Kegiatan BRI Regional Banking Journalism di Medan bekerjasama dengan Dewan Pers, Jumat (7/10) di Medan.(Foto:LintasMedan/irma yuni).
Medan, 8/10 (LintasMedan) – Komisi Hubungan Antar Lembaga Dewan Pers Totok Suprapto mengingatkan kalangan insan pers agar tetap berhati-hati menyajikan karya jurnalistik, khususnya untuk pemberitaan terkait Perbankan.
“Pemberitaan negatif pers tentang perbankan, bisa berimbas kepada hal yang sangat sensitif dan meruntuhkan kepercayaan nasabah.Akibatnya terjadi rush,” kata Totok pada kegiatan BRI Regional Banking Journalism di Medan, Jumat (7/10).
Ia mencontohkan kondisi ini bahkan pernah terjadi pada era reformasi tahun 1998, di mana sejumlah bank mengalami rush dan terpaksa harus disubsidi oleh pemerintah.
Pada kegiatan berthema, BRI Media Engagement Jurnalisme Perbankan di Era Transformasi, dewan pers meminta kepada berbagai instansi baik pemerintah, swasta maupun perbankan khususnya agar jangan takut menghadapi wartawan yang ingin melakukan konfirmasi.
“Ngapain takut ketemu wartawan,” ujarnya.
Bahkan jika memang belum ada keterangan resmi dari yang berkompeten memberikan informasi di instansi tersebut, minimal pihak humasnya bisa mengatakan masih dalam pembahasan.
Begitupun kepada kalangan insan pers Totok juga mengingatkan untuk bisa bekerja secara profesional.
“Kalau mau konfirmasi, bekerjalah profesional dan beretika, karena modal pers itu adalah citra dan kepercayaan (trust),” katanya.
Selain berpedoman kepada kode etik jurnalistik, lanjutnya pers bekerja tetap lebih mengutamakan hati nurani. “Kode etik itu cuma satu, ya hati nurani,” ujarnya lagi.
Acara yang dibuka secara resmi Regional CEO BRI Medan Budhi Novianto juga dihadiri Wakil Ketua Dewan Pers Muhammad Agung Dharmajaya dan Titis Nurdiana, Wakil Pemimpin Redaksi Media Kontan.
Wakil Ketua Dewan Pers Muhammad Agung Dharmajaya, Komisi Hubungan Antar Lembaga Dewan Pers Totok Suprapto, Regional Operation Head BRI Medan Barkah Mulyatno dan Titis Nurdiana, Wapemred Kontan yang fokus membicarakan tentang Industri Perbankan di Hotel Grand Mercure Medan Jumat (7/10).
Wakil Ketua Dewan Pers Muhammad Agung Dharmajaya menyampaikan materi “Engagement Pemberitaan di Era Konvergensi Media”. Ia juga mengingatkan wartawan harus benar-benar faham dan mengerti istilah-istilah terkait pemberitaan yang akan ditulis.
“Jika ingin menulis tentang hukum atau tentang ekonomi harus benar-benar memahami. Jangan mau bikin berita ekonomi tapi apa itu inflasi malah nggak ngerti,” ucapnya.
Menurut Agung di era saat ini media sosial begitu berkembang pesat dan masyarakat lebih tertarik untuk mengikutinya.
Namun informasi yang tersaji di media sosial, ucap dia bisa saja bohong ataupun salah bahkan terkadang tidak memiliki narasumber yang jelas.
Sementara untuk penyajian produk pers itu dilalui dari berbagai proses dan harus melalui sumber yang jelas. “Dalam berita itu tidak boleh ada katanya, rasanya, sepertinya, harus pasti siapa dan darimana sumbernya,” tegasnya.
Regional CEO BRI Medan Budhi Novianto memaparkan pers mendukung kinerja perbankan. Di tengah gempuran dunia digital,l yang mengubah gaya hidup, bank juga perlu melakukan inovasi termasuk BRI yang meluncurkan aplikasi digital.
Regional BRI Medan yang mencakup Sumatera Utara, kata Budhi, terus mendukung kemudahan akses perbankan seperti realisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) posisi Agustus 2022 mencapai Rp8 triliun dari target tahun 2022 sebanyak Rp13 triliun. Pinjaman KUR dari Rp25 juta sampai Rp250 juta. “Semua KUR itu untuk pinjaman UMKM,” kata Budhi.
Di kesempatan itu pihak BRI juga menjawab pertanyaan wartawan seputar informasi hoax perubahan biaya paket transfer BRI dari Rp6500 menjadi 150 ribu yang berseliweran di media sosial.
Pihak BRI mengakui tindakan pelaku begal rekening ini telah banyak memakan korban.”Kami juga telah membuat keterangan resmi terkait masalah kriminal ini, bahkan membuat laporan hukum dan pelakunya sudah ada yang ditangkap,” papar Budhi.
(LMC-02)
(LMC-02)
