
Medan,10/7 (LintasMedan) – Medan adalah kota yang bangga menyebut dirinya majemuk. Di satu sudut kota, aksen Batak yang lantang bersahutan dengan gaya bicara Melayu yang mengalir halus.
Di sudut lain, dialek Hokkien para pedagang keturunan Tionghoa berpadu dengan logat Jawa. Namun di balik kebanggaan atas kemajemukan ini, tersimpan sebuah kenyataan yang jarang kita bicarakan secara terbuka: betapa mudahnya kita menilai seseorang hanya dari cara ia berbicara, dan betapa dalamnya jarak yang tercipta ketika bahasa gagal menjadi jembatan.
Stereotip yang Diwariskan, Bukan Dipikirkan
Siapa pun yang besar di Medan tentu pernah mendengar—atau bahkan mengucapkan—kalimat-kalimat dan gelar-gelar yang terkesan mendiskreditkan salah satu suku.
Bahkan sejumlah kalimat-kalimat ini terasa akrab di telinga, diucapkan sambil lalu, terkadang dengan nada bercanda. Justru di situlah bahayanya. Stereotip yang dibungkus humor kehilangan sengatnya sebagai prasangka, namun tidak kehilangan dampaknya.
Stereotip semacam ini bukan hasil pengamatan objektif, melainkan warisan yang diturunkan dari generasi ke generasi tanpa pernah benar-benar diuji kebenarannya. Anak-anak Medan tumbuh mendengar generalisasi tentang kelompok etnik lain sebelum mereka punya kesempatan mengenal individu dari kelompok tersebut secara langsung. Akibatnya, pertemuan antaretnik sering kali sudah “tercemar” oleh asumsi, jauh sebelum percakapan yang sesungguhnya dimulai.
Ketika Logat Berbicara Lebih Dulu
Hambatan bahasa di Medan tidak selalu berarti dua orang tidak memahami arti kata satu sama lain. Yang lebih halus dan justru lebih sering terjadi adalah hambatan yang muncul dari logat, gaya bicara, dan pilihan kata. Cara berbicara yang lantang dan tegas—yang bagi sebagian orang Batak adalah ekspresi kejujuran dan kedekatan—dapat terdengar kasar dan mengintimidasi bagi pendengar dari budaya yang mengutamakan nada bicara halus. Sebaliknya, gaya bicara yang berputar-putar dan penuh basa-basi, yang bagi sebagian kalangan adalah bentuk kesantunan, bisa dianggap tidak tegas atau bahkan tidak jujur oleh kelompok lain.
Di sinilah letak ironi terbesarnya: hambatan itu bukan karena bahasa tidak dipahami, melainkan karena bahasa dipahami melalui kerangka budaya yang berbeda. Logat Melayu Deli yang lembut bisa disalahartikan sebagai kurang percaya diri. Bahasa Indonesia yang dicampur istilah Hokkien di kalangan pedagang Tionghoa bisa membuat pembeli dari etnik lain merasa disingkirkan dari percakapan, meski tidak ada niat demikian. Logat Jawa yang medok di tengah pergaulan kota bisa memancing ejekan yang dianggap “biasa saja” oleh yang mengucapkan, tetapi menyakitkan bagi yang menerimanya.
Ruang Publik yang Belum Netral
Sekolah, pasar, kantor pemerintahan, dan angkutan umum di Medan seharusnya menjadi ruang netral tempat identitas etnik melebur dalam kepentingan bersama. Namun pada praktiknya, ruang-ruang ini sering justru menjadi tempat stereotip dipertahankan. Pedagang di pasar tradisional cenderung menyesuaikan harga dan sikap berdasarkan etnik pembeli yang mereka duga dari logatnya. Di lingkungan kerja, penilaian terhadap kompetensi seseorang kadang lebih dipengaruhi oleh kesan atas gaya bicaranya ketimbang oleh hasil kerjanya yang sesungguhnya.
Media lokal dan konten hiburan berbahasa daerah, yang semestinya menjadi sarana merayakan keberagaman, tidak jarang justru melanggengkan karikatur etnik demi lucu-lucuan yang mudah dijual. Ketika sebuah logat hanya muncul di layar sebagai bahan tertawaan, penonton dari kelompok tersebut belajar bahwa identitasnya adalah lelucon, sementara penonton dari kelompok lain belajar bahwa mentertawakan logat orang lain adalah sesuatu yang wajar.
Merajut Kembali, Bukan Menghapus Perbedaan
Menjawab persoalan ini bukan berarti kita harus menyeragamkan cara berbicara warga Medan atau berpura-pura perbedaan budaya tidak ada. Keberagaman logat dan gaya komunikasi adalah kekayaan, bukan cacat yang harus diperbaiki. Yang perlu diubah adalah kebiasaan menilai isi pembicaraan seseorang berdasarkan cara ia mengucapkannya.
Ini bisa dimulai dari hal-hal sederhana: sekolah yang secara sengaja mencampur murid dari latar etnik berbeda dalam kelompok belajar, bukan membiarkan mereka mengelompok berdasarkan kesamaan bahasa ibu. Ruang kerja yang melatih karyawannya mengenali bahwa gaya bicara tegas bukan berarti agresif, dan gaya bicara halus bukan berarti lemah. Konten media lokal yang menghadirkan keberagaman bahasa daerah dengan rasa hormat, bukan sekadar bahan tawa.
Yang paling penting, barangkali, adalah kesediaan setiap warga Medan untuk menahan diri sejenak sebelum menyimpulkan karakter seseorang dari logatnya, dan memberi ruang bagi percakapan yang sesungguhnya untuk terjadi. Kota ini sudah lama hidup berdampingan secara fisik. Tugas yang belum selesai adalah belajar benar-benar saling mendengar—bukan hanya suara, tetapi juga maksud yang menyertainya.
Medan tidak butuh keseragaman untuk menjadi kota yang harmonis. Yang dibutuhkan adalah kerelaan untuk mendengar logat yang berbeda sebagai suara, bukan sebagai label.(red)
Penulis Muhammad Iqbal – Ilmu Komunikasi
Mahasiswa Universitas Medan Area
