30 Jenazah Korban Kebakaran Pabrik Mancis di Langkat Teridentifikasi

Petugas pemadam kebakaran dibantu warga berusaha memadamkan sisa kobaran api yang menghanguskan seluruh bangunan rumah yang menjadi tempat pembuatan mancis  di Jalan Amir Hamzah, Desa Sambirejo, Kecamatan Binjai, Kabupaten Langkat, Jumat (21/6). (Foto: LintasMedan/ist)

Medan, 21/6 (LintasMedan) – Sebanyak 30 jenazah korban kebakaran di pabrik mancis Jalan Amir Hamzah, Desa Sambirejo, Kecamatan Binjai, Kabupaten Langkat, Jumat, sudah teridentifikasi.

“Data terakhir dari lapangan sebanyak 30 orang tewas, dan ini sudah teridentifikasi semua,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Utara, Riadil Akhir Lubis.

Namun, lanjutnya, faktor penyebab terbakarnya bangunan rumah yang dijadikan lokasi usaha pembuatan mancis tersebut masih belum diketahui secara rinci.

Korban tewas disebut terdiri dari ibu rumah tangga dan anak-anak yang ikut ke lokasi kerja.

Kobaran api mulai terlihat sekitar pukul 11.30 WIB dan kemudian berhasil dipadamkan dua jam kemudian, sekitar pukul 13.30 WIB.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, 30 korban tersebut dikabarkan tewas terpanggang karena terjebak di dalam bangunan.

“Waktu kebakaran itu kondisi pintu depan rumah terkunci, yang buka hanya pintu belakang, sedangkan sumber kebakaran dari arah belakang,” kata seorang saksi bernama Suryadi.

Ia menambahkan, seluruh korban tewas akibat kebakaran tersebut berjenis kelamin perempuan.

Sementara itu, Kapolsek Binjai AKP Binsar Naibaho, menjelaskan saat terjadi kebakaran kondisi rumah yang dijadikan pabrik mancis itu tertutup, bahkan jendelanya disebut dibeton.

“Keadaan rumah dikunci, jendela depan rumah di tutup, dicor (dibeton). Jadi kita tidak bisa lihat apa kegiatan di dalam,” ujarnya.

Binsar mengatakan korban kebanyakan ditemukan di kamar bagian depan. Setidaknya, kata Binsar, ada 28 korban yang ditemukan di kamar itu.

“Korban kebanyakan di kamar depan. Dua puluh delapan orang berada di kamar depan,” tuturnya.

Rumah yang menjadi lokasi pabrik mancis itu diketahui milik Sri Maya dan selama empat tahun terakhir disewakan kepada Burhan (37), warga Jalan Bintang Terang Dusun XV, Desa Mulyo Rejo, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang.

Berikut nama-nama korban kebakaran pabrik mancis tersebut:

1. Nurhayati
2. Yunita Sari
3. Pinja (anak Yunita Sari)
4. Sasa (anak Yunita Sari)
5. Suci/Aseh
6. Mia
7. Ayu
8. Desi / Ismi
9. Juna (anak Desi)
10. Bisma (anak Desi)
11. Dhijah
12. Maya
13. Rani
14. Alfiah
15. Rina
16. Amini
17. Kiki
18. Priska
19. Yuni (Mak Putri)
20. Sawitri
21. Fitri
22. Sifah (anak Fitri)
23. Wiwik
24. Rita
25. Rizki (Pendatang)
26. Imar
27. Lia (mandor)
28. Yanti
29. Sri Ramadhani
30. Sumiati. (LMC-03)




BNPB: Korban Jiwa Tsunami Selat Sunda Bertambah

Salah satu perkampungan terdampak tsunami Selat Sunda di pesisir Pandeglang, Provinsi Banten, Sabtu (22/12). (Foto: LintasMedan/twitter Sutopo)

Jakarta, 23/12 (LintasMedan) – Jumlah korban meninggal dunia akibat gelombang tsunami yang menerjang Selat Sunda pada Sabtu (22/12) terus bertambah, di mana kini telah mencapai 43 orang.

Siaran pers Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Minggu, menyebutkan, hingga Minggu (23/12) pukul 07.00 WIB, data sementara jumlah korban dari bencana tsunami di Selat Sunda tercatat 43 orang meninggal dunia, 584 orang luka-luka dan dua orang hilang.

“Daerah yang terdampak adalah permukiman dan kawasan wisata di sepanjang Pantai seperti Pantai Tanjung Lesung, Sumur, Teluk Lada, Penimbang dan Carita. Saat kejadian banyak wisatawan berkunjung di pantai sepanjang Pandeglang,” kata Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB, Sutopo Purwo Nugroho.

Sementara itu di Lampung, sebanyak tujuh orang meninggal dunia dan 89 orang mengalami luka-luka. Kemudian ada 30 unit rumah mengalami rusak berat di sana.

Kemudian di Serang, lanjutnya, ada tiga orang yang meninggal dunia, dua orang mengalami luka-luka sedangkan dua orang lainnya dinyatakan hilang.

Ia mengatakan hingga kini pendataan masih terus dilakukan dan kemungkinan jumlah korban masih bertambah.

BNPB mengimbau agar masyarakat tidak melakukan aktivitas di sekitar pantai untuk sementara waktu.

“Masyarakat diimbau tidak melakukan aktivitas di sekitar pantai saat ini. BMKG dan Badan Geologi masih melakukan kajian untuk memastikan penyebab tsunami dan kemungkinan susulannya,” ujarnya.

Bukan disebabkan gempa
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa gelombang tsunami yang menerjang sekitar Selat Sunda, tepatnya di Pantai Barat Banten, bukan disebabkan karena adanya gempa bumi.

Pernyataan tertulis tersebut diunggah di akun twitter BMKG @infoBMKG, pada Minggu (23/12) pukul 07.31 WIB.

Berdasarkan alat pencatat gelombang laut atau Tide Gauge Serang tercatat pukul 21.27 WIB ketinggian gelombang 0.9 meter, tide gauge Banten tercatat pukul 21.33 WIB ketinggian 0.35 m.

Tide gauge Kota Agung Lampung tercatat pukul 21.35 WIB ketinggian 0.36 m Tide gauge Pelabuhan Panjang tercatat pukul 21.53 WIB ketinggian 0.28 m. (LMC-03/rel)




Tiga Tewas Ditabrak Kereta Api di Medan Labuhan

Foto: Ilustrasi

Medan, 6/11 (LintasMedan) – Tiga orang tewas dan 10 orang lainya mengalami luka setelah taksi online yang mereka tumpangi tertabrak kereta api di perlintasan tanpa pintu di Kelurahan Sei Mati, Kecamatan Medan Labuhan, Kota Medan, Selasa.

Informasi yang dihimpun, kecelakaan terjadi saat taksi online yang dikemudikan Hendro Prawiro tersebut bergerak dari arah Simpang Kantor menuju Kelurahan Sei Mati.

Saat mobil tersebut melewati perlintasan kereta api Sei Mati, kereta api yang bergerak dari Belawan menuju Medan juga melintas sehingga terjadi tabrakan.

Menurut Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Pelabuhan Belawan, AKP MH Sitorus, korban tewas maupun yang terluka merupakan penumpang mobil Suzuki Ertiga dengan nomor polisi BK 1525 HE.

Korban meninggal, yakni Sherly Doloksaribu (32), warga Sei Mati bersama ibunya Lina Sinulingga (55) dan Nurhaini (60), ketiganya warga Lorong 8, Sei Mati, Medan Labuhan.

“Korban meninggal setelah mendapat perawatan di rumah sakit,” kata Sitorus.

Sementara 10 orang penumpang lainnya termasuk tiga anak-anak mengalami luka berat dan tiga luka ringan.

Korban luka termasuk pengemudi mobil, Hendro Prawiro (28), warga Jalan Cimahi Timur, Kecamatan Medan Belawan yang mengalami luka pada bagian dada.

Terkait peristiwa itu, Sitorus mengimbau kepada masyarakat untuk lebih berhati-hati saat melintas di perlintasan tanpa palang pintu.

Selain itu, pihaknya berharap pihak PT KAI segera membuat pintu perlintasan karena di lokasi itu ramai  dilalui kendaraan. (LMC-03)




Bus Masuk Jurang di Tobasa Dua Tewas

Sejumlah warga menyaksikan proses evakuasi penumpang bus yang masuk jurang di Desa Lumban Rau Timur, Kecamatan Nassau, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa), Sumut, Sabtu (18/8). (Foto: LintasMedan/ist)

Toba Samosir, 18/8 (LintasMedan) – Satu unit bus pengangkut rombongan pesta mengalami kecelakaan tunggal dan terjung ke jurang sekitar 25 meter di dekat jembatan Sipegepege Desa Lumban Rau Timur, Kecamatan Nassau, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa), Sumut pada Sabtu pagi, sehingga mengakibat sedikitnya dua orang penumpangnya tewas.

Informasi yang dihimpun, beberapa saat sebelum masuk jurang sopir bus tersebut diperkirakan mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan tinggi dan menabrak pohon di dekat jembatan Sepegepege.

Dalam peristiwa itu, dua orang penumpang tewas dan belasan penumpang mengalami luka berat dan luka ringan.

Seluruh korban luka dibawa ke Puskesmas Nassau.

Petugas kepolisian dari Polres Tobasa dan instansi terkait dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tobasa dibantu personel dari TNI, Polri serta masyarakat sekitar telah mengevakuasi seluruh penumpang bus yang berjumlah 35 orang itu.

Untuk memperlancar proses evakuasi korban dan bangkai bus tersebut, pihak Pemkab mengerahkan mobil derek dan eskavator.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tobasa, Herbert Pasaribu memperkirakan beberapa penumpang bus masih ada yang belum ditemukan dan diduga terseret arus air sungai.

“Kita masih berusaha melakukan pencarian terhadap korban yang hilang,” ujarnya. (LMC-03)




MSF: 6.700 Muslim Rohingya Tewas dalam Sebulan

Ilustrasi – Sejumlah elemen masyarakat menggelar aksi protes pembantaian warga Rohingya, di Kedubes Myanmar, di Jakarta, belum lama ini. (Foto: LintasMedan/ist)

Switzerland, 14/12 (LintasMedan) – Badan sosial Medecins Sans Frontieres (MSF) yang bermarkas di Switzerland, mengungkapkan sedikitnya 6.700 umat Muslim Rohingya tewas dalam waktu satu bulan setelah maraknya kekerasan di Myanmar pada Agustus 2017 lalu.

“Yang kami temukan itu mengejutkan, baik dari sisi jumlah orang yang dilaporkan anggota keluarganya meninggal akibat kekerasan dan juga dari laporan tentang mengerikannya cara korban tewas atau yang luka parah itu,” kata Direktur Medis MSF, Sidney Wong, sebagaimana dilansir dari BBC, Kamis.

Wong menambahkan jumlah yang tewas itu ‘kemungkinan perkiraan yang rendah karena survei tidak melibatkan semua pengungsi yang berada di Bangladesh’.

Selain itu, survei juga tidak dilakukan atas keluarga Rohingya yang tidak berhasil mengungsi ke luar dari Myanmar.

Pihak MSF menambahkan, jumlah korban yang didasarkan pada survei terhadap pengungsi di Bangladesh itu jauh lebih tinggi dari angka resmi 400 jiwa yang dikeluarkan oleh Pemerintah Myanmar.

MSF menyebutkan bahwa korban yang mencapai ribuan itu merupakan ‘indikasi terjelas sejauh ini tentang meluasnya kekerasan’ oleh pihak berwenang Myanmar namun militer Myanmar membantah dan menuding kekerasan dilakukan oleh ‘teroris’.

Sejak serangan atas sejumlah pos polisi oleh kelompok militan Rohingya, Agustus lalu, sekitar 647.000 orang Rohingya -berdasarkan perkiraan MSF- mengungsi ke Bangladesh untuk menghindari aksi kekerasan oleh aparat keamanan Myanmar maupun kelompok nasionalis Buddha.

Menurut MSF, temuannya memperlihatkan sedikitnya 9.000 umat Muslim Rohingya tewas di Myanmar dalam periode 25 Agustus hingga 24 September.

“Dengan perkiraan yang paling konservatif, sedikitnya 6.700 dari korban yang tewas itu diakibatkan kekerasan, termasuk 730 anak-anak berusia di bawah lima tahun,” seperti dalam pernyataan MSF.

Sejak kekerasan meledak di Myanmar beberpa waktu lalu, Bangladesh sudah menjadi tempat penampungan ratusan ribu pengungsi Rohingya yang melarikan diri. (LMC-03/BBC)




Dua Tewas Akibat Kecelakaan Lalu Lintas di Medan

Mobil sedan Accord ringsek setelah ditabrak oleh mobil Avanza di persimpangan Jalan Zainul Arifin dan Jalan Diponegoro Medan pada Minggu (10/9) subuh. (Foto: LintasMedan/ist)

Medan, 10/9 (LintasMedan) – Dua orang meninggal dunia dan tiga orang mengalami cedera serius akibat kecelakaan maut yang melibatkan mobil Avanza dan sedan Accord di persimpangan Jalan Zainul Arifin dan Jalan Diponegoro Medan pada Minggu  sekitar pukul 05.30 WIB.

Informasi yang dihimpun, dua orang korban meninggal dunia masing-masing Briptu Dedi Frengki Purba(30), warga Komplek TVRI Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang dan Norton Girsang (36), warga Kecamatan Medan Labuhan, Kota Medan.

Pada saat di persimpangan Jalan Zainul Arifin-Jalan Diponegoro, mobil Avanza yang diketahui bernomor polisi B 1719 FC datang dari arah Mesjid Agung dengan kecepatan tinggi menabrak mobil sedang Accord.

“Mobil Avanza menabrak bagian tengah sedan Accord dan mengakibatkan yang ditabrak tersebut terpental sehingga menabrak badan jalan sebelah kiri Jalan Diponegoro. Sedangkan mobil Avanza setelah menabrak terpental sejauh 40 meter dari lokasi kejadian perkara,” kata Kepala Bidang Humas Polda Sumut Kombes Pol. Rina Sari Ginting.

Disebutkannya, kondisi dua unit mobil yang terlibat dalam tabrakan maut itu mengalami rusak parah dan beberapa jam pascakejadian telah dievakuasi petugas Sat Lantas Polrestabes Medan.

Petugas kepolisian setempat saat melakukan olah tempat kejadian perkara, menemukan tiga botol minuman keras dari mobil Avanza yang dikemudikan Fernando Wijaya (18), warga Jalan Wahidin Lama dan Enrico Benedict Gunawan (19), warga Jalan S Parman No.56 Medan.

“Dari mobil Avanza kami juga menemukan tiga botol minuman keras,” kata Kasat Lantas, AKBP Indra Warman.

Jenazah dua korban tabrakan maut itu sebelum diserahkan ke keluarganya, terlebih dahulu diotopsi di RS Bhayangkara Medan. (LMC-04)




Korban Tenggelam di Danau Toba Ditemukan Tewas

Foto: Ilustrasi

Simalungun, 30/6 (LintasMedan) – Muhammad Ridwan alias Dion (18), salah satu pengunjung objek wisata Danau Toba, yang sempat dikabarkan hilang saat berenang pada Rabu (28/6) sore, akhirnya ditemukan dalam keadaan tewas atau meninggal dunia pada Jumat.

Informasi yang dihimpun lintasmedan.com, jasad Muhammad Ridwan ditemukan oleh beberapa orang warga pada pukul 07.00 WIB di pinggiran Danau Toba tepatnya di depan mess PTPN II, Parapat, Kabupaten Simalungun.

Beberapa saat kemudian, petugas dari kepolisian dan anggota SAR tiba di lokasi kejadian untuk melakukan evakuasi.

“Jasad korban ditemukan oleh beberapa orang warga dalam posisi mengambang,” kata Vira Pohan, salah seorang wisatawan yang ikut menyaksikan proses evakuasi jenazah Muhammad Ridwan.

Sebelumnya, Kasubag Humas Polres Simalungun AKP J Sinaga membenarkan telah menerima laporan dari Polsek Parapat tentang hilangnya Muhammad Ridwan di perairan Danau Toba.

Muhammad Ridwan yang merupakan warga Jalan Setia Budi No 64, Kota Medan, tiba di kawasan wisata itu bersama rombongan Julius Simanjuntak dengan menggunakan mobil jenis Hyundai datang dari arah Medan menuju Parapat pada Rabu sekitar pukul 12.00 WIB.

Korban menginap di mess PTPN II dan beberapa jam kemudian berenang ke arah pinggiran Hotel Inna Parapat.

Selanjutnya, rekan korban tidak melihat lagi keberadaan Muhammad dan diduga kuat tenggelam di danau tersebut. (LMC-03)




Aparat Polrestabes Medan Tewas Dikeroyok Saat Melerai

Sejumlah personel Polrestabes Medan mengikuti upacara pelepasan jenazah Aipda Jakamal Tarigan, di rumah duka Jalan Mawar Karya Ujung, Kecamatan Medan Helvetia, Medan, Sabtu (3/5). Jakamal Tarigan meninggal dunia saat berusaha melerai bentrok antarwarga di Desa Manunggal, Kecamatan Helvetia, Jumat (2/5) malam. (Foto: LintasMedan/ist)

Medan (ANTARA News) – Aparat Polrestabes Medan Bripka Jakamal Tarigan (40) tewas dikeroyok ketika berusaha melerai dan menghentikan bentrok antarwarga di sekitar lahan garapan di Desa Manunggal, Kecamatan Helvetia, Jumat (2/5) malam.

Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Rina Sari Ginting kepada pers di Medan, Sabtu, mengatakan peristiwa yang terjadi sekitar pukul 22.30 WIB itu berawal dari pertikaian di warung tuak di Pasar IV Gang Damar, Desa Manunggal, Kecamatan Helvetia yang mayoritas dihuni warga Suku Nias.

Selanjutnya, kata dia, seorang warga Pasar IV Desa Manunggal yang belum diketahui namanya terlibat pertengkaran dekat warung tuak dengan warga etnis Nias yang merupakan penduduk mayoritas di daerah itu.

Meski sempat berhenti, pertengkaran tersebut berbuntut panjang karena sejumlah warga etnis Nias mendatangi warga yang ada di Pasar IV Desa Manunggal. Pertikaian itu juga dapat dilerai kembali.

Namun belasan warga Suku Nias merasa tidak senang dan kembali mendatangi Pasar IV Desa Manunggal sambil membawa senjata tajam seperti kelewang dan clurit, serta secara membabi buta menyerang warga yang bukan dari etnis Nias.

Ketika peristiwa itu berlangsung, Bripka Jakamal Tarigan yang akan kembali ke rumahnya di Pasar IV Desa Serbaguna, Kecamatan Helvetia melintasi lokasi.

Pada saat keributan semakin memanas, Bripka Jakamal Tarigan berusaha untuk melerai dengan melepaskan tembakan ke udara dengan menggunakan senjata api organik milik personel Satuan Reserse Narkoba Polrestabes Medan itu.

Namun tembakan peringatan tersebut tidak dihiraukan, malah beberapa warga dari etnis Nias semakin beringas dan menyerang korban sehingga mengakibatkan personel Polri itu mengalami luka tusukan di dada dan perut.

Setelah Bripka Jakamal Tarigan tergeletak di lokasi kejadian, warga etnis Nias yang melakukan penyerangan meninggalkan lokasi kejadian sambil membawa lari senjata api milik korban.

Kemudian, warga beserta keluarga Bripka Jakamal Tarigan membawa korban ke RS Sinar Husni untuk mendapat pertolongan medis, namun korban tidak tertolong dan meninggal dunia di rumah sakit tersebut.

Dari hasil penyelidikan yang dilakukan, pihak kepolisian sudah mengidentifikasi sejumlah tersangka yang langsung ditangkap untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Tersangka yang telah diidentifikasi yakni Tena Zebua yang telah tertangkap, sedangkan pelaku lain yakni Sona Nolo Lembu, Pa Yu, dan Agus melarikan diri.

“Tim gabungan sedang melakukan pengejaran terhadap tersangka lainnya,” ujar Kombes Rina.

Jakamal Tarigan gugur meninggalkan satu orang istri dan tiga orang anak.

Almarhum Aipda Jakamal Tarigan dimakamkan di pekeburan muslim Jalan Pasar, Desa Manunggal Kecamatan Labuhan Deli, Sabtu.

Upacara pemakaman jenazah Jakamal Tarigan dipimpin langsung oleh Kapolrestabes Medan Kombes Pol. Sandi Nugroho.  (LMC-04)




Satu Orang Tewas Akibat Banjir-Longsor di Kabupaten Madina

Tim SAR dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Madina, TNI, Polri bersama masyarakat melakukan pencarian terhadap para korban banjir-longsor, di Kecamatan Kotanopan, Rabu (26/4). (Foto: LintasMedan/ist).

Medan, 27/4 (LintasMedan) – Peristiwa bencana alam banjir bandang dan longsor yang melanda sebagian wilayah Kecamatan Kotanopan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumut Rabu (26/4) sore, mengakibatkan satu orang warga Desa Hutadangka bernama Nurmainah (52) tewas dan diperkirakan belasan rumah mengalami rusak berat.

Berdasarkan informasi sementara yang dihimpun lintasmedan.com dari berbagai sumber, Kamis, Nurmainah tewas akibat terseret banjir bandang yang melanda daerah aliran Sungai Muara Tagor.

Kawasan pemukiman penduduk yang terdampak banjir dan longsor pada umumnya berada di sekitar daerah aliran sungai dan perbukitan, diantarantya di Desa Hutadangka, Muara Pungkut dan Hutarimbaru Tolang.

Bahkan, akses jalan yang menghubungkan Desa Muara Pungkut dengan Hutarimbaru Tolang dilaporkan tidak bisa dilalui karena tertimbun tanah longsor.

Pascaperistiwa itu, Tim SAR dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Madina, TNI, Polri bersama masyarakat terus melakukan pencarian terhadap para korban banjir-longsor.

Sementara itu, sejumlah warga yang terdampak banjir-longsor dievakuasi ke balai desa terdekat.

Tim SAR gabungan juga telah membuka posko kesehatan dan dapur umum bagi korban bencana alam tersebut.

Pihak BPBD Kabupaten Madina hingga saat ini masih melakukan pendataan terhadap jumlah korban serta rumah dan lahan pertanian penduduk yang rusak akibat bencana banjir-longsor di Kecamatan Kotanopan. (LMC-01)




Enam Tewas Tabrakan Bus-Avanza di Jalinsum

Beberapa warga menyaksikan kondisi bus KUPJ dan mobil Avanza yang saling tubruk di ruas Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) atau persisnya di Desa Kwala Gunung, Kecamatan Lima Puluh, Kabupaten Batu Bara, Rabu (10/8). (Foto: LintasMedan/Humas Polres Batu Bara).

Beberapa warga menyaksikan kondisi bus KUPJ dan mobil Avanza yang saling tabrak di ruas Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) atau persisnya di Desa Kwala Gunung, Kecamatan Lima Puluh, Kabupaten Batu Bara, Rabu (10/8). (Foto: LintasMedan/Humas Polres Batu Bara).

Batu Bara, Sumut, 10/8 (LintasMedan) – Enam orang tewas dan 15 luka-luka akibat kecelakaan kendaraan  di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) atau persisnya di Desa Kwala Gunung, Kecamatan Lima Puluh Kabupaten Batu Bara, Rabu sekitar pukul 10.45 WIB.

Keterangan yang dihimpun dari Polres Batu Bara, menyebutkan, kecelakaan terjadi antara bus KUPJ Tour BK 7651 DN yang dikemudikan Suharyanto Aritonang dengan mobil jenis Avanza BK 1718 ZK yang dikendarai Budianto di ruas Jalinsum tersebut.

Pada saat kejadian itu, mobil Avanza melaju kencang dari arah Medan menuju Kisaran berjalan oleng dan terlalu ke kanan sehingga menabrak bus KUPJ yang datang dari arah berlawanan.

Saat tabrakan terjadi, terdengar suara benturan yang sangat keras dan beberapa penumpang terlempar keluar dari kedua kendaraan yang saling tabrak tersebut.

Ada empat orang tewas di lokasi kejadian dan dua orang tewas dalam perjalanan ke rumah sakit. Sebagian korban lagi dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan.

Sementara, enam penumpang lainnya mengalami luka berat dan sembilan luka ringan.

Akibat tabrakan itu sempat menimbulkan kemacetan arus lalu lintas kendaraan dari arah Kota Medan maupun Kisaran hingga mencapai 1 kilometer karena menunggu proses evakuasi korban yang membutuhkan waktu relatif cukup lama.

Bus KUPJ dan mobil Avanza sudah dievakuasi dari lokasi kejadian ke Mapolres Batu Bara untuk dijadikan barang bukti. Pihak kepolisian setempat juga telah meminta keterangan dari beberapa orang saksi mata. (LMC-01)