
Madina, 8/3 (LintasMedan) – Bupati Mandailing Natal (Madina) Drs Dahlan Hasan Nasution mendukung pengembangan Bahasa Mandailing menjadi potensi bahasa yang lebih dikenal.
Dukungan itu disampaikan melalui Sekda Madina Gozali Pulungan dalam rangkaian acara Webinar International Bahasa Mandailing (Dulu dan Sekarang), yang diselenggarakan Pemkab Madina bersama Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Madina, Senin (8/3).
Gozali mengatakan, mandailing dikenal sebagai suatu bangsa bukan hanya suku budaya saja. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan budaya mandailing nantinya tetap berkembang.
“Kami bangga dengan adanya wabminar ini karena bahasa mandailing sudah mulai jarang digunakan. Bahkan ada yang merasa risih menggunakan bahasa daerah,” ujarnya.
Harapnya, bahasa mandailing bisa dijadikan muatan lokal di pendidikan agar tidak terhapus dan tergerus oleh zaman.
Ketua STAIN Madina, Dr H Torkis Lubis, menyebutkan beberapa pakar mengatakan bahasa mandailing merupakan bahasa nusantara sekaligus bahasa dunia karena memiliki perbendaharaan kata, bunyi seperti pada bahasa umumnya.
“Bahasa mandailing itu sebuah sistem sejumlah unsur yang terkumpul secara beraturan. Bukan sistem yg tunggal,” sebutnya.
Lanjut Torkis, bahasa mandailing terbentuk dari kesepakatan orang – orang mandailing bukan rekayasa. Bahasa mandailing memiliki kosa kata yang banyak, bersifat produktif, unik dan universal.
“Bahasa mandailing memiliki frasa khusus. Bahasa mandailing sama seperti Cina, Inggris hanya saja mereka lebih maju,” sambungnya.
Sementara Prof Dr Uli Kozok MA, pakar bahasa mandailing dari Universitas Honolulu, AS, via zoom cloud menguraikan, bahasa mandailing asli juga tidak terlepas dari kedekatan bahasa – bahasa lain termasuk bahasa minangkabau. Namun pengaruh yang besar berasal dari bahasa sansekerta.
“Sebelum kedatangan Belanda, sudah ada kata – kata yang masuk dari bahasa minangkabau dan sansekerta. Yang ada dari bahasa melayu itu di mulai sekitar 1830-an, ketika Belanda membuka pengaruhnya seluas – luasnya,” sebutnya.(LMC-04)
