
Medan, 29/3 (LintasMedan) – Pernyataan Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi soal minim wilayah kabupaten/kota di Sumut memproduksi telur ayam ras mendapat bantahan dari Kepala Dinas Ketahanan Pangan Ternak (Kadishanpangternak), Lies Handayani Siregar.
Ia menjelaskan Sumut hingga saat ini malah menjadi pemasok telur ke beberapa provinsi lainnya di Indonesia.
“Produksi telur kita malah surplus. Enam kabupaten/kota penghasil telur ayam ras, mampu memenuhi kebutuhan seluruh kabupaten/kota di Sumut,” kata Lies Handayani menjawab pers saat ditemui pada sidang paripurna DPRD Sumut, Rabu.
Dia mengakui bahwa tidak semua wilayah kabupaten/kota di Sumut layak menjadi lokasi penghasil telur, atau budidaya ayam petelur.
“Sama dengan kita berbicara tentang produksi cabai merah yang mungkin dominasinya dari Tanah Karo. Nggak semua juga wilayah lainnya layak untuk bertani cabai,” ujarnya.
Namun demikian, lanjut Kadishanpangternak kebutuhan masyarakat Sumut akan cabai merah bisa terpenuhi.
Sementara untuk telur asin, Lies mengakui produksi Sumut minim dan masih mengambil dari Brebes-Jawa Timur sebagaimana pernyataan gubernur. Hal itu, kata dia disebabkan telur asin bukan merupakan makanan khas Sumut.
Sebelumnya, Gubernur Sumut Edy Rahmayadi pada acara silaturrahmi dan diskusi dengan sejumlah insan pers juga mengungkap provinsi yang dipimpinnya masih berharap pasokan telur asin dari Brebes Jawa Timur. Padahal hamparan sawah luas membentang di Sumut merupakan potensi yang cukup besar menjadi lokasi beternak unggas.
“Baru-baru ini saya bertemu dengan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang meminta Sumut untuk saling bertukar telur dengan beras,” katanya.
Gubernur juga memberikan sejumlah paparan produksi telur ayam ras di sejumlah kabupaten/kota di Sumut masih banyak bertanda simbol merah dalam data atau artinya sangat minim produksi.
Dari 33 kabupaten/kota di Sumut, produksi telur ayam tertinggi terdapat di lima kabupaten/kota yakni Asahan, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Langkat, dan Binjai dimana mampu memenuhi kebutuhan masyarakatnya hingga 100 persen. Kemudian Mandailing Natal diangka 85 persen.(LMC-02)
