Walikota Medan: Peran Sektor Pariwisata Semakin Penting

Walikota Medan H.T Dzulmi Eldin (kiri) bersama anggota DPR RI Trimedya Panjaitan (kedua kiri) dan beberapa pengurus asosiasi usaha bidang pariwisata melakukan pemukulan gendang khas Batak pada acara peresmian Alam Hotel, di Medan, Sabtu (27/7). (Foto: LintasMedan/ist)

Medan, 27/7 (LintasMedan) – Walikota Medan, H.T Dzulmi Eldin mengemukakan bahwa peran sektor pariwisata semakin penting bagi Kota Medan, sejalan dengan perkembangan struktur perekonomian nasional yang makin mengarah ke sektor jasa.

“Salah satu faktor yang sangat mendukung menggeliatkan sektor pariwisata adalah ketersediaan hotel yang nyaman bagi para pelancong atau wisatawan,” katanya pada acara peresmian Alam Hotel di Jalan AR Hakim Medan, Sabtu (27/7).

Ia menilai, penambahan jumlah hotel di ibukota Provinsi Sumatera Utara (Sumut) itu akan semakin mengukuhkan Medan sebagai Kota MICE (Meeting, Incentive, Convention and Exhibition).

Apalagi, lanjut Eldin, Medan sebagai kota metropolitan ketiga terbesar di Indonesia memiliki keunggulan geografis karena terletak di segitiga pertumbuhan Indonesia, Malaysia, dan Thailand,serta berada sangat dekat dengan Singapura.

Karena itu, ia menyatakan optimistis jumlah wisatawan yang datang ke Medan akan terus meningkat manakala para pelaku usaha di sektor pariwisata mampu mengelola secara baik dan profesional segala potensi dan ide-ide kreatif.

Lebih lanjut Walikota menegaskan, kehadiran Alam Hotel menunjukkan bahwa Kota Medan masih merupakan kota yang memiliki daya tarik bagi para pelancong domestik maupun mancanegara.

Kehadiran hotel berlantai tiga tersebut diharapkan dapat menaikkan lagi sektor pariwisata di Kota Medan, karena kehadiran hotel sangat mendukung menggeliatnya sektor pariwisata.

“Marilah sama-sama kita berusaha untuk memperbaiki sektor pariwisata agar semua pihak akan dapat menikmati manisnya rezeki yang dapat diberikan sektor ini kepada rakyat Sumut, khususnya warga Medan,” tuturnya.

Peresmian Alma Hotel ditandai dengan penandatanganan prasasti yang dilakukan oleh Walikota Medan didampingi Trimedya Panjaitan selaku pemilik hotel tersebut.

Sebelumnya Trimedya Panjaitan selaku pemiliki Alam Hotel, menginginkan agar kehadiran hotelnya itu dapat menjadi salah satu tempat hunian pilihan wisatawan.

“Alam Hotel tidak hanya menyajikan tempat hunian yang berkelas dengan suasana yang benar-benar menarik, tetapi juga menjadi tempat bersantai untuk minum maupun menikmati makanan dengan rasa yang tidak diragukan lagi kelezatannya,” kata Trimedya yang juga anggota DPR RI. (LMC-04)




Pemko Medan Dukung Program Pengembangan Pariwisata Unpri-TPO

Walikota Medan H.T Dzlmi Eldin (kedua kiri) menerima kunjungan Rektor Universitas Prima Indonesia (Unpri) Dr. Chrismis Novalinda Ginting (kanan) dan delegasi pengurus Tourism Promotion Organization (TPO) untuk Asia Pacific Cities, di rumah dinas walikota Jalan Jenderal Sudirman Medan, Kamis (10/1). (Foto: LintasMedan/ist)

Medan, 10/1 (LintasMedan) – Pemerintah Kota (Pemko) Medan siap mendukung program kerja sama Universitas Prima Indonesia (Unpri) dengan Tourism Promotion Organization (TPO) untuk Asia Pacific Cities di bidang pengembangan budaya dan pariwisata.

“Sumatera Utara dan Kota Medan khususnya memang tengah berbenah untuk meningkatkan kunjungan wisata baik domestik maupun mancanegara,” kata Walikota Medan, H.T Dzulmi Eldin saat menerima audiensi pimpinan Unpri dan TPO di rumah dinas walikota Medan, Kamis (10/1).

Ia menjelaskan, Medan memiliki tempat-tempat wisata yang dapat dikunjungi para wisatawan dan kota tersebut juga memiliki “branding” sebagai kota wisata sejarah dan religius.

Karena itu, pihaknya menyambut positif program kerja sama Unpri Medan dengan TPO Asia Pacifik Cities untuk ikut membantu mempromosikan beragam potensi budaya dan pariwisata yang dewasa ini terus dikembangkan oleh Pemko Medan.

Sebelumnya, Rektor Unpri Dr. Chrismis Novalinda Ginting mengemukakan bahwa pihaknya berencana melakukan kerja sama dengan TPO di bidang pemgembangan budaya dan pariwisata di Indonesia dan Korea.

“Kerja sama ini baru dapat terlaksana apabila melibatkan unsur akademisi dan pemerintah daerah,” ujarnya.

Melalui kerja sama tersebut, kata Chrismis, pihaknya akan mendapat kemudahan untuk melakukan pengembangan budaya dan pariwisata, karena pihak ITO berjanji akan membantu baik secara financial ataupun teknologi.

Dalam konteks kerja sama itu, katanya, apabila delegasi Sumut ataupun Kota Medan ingin melakukan promosi seni budaya di Korea, maka akan difasilitasi secara penuh oleh pihak ITO selama berada di negara itu.

“Artinya dengan kerja sama ini Sumut ataupun Kota Medan yang ingin melakukan promosi seni budaya di Korea tidak lagi perlu menyewa gedung. Semua akomodasi lokal disana akan mereka siapkan secara gratis,” ujar dia. (LMC-04)




Bandara Silangit Dukung Pengembangan Pariwisata Danau Toba

Medan, 28/12 (LintasMedan) – Bandara internasional Silangit di Kabupaten Tapanuli Utara terus berbenah meningkatkan fasilitas dan memperpanjang landasan hingga 2.650 meter, guna mendukung proyeksi Silangit menjadi hub pariwisata.

Selama ini Bandara Silangit adalah bandara perintis dengan landasan pacu hanya 1.800 meter dan sekarang sudah diperpanjang menjadi 2.650 meter sehingga bisa didarati pesawat jet Boeing jenis 737.

Upaya meningkatkan aktivitas di bandara terbesar kedua di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) setelah Bandara Kualanamu, Kabupaten Deli Serdang tersebut diyakini sangat berpengaruh positif terhadap perkembangan wisata di kawasan Danau Toba.

Terlebih sejak dibukanya penerbangan internasional dari Bandara Silangit ke beberapa negara ASEAN dan sebaliknya, guna menjadikan Danau Toba menjadi salah satu tujuan favorit wisatawan mancanegara (wisman).

Untuk memanfaatkan peluang tersebut bagi industri pariwisata Danau Toba, pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan atau stakeholders tentunya perlu mendukung pembangunan hub pariwisata di Silangit.

Dukungan tersebut, antara lain ketersediaan hotel-hotel, restoran, cafe, destinasi wisata halal, anjungan tunai mandiri (ATM), toilet, usaha penyewaan kendaraan, dan kulturnya yang dapat menjadi daya tarik khusus.

Bupati Samosir, Rapidin Simbolon mengakui pembukaan rute penerbangan internasional secara reguler dari Bandara Silangit ke beberapa kota di kawasan ASEAN seperti Kuala Lumpur, Malaysia dan sebaliknya, turut berdampak positif bagi pengembangan pariwisata Samosir yang sebagian wilayahnya mencakup Danau Toba.

“Sejak Bandara Silangit berstatus bandara internasional, banyak wisatawan mancanegara datang ke kawasan wisata di Samosir, antara lain ke Pusuk Buhit dan Tuktuk Siadong,” paparnya kepada pers di Pangururan, ibu kota Kabupaten Samosir.

Para wisman datang ke Samosir dengan menggunakan penerbangan Silangit-Kuala Lumpur, Malaysia. Mereka bukan hanya warga Malaysia, tetapi ada pula yang berasal dari Australia.

“Banyak juga wisman asal Malaysia yang ingin melihat Geopark Kaldera Toba Pusuk Buhit,” kata Bupati Samosir.

Pihaknya berharap Bandara Silangit bisa menjadi gerbang bagi wisatawan lokal dan wisman untuk berkunjung dan melestarikan budaya adat Batak dan Danau Toba.

Bandara Internasional Silangit, Kabupaten Tapanuli Utara. (Foto: LintasMedan/dok)

Keindahan panorama Danau Toba dan aura budaya Batak kerap membuat decak kagum para wisatawan yang berlibur ke Samosir.

“Danau Toba adalah kombinasi liburan yang sempurna. Nature-nya bagus, culture-nya juga sangat beragam. Tinggal sedikit dipoles, ditata kembali dan direvitalisasi dengan standar global supaya bisa menjadi destinasi wisata kelas dunia,” ucap Viin, wisman asal Malaysia.

Fasilitas Bandara
Bandara Silangit telah pula mengimplementasikan fitur “smart airport” dengan teknologi digital, antara lain, berupa Wi-Fi gratis, display jadwal bus dan penerbangan, e-payment, mesin tiket bus, e-kiosk informasi turis, self check-in, dan berbagai fitur digital.

Berbagai fasilitas digital tersebut sudah dapat dipergunakan sejak 28 Oktober 2017 atau bersamaan dengan penerbangan rute Singapura-Silangit PP, yang merupakan rute luar negeri perdana di Bandara Internasional Silangit yang dilayani oleh Garuda Indonesia.

Selain itu, di salah satu sisi gedung terminal Bandara Silangit telah dioperasikan pusat informasi pariwisata yang diberi nama “corner Samosir”.

Di pusat informasi itu tersedia beragam informasi seputar lokasi wisata di Kabupaten Samosir.

Mereka yang singgah di Corner Samosir umumnya untuk mencari informasi dan mengambil peta objek wisata di Kabupaten Samosir.

“Ayo ke Danau Toba. Ayo ke Samosir,” ucap Rapidin Simbolon seraya menyampaikan terima kasih kepada Presiden Jokowi yang telah membangun Kawasan Danau Toba dan Bandara Silangit.

Masih terkait dengan pengembangan wisata, Pememerintah Kabupaten (Pemkab) Samosir terus melakukan pembenahan infrastruktur di wilayahnya.

Hal itu dilakukan agar keberadaan Bandara Silangit sebagai salah satu bandara yang melayani rute internasional bisa berperan semakin maksimal.

Proyek infrastruktur Bandara Silangit mencakup pembangunan lanjutan infrastruktur, antara lain jalan utama dari Ronggur Nihuta dimulai dari Sidihoni menuju Pangururan.

Selain itu, proyek peningkatan ruas jalan raya Tomok-Lontung dengan hotmix serta sejumlah jalur lain di sekitarnya.

Kota Bandara

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (kedua kanan) didampingi Bupati Taput Nikson Nababan (kedua kiri), Bupati Humbahas Dosmar Banjarnahor (kanan) dan Bupati Toba Samosir Darwin Siagian (kiri), meninjau proyek pengembangan terminal Bandara Internasional Silangit, beberapa waktu lalu. (Foto: LintasMedan/dok)

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) menyatakan akan segera membangun kawasan Aerocity atau Kota Bandara, sebagai upaya meningkatkan jumlah wisatawan yang hendak mengunjungi destinasi wisata Danau Toba melalui Bandara Internasional Silangit.

“Segera, sebuah Kota Bandara akan dibangun di Silangit untuk menstimulasi animo kunjungan wisatawan,” kata Bupati Taput, Nikson Nababan.

Direncanakan, konsep Aerocity dibangun dengan zonasi wilayah. Meliputi ketersediaan fasilitas perkantoran, perindustrian, dan ruang terbuka hijau.

Kota Bandara yang ingin diwujudkan akan mendukung modernisasi sebuah kota di sekitar bandara yang merujuk pada kota sejenis yang ada di sekitar Kota New Delhi, India.

Penerapan konsep Aerocity Silangit, ke depan, diyakini akan memberikan dampak positif pada peningkatan perekonomian masyarakat di sekitar lokasi. Selain tentu sebagai penopang peningkatan pendapatan asli daerah (PAD).

Kawasan Aerocity akan dibangun di areal hamparan Silangit yang menjadi lahan milik Pemkab Taput seluas 158 hektare. Sebanyak 142 hektar diberikan kepada pihak pengelola Bandara Silangit, yakni Angkasa Pura II untuk kebutuhan perluasan pembangunan bandara menjadi bandara Internasional.

“Harapan kita, keberadaan Aerocity akan menciptakan peningkatan animo kunjungan, sehingga maskapai penerbangan akan berlomba-lomba untuk membuka rute terbang domestik maupun mancanegara menuju Silangit,” paparnya.

Menurut Nikson, upaya yang akan ditempuh Pemkab Taput itu juga menyikapi masih rendahnya aktivitas kunjungan wisatawan mancanegara, khususnya wisatawan Malaysia yang menggunakan dua rute penerbangan internasional menuju Silangit.

Jadwal Penerbangan
Aktivitas Bandara Silangit memang semakin intens. Ada beberapa maskapai yang melayani rute ke Bandara Silangit dan sebaliknya, baik domestik maupun iternasional.

Maskapai penerbangan yang melayani rute reguler di Silangit, antara lain Batik Air tujuan Bandara Soekarno-Hatta yang berangkat setiap hari pukul 09.00 WIB.

Sedangkan, rute Bandara Soekarno-Hatta tujuan Silangit berangkat setiap hari pukul 11.50 WIB.

Maskapai penerbangan lainnya, yakni Citylink melayani rute Soekarno-Hatta ke Silangit berangkat pukul 06.20 WIB setiap hari.

Dari Bandara Silangit ke Soekarno-Hatta berangkat pukul 08.55 WIB setiap hari.

Pesawat Citilink mendarat di Bandara Internsional Silangit, Kabupaten Tapanuli Utara. (Foto: LintasMedan/dok)

Citilink rute Halim Perdana Kusuma ke Silangit berangkat pukul 10.40 WIB setiap hari dan Silangit-Halim Perdana Kesuma berangkat pukul 13.20 WIB setiap hari.

Garuda Indonesia rute Soekarno-Hatta tujuan Silangit berangkat pukul 07.35 WIB pada Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu.

Pesawat Garuda Indonesia rute Silangit tujuan Soekarno-Hatta berangkat pukul 10.50 WIB pada Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu.

Sriwijaya Air rute Soekarno-Hatta ke Silangit berangkat pukul 07.30 WIB dan 12.05 WIB setiap hari. Sedangkan, Bandara Silangit tujuan Soekarno-Hatta berangkat pukul 10.10 WIB dan 14.15 WIB setiap hari.

Susi Air rute Bandara Kualanamu-Silangit berangkat pukul 08.50 WIB setiap Rabu dan Silangit-Kualanamu berangkat pukul 14.15 WIB setiap Rabu.

Susi Air juga melayani rute Gunung Sitoli-Silangit berangkat pukul 12.50 WIB setiap Rabu. Dari Silangit ke Gunung Sitoli berangkat pukul 10.15 WIB setiap Rabu.

Wings Air rute Kualanamu-Silangit berangkat pukul 07.50 WIB setiap hari. Dari Silangit ke Kualanamu berangkat pukul 09.05 WIB setiap hari.

Malindo Air melayani rute Bandara Subang (Malaysia) tujuan Silangit berangkat pukul 12.45 WIB pada Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu.

Dari Silangit ke Subang berangkat pukul 14.50 pada Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu. (Selama kurun waktu 21 Oktober hingga 31 Desember 2018, penerbangan ditunda).

Air Asia rute Kuala Lumpur ke Silangit berangkat pukul 09.30 WIB pada Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu.

Dari Silangit ke Kuala Lumpur berangkat pukul 11.30 WIB pada Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu.

Penerbangan Ekstra
Mengantisipasi lonjakan penumpang pada saat musim liburan akhir tahun 2018, beberapa maskapai menambah jadwal atau penerbangan ekstra.

Perusahaan penerbangan yang melakukan extra flight itu, antara lain Batik Air dari Soekarno-Hatta ke Silangit berengkat pukul 11.20 WIB setiap hari.

Mulai 17 Desember 2018 hingga 7 Januari 2019, Batik Air melayani rute Silangit tujuan Soekarno Hatta berangkat pukul 14.10 WIB setiap hari, khusus untuk tanggal 17 Desember 2018 hingga 7 Januari 2019.

Sementara, maskapai penerbangan Citilink melayani rute Halim Perdana Kesuma-Silangit pukul 05.50 WIB setiap hari mulai 20 Desember 2018 hingga 6 Januari 2019.

Dari Silangit ke Halim Perdana Kesuma, Citilink berangkat pukul 08.40 WIB setiap hari mulai 20 Desember 2018 hingga 6 Januari 2019.

Sriwijaya Air dari Soekarno-Hatta tujuan Silangit berangkat pukul 10.20 WIB setiap hari, mulai 13 Desember 2018 hingga 14 Januari 2019.
Dari Silangit tujuan Soekarno-Hatta berangkat pukul 13.00 WIB setiap hari, mulai 13 Desember 2018 hingga 14 Januari 2019.

Garuda Indonesia dari Soekarno Hatta tujuan Silangit berangkat pukul 10.50 WIB pada Selasa, Kamis, dan Sabtu, mulai 15 Desember 2018 hingga 10 Januari 2019.

Dari Silangit ke Soekarno-Hatta berangkat pukul 14.00 WIB pada Selasa, Kamis, dan Sabtu, mulai 15 Desember 2018 hingga 10 Januari 2019.

Dukungan Disbudpar Sumut

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumut Hidayati. (Foto: LintasMedan/dok)

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sumut terus melakukan berbagai upaya untuk memulihkan dan membangkitkan kembali kunjungan para wisatawan domestik dan mancanegara untuk datang dan menikmati keindahan Danau Toba.

“Kita mengapresiasi usaha yang dilakukan para pemangku kepentingan atau stakeholders dan Pemkab di kawasan Danau Toba untuk memajukan sektor pariwisata di wilayah tersebut,” kata Kepala Disbudpar Sumut, Hidayati.

Ia membenarkan, langkah strategis dan berbagai kebijakan pariwisata yang dilakukan pemerintah pusat maupun pemkab-pemkab se kawasan Danau Toba dewasa ini, khususnya terkait dengan penerbangan dari dan ke Bandara Silangit merupakan sebuah langkah maju dan diyakini turut mendorong pertumbuhan kunjungan wisman ke Danau Toba.

“Semua kita padukan menjadi sebuah sinergitas untuk memajukan pariwisata di Sumatera Utara. Mulai dari keberadaan Bandara Silangit, infrastruktur jalan, penginapan, akomodasi dan lainnya, harus saling mendukung. Dengan demikian, apa yang kita harapkan ke depan, khususnya untuk kunjungan turis, akan bisa kita capai,” ujar Hidayati.

Dia juga berharap, agar pelaku pariwisata serta industri pariwisata selalu meningkatkan pelayanannya, serta memberikan fasilitas yang aman dan nyaman.

Salah satunya adalah pengelola usaha jasa transportasi dan pelaku usaha perhotelan yang diharapkan ikut berperan menerapkan program sadar wisata.

“Mari kita sama-sama meningkatkan sadar wisata. Jika itu sudah dimiliki tentu kita akan menjaga alamnya, sarana dan prasarana, serta kondisi dan prilaku terhadap kepada semua wisatawan yang berkunjung,” tuturnya.  (adv)




Gelar Melayu Serumpun Diharapkan jadi Ikon Pariwisata Medan

Walikota Medan H.T Dzulmi Eldin (keempat kanan) dan Wakil Walikota Medan Akhyar Nasution (kanan) memukul gendang sebagai tanda diresmikannya acara Gelar Melayu Serumpun (GEMES) di Istana Maimun Medan, Jumat (2/11). Pagelaran seni budaya Melayu tersebut turut diikuti utusan dari empat negara di kawasan ASEAN. (Foto: LintasMedan/ist)

Medan, 2/11 (LintasMedan) – Walikota Medan, H.T Dzulmi Eldin berharap acara bertajuk Gelar Melayu Serumpun (GEMES) Tahun 2018 menjadi ikon revitalisasi seni, budaya dan pariwisata Kota Medan. a

“Kita berharap pagelaran ini (GEMES, red) dapat menjadi salah satu ikon pariwisata di Kota Medan yang dapat menarik wisatawan lokal maupun mancanegara,” kata Eldin dalam kata sambutannya pada acara pembukaan bertajuk Gelar Melayu Serumpun 2018 di halaman Istana Maimun Medan, Jumat (2/11).

Selain itu, Walikota juga berharap momentum penyelenggaraan acara yang digelar Pemko Medan tersebut dapat dijadikan wadah melestarikan seni dan budaya Melayu serta mengedukasi masyarakat Medan khususnya generasi muda dalam memahami kebudayaan dan rumpun Melayu.

Apalagi, diakuinya, lokasi penyelenggaraan GEMES tahun 2018 berlangsung meriah karena digelar di komplek Istana Maimun yang juga merupakan ikon Kota Medan.

Pada kesempatan itu, Eldin menyampaikan apresiasi kepada para peserta yang turut memeriahkan event seni budaya Melayu tersebut, termasuk utusan dari negara-negara ASEAN.

Keberhasilan merangkul suku Melayu se kawasan ini, menurut dia, merupakan sebuah prestasi sekaligus bisa menjadi daya tarik wisata bagi Kota Medan.

“Untuk itu, kita mengajak segenap komponen masyarakat di Kota Medan agar dapat memeriahkan event GEMES ini,” tuturnya.

Acara pembukaan GEMES 2018 turut disemarakkan dengan parade penari yang membawakan sebanyak 428 payung yang mewakili usia Kota Medan dan tarian dari 73 pasang penari yang mewakili Usia Kemerdekaan Indonesia.

Agenda GEMES 2018 lainnya, yakni pagelaran beragam kesenian serta budaya tradisional Melayu dan fashion show, di antaranya menampilkan Batik khas kerajinan Medan. (LMC-04)




Festival Pesona Budaya Lokal Masuk Kalender Pariwisata Medan

Sejumlah peserta Festival Pesona Lokal mengikuti lomba karnaval budaya yang dilepas oleh Walikota Medan H.T Dzulmi Eldin dari halaman Istana Maimun Medan, Minggu (21/10). (Foto: LintasMedan/ist)

Medan, 21/10 (LintasMedan) – Pemerintah Kota Medan melalui Dinas Pariwisata setempat berencana mengagendakan Festival Pesona Lokal masuk dalam kalender pariwisata tahunan di ibu kota Provinsi Sumatera Utara (Sumut) itu.

“Festival Pesona Budaya Lokal layak masuk dalam kalender kegiatan pariwisata dapat masuk dalam kalender pariwisata Kota Medan, karena diyakini dapat mendukung kemajuan pariwisata di Kota Medan,” kata Walikota Medan, H.T Dzulmi Eldin di halaman Istana Maimun Medan, Minggu (21/10).

Penilaian tersebut diungkapkan Walikota Medan di sela menyaksikan kemeriahan penyelenggaraan Festival Pesona Budaya Lokal yang digelar Pemko Medan bekerja sama dengan stasiun televisi swasta iNews TV dan PT Adira.

Dalam acara yang disaksikan ribuan orang pengunjung tersebut, Eldin menyatakan bangga melihat tingginya antusiasme masyarakat yang datang ke area Istana Maimun untuk menyaksikan beragam acara bernuasa budaya tersebut.

“Saya berharap agar festival ini menjadi momentum bagi kita dalam mengembangkan budaya yang ada di Kota Medan,” ucap dia.

Karena itu, pihaknya akan memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan Festival Pesona Budaya Lokal tahun berikutnya.

“Melalui kegiatan ini, mari terus kita lestarikan seluruh budaya yang ada di Kota Medan,” kata Walikota.

Festival Pesona Budaya Lokal diawali dengan pelepasan peserta oleh Walikota didampingi Wakil Walikota Medan Akhyar Nasution, Direktur PT MNC Group Arya Sinulingga, Chief Financial Officer PT Adira Dinamika Multi Finance I Dewa Made Susila dan Kadis Pariwisata Kota Medan Agus Suriono.

Iring-iringan karnaval budaya yang menggambarkan kondisi multikultural Kota Medan mendapat apresiasi dan sambutan meriah dari warga yang menyaksikan di sepanjang rute yang dilalui peserta.

Setelah karnaval budaya, acara dilanjutkan dengan sejumlah pertunjukan yang diawali penampilan band dan tarian dari Pemko Medan dengan mengusung keberagaman etnis dan budaya di Kota Medan.

Kegiatan tersebut turut dimeriahkan dengan peluncuran atau launching tari Ahoi, atraksi tari Perang dan Ombo Batu yang merupakan tarian khas Suku Nias, pertunjukan musik kecapi, tarian 1.000 Tangan serta fashion show yang diikuti sejumlah model dari Kota Medan yang mengenakan busana Batik Medan hasil karya Hj Rita Maharani.

Pada saat peluncuran tari Ahoi yang merupakan salah satu jenis tarian khas Melayu, Walikota bersama Wakil Walikota Medan dan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Medan lainnya ikut berjoget bersama dengan 428 orang penari.

Tarian Ahoi yang dilaunching itu merupakan hasil kolaborasi seni dan musik Melayu serta gerakan tarian dan olahraga, sehingga diharapkan dapat populer ke penjuru Tanah Air seperti tari Poco Poco dari Provinsi Maluku dan tari Gemu Famire dari Nusa Tenggara Timur.

Festival Pesona Budaya Lokal tersebut juga diisi dengan sejumlah perlombaan, antara lain lomba kreasi masakan daerah, lomba mural “pesona kotaku” serta lomba UMKM terbaik.

Festival Pesona Lokal juga digelar kota-kota lain, antaralain Bandung, Solo Raya, Jakarta, Makasar, Malang, Pontianak, Balikpapan, dan Bali.

Kadis Pariwisata Kota Medan Agus Suriono, mengatakan bahwa pihaknya ikut memiliki kepentingan dengan penyelenggaraan festival tersebut karena menjadi wadah untuk memperkenalkan seni dan budaya yang ada di Kota Medan.

“Kita berharap agar Festival Pesona Lokal yang digelar di Kota Medan merupakan yang terbaik,” ujar Agus. (LMC-04)




Pemko Medan Peringatkan 5 Tempat Usaha Pariwisata

Tim terpadu Pemko Medan, Sabtu dinihari melakukan sidak dan memberi peringatan keras terhadap pengelola tempat hiburan yang tetap beroperasi selama bulan Ramadan dan menampilkan “live music”.

Medan, 25/5 (LintasMedan) – Lima tempat usaha pariwisata di Medan mendapat teguran keras pemerintah kota setempat, karena didapati tetap beroperasi selama bulan Ramadan dan menampilkan “live music”.

Kelima tempat usaha pariwisata itu yakni, Cafe Distro di Jalan Halat, The Thirty di Jalan Multatuli, Kakatua Lounge Jalan Pattimura, dan Nortstar di Jala Darussalam. Kemudian Diva Refleksi yang berlokasi di Jalan Kapten Jumhana.

Tim terpadu Pemko Medan, Sabtu (26/5) dini hari, menertibkan sejumlah tempat usaha pariwisata dan hiburan malam yang tetap beroperasi selama bulan Ramadan.

“Ini merupakan penertiban awal dan masih dilakukan secara persuasif dan teguran. Pada penertiban selanjutnya, tindakan tegas akan diambil, jika para pengusaha masih melanggar aturan yang telah ditetapkan Pemko Medan,” kata Kadis Pariwisata, Agus Suryono usai operasi penertiban tersebut.

Penertiban dilakukan berdasarkan Surat Edaran Wali Kota Medan No. 503/4789 tanggal 9 Mei 2018 tentang Penutupan Sementara Tempat Usaha Hiburan dan Rekreasi pada Hari-hari Besar Keagamaan.

Surat edaran itu menyebutkan, jenis usaha hiburan malam (diskotik, club malam, pub/live music), karaoke, panti pijat, oukup, spa, dan bar, wajib tidak tidak menyelenggarakan kegiatan usaha mulai tanggal 16 Mei sampai 16 Juni 2018.

Surat itu juga menyatakan, jenis usaha rumah biliiar dan usaha permainan ketangkasan (kecuali arena permainan untuk anak-anak dan keluarga) dapat melakukan kegiatan usaha mulai pukul 10.00 sampai 17 WIB. Selain itu, jenis usaha restoran, rumah makan, cafe dan pusat penjualan makanan wajib tidak menyelenggarakan live music.(LMC-02)

 




Sumut Rangkul Pelaku Seni-Budaya Promosikan Pariwisata

Gubernur Sumut Erry Nuradi bersama Ketua DPRD Sumut Wagirin Arman, Wagub Sumut Nurahajizah Marpaung, Konsul Jenderal beberapa negara sahabat dan Wakil Walikota Medan Akhyar Nasution, menekan tombol sirene sebagai tanda diluncurkannya slogan “Sumatera Utara Menawan” atau “Exciting North Sumatera” pada Pesta Rakyat yang merupakan puncak acara Hari Jadi ke-70 Provinsi Sumut, di Lapangan Merdeka Medan, Sabtu (5/5) malam. Slogan baru tersebut diharapkan ikut membuat Sumut semakin menarik  dikunjungi oleh wisatawan lokal dan mancanegara. (Foto: LintasMedan/ist)

Medan, 5/5 (LintasMedan) – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Sumut) melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) setempat siap merangkul pelaku seni dan budaya agar ikut berperan mempromosikan pariwisata daerah itu dengan mengangkat kearifan lokal.

“Jika pengembangan pariwisata dilandasi dengan basis seni budaya lokal, maka diyakini pariwisata Sumut semakin diminati wisatawan domestik maupun mancanegara,” kata Kepala Disbudpar Sumut, Hidayati kepada pers, di Medan, Sabtu.

Hidayati mengemukakan hal tersebut di sela menyaksikan Pameran Seni Rupa Silaturrahim dan Hormat Murid pada Sang Guru yang digelar di arena Taman Budaya Sumut dalam rangka menyemarakkan Hari Jadi ke-70 Provinsi Sumut .

Untuk lebih menggairahkan pengembangan pariwisata berbasis seni budaya lokal, menurut dia, Pemprov sumut akan memfasilitas para pelaku seni dan budaya dengan menyediakan sarana gedung di arena Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU).

Di lokasi tersebut, lanjut dia, akan dipamerkan beraneka ragam karya seni serta digelar pementasan seni dan budaya khas tradisional dari berbagai suku dan etnis di Sumut.

Keberadaan pusat pameran seni dan budaya di arena PRSU diharapkan dapat memacu pertumbuhan usaha industri pariwisata.

Sumut sebagai salah satu daerah tujuan wisata, menurut dia, memiliki potensi besar dalam mengembangkan industri keatif berbasis seni budaya lokal, misalnya berbagai jenis cendera mata maupun suvenir dengan sentuhan seni.

Sebab, keberadaan seni budaya lokal di suatu daerah dapat menjadi modal bagi pengembangan pariwisata setempat.

Hidayati menambahkan, selama ini industri pariwisata Sumut masih terlalu bertumpu pada objek-objek wisata konvensional untuk menarik wisatawan, misalnya Danau Toba, Brastagi dan sejumlah objek wisata lain di daerah ini.

“Seolah-olah daya tarik wisata Sumatera Utara hanya sebatas itu, padahal pameran-pameran seni rupa juga dapat menjadi tumpuan industri pariwisata,” katanya.

Untuk itu, pihaknya bersama para pemangku kepentingan atau stakeholders akan terus berupaya merealisasikan pengembangan pariwisata dengan dilandasi basis seni budaya lokal, sehingga diharapkan kunjungan wisatawan ke Sumut semakin meningkat jumlahnya.

Sumut, kata Hidayati, memiliki banyak ragam seni budaya lokal yang sampai saat ini masih hidup dan berkembang di tengah masyarakat.

Bahkan kekayaan seni budaya tersebut diyakini menjadi objek wisata menarik bagi wisatawan, misalnya tempat-tempat bersejarah, adat istiadat, masakan khas, kesenian tradisional dan karya seni.

Dalam hal pengembangan karya seni, ia berharap pelaku di bidang itu perlu lebih kreatif agar mampu menyesuaikan dengan selera wisatawan.

“Dengan demikian seni budaya Sumatera Utara akan tetap lestari dan kokoh di tengah persaingan global, disamping mampu memberikan tingkat kesejahteraan masyarakat secara memadai,” tuturnya. (LMC-02)




DPRD Nilai Kinerja Dinas Pariwisata Sumut Buruk

Toni Togatorop (Foto:LintasMedan/ist)

Medan, 23/9 (LintasMedan) – Ketua Fraksi Partai Hanura DPRD Sumatera Utara Toni Togatorop menilai kinerja Dinas Pariwisata di bawah kepemimpinan Elisa Marbun, buruk, sehingga mengakibatkan sektor pariwisata di daerah ini terkesan jalan di tempat.

“Padahal anggaran yang dialokasikan untuk mendukung sektor pembangunan pariwisata Sumut selama ini tergolong cukup besar,” katanya di Medan, kemarin.

Dia meragukan kemampuan Kepala Dinas Pariwisata Sumut Elisa Marbun bisa menjadikan sektor pariwisata daerah ini sebagai sumber pendapatan asli daerah (PAD) secara signifikan maupun dari sisi pertumbuhan wisatawan.

DPRD Sumut, melalui Komisi B, kata Toni sudah beberapa kali berencana untuk mengkonsultasikan lambannya kinerja Dinas Pariwisata Sumut, namun pejabat yang bersangkutan hingga saat ini belum juga bersedia untuk menghadiri undangan rapat dengar pendapat (RDP).

Sikap Kadis Pariwisata Sumut yang tidak menghadiri undangan Komisi B DPRD setempat itu, kata dia mengesankan bahwa Elisa Marbun tidak serius mendukung program pemerintah pusat untuk menjadikan daerah ini sebagai salah satu destinasi wisata nasional.

Oleh karena itu, ia meminta Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi segera mengevaluasi dan jika perlu segera menempatkan pejabat baru yang profesional serta mampu berbahasa asing.

Sebagaimana diketahui Pemprov Sumatera Utara dewasa ini gencar melakukan pembenahan dan melaksanakan sejumlah kegiatan promosi untuk menarik minat wisatawan mancanegara berkunjung ke Sumut dengan jumlah yang relatif besar.

Bahkan Presiden Jokowi pada tahun 2017 telah mencanangkan Danau Toba sebagai salah satu dari 10 destinasi wisata nasional dengan target satu juta kunjungan Wisman.(LMC-02)




NTB-Sumut Perlu Kerja Sama Kembangkan Pariwisata

Jajaran pimpinan satuan kerja perangkat daerah Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Barat (NTB ) saat menerima kunjungan rombongan studi banding Pemprov Sumut beserta jurnalis di kantor gubernur NTB, Kota Mataram,  Kamis (3/8).  (Foto:LintasMedan/Irma)

Mataram, 3/8 (LintasMedan) – Pemerhati pariwisata di Nusa Tenggara Barat (NTB) Andre Hermawan, mengatakan asosiasi usaha industri dan jasa pariwisata maupun pemerintah daerah di NTB dan Sumatera Utara (Sumut) perlu menjalin kerja sama untuk pengembangan potensi wisata di kedua provinsi tersebut.

“Untuk tahap awal, bentuk kerja sama yang perlu direalisasikan adalah melakukan promosi dan pemasaran pariwisata bersama,” katanya kepada rombongan wartawan unit Pemprov Sumut yang sedang melakukan studi banding ke NTB, di Mataram, Kamis.

Menurut dia, NTB dan Sumut sama-sama memiliki potensi pariwisata yang sangat menjanjikan dan mampu memberikan dampak pada perekonomian kepada masing-masing masyarakat maupun pendapatan asli daerah setempat.

Jika pemerintah daerah di Sumut dan NTB bersama berbagai pemangku kepentingan sepakat saling bersinergi mengembangkan pariwisata di kedua provinsi itu, ia memastikan kerja sama promosi dan pemasaran bersama tersebut akan lebih efektif memberikan keuntungan bagi kedua provinsi, misalnya peningkatan kunjungan wisatawan domestik maupun turis mancanegara.

“Promosi kepariwisataan bersama penting dilakukan di tengah gencarnya para pesaing, baik dari wilayah Indonesia lainnya maupun negara asing,” ujar Andre.

Sejalan dengan hal itu, ia juga berpendapat pemerintah daerah di NTB maupun Sumut perlu lebih gencar lagi melakukan inovasi, perbaikan dan penataan berbagai destinasi wisata.

Diakuinya, letak geografis NBT yang relatif dengan Provinsi Bali ikut memberi kontribusi positif bagi peningkatan arus wisatawan ke sejumlah destinasi wisata di provinsi berjulik Bumi Gora itu.

Sementara itu, Asisten Umum dan Kesra Setdaprov NTB Baharuddin saat menerima rombongan Biro Humas dan Keprotokalan Setdaprov Sumut bersama para wartawan, menjelaskan, Pemprov NTB terus berupaya mendongkrak tingkat kunjungan wisatawan ke wilayah tersebut.

“Sesuai Rencana Pembangunan Jangka menengah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat 2014-2018, target yang dipatok sebanyak 1.705.400 kunjungan wisatawan,” ujarnya.

Berkontribusi nyata
Sektor pariwisata, lanjutnya, telah berkontribusi nyata untuk membuka lapangan kerja, mengurangi pengangguran dan menurunkan angka kemiskinan.

Sebab, sebagian penduduk di NTB dewasa ini mengandalkan sumber mata pencaharian dari sektor pariwisata.

“Dengan tumbuh berkembangnya industri pariwisata di NTB, akan mampu untuk menumbuhkembangkan ekonomi kreatif dan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat,” katanya.

Dalam upaya meningkatkan sadar wisata, lanjutnya, Pemprov NTB melalui instansi terkait setiap tiga bulan sekali melakukan sosialisasi kepada masyarakat di sekitar kawasan wisata, seperti di Gili Trawangan, Senggigi dan Gunung Rinjani.

Baharuddin lebih lanjut memaparkan, wisata syariah menjadi tren baru pengembangan pariwisata NTB yang dimulai sejak tahun 2015.

Semangat baru pengembangan wisata syariah itu menyusul ditetapkannya NTB sebagai salah satu dari 12 destinasi wisata syariah secara nasional.

Ia menambahkan, Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa dinilai sebagai salah satu daerah paling siap mengembangkan destinasi wisata dengan konsep syariah.

“Pulau Lombok yang dikenal juga dengan julukan Pulau Seribu Masjid. Julukan itu tentu memberikan seribu makna pula bagi masyarakat di daerah-daerah lain yang belum pernah datang ke Pulau Lombok khususnya ke Kota Mataram,” ujar dia.

Salah satu makna yang terkandung dari julukan itu adalah penduduk di Pulau Lombok sebagian besar umat muslim yang kehidupannya sehari-hari selalu berpegang pada ajaran-ajaran agama Islam.

Disebutkannya, Mataram merupakan ibu kota Provinsi NTB bermottokan “maju, religius dan berbudaya” dengan memiliki penduduk yang heterogen dari berbagai macam suku, agama dan etnis.

Namun, menurut Baharuddin, kehidupan warga di Kota Mataram memiliki toleransi yang tinggi sehingga mereka dapat hidup rukun dan aman, seperti penduduk di Provinsi Sumut. (LMC-02)




Turnamen Golf Piala Gubernur Sumut Tanpa Peserta Asing

Seorang Kedi sedang mengatur jarak antar lubang dan bola yang akan dipukul pegolf, pada turnamen golg Piala Gubernur Sumut, Jumat (14/4)di Royal Sumatera Golf Course dan Country Club Jalan Jamin Ginting Medan.(Foto:lintasmedan/irma).

Medan, 15/4 (LintasMedan) – Turnamen golf internasional menyambut Hari Jadi Pemerintah Provinsi Sumatera Utara memperebutkan Piala Gubernur Tengku Erry Nuradi hanya diramaikan para peserta lokal dan tanpa pemain dari negara luar.

Padahal sebelumnya pihak panitia penyelenggara dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumut menyampaikan even yang menggunakan dana APBD Pemprov Sumut itu diikuti para pegolf dari sejumlah negara.

Dalam jumpa pers beberapa waktu lalu, di Museum Negeri Medan Kepala Dinas Pariwisata Sumut Elisa Marbun menyampaikan event tersebut diramaikan sejumlah peserta luar negeri, seperti Amerika, Korea, Jepang, Singapura maupun Malaysia. Dia juga menyebut even ini bertujuan untuk mempromosikan dan menarik minat wisatawan asing untuk berkunjung ke Sumatera Utara.

Namun tidak diketahui secara pasti apa yang melatarbelakangi para pegolf negara asing ini urung tampil di turnamen yang digelar sehari penuh, Jumat (14/4) di Royal Sumatera Golf Course dan Country Club Jalan Jamin Ginting Medan itu.

Pihak panitia maupun sponsor even terkesan mengelak saat ditanya tentang persoalan itu. Bahkan jumlah pegolf lokal yang tampil juga simpang siur.

“Kalau soal pemain luar negeri kenapa tidak ada, nggak tau juga ya. Mungkin karena long weekend kali ya…?,” kata Latif salah seorang sponsor terbesar di event itu menjawab wartawan.

Namun dia menolak menjelaskan lebih lanjut seputar even tersebut dan mengalihkan untuk bertanya kepada pihak ketiga lainnya yakni John Winata. Namun Jhon juga enggan memberi penjelasan rinci.

“Wah jangan sama saya, tanya sama Riki. Itu orangnya,” kata Jhon.

Sama halnya Riki yang ditanya juga mengatakan tidak faham seputar even tersebut dan mengaku berasal dari Jakarta.

Sebelumnya salah seorang pegolf, Awang Surbakti menyampaikan rasa kesal dan kecewa mengikuti turnamen tersebut.

“Pihak panitia tidak profesional. Kita mau bertanya seputar masalah pertandingan pun mereka tidak faham,” katanya di sela-sela pertandingan.

Dia juga kecewa karena ternyata tidak ada peserta dari negara luar sebagaimana yang ‘digembar-gemborkan’ panitia. “Banyak pemain yang kecewa,” ujarnya.

Acara penutupan turnamen Golf Piala Gubernur Sumut.(Foto:Lintasmedan/irma)

Event tersebut ditutup secara resmi Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi.

Dalam sambutannya Erry mewacanakan untuk membangun lapangan golf bertaraf internasional di Sumut.

“Saat ini kita baru punya tujuh lapangan golf dan empat di antaranya merupakan milik PTPN,” katanya.

Gubernur berharap dengan dibangunnya lapangan golf berstandar internasional bisa lebih banyak mendatangkan wisatawan ke Sumut. “Jadi harus diperbanyak even yang bisa mendatangkan wisatawan di Sumut,” ucapnya.

Ketua panitia Elisa Marbun dalam laporannya kepada gubernur menyampaikan Turnamen golf bertajuk 69 th North Sumatra Anniversary diikuti 220 peserta dari kalangan swasta, BUMN, pejabat pemerintah dan peserta asing.

“Tujuannya untuk meningkatkan keakraban dan silaturahmi di kalangan swasta dan BUMD, juga untuk meningkatkan citra positif pariwisata serta menandakan Sumut aman dan kondusif pada turnamen internasional ini,” ucap Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumut itu.

Piala bergilir Gubernur Sumut direbut pegolf Jhoni Sitepu yang unggul dikategori net 70 handicap serta berhak mendapatkan cincin berlian.

Penutupan turnamen juga dimeriahkan puluhan lucky draw di antaranya televisi 48 inc dan 1 unit Honda Brio.(LMC-02)