Festival Multi Etnis Kota Medan Diharapkan Menambah Daya Tarik Wisata

Medan, 30/8 (LintasMedan) – Festival Multi Etnis Kota Medan 2019 yang berlangsung mulai 30 Agustus hingga 1 September di halaman Istana Maimun diharapkan turut menambah daya tarik wisata di ibu kota Provinsi Sumatera Utara (Sumut) itu.

“Penyelenggaraan Festival Multi Etnis Kota Medan 2019 diharapkan mampu menjadi daya tarik wisata melalui beragam adat dan budaya di Kota Medan,” kata Wakil Walikota Medan Akhyar Nasution pada acara pembukaan Festival Multi Etnis Kota Medan 2019, Jumat (30/8).

Dia juga menginginkan event yang digelar Dinas Kebudayaan Kota Medan tersebut dapat mengedukasi masyarakat untuk mengenal lebih jauh lagi budaya etnis yang ada di Kota Medan.

“Dengan begitu kita dapat saling menerima perbedaan yang ada dan tentu saja menghargainya juga,” ujarnya.

Akhyar menambahkan, Medan merupakan kota dengan pluralitas yang tinggi dengan berbagai etnis hidup berdampingan dengan damai.

Keberagaman etnis itu, katanya, menjadikan Kota Medan kaya seni dan budaya di tengah keharmonisan dan keberagaman suku, agama, ras dan antargolongan.

“Banyak sekali kebudayaan yang membaur dengan damai. Selain menjadi kekayaan, juga menjadi daya tarik bagi wisatawan,” kata Wakil Walikota.

Pembukaan Festival Multi Etnis Kota Medan 2019 yang dihadiri seribuan orang tersebut diawali dengan pagelaran tari Zapin Melayu.

“Melalui event ini kita ingin memperkenalkan seni dan budaya tradisionil masyarakat Kota Medan yang multi etnis kepada wisatawan lokal maupun mancanegara,” kata Kadis Kebudayaan Kota Medan, OK Zulfi.

Selain itu, pihaknya berharap penyelenggaraan Festival Multi Etnis Kota Medan 2019 dapat turut menambah rasa memiliki masyatakat setempat terhadap seni dan budaya tradisionil. (LMC-04)




Pengembangan Wisata Pantai Timur Sumut Perlu Terintegrasi

Para peserta diskusi “Pembangunan Pariwisata Pantai Timur yang Bermartabat” berfoto bersama seusai mengikuti acara tersebut di Taman Siba Medan City Jalan Singgalang Medan, Minggu (30/6). (Foto: LintasMedan/ist)

Medan, 30/6 (LintasMedan) – Kawasan pantai timur Provinsi Sumatera Utara (Sumut) perlu dikembangkan secara terintegrasi karena diyakini memiliki potensi besar meningkatkan kunjungan wisatawan.

Penilaian tersebut terungkap dalam diskusi seputar pembangunan pariwisata pantai timur Sumut yang digagas Badan Koordinasi Pembangunan Masyarakat Pantai Timur (Badko PMPT) Sumut, di Taman Siba Medan City, Minggu.

Dalam diskusi bertajuk, “Pembangunan Pariwisata Pantai Timur yang Bermartabat” dengan moderator Ketua Badko PMPT Syarifuddin Siba tersebut, disebutkan jika kawasan wisata di masing-masing kabupaten/kota tersebut dikembangkan dan dikelola secara terintegrasi, maka lama tinggal atau kunjungan wisata diharapkan bisa diperpanjang.

Sebab, apabila wisatawan ingin menikmati seluruh destinasi dalam satu kawasan wisata bahari di pesisir timur Sumut yang terintegrasi tersebut kelak dipastikan tidak cukup ditempuh dalam sehari.

Kawasan wisata pantai timur Sumut yang berhadapan langsung dengan Selat Malaka terletak di sepanjang pesisir Kabupaten Langkat, Deli Serdang, Kota Medan, Kabupaten Serdang Bedagai, Batu Bara, Asahan hingga Labuhan Batu.

Para peserta diskusi menyatakan sepakat bahwa pengembangan kawasan wisata pantai timur Sumut secara terintegrasi efektif menarik kunjungan karena masing-masing destinasi atau desa wisata akan memasarkan secara terintegrasi berdasarkan kawasan atau tema masing-masing.

Menyikapi gagasan dalam diskusi tersebut, pihak Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Sumut berencana mempersiapkan satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) khusus untuk memfokuskan program pembangunan di wilayah pantai timur provinsi itu, terutama dalam pembangunan bidang kepariwisataan.

“Saat ini, kondisi kepariwisataan di kawasan pantai timur Sumut yang sudah terkelola masih sebatas seperti pengelolaan konvensional, belum secara profesional dan menyesuaikan dengan perkembangan destinasi masa kini,” kata Kepala Disbudpar Sumut, Wan Hidayati.

Sebagian besar pemerintah kabupaten/kota yang wilayahnya berada di sepanjang pantai timur Sumut terkesan berjalan sendiri-sendiri dalam mengembangkan sektor kepariwisataan di wilayahnya.

Hidayati menilai, pengelolaan kawasan wisata di sepanjang pantai timur Sumut memerlukan perhatian serius dan saling koordinasi, baik antarinvestor maupun sesama pemerintah daerah dan Pemerintah Provinsi Sumut.

Padahal, menurut dia, mengembangkan kawasan wisata pantai timur secara terintegrasi perlu direalisasikan agar lokasi wisata di masing-masing kabupaten/kota dapat dipetakan sesuai tema yang saling terkait.

Untuk mengawali rencana itu, menurutnya, terlebih dahulu perlu digagas dan dibangun obyek wisata yang memiliki daya tarik tinggi bagi wisatawan.

“Membangun obyek wisata tidak hanya bergantung pada pemerintah daerah, melainkan juga bisa dengan mendatangkan investor yang dukung oleh berbagai kemudahan dari pihak pemerintah,” ujarnya.

Ia menambahkan, pembangunan kepariwisataan pantai timur merupakan salah satu solusi tepat mendongkrak laju perekonomian masyarakat setempat, karena kemajuan pariwisata akan berdampak sangat signifikan bagi aktivitas ekonomi di kawasan tersebut.

“Kami akan memberi perhatian besar ke arah ini. Tolong dukung kami dan beri gagasan-gagasan agar dapat direalisasikan,” ujar Wan Hidayati.

Acara diskusi tersebut turut dihadiri Ketua PWI Sumut Hermansjah, pengurus Badko PMPT Azryn Maridha dan sejumlah tokoh masayarakat Melayu lainnya. (LMC-03)




“Medan Great Sale” Diharapkan jadi Daya Tarik Wisata

Wali Kota Medan diwakili Asistem Umum Renward Parapat melakukan pemotongan nasi tumpeng sebagai tanda dibukanya “Medan Great Sale 2019” di Emerald Garden Hotel Medan, Senin (18/3). (Foto: LintasMedan/ist)

Medan, 18/3 (LintasMedan) – Wali Kota Medan, H.T Dzulmi Eldin mengemukakan pesta diskon terbesar bertajuk “Medan Great Sale 2019” diharapkan ikut menambah daya tarik wisatawan berkunjung ke Tanah Deli tersebut.

“Pemko Medan sedang berupaya menjadikan Medan sebagai kota wisata. Medan Great Sale ini merupakan salah satu langkah inovasi Dinas Pariwisata untuk mewujudkan hal tersebut,” kata Wali Kota Medan, H.T Dzulmi Eldin pada acara pembukaan “Medan Great Sale 2019, di Emerald Garden Hotel Medan, Senin (18/3).

Wali Kota dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Asistem Umum Setda Kota Medan Renward Parapat, menjelaskan bahwa Medan Great Sale digelar dalam rangka meningkatkan jumlah wisatawan berkunjung ke wilayah itu.

Medan Great Sale ini juga menjadi wadah pengembangan promosi produk-produk industri wisata dan ekonomi kreatif yang ada di Kota Medan, sehingga diharapkan ikut meningkatkan kinerja usaha maupun produksi pelaku UKM pariwisata lokal.

Disebutkannya, Pemko Medan tahun 2019 menargetkan kunjungan wisatawan tahun ini sekitar 300.000 orang.

Pemko Medan, lanjut Wali Kota, pihaknya berkomitmen untuk mencapai target tersebut bahkan harus lebih banyak lagi yang berkunjung ke Medan.

Ia menambahkan, Kota Medan kini terus berbenah baik dari segi objek pariwisata maupun dari segi event yang dapat menarik pengunjung wisata ke ibu kota Provinsi Sumut itu.

Salah satu strateginya adalah dengan menggelar pesta diskon yang melibatkan asosiasi dan para pelaku industri pariwisata serta ekonomi kreatif yang dikenal dengan “Medan Great Sale”.

Melalui penyelenggaraan “Medan Great Sale 2019” yang dijadwalkan digelar pada 18-31 Maret dan 1-14 Juli 2019, pihaknya berharap jumlah wisatawan ke Medan terus bertambah.

Selain untuk menarik kunjungan wisata, Medan Great Sale ini juga menjadi wadah pengembangan promosi produk-produk industri wisata dan ekonomi kreatif yang ada di Kota Medan.

Sementara itu, Kepala Dinas Parwisata Kota Medan Agus Suriyono mengatakan event Medan Great Sale 2019 merupakan program yang memberikan diskon kepada masyarakat dan wisatawan yang berkunjung ke Kota Medan.

Great sale tahun ini lebih mengedepankan sektor pariwisata dan digitalisasi ekonomi kreatif.

“Lebih dari 500 pelaku usaha mengikuti event Medan Great Sale 2019. Kita berharap event ini dapat mendatangkan lebih banyak wisatawan ke kota Medan dan para pelaku usaha yang terlibat dalam event ini memproleh manfaat sehingga dapat menggerakkan ekonomi kerakyatan,” ujarnya. (LMC-04)




Medan Berpotensi jadi Destinasi Wisata Kesehatan

Ilustrasi – Rumah sakit umum daerah (RSUD) dr. Pirngadi Medan. (Foto: LintasMedan/dok)

Medan, 4/4 (LintasMedan) – Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Medan, Syaiful Bahri mengatakan, Medan berpotensi menjadi salah satu destinasi wisata kesehatan yang menjadi rujukan pasien dari luar kota, luar pulau, atau bahkan luar negeri.

“Saya optimis dengan pengembangan RSUD Dr Pirngadi yang segera direalisasikan, Pemko Medan juga akan menghadirkan wisata kesehatan di kota ini. Jika hal itu terwujud, bukan tidak tertutup kemungkinan nantinya orang-orang Penang yang akan datang berobat ke Medan,” katanya di Medan, Rabu (4/4).

Syaiful mengemukakan hal itu ketika menghadiri pertemuan Konsultasi Publik dalam rangka Pekerjaan Penyusunan Dokumentasi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) Pengembangan rumah sakit umum daerah (RSUD) dr. Pirngadi Medan.

Untuk menjadikan Medan sebagai salah satu destinasi wisata kesehatan, menurut dia, tentunya setiap rumah sakit umum di kota itu, termasuk RSUD dr.Pirngadi harus senantiasa mampu menjaga standar pelayanan kesehatan secara profesional.

Selain pelayanan rumah sakit yang profesional, lanjutnya, rumah sakit umum perlu didukung fasilitas dan peralatan teknologi kesehatan yang canggih, dokter dan perawat tangguh.

Kongkretnya, kata Sekda, semua yang terlibat dalam industri wisata kesehatan harus memberikan yang terbaik guna meningkatkan derajat kesehatan warga Kota Medan sekaligus mengembalikan kepercayaan masyarakat.

“Semoga dengan rencana pengembangan RSUD dr Pirngadi yang segera dilakukan, kita dapat mengembalikan rasa kepercayaan warga untuk tetap berobat di Kota Medan,” ucap Syaiful.

Mantan kepala Bappeda Kota Medan itu juga berharap proses pelaksanaan penyusunan AMDAL RSUD dr Pirngadi dapat berjalan dengan baik dan lancar, sehingga pengembangan proyek rumah sakit umum milik Pemko Medan itu dapat segera dilaksanakan.

Sebelumnya, Dirut RSUD dr. Pirngadi Medan, Suryadi Panjaitan menjelaskan bahwa pihaknya mendukung penuh proyek pengembangan RSUD Pirngadi menjadi ikon kesehatan di Provinsi Sumatera Utara, khususnya Kota Medan.

Sebagaimana diketahui, pengembangan RSUD dr. Pirngadi menggunakan skema Kerja sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) sangat penting untuk mengundang partisipasi investor swasta.

Melalui keterlibatan investor swasta dalam skema SKBU, maka pelayanan publik diharapkan dapat lebih efisien, efektif serta dapat lebih diandalkan dan diwujudkan.

Dalam skema ini, pemerintah menanggung risiko politik yang mungkin dapat terjadi seperti adanya perubahan peraturan maupun kebijakan serta menyediakan fasilitas lainnya seperti penyiapan proyek, dukungan kelayakan dan penjaminan.

RSUD Dr Pirngadi akan dikembangkan dengan konsep hybrid yang tidak hanya menampung atau melayani kelas menengah ke atas saja, tetapi juga pasien peserta BPJS.

Khusus pengembangan proyek RSUD dr. Pirngadi, pengerjaan sarana fisiknya dilakukan oleh PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) dan Japan International Cooperation Agency (JICA).

Tahapan rencana pengembangan RSUD dr. Pirngadi saat ini telah memasuki pelaksanaan AMDAL dan Konsultasi Publik.

Melalui forum konsultasi publik, diharapkan akan diperoleh masukan dari masyarakat sekitar untuk melengkapi dokumen AMDAL pengembangan RSUD Dr Pirngadi Medan. (LMC-04)




“Nande Durian” Ramaikan Wisata Kuliner Medan

Wakil Gubernur Sumut Nurhajizah Marpaung (kanan) mengamati sejumlah buah durian yang dipajang di lokasi usaha “Nande Durian” Jalan Gajah Mada Medan, Sabtu (2/11). (Foto: LintasMedan/ist)

Medan, 2/12 (LintasMedan) – Berkunjung ke Ibu Kota Sumatera Utara (Sumut), Medan tak akan lengkap jika belum mencicipi beragam menu kuliner khas daerah itu, salah satunya buah durian.

Bagi penggemar durian, buah dengan aroma khas dan berdaging lembut itu dapat dicicipi di salah satu lokasi usaha kuliner yang diberi nama “Nande Durian”.

Usaha kuliner yang khusus menjual durian dan daging durian ini berlokasi di Jalan Gajah Mada No.14 Medan dan peresmiannya dilakukan oleh Wakil Gubernur (Wagub) Sumut, Nurhajizah Marpaung, Sabtu.

“Saya turut merasa gembira atas dibukanya Nande Durian yang ikut meramaikan destinasi kuliner di Sumut,” ujarnya.

Dalam acara yang turut dihadiri Wakil Walikota Medan, Akhyar Nasution itu, Wagub Sumut mengajak para pelaku usaha durian di wilayah tersebut dan masyarakat umum agar ikut menjaga kelestarian durian Sumut.

Dikatakannya, setiap daerah di Sumut, memiliki keunikan dalam hal rasa dan aroma durian.

Buah durian lokal Sumut diperkirakan lebih diminati pasar, karena rasanya yang khas dibandingkan buah impor.

Bahkan durian Sumut sudah dipasarkan ke berbagai daerah dan diekspor ke mancanegara.

Karena itu, lanjutnya, usaha pertanian tanaman durian perlu terus dilestarikan agar salah satu komoditi buah andalan Sumut itu benar-benar mampu berperan menopang pengembangan pariwisata di wilayah tersebut.

Jika melihat kondisi Kota Medan saat ini dengan kunjungan wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara yang terus meningkat, berarti kota ini membutuhkan lokasi kuliner lebih banyak.

Nurhajizah juga menyatakan optimistis buah durian memiliki potensi menggerakkan ekonomi jika pengembangan usaha komoditi tersebut dimanfaatkan dan dikelola dengan baik.

“Selain itu, juga dapat ikut menopang pengembangan pariwisata di Sumut,” tuturnya.

Sebelumnya, Ribka Bukit atas nama rekan-rekannya selaku pemilik Nande Durian, berharap usaha yang baru mereka buka tersebut bisa diterima oleh masyarakat luas.
“Kami juga siap mendukung program percepatan pengembangan wisata kuliner yang dewasa ini gencar dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Medan,” ujarnya. (LMC-02)




HPI : Turnamen Golf Piala Gubernur Sumut Kurang Promosi

Turnamen golf Piala Gubernur Sumut.(Foto:Lintasmedan/irma)

Medan, 15/4 (LintasMedan) – Ketua DPD Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Sumatera Utara Kus Endro menilai turnamen golf internasional menyambut Hari Jadi ke-69 Pemprov Sumut memperebutkan Piala Gubernur kurang promosi.

“Jangankan gaungnya sampai ke luar negeri, di dalam negeri pun para pegolf banyak yang tidak tahu,” kata Endro menjawab wartawan, di sela-sela acara penutupan turnamen, Jumat malam.

Padahal, sebut dia even golf merupakan salah satu kegiatan yang cukup efektif dalam upaya promosi pariwisata, sebagaimana menjadi tujuan utama dari turnamen tersebut.

Hanya saja, menruut dia kegiatan ini harus benar-benar dikemas secara serius dan profesional. “Mungkin ini karena baru even pertama jadi masih banyak kekurangan,” katanya menanggapi tidak adanya peserta asing pada turnamen berlevel internasional itu.

Endro mengatakan bahwa golf merupakan olahraga eksklusif yang banyak diminati kalangan pejabat dan pengusaha papan atas. “Umumnya mereka yang suka golf ini merupakan pemegang kendali di perusahaan-perusahaan. Sehingga bukan saja sektor pariwisata, namun peluang menarik investor juga cukup terbuka dari arena golf,” paparnya.

Cabang golf, kata dia tergolong sebagai olahraga yang cukup santai dan memiliki jaringan luas.
Sehingga cukup efektif sebagai sarana promosi wisata setelah beberapa cabang olahraga lainnya seperti
terjun payung dan arung jeram.

“Pembicaraan tentang persoalan bisnis dan investasi umumnya berawal dari lapangan golf,’ ujarnya.

Seperti diketahui turnamen golf yang digelar sehari di Royal Sumatera Golf Course dan Country Club Jalan Jamin Ginting Medan itu terbilang meriah diikuti 220 peserta. Namun turnamen yang menggunakan dana bersumber dari APBD Suumut sektor pariwisata itu mayoritas diikuti peserta lokal asal Sumatera Utara dan tanpa peserta luar negeri. (LMC-02)




Lobang Jepang Sejarah Kelam Bangsa yang Layak Dikenang

Sejumlah jurnalis Medan saat berkunjung ke obyek wisata Lobang Jepang di Kota Bukit Tinggi Sumatera Barat, baru-baru ini.(Foto:LintasMedan/irma)

Bukit Tinggi, 25/12 (LintasMedan) – “Tak terhitung jumlah jasad warga Indonesia yang dibuang dan dilempar begitu saja ke sungai oleh serdadu Jepang ketika itu,” kata Jefri Chong, saat memandu sejumlah Jurnalis Medan yang mengunjungi Lobang Jepang di Kota Bukit Tinggi Provinsi Sumatera Barat, baru-baru ini.

Pria ini merupakan pemandu dari Dinas Pariwisata setempat, menjelaskan dengan detail sejarah kekejaman Tentara Jepang terhadap pekerja paksa yang dikenal dengan istilah Romusha.

Para romusha ini diambil dari berbagai tempat di Indonesia, yakni Jawa, Sulawesi dan Kalimantan untuk menggali gua yang akan dijadikan sebagai tempat persembunyian tentara Jepang di Kota Bukit Tinggi.

Kenapa Jepang tidak mengambil pekerja paksa dari wilayah setempat?, alasannya untuk menjaga kerahasiaan.

Sebab tak seorang pun warga Bukit Tinggi yang menyadari di tengah hutan belantara itu tergali sebuah lobang yang cukup besar dan panjang.

“Ketika itu warga hanya tahu banyak tentara Jepang di hutan belantara, namun aktifitas mereka di situ tidak diketahui hingga Lobang Jepang ditemukan oleh warga secara tidak sengaja pada 1946. Atau satu tahun setelah Indonesia merdeka,” papar Chong.

Penjara di Lobang Jepang, tempat tentara Jepang menyiksa dan membunuh warga Indonesia yang membangkang.(Foto:LintasMedan/ist)

Jepang akan langsung membunuh para romusha yang tak mampu lagi bertahan akibat kelelahan atau sakit. Sebab mereka dipaksa bekerja tanpa henti menggali lobang untuk persembunyian/benteng tentara Jepang guna menghadapi perang dunia ke II.

Hingga akhirnya seluruh romusha yang berhasil menggali gua dibunuh untuk menjaga kerahasiaan dalam ruang tersebut. Jumlahnya hingga kini tidak terdata namun diperkirakan mencapai ratusan bahkan ribuan orang dalam proses penggalian selama lebih tiga tahun.

Lobang Jepang tak sempat dimanfaatkan oleh para serdadu penjajah itu, sebab pada tahun 1945 terjadi perang dunia ke II berbuntut pengeboman dua wilayah di Jepang yakni Hiroshima dan Nagasaki.

Kini Lobang Jepang menjadi salah satu obyek wisata handalan di Kota Bukit Tinggi. Bagian luar lokasi lobang ditata oleh Pemerintah Kota Bukit Tinggi hingga terlihat indah dan asri karena dipenuhi pepohonan dan bunga.

Apalagi lokasinya berdampingan dengan obyek wisata Ngarai Sihanok yang juga tak kalah indah dan sejuk.

Padahal di aliran sungai Ngarai Sihanok inilah dahulu jasad-jasad tak berdaya itu hanyut begitu saja tanpa makam dan tanpa nama.

Sejarah kelam bangsa yang diperkirakan terjadi sebelum kemerdekaan Republik Indonesia (RI) dikumandangkan itu memang membuat bulu roma bergidik.

Terbayang betapa kejamnya penjajah memperdaya dan menyiksa warga yang mungkin bodoh dan tak menyadari tujuan mereka dibawa menyeberang ke Pulau Sumatera.

Meski areal Lobang Jepang diramaikan puluhan wisatawan, namun suasananya yang remang cukup membuat jantung berdetak lebih kencang saat menyaksikan ruang demi ruang di dalamnya.

Lobang Jepang di Bukit Tinggi terdiri dari 21 terowongan, 6 gudang senjata, 2 ruang makan romusha, 1 ruang sidang.

Kemudian 12 barak militer, 2 pintu emergensi atau pintu pelarian bagi tentara Jepang apabila diserang musuh, 1 pintu penyergapan dan pintu utama.

Di dalamnya juga ada satu penjara berbentuk “L” dengan panjang 30 meter, tempat orang Indonesia yang disiksa dan dibunuh akibat membangkang terhadap tentara Jepang.

Disamping penjara ada dapur ekseskusi juga terdapat dua lobang yakni lobang pengintaian dan pembuangan mayat ke sungai Ngarai Sihanok.

Menurut Chong, panjang Lobang Jepang secara keseluruhan di wilayah itu adalah 4200 meter, namun
yang menjadi obyek wisata hanya 1400 meter. Sebab selebihnya tanpa ventilasi udara, sehingga tidak diperbolehkan untuk dikunjungi.

Chong mengatakan bahwa obyek wisata Lobang Jepang, cukup ramai dikunjungi wisatawan baik dalam negeri maupun mancanegara.
“Kalau wisatawan mancanegara biasanya

ramai di bulan September hingga Januari itu dari Malaysia, Singapura bahkan Eropah,” katanya.

Hanya saja kata Chong, wisatawan asal Jepang yang berkunjung ke Kota Bukit Tinggi selalu menolak saat ditawari berkunjung ke Lobang Jepang.

“Baru-baru ini ada rombongan pelajar dari Jepang namun mereka nggak ada yang mau masuk sini. Alasannya udah pernah mendengar cerita Lobang Jepang sehingga nggak perlu lagi dikunjungi,” papar Chong.

Kisah tragis sejarah Lobang Jepang, menurut Chong akan dibuat menjadi film dokumenter.

Proses pembuatan film tersebut sedang dibahas di Pemerintah Daerah setempat.

Film tersebut bertujuan untuk mengenang sejarah kekejaman penjajah Jepang terhadap bangsa Indonesia.

Apalagi, hingga saat ini pengakuan Chong tidak ada ritual-ritual khusus yang dilakukan di lokasi itu untuk kembali mengenang jasad-jasad yang tewas mengenaskan tersebut.

“Mungkin dulunya ada saat pertama Lobang Jepang ditemukan, yah dibersih-bersihkanlah walaupun ketika ditemukan tidak ada sesosok mayat didalam lobang karena semua dibuang ke sungai,” ungkapnya.

Selain wacana pembuatan film dokumenter, di areal Lobang Jepang juga akan dibuat museum mini berisikan senjata-senjata peninggalan tentara Jepang, pahat dan cangkul pembuat lobang, serta alat-alat masak dan cangkir.(LMC-02)




Pembangunan Wisata Danau Toba Harus Libatkan Masyarakat

Tarutung, 25/11 (LintasMedan) – Yayasan Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber Daya Sumatera Utara (Lakpesda-Sumut) merekomendasikan agar pembangunan pariwisata Danau Toba melibatkan masyarakat.

Pembangunan kawasan wisata itu juga harus dilakukan secara bermartabat, berkeadilan dan berbasis pada lingkungan hidup.

“Harus dipertegas bahwa grand desaign pembangunan harus memperhatikan zonanisasi wisata berbasis kultural, religi, adat, alam, pertanian dan kuliner sebagai potensi wisata,” kata Direktur Eksekutif Lakpesda Sumut Salman Habeahan pada acara Seminar/Bedah Buku Pariwisata Danau Toba, baru-baru ini di Tarutung Kabupaten Tapanuli Utara (Taput).

Acara sekaligus dirangkai dengan penanaman 1.000 pohon dan penebaran 5.000 ekor bibit ikan.

Pembicara dalam seminar antara lain, Dekan Fakultas Universitas Pertahanan Laksamana Muda TNI Amarullah Octavian, Peneliti dan dosen Pascasarjana Universitas Sumatera Utara (USU) Henri Sitorus, mewakili Gubsu Misnah Shalihat dan Kepala Dinas (Kadis) Pariwisata Taput Gipson Siregar, Kadis Pariwisata Toba Samosir (Tobasa) Ultri Sonlair Simangunsong.

Kemudian moderator Carlos Melgares Varon Simbolon yang juga Dewan Pakar Lakpesda Sumut dan pemerhati Danau Toba asal Spanyol.

Seminar dihadiri tokoh nasional Suten Z Manurung, Pastor Yanto SVD dari Gereja Katolik Siborong-borong, perwakilan PT Aquafarm Nusantara, Bupati Taput yang diwakilkan Osmar Silalahi, Sekretaris Yayasan Lakpesda Sumut dan Sekretaris Eksekutif asosiasi pemerintah desa seluruh Indonesia (Apdesi) Heppi R Purba.

Tokoh nasional Suten Z Manurung mengatakan, pembangunan pariwisata Danau Toba harus partisipatif, memberikan ruang partisipasi bagi masyarakat setempat dan komponen civil society secara holistic dan berkeadilan.

Laksamana Muda TNI Amarullah Octavian menyebutkan, pariwisata berbasis masyarakat dijadikan sebagai salah satu bentuk paradigma baru pembangunan pariwisata yang mengusung prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development).

Sementara Kadis Pariwisata Tobasa Ultri Sonlair Simangunsong mendesak, agar pembangunan pariwisata Danau Toba dapat berjalan dengan baik dan cepat. Namun perlu sinergi masyarakat dan pemerintah khususnya dalam mengatasi masalah pertanahan (proverty community) yang menjadi salah satu masalah lambatnya pembangunan pariwisata Danau Toba.

Dikatakannya, pemerintah pusat bersama pemerintah daerah khususnya pada tujuh kabupaten, harus duduk bersama merumuskan blue print atau road map yang tegas dan kuat dalam pembangunan Danau Toba. “Dalam merumuskan rencana induk pariwisata Danau Toba juga harus melibatkan partisipasi masyarakat,” paparnya.

Disebutkannya, Perpres 49 Tahun 2016, Badan Otorita Danau Toba yang sudah dibentuk/diundangkan 13 Juni 2016, diharapkan bukan hanya sebagai regulator, eksekutor, dan dinamisator, tetapi lebih agar struktur organisasinya dapat berperan sebagai agent of development yang bertanggungjawab.
Sementara itu, Ketua Yayasan Lakpesda Sumut Binsar Hutabarat mengatakan, Yayasan Lakpesda Sumut siap dan terbuka bekerjasama dengan pemerintah pusat, daerah, kelompok masyarakat, lembaga keagamaan dan adat dalam pembangunan pariwisata Danau Toba.

Sedangkan dari PT Aquafarm Nusantara yang menjadi peserta aktif dalam kegiatan tersebut mendukung rekomendasi yang disampaikan oleh Lakpesda Sumut.




Pemerintah Bantu Rp100 Juta Even Wisata Kabupaten/Kota

Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi pada Pesta Seni dan Budaya Bukit Lawang 2016, di Kecamatan Bahorok, Sabtu (24/9).(Foto:lintasmedan/ist)

Bahorok, 25/9 (LintasMedan) – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara berjanji menyiapkan anggaran Rp100 juta perkabupaten/kota yang ingin menggelar kegiatan pariwisata di daerahnya.

‘’Pemprov Sumut siap memfasilitasi dan membantu dengan menyiapkan anggaran Rp100 juta bagi kab/kota yang menggelar even wisata setahun sekali,” kata Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi saat membuka Pesta Seni dan Budaya Bukit Lawang 2016, di Kecamatan Bahorok kemarin.

Sehingga, kata dia jika 33 kabupaten/kota di Sumut menggelar even, berarti ada 33 kegiatan wisata dalam setahun di provinsi ini.

Hadir pada kegiatahn pesta seni Bupati Langkat Ngogesa Sitepu dan sejumlah SKPD Pemprov Sumut, serta para camat se-Kabapaten. Langkat, tokoh masyarakat Bukit Lawang dan sejumlah tokoh adat.

Erry dalam sambutannya mengatakan tersedianya infrastruktur, sarana dan pra sarana yang baik salah satu modal penting mendongkrak kunjungan wisatawan.

‘’Selain itu, SDM yang profesional dan kelender of event yang terjadwal serta dukungan masyarakat menjadi bagian yang tak terpisahkan,’’ katanya.

Dia menginginkan even pariwisata di daerah ini bisa terjadwal seperti di negara-negara maju lainnya yang mampu membuat jadwal wisata yang baik.

Untuk itu dia mengajak Dinas Pariwisata Provinsi bisa berkoordinasi dengan baik bersama pariwisata Kabupaten/Kota di Sumut. ‘

’Buat kalender of event. Ini bisa kita sebar ke tiap-tiap bandara, pelabuhan, terminal-terminal maupun lokasi promosi lainnya,’’ ujarnya.(LMC-03)




Danau Toba Disiapkan jadi Objek Wisata Kelas Dunia

Menko Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli (kiri) didampingi Plt. Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi, memberikan keterangan kepada pers usai rapat pembahasan program pengembangan kawasan Danau Toba, di Jakarta, Selasa (2/2).  (Foto: LintasMedan/Setkab)

Menko Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli (kiri) didampingi Plt. Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi, (tengah), memberikan keterangan kepada pers usai rapat pembahasan program pengembangan kawasan Danau Toba, di Jakarta, Selasa (2/2). (Foto: LintasMedan/Setkab)

Jakarta, 2/2 (LintasMedan) – Pemerintah pusat segera mempersiapkan kawasan Danau Toba menjadi “Monaco of Asia” dalam rangka menjadikan danau terbesar di Indonesia itu sebagai tujuan wisata kelas dunia.

“Ini kesempatan emas bagi Sumut untuk memiliki destinasi wisata bertaraf internasional,” kata Pelaksana Tugas Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi,  usai mengikuti rapat terbatas di kantorPresiden, Jakarta, Selasa.

Terkait dengan komitmen pemerintah pusat itu, ia mengingatkan segenap pemerintah kabupaten/kota dan para pemangku kepentingan agar menyatukan kekuatan dan bersinergis dengan Pemerintah Provinsi Sumut.
Menurut dia, pengembangan Danau Toba menuju kawasan wisata kelas dunia dipastikan ikut memicu geliat perekonomian di Sumut.

“Tidak hanya bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan Danau Toba, tetapi di seluruh kabupaten dan kota di Sumut,” paparnya.

Erry juga mengingatkan kepada masing-masing Pemkab untuk memupus ego kedaerahan yang dapat memperlama pengembangan Danau Toba sebagai destinasi kelas dunia.

“Sekali lagi, saya imbau para bupati untuk menyesuaikan pembangunan daerah masing-masing dengan rencana nasional pengembangan Danau Toba. Mari kita beri kemudahan dalam upaya pengembangan Danau Toba,” tuturnya.

Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk menyiapkan diri menyambut perubahan Danau Toba menjadi “Monaco of Asia”.

Dikatakannya, program pengembangan Danau Toba kedepan tidak hanya mengedepankan keindahan alam, tetapi juga adat istiadat, seni budaya dan kultur masyarakat sekitar.

“Kabupaten dan kota di Sumut perlu segera menyusun “calender of event” agar saat Danau Toba menjadi magnet kunjungan wisata dunia, kabupaten dan kota di luar kawasan danau tersebut harus mendapatkan manfaat ganda,” ujarnya.

Rapat yang dipimpin langsung Presiden Joko Widodo tersebut turut dihadiri tujuh bupati dari seluruh wilayah yang mengelilingi Danau Toba, yakni Bupati Toba Samosir, Bupati Tapanuli Utara, Bupati Samosir, Bupati Karo, Bupati Simalungun, Bupati Dairi dan Bupati Humbang Hasundutan.

Selain Danau Toba, pemerintah juga akan membentuk badan otoritas di sembilan kawasan wisata utama di Indonesia pada 2016.

Sebanyak 10 kawasan wisata yang akan fokus dipasarkan yakni Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung, Kepulauan Seribu, Borobudur, Bromo, Mandalika, Pulau Komodo, Wakatobi, dan Morotai. (LMC-01/rel)