
Medan, 30/10 (LintasMedan) – Debat perdana Pilgub Sumut 2024 di Hotel Grand Mercure Medan pada Rabu (30/10) diwarnai saling sindir kinerja masing-masing pasangan calon selama menjabat kepala daerah.
Namun sebelum itu, debat terbuka yang berlangsung di Hotel Grand Mercure Medan pada Rabu (30/10) malam ini juga sempat dibumbui aksi saling puji.
Pujian awalnya disampaikan Bobby Nasution –kandidat yang diusung Koalisi Indonesia Maju (KIM) Plus–, karena Provinsi Sumut berhasil menduduki peringkat kelima nasional dalam segi keterbukaan informasi publik. Bobby pun mengapresiasi Edy Rahmayadi, sebab prestasi itu diraih saat rivalnya tersebut menjabat gubernur.
“Hal yang baik kami akui baik, Pak Edy. Dan ini perlu kami sampaikan karena ini debat untuk diketahui masyarakat,” ujar Bobby.
Apresiasi itu direspons positif oleh Hasan Basri, calon wakil gubernur pendamping Edy. Menurut dia, Bobby telah berkata jujur.
“Saya kira Mas Bobby sudah berkata jujur. Keterbukaan informasi publik di Sumut betul peringkat kelima di Indonesia,” kata politikus PDIP itu.
Setelah aksi saling puji, kedua pasangan calon mulai saling melontarkan sindiran. Di antara yang paling mencolok saat debat memasuki subtema kesehatan. Awalnya, Bobby memamerkan program Universal Health Coverage (UHC) yang telah diterapkan di Kota Medan selama ia menjabat wali kota.
Dengan program ini, kata Bobby, masyarakat dapat mengakses layanan kesehatan di Puskesmas hanya dengan menggunakan KTP. Ia kemudian menyindir Edy lantaran dianggap lebih memilih membeli lahan dan bangunan eks Medan Club yang harganya lebih Rp400 miliar ketimbang menerapkan program UHC bagi warga Sumut.
Untuk diketahui, Medan Club merupakan bekas fasilitas pertemuan yang dibangun sejak zaman kolonial. Lokasinya berada tepat di samping Kantor Gubernur Sumut.
“Kami hitung-hitung, Pak Edy, dengan anggaran yang ada di provinsi, sebenarnya Provinsi Sumut ini bisa UHC, Pak. Tapi kenapa di masa bapak lebih pilih untuk beli eks Medan Club yang harganya Rp400 miliar lebih?” tanya Bobby.
Mendengar pertanyaan itu, Edy pun melayangkan protes. Sebab, Bobby menggunakan singkatan kata yang dilarang dalam tata tertib debat.
“Tadi sudah disampaikan oleh moderator, kalau ada singkatan dipanjangkan singkatannya dan diterjemahkan. UHC, Universal Health Care,” kata Edy.
Menurut Edy, program UHC yang dibanggakan Bobby tak lain merupakan program nasional untuk mengatasi BPJS Kesehatan yang belum mampu menuntaskan persoalan. Edy pun menjelaskan alasannya membeli eks Medan Club.
“Jangan disinggung soal Medan Club. Medan Club itu bonusnya Sumut,” kata Edy.
Selain Bobby, sindiran juga dilayangkan Hasan terhadap Surya, calon wakil gubernur dari Bobby. Menurut Hasan, terdapat jalan Kabupaten Asahan yang kondisinya buruk saat Surya menjabat Bupati Asahan. Padahal, jalan yang dimaksud hanya berjarak sekitar 4 km dari kantor yang bersangkutan.
“Jalannya masih rusak, masih banyak lubang,” kata Hasan.
Sindiran itu kemudian dijawab oleh Surya. Ia tak menampik masih ada jalan di Asahan yang kondisinya belum baik.
“Saya pikir bukan jalan di Kabupaten Asahan saja. Memang kami akui masih ada jalan yang rusak. Tapi masih banyak jalan yang sudah bagus,” kata dia.
Sebelum debat berlangsung, perang yel-yel antarpendukung kedua pasangan calon terjadi di luar ruang debat. Selain itu, kedua pihak juga sama-sama melayangkan protes terhadap pihak penyelenggara.(LMC-02)
