Skip to content

Akurat dan Edukatif

Primary Menu
Live
  • Home
  • Gaya Hidup
  • Setya : Transgender Bukan Pendosa
  • Gaya Hidup
  • Nasional

Setya : Transgender Bukan Pendosa

Lintas Medan 22 November 2015 3 min read
Setya mengatakan mereka mengharapkan masyarakat umum untuk menerima mereka seperti layaknya WNI lain.(Fot:LintasMedan/BBC)

Jakarta, 22/11 (LintasMedan) – Setya, pendiri Persatuan Priawan Indonesia, yang merupakan jaringan kerja antar dan pusat informasi bagi para laki-laki bertubuh perempuan, berharap masyarakat umum mau menerima keberadaan mereka layaknya Warga Negara Indonesia (WNI) lain.

Hal itu disampaikannya di Hari Transgender se Dunia jatuh pada Jumat (20/11) kemarin.

Saat itu sebagaimana dilansir, BBC Indonesia mengadakan tanya jawab dengan Setya di Facebook.

Setya mengatakan tidak terkejut dengan banyaknya pemahaman keliru dan bahkan makian terhadap transgender.

“Masyarakat, masih menilai bahwa transgender adalah “pendosa yang menyalahi kodrat.,” katanya.

Dialog dan diskusi ia anggap penting untuk menjembatani komunitas transgender dengan masyarakat umum. “Senyum saja-lah ya. Paling tidak sudah banyak yg mengetahui tentang LGBTIQ.” ujarnya.

Seorang pengguna Facebook, Dedy Winarno, bertanya bagaimana cara mengubah pandangan negatif masyarakat kepada kaum transgender?

“Sementara para transgender sendiri memilih mengeksklusifkan dirinya, lebih banyak bergaul dengan sesama transgender.
Di sisi lain ketika isu-isu transgender memasuki ranah agama, seringkali terjadi gesekan-gesekan nilai dan pemahaman di dalamnya,” tulis Dedy.

Setya menjelaskan bahwa mengubah pandangan dan stigma masyarakat tidak mudah. Salah satu saran Setya untuk kaum transgender adalah membaur dengan masyarakat.

“Untuk itu, kami mengharapkan kepada masyarakat untuk menerima kami selayaknya warga negara Indonesia pada umumnya, sebab kami juga mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan yang lain,” jawab Setya.

Ia menambahkan isu transgender dalam pergesekan nilai dan pemahaman agama tentu masih bersinggungan dengan stigma masyarakat yang menganggap trangender sebagai pendosa dan menyalahi kodrat Tuhan.

Padahal, stigma tersebut sangat berkaitan dengan sosio-kultural yang mempengaruhi perkembangan doktrin agama saat ini.

Sebut saja adanya dikotomi laki-laki dan perempuan dalam berbagai kepercayaaan agama yang kemudian menjadi status quo. Akhirnya, posisi transgender cenderung sulit diterima dalam pandangan agama apapun.

“Karena itu, saya mengharapkan agar urusan agama kembali ke ranah pivat atau personal. Hal ini akan memungkinkan terciptanya penerimaan transgender di masyarakat,” ucapnya.

Sementara itu, Soe Gie bertanya, “dalam komunitas transgender, apakah priawan sadar kalau pelaku priawan itu sebuah kelainan yang perlu disembuhkan?.”

Setya menjawab transgender bukanlah sebuah penyakit dan kaum transgender sama halnya dengan warga negara lainnya yang harus diperlakukan dengan adil. Hak-hak kami sama dengan masyarakat pada umumnya, antara lain kami berhak untuk mengenyam pendidikan, bekerja, dan bermasyarakat tanpa adanya bentuk-bentuk diskriminasi.

Mohammad Sahrul juga bertanya tentang apa yang dimaksud perempuan bertubuh laki-laki dan apakah transgender itu bawaan sejak lahir atau kerena pergaulan dengan sesama transgender.

“Perempuan bertubuh laki-laki adalah transgender Male to Female—mereka yang secara biologis laki-laki dan menghayati dirinya sebagai perempuan,” jawab Setya.

Ia juga menambahkan, transgender merupakan bawaan sejak lahir dan bukan karena pergaulan dengan transgender lainnya.

Selain itu, Idris mempertanyakan apa di hari transgender mereka (kaum transgender) tidak dibimbing ke arah yang normal atau malah di dukung menjadi transgender dan apa dunia harus mewajarkan semua orang menjadi transgender.

Setya kembali menegaskan transgender bukan sebuah kelainan. “Kami bukanlah insan yang harus ditakuti dan dianggap tidak normal,” tambahnya.

Pertanyaan juga muncul dari akun dengan nama Qiezaqie yang bertanya, “kalau banci atau bencong (maaf) bisa di sebut trangender juga enggak?”

Menurut Setya, tidak semua banci atau bencong disebut transgender. Hal ini tergantung pada kenyamanan identitas gender masing-masing orang.

Eko Prabowo bertanya penyebab kaum transgender merubah kelamin dan apa jika seseorang hanya merubah penampilan serta tingkah lakunya bisa disebut transgender.

Setya menerangkan ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang memutuskan untuk mengubah kelamin. Salah satunya karena mereka merasa tidak nyaman dengan bagian tubuh yang dihayati sesuai dengan gendernya.

Jika mereka hanya menghayati dirinya pada aspek penampilan dan tingkah laku, tanpa diikuti perubahan kelamin, maka mereka bisa disebut transgender. Seperti halnya saya, saya menghayati diri sebagai laki-laki; maka saya berperilaku seperti laki-laki dan tidak melakukan perubahan fisik.

Akun Faiiz Mia mempertanyakan lingkungan sebagai faktor seseorang menjadi transgender.

Setya menjawab trangender dipengaruhi oleh faktor lingkungan, seperti bersosialisasi dengan teman-teman transgender ataupun faktor trauma masa kecil yang disebabkan pencabulan atau pelecehan seksual.

Secara garis bersar Setya menerangkan bahwa pemerintah sudah mengakui keberadaan transgender di Indonesia sejak tahun 1969. Organisasi transgender pertama adalah Himpunan Wadam Djakarta (HIWAD) yang difasilitasi oleh Gubernur DKI Jakarta Raya, Ali Sadikin.

Tahun 1980, istilah wadam diganti menjadi waria. Hal ini dikarenakan keberatan sebagian pemimpin Islam yang mengungkapkan bahwa istilah tersebut mengandung nama seorang nabi, yakni Adam a.s.

“Menikah di Indonesia secara legal tentu saja belum bisa. Sebab, undang-undang belum mensahkan pernikahan sesama jenis (LGBTIQ) di Indonesia,” ungkapnya.(LMC/BBC)

Post Views: 20
Tags: bukan pendosa kodrat Transgender

Continue Reading

Previous: ISIS Dalam Pandangan Dunia Islam
Next: Tips Makeup Ala Kylie Jenner Dalam 20 Menit

Related Stories

Jelang Mudik Lebaran 2026, Hamawas Tingkatkan Layanan di Jalan Tol KUTEPAT
2 min read
  • Medan
  • Nasional

Jelang Mudik Lebaran 2026, Hamawas Tingkatkan Layanan di Jalan Tol KUTEPAT

5 Maret 2026
Pemerintah Tetapkan WFA bagi Pekerja/Buruh Jelang dan Pasca Idulfitri 2026
2 min read
  • Headline
  • Nasional

Pemerintah Tetapkan WFA bagi Pekerja/Buruh Jelang dan Pasca Idulfitri 2026

10 Februari 2026
Diskominfo Sumut Harus Pastikan Kegiatan Organisasi ke HPN Banten Bisa Dibayar
2 min read
  • Headline
  • Hukum
  • Medan
  • Nasional
  • Sumut

Diskominfo Sumut Harus Pastikan Kegiatan Organisasi ke HPN Banten Bisa Dibayar

6 Februari 2026

You may have missed

Hari Jadi ke-193 Simalungun: Momentum Perkuat Generasi Kini dengan Warisan Masa Lampau
2 min read
  • Sumut

Hari Jadi ke-193 Simalungun: Momentum Perkuat Generasi Kini dengan Warisan Masa Lampau

11 April 2026
Wakil Bupati Paparkan Program MBG di Simalungun Terus Berkembang
2 min read
  • Sumut

Wakil Bupati Paparkan Program MBG di Simalungun Terus Berkembang

11 April 2026
Keluarga Besar IPK Asahan Gelar Halal Bihalal 1447 H / 2026 M
1 min read
  • Asahan
  • Sumut

Keluarga Besar IPK Asahan Gelar Halal Bihalal 1447 H / 2026 M

10 April 2026
Pemkab Simalungun Tegaskan Komitmen Perkuat Peran PKK Sebagai Motor Penggerak Kesejahteraan Masyarakat
3 min read
  • Sumut

Pemkab Simalungun Tegaskan Komitmen Perkuat Peran PKK Sebagai Motor Penggerak Kesejahteraan Masyarakat

10 April 2026
  • Iklan
  • Pedoman Media Cyber
  • Tentang Kami
  • Beranda
  • Headline
  • Luar Negeri
  • Nasional
  • Sumut
  • Hiburan
  • Kuliner
  • Foto
  • UKM
  • Feature
  • Bisnis
  • Advetorial
  • Sports
  • Hukum
  • Politik
  • Medan
Copyright © All rights reserved. | MoreNews by AF themes.