Owner Keloria Moringa Syahrani Devi yang memproduksi produk daun kelor saat memaparkan manfaat produknya kepada Wagub Sumut Musa Rajekshah,Rabu (15/12).(Foto:LintasMedanist)
Medan, 15/12 (LintasMedan) – Daun kelor rupanya memiliki kandungan vitamin tinggi, bahkan dipercaya bisa mengatasi kasus stunting (kondisi gagal pertumbuhan tubuh) pada anak.
Sebagaimana diketahui stunting pada anak akibat kurang gizi dan kondisi tersebut terus menjadi perhatian Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara (Sumut). Pemerintah setempat berkomitmen menekan angka stunting tersebut dengan mendorong Dinas Kesehatan Sumut memberikan perhatian terhadap asupan gizi ibu hamil maupun bayi.
Sementara pada daun segar kelor kandungan gizinya seperti kalsium 350-355 miligram, serat 7.98 persen, Karbohidrat 51. 66 persen, lemak 4.65 persen, dan protein 22.7 persen. Sedangkan kondisi daun kelor kering nilai kandungan gizinya relatif tinggi seperti pada kalsium 1600-2200 miligram, karbohidrat 57.01 persen dan seratnya
Wakil Gubernur Sumut Musa Rajekshah mengatakan perlu terus mengikuti perkembangan atau inovasi yang ada dalam hal pemenuhan nutrisi dan gizi anak, khususnya dengan menggunakan daun kelor.
Ia menyampaikan hal itu saat menerima kunjungan Owner Keloria Moringa Syahrani Devi dan Fachrul Rozi Lubis, di Rumah Dinas Wagub, Jalan Teuku Daud, Medan, Rabu (15/12).
Salah satu pelaku UMKM Keloria yang fokus dengan daun kelor Syahrani Devi telah banyak menjelaskan khasiat produknya itu dan dibuktikan dengan suksesnya Keloria hingga go internasional.
“Ibu Devi ini adalah salah satu pelaku UMKM daun kelor yang saat ini sudah go internasional. Inovasinya daun kelor keringnya sudah banyak diekspor ke luar, dan kenapa kita tidak juga memanfaatkannya, alami dan berasal dari lahan subur yang dimiliki Sumut,” katanya didampingi Kepala Dinas Kesehatan Sumut, Drg Ismail Lubis.
Ia juga berharap agar daun kelor selain dimanfaatkan untuk kesehatan, juga bisa menambah pemasukan. “Selain itu, harapan kita petani atau masyarakat kita bisa menanam daun kelor di samping untuk asupan sendiri, tanaman kelor ini juga bisa menjadi tanaman yang menghasilkan atau jadi mata pencarian,” paparnya.
Sementara itu, Devi menjelaskan, Sumut telah menjadi satu dari enam daerah di Indonesia yang menjadi pusat daun kelor. Kelor dikenal di seluruh dunia sebagai tanaman bergizi dan WHO telah memperkenalkan kelor sebagai salah satu pangan alternatif untuk mengatasi masalah gizi.
“Jadi di luar negeri itu, di Afrika tepatnya daun kelor sudah menjadi suplemen untuk ibu menyusui dan untuk anak bayi untuk membantu tumbuh kembangnya,” kata Devi.
Ia mengaku punyalahan sendiri untuk menanam daun kelor. Menurut pengalamannya, daun kelor sangat mudah tumbuh di wilayah Sumut. Penanaman perdana bisa dipanen di usia 4 bulan.
“Jadi dia model panennya dipangkas, setelah panen perdana bisa dipanen lagi setelah 30-40 hari dan jumlahnya akan lebih banyak dibanding panen perdana karena setelah dipangkas dia bercabang. Panen ganda dan gak perlu peremajaan,” ujarnya sembari mengatakan proses pengeringan yang Ia lakukan adalah metode kering dingin, tanpa sinar matahari.
Devi berharap dukungan pemerintah untuk memajukan atau menaikkan kearifan lokal kelor untuk meningkatkan kesehatan dan perekonomian masyarakat. “Kami berharap dukungan Pemerintah Provinsi Sumatra Utara agar kita bisa menaikkan kearifan lokal kita sendiri untuk meningkatkan kesehatan dan perekonomian,” ucapnya.(LMC-02)
