salah satu potensi energi menggiurkan di Sumut.

Tidak kalah penting, dari potensi Sumatera Utara yang ada adalah Kelapa Sawit. Sumut yang tersohor akan perkebunan kelapa sawitnya, baik yang dikelola Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun swasta dan masyarakat.

Perkebunan kelapa sawit membentang di wilayah Timur dan pesisir barat Sumut, luas perkebunan kelapa sawit BUMN tercatat sekitar 300.000 hektar dan perkebunan sawit rakyat sekitar 400.000 hektar (data Dinas Perkebunan Provinsi Sumut). Produksi kelapa sawit menghasilkan limbah dengan komposisi 23 persen tandan kosong, 6,5 persen, cangkang dan 13 persen fiber sawit. Limbah-limbah tersebut dapat digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik biomassa.

Potensi listrik yang dihasilkan dari limbah kelapa sawit Sumut diperkirakan sekitar 1,050 MW. Dan pada saat ini pemanfaatan biomassa menjadi energi listrik masih sekitar 100 MW. Sedangkan diantara pembangkit listrik tenaga biomassa (PLTB) PT Growth Sumut sebesar 30 MW, PLTB Growth Asia sebesar 30 MW dan PLTB Harkat Sejahtera 15 MW.

Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Edy Rahmayadi dan Wakil Gubernur Sumatera Utara (Wagubsu) Musa Rajekshah.(Foto:LintasMedan/ist)

Sumut Miliki Keindahan Alam yang Luar Biasa

Banyak destinasi wisata di daerah ini yang keindahannya patut disejajarkan dengan destinasi wisata kelas dunia. Di sini ada Danau Toba, Pulau Samosir, Pantai Nias, Taman Nasional Gunung Leuser, Salju Panas Dolok Tinggi Raja, Gunung Sibayak, Air Terjun Sipiso-piso dan lainnya, sehingga Gubernur Edy Rahmayadi sering menyebut Sumut sebagai “Surga Kecil” pemberian dari Allah SWT.

Untuk pengembangan potensi pariwisata di daerah ini, Pemprov Sumut membuka peluang investasi selebar-lebarnya. Bahkan, Pemprov berkomitmen untuk mempermudah para investor yang ingin berinvastasi di Sumut, tentu tetap mengacu pada aturan yang berlaku.

Bukan hanya isapan jempol. Pertengahan Oktober 2018, Sumut memperoleh komitmen investasi Rp 6,1 triliun atau sekitar US$400 juta untuk pengembangan pariwisata Danau Toba dari tujuh calon investor.

Komitmen itu diteken, di sela-sela IMF-WB di Bali, oleh Badan Pelaksana Otorita Danau Toba bersama tujuh calon investor, yaitu PT Gaia Toba Mas, PT Agung Concern, PT Alas Rimbawan Lestari, PT Gamaland Toba Properti, PT Crystal Land Development, PT Asset Pacific, Dan PT Arcs House – Jambuluwuk.

Selain itu, investor dari berbagai negara juga sudah banyak yang datang ke Sumut dan menyatakan berminat untuk berinvestasi di berbagai sektor di daerah ini. Diantaranya dari Jepang, Malaysia, Singapura, China, Kazakshtan, Tajikistan, Amerika Serikat dan Korea Selatan.

Maka salah besar jika para investor menyingkirkan “Surga Kecil” Sumut dari daftar kawasan paling menggiurkan untuk berinvestasi. Sumatera Utara dengan daya dukung yang dimiliki layak disebut sebagai ‘Lahan Investasi’ yang Menggiurkan.(LMC-Adv)




Sumut Studi Banding Kebencanaan di Jepang

Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi (ketiga kiri) dan rombongan mendapat penjelasan seputar kebencanaan dari pejabat Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi dan Pariwisata (MLIT), Biro Pembangunan Daerah Kanto Jepang, Kamis (30/11). (Foto: LintasMedan/ist)

Medan, 30/11 (LintasMedan) – Rombongan pejabat dari Provinsi Sumatera Utara (Sumut) melakukan studi banding penanganan kebencanaan di Gunung Asama Volcano, Jepang, Kamis.

Siaran pers Humas dan Keprotokolan Setdaprov Sumut yang diterima lintasmedan.com, di Medan, menyebutkan, anggota rombongan itu, antara lain Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi, Ketua DPRD Sumut Wagirin Arman, Bupati Karo Terkelin Brahmana, Bupati Tapanuli Selatan Syahrul M. Pasaribu, Bupati Tapanuli Tengah Bakhtiar Ahmad Sibarani, Walikota Sibolga Syarfi Hutauruk, Kepala BPBD Sumut Riadil Akhir Lubis dan Kepala BPBD Kota Medan Arjuna Sembiring.

Studi kebencanaan berlangsung di kantor Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi dan Pariwisata (MLIT), Biro Pembangunan Daerah Kanto, Tone River Water System Sabo Office yang berlokasi di bawah kaki Gunung Asama Volcano yang berjarak sekitar 145 km dari Kota Tokyo.

Lokasi tersebut dipilih sebagai tempat belajar karena memiliki pengalaman dalam penanganan kebencanaan. Hingga kini, penanggulangan bencana oleh pemerintah Jepang cukup baik.

Selama berada di pusat kajian kegempaan itu, para pejabat Sumut mendapat penjelasan tentang gunung berapi dari sejumlah pejabat Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi dan Pariwisata (MLIT) Jepang.

Sebagaimana diketahui, di Jepang terdapat lima gunung berapi aktif dan berbahaya, yakni Gunung Fuji, Sakurajima, Asama, Shinmoedake dan Gunung Aso.

Gunung Asama aktif sejak 3 April 1783 dengan ledakan cukup besar terjadi pada 8 Juli 1783 yang menewaskan 35 ribu jiwa.

Letusan terakhir terjadi pada 2 Februari 2009 yang menyebabkan hujan abu menyelimuti Kota Tokyo.

Gubernur Sumut, Tengku Erry Nuradi menjelaskan, Sumut terdapat gunung berapi yang masih aktif hingga saat ini, yakni Gunung Sinabung di Kabupaten Karo.

“Tidak hanya bencana letusan gunung berapi, Sumut memiliki risiko tinggi untuk terpapar dan terkena bencana alam lainnya seperti banjir, longsor dan gempa,” ujarnya.

Oleh karena itu, pihaknya merasa perlu melakukan studi kebencanaan di Jepang, termasuk bagaimana menangani menanggulangi bencana, meminimalisir jatuhnya korban jiwa dari bencana tersebut hingga penerapan teknologi canggih.

“Jepang dikenal dengan daerah rawan bencana gempa dan letusan gunung berapi. Namun, teknologi penanganannya cukup canggih. Kesiapsiagaan mereka baik. Mudah-mudahan banyak manfaat dari Jepang ini nantinya bisa dipelajari dan diterapkan di Sumut,” ucap Erry.

Ia menambahkan, pengurangan resiko bencana pada tahap pra bencana merupakan hal penting dalam penanggulangan bencana.

Sebab, menurut dia, bencana berskala besar dapat menghancurkan pencapaian dan pertumbuhan ekonomi yang diperjuangkan selama berpuluh-puluh tahun.

“Hanya dalam sekejap karena bencana, masyarakat yang telah bersusah payah bekerja untuk keluar dari kemiskinan dapat kembali terperosok ke dalam kemiskinan,” tuturnya.

Dikatakannya, Pemprov Sumut mengambil sikap dengan memprioritaskan program pengurangan resiko bencana, diantaranya penguatan kelembagaan khususnya organisasi perangkat daerah yang mengurus kebencanaan dan pengintegrasian pengurangan risiko kedalam rencana tata ruang wilayah dan rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD).

“Kami bersama Bupati dan Walikota saling ingat-mengingatkan bahwa urusan penanggulangan bencana harus menjadi urusan strategis dan prioritas dalam perencanaan dan anggaran Pemda. Hal itu dalam upaya mengantisipasi dan meminimalisir penderitaan rakyat akibat bencana,” tuturnya. (LMC-02)




Lobang Jepang Sejarah Kelam Bangsa yang Layak Dikenang

Sejumlah jurnalis Medan saat berkunjung ke obyek wisata Lobang Jepang di Kota Bukit Tinggi Sumatera Barat, baru-baru ini.(Foto:LintasMedan/irma)

Bukit Tinggi, 25/12 (LintasMedan) – “Tak terhitung jumlah jasad warga Indonesia yang dibuang dan dilempar begitu saja ke sungai oleh serdadu Jepang ketika itu,” kata Jefri Chong, saat memandu sejumlah Jurnalis Medan yang mengunjungi Lobang Jepang di Kota Bukit Tinggi Provinsi Sumatera Barat, baru-baru ini.

Pria ini merupakan pemandu dari Dinas Pariwisata setempat, menjelaskan dengan detail sejarah kekejaman Tentara Jepang terhadap pekerja paksa yang dikenal dengan istilah Romusha.

Para romusha ini diambil dari berbagai tempat di Indonesia, yakni Jawa, Sulawesi dan Kalimantan untuk menggali gua yang akan dijadikan sebagai tempat persembunyian tentara Jepang di Kota Bukit Tinggi.

Kenapa Jepang tidak mengambil pekerja paksa dari wilayah setempat?, alasannya untuk menjaga kerahasiaan.

Sebab tak seorang pun warga Bukit Tinggi yang menyadari di tengah hutan belantara itu tergali sebuah lobang yang cukup besar dan panjang.

“Ketika itu warga hanya tahu banyak tentara Jepang di hutan belantara, namun aktifitas mereka di situ tidak diketahui hingga Lobang Jepang ditemukan oleh warga secara tidak sengaja pada 1946. Atau satu tahun setelah Indonesia merdeka,” papar Chong.

Penjara di Lobang Jepang, tempat tentara Jepang menyiksa dan membunuh warga Indonesia yang membangkang.(Foto:LintasMedan/ist)

Jepang akan langsung membunuh para romusha yang tak mampu lagi bertahan akibat kelelahan atau sakit. Sebab mereka dipaksa bekerja tanpa henti menggali lobang untuk persembunyian/benteng tentara Jepang guna menghadapi perang dunia ke II.

Hingga akhirnya seluruh romusha yang berhasil menggali gua dibunuh untuk menjaga kerahasiaan dalam ruang tersebut. Jumlahnya hingga kini tidak terdata namun diperkirakan mencapai ratusan bahkan ribuan orang dalam proses penggalian selama lebih tiga tahun.

Lobang Jepang tak sempat dimanfaatkan oleh para serdadu penjajah itu, sebab pada tahun 1945 terjadi perang dunia ke II berbuntut pengeboman dua wilayah di Jepang yakni Hiroshima dan Nagasaki.

Kini Lobang Jepang menjadi salah satu obyek wisata handalan di Kota Bukit Tinggi. Bagian luar lokasi lobang ditata oleh Pemerintah Kota Bukit Tinggi hingga terlihat indah dan asri karena dipenuhi pepohonan dan bunga.

Apalagi lokasinya berdampingan dengan obyek wisata Ngarai Sihanok yang juga tak kalah indah dan sejuk.

Padahal di aliran sungai Ngarai Sihanok inilah dahulu jasad-jasad tak berdaya itu hanyut begitu saja tanpa makam dan tanpa nama.

Sejarah kelam bangsa yang diperkirakan terjadi sebelum kemerdekaan Republik Indonesia (RI) dikumandangkan itu memang membuat bulu roma bergidik.

Terbayang betapa kejamnya penjajah memperdaya dan menyiksa warga yang mungkin bodoh dan tak menyadari tujuan mereka dibawa menyeberang ke Pulau Sumatera.

Meski areal Lobang Jepang diramaikan puluhan wisatawan, namun suasananya yang remang cukup membuat jantung berdetak lebih kencang saat menyaksikan ruang demi ruang di dalamnya.

Lobang Jepang di Bukit Tinggi terdiri dari 21 terowongan, 6 gudang senjata, 2 ruang makan romusha, 1 ruang sidang.

Kemudian 12 barak militer, 2 pintu emergensi atau pintu pelarian bagi tentara Jepang apabila diserang musuh, 1 pintu penyergapan dan pintu utama.

Di dalamnya juga ada satu penjara berbentuk “L” dengan panjang 30 meter, tempat orang Indonesia yang disiksa dan dibunuh akibat membangkang terhadap tentara Jepang.

Disamping penjara ada dapur ekseskusi juga terdapat dua lobang yakni lobang pengintaian dan pembuangan mayat ke sungai Ngarai Sihanok.

Menurut Chong, panjang Lobang Jepang secara keseluruhan di wilayah itu adalah 4200 meter, namun
yang menjadi obyek wisata hanya 1400 meter. Sebab selebihnya tanpa ventilasi udara, sehingga tidak diperbolehkan untuk dikunjungi.

Chong mengatakan bahwa obyek wisata Lobang Jepang, cukup ramai dikunjungi wisatawan baik dalam negeri maupun mancanegara.
“Kalau wisatawan mancanegara biasanya

ramai di bulan September hingga Januari itu dari Malaysia, Singapura bahkan Eropah,” katanya.

Hanya saja kata Chong, wisatawan asal Jepang yang berkunjung ke Kota Bukit Tinggi selalu menolak saat ditawari berkunjung ke Lobang Jepang.

“Baru-baru ini ada rombongan pelajar dari Jepang namun mereka nggak ada yang mau masuk sini. Alasannya udah pernah mendengar cerita Lobang Jepang sehingga nggak perlu lagi dikunjungi,” papar Chong.

Kisah tragis sejarah Lobang Jepang, menurut Chong akan dibuat menjadi film dokumenter.

Proses pembuatan film tersebut sedang dibahas di Pemerintah Daerah setempat.

Film tersebut bertujuan untuk mengenang sejarah kekejaman penjajah Jepang terhadap bangsa Indonesia.

Apalagi, hingga saat ini pengakuan Chong tidak ada ritual-ritual khusus yang dilakukan di lokasi itu untuk kembali mengenang jasad-jasad yang tewas mengenaskan tersebut.

“Mungkin dulunya ada saat pertama Lobang Jepang ditemukan, yah dibersih-bersihkanlah walaupun ketika ditemukan tidak ada sesosok mayat didalam lobang karena semua dibuang ke sungai,” ungkapnya.

Selain wacana pembuatan film dokumenter, di areal Lobang Jepang juga akan dibuat museum mini berisikan senjata-senjata peninggalan tentara Jepang, pahat dan cangkul pembuat lobang, serta alat-alat masak dan cangkir.(LMC-02)




Perguruan Tinggi Jepang Gelar Pameran di Medan

Ilustrasi

Ilustrasi

Medan, 16/1 (LintasMedan) – Belasan perguruan tinggi dan sekolah unggulan di Jepang, dijadwalkan menggelar pameran pendidikan di Wisma Pariwisata Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, Minggu (17/1).

Pameran pendidikan yang berlangsung mulai pukul 10.00 hingga 15.00 WIB tersebut bertujuan menjaring minat pelajar Indonesia termasuk di Sumatera utara melanjutkan pendidikan di Jepang, seperti dikutip LintasMedan dari website youstudyjapan.com, Sabtu.

Acara tersebut merupakan sebuah pameran pendidikan dan penelitian terbuka bagi pelajar SMA, mahasiswa maupun masyarakat umum.

Perguruan tinggi Jepang yang mengikuti pameran pendidikan tersebut, masing-masing Yamanashi Gakuin University, Ritsumeikan University, Kansai University of International Studies, Tokyo International University dan The University of Tokyo.

Peserta pameran lainnya, yaitu Tsuji Chouri (Cooking School) dan sekolah bahasa Jepang, yaitu Tokyo Ikuei, Waseda Bunka Kaikan, Arc Academy, Kokusai Chisiki Gakuin, Tokyo Kokusai Kouryuu Gakuin serta JASSO dan You x Study x Japan.

Selama penyelenggaraan pameran pendidikan, masing-masing stand peserta akan menampilkan ragam program akademik dan hasil riset serta inovasi yang dimiliki.

Pihak panitia penyelenggara memperkirkan pameran pendidikan Jepang tersebut akan dihadiri minimal 400 orang pengunjung.

Selain Medan, pameran pendidikan serupa juga digelar di gedung Japan Foundation Jakarta pada Sabtu (16/1). (LMC-07)




Jepang Desain Taksi Tanpa Pengemudi

Taxi Robot.(Foto:LintasMedan/int)

Jakarta, 4/11 (LintasMedan) – Bisa dibilang, Jepang adalah negara masa depan. Karena semua yang futuristik bisa diciptakan di sini. Yang paling baru, akan ada taksi robot!

Robot tak hanya bisa mengambilkan air minum atau menjadi anjing yang lucu saja. Karena Jepang tengah mengembangkan teknologi yang lebih masiv yaitu taksi robot.

Terobosannya ini menarik perhatian beragam media, seperti ditelusuri detikTravel, Rabu (4/11/2015). Quartz memberitakan, taksi robot ini akan beroperasi di banyak kota di Jepang pada tahun 2020. Sedangkan Daily Mail memberitakan, taksi robot ini akan coba diluncurkan di Fujisawa pada Maret 2016.

Seperti namanya yaitu Robot Taxi, tidak ada pengemudi di dalam mobil. Hanya ada penumpang dan mereka bisa menentukan tujuan dengan alat yang tersedia.

Jepang tidak membuat mobil baru yang khusus untuk menjadi Robot Taxis. Mereka hanya akan menambahkan alat pengemudi otomatis ke dalam mobil yang sudah tersedia.

Selain lebih modern, taksi jenis ini bisa menawarkan harga yang lebih murah. Karena biaya untuk pengemudi bisa dipotong karena mereka robot.

Diharapkan taksi robot ini bisa beroperasi di banyak kota pada tahun 2020. Bertepatan dengan digelarnya Olimpiade di Tokyo pada tahun yang sama.(LMC/Dtc)




8 Pelajar Medan Magang ke Kota Ichikawa

8 pelajar Medan saat dilepas secara resmi untuk magang ke Kota Ichikawa Jepang, dalam acara yang digelar di Medan Club baru-baru ini.(Foto:LintasMedan/ist)

8 pelajar Medan saat dilepas secara resmi untuk magang ke Kota Ichikawa Jepang, dalam acara yang digelar di Medan Club baru-baru ini.(Foto:LintasMedan/ist)

Medan, 31/7 (LintasMedan) – Pelaksana Harian (Plh) Wali Kota Medan Syaiful Bahri Lubis diwakili Asisten Umum Setda Kota Medan Ikhwan Habibi Daulay melepas keberangkatan delapan pelajar asal Kota Medan untuk magang ke Kota Ichikawa, Jepang mulai 30 Juli sampai 8 Agustus 2015.

Mereka yang masuk dalam program petukaran pelajar (student exchange) ini dilepas dalam acara yang berlangsung di Medan Club, baru-baru ini.

“Program ini selain untuk membina hubungan baik antara Indonesia dengan Jepang, khususnya antara Kota Medan dengan Kota Ichikawa, juga memiliki nilai yang efektif untuk bertukar wawasan, ilmu pengetahuan sekaligus mengembangkan dialog dan kesepahaman antar pelajar dari berbagai negara secara global,” kata Ikhwan Habibi.

Menurutnya program student exchange tidak hanya sebatas menjalin silaturahim atau pertemanan pelajar antar negara. “Lebih dari itu, pertukaran pelajar semacam ini diharapkan dapat berkontribusi bagi perdamaian, kemajuan dan kesejahteraan masyarakat dunia, termasuk hubungan bilarteral antar negara,” katanya.

Dia berpesan agar para pelajar yang menjadi duta Kota Medan hendaknya berpegang dengan pepatah yang mengatakan dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung saat berada di Kota Ichikawa nantinya.

“Artinya, kemana pun kalian pergi, hendaknya mengetahui norma – norma yang berlaku di daerah atau negara tersebut. Kita tentunya tidak menginginkan ada kesan negatif yang timbul karena ketidakpahaman terhadap norma – norma masyarakat terutama, di Kota Ichikawa nantinya,” ungkapnya.

Kepala Bagian Badan Hubungan Kerjasama Daerah (Hakda) Setdakot Medan, Rivai Nasution dalam laporannya mengatakan, kegiatan ini adalah kesepakatan bersama antara Pemko Medan dengan Kota Ichikawa dalam merealisasikan program kota bersaudara atau sister city, khususnya program peretukaran pelajar Tahun 2015.

Dijelaskan Rivai, kedelapan pelajar yang mengikuti program pertukaran pelajar ini merupakan pelajar dari tingkat SMA/Aliyah di sejumlah sekolah di Kota Medan.

Kedelapan pelajar tersebut berasal dari SMA Negeri 1 sebanyak 3 orang siswa, kemudian SMA Negeri 2, SMA Negeri 3, SMA Sutomo, SMA Syafiatul serta SMA Harapan yang masing – masing 1 orang siswa ,” paparnya.(LMC-02)