Menteri Pendidikan Muhadjir Effendi bersama Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi dan sejumlah tokoh menghadiri peresmian rumah ibadah di komplek Perguruan Sultan Iskandar Muda Medan, Sabtu (7/1). (Foto: LintasMedan/ist)

Medan, 7/1 (LintasMedan) – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy bersama Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi menghadiri peresmian gedung sekolah baru dan rumah ibadah di komplek Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda Medan, Sabtu.
Pada kesempatan itu, Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi, mengatakan keragaman etnis masyarakat Sumut merupakan anugerah yang memperkaya mozaik Indonesia.
Setiap masalah yang bersinggungan dengan isu-isu SARA, menurut dia, selalu direspon cepat pemerintah daerah dengan dukungan pemuka agama dan tokoh masyarakat.
“Masyarakat hidup berdampingan tanpa mempersalahkan perbedaan,” ujarnya.
Acara tersebut turut juga dihadiri, antara lain tokoh nasional Buya Syafii Maarif,Ketua DPRD Sumut Wagirin Arman, anggota DPR RI juga pendiri Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda Sofyan Tan, Sekretaris Jenderal Kemdikbud Didik Suhardi, Dirjen Dikdasmen Hamid Muhammad dan Wali Kota Medan Dzulmi Eldin.
Mendikbud Muhadjir Effendy dalam sambutannya, mengapresiasi prakarsa Sofyan Tan mendirikan Perguruan Sultan Iskandar Muda Sofyan Tan.
Diakuinya, merintis dan membesarkan lembaga pendidikan itu tidak mudah, apalagi sekolah yang dibangun tersebut atas dasar budaya gotong royong dan merangkul kemajemukan.
“Membangun sekolah dari dana patungan. Ini luar biasa, sangat pantas mendapat penghargaan seperti MAARIF Award,” ujar Muhadjir yang juga mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang.
Ia menilai, Perguruan Sultan Iskandar Muda mempunyai ciri khas menyemaikan nilai-nilai toleransi dengan berpijak pada pendidikan inklusif.
“Keragaman latar belakang siswanya sangat kental, sehingga sekolah ini mencerminkan miniatur Indonesia,” ucap dia.
Sementara itu Buya Syafii Maarif mengingatkan bahwa sekolah yang toleran itu tunas peradaban.
“Ini perlu ditegaskan disaat kita sekarang dirundung intoleransi dan kebencian, tidak hanya di Indonesia tapi juga fenomena global. Dunia pendidikan harus melek soal ancaman ini,” kata mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu. (LMC-02)
