
Medan, 14/12 (LintasMedan) – Dalam dua tahun terakhir, pertumbuhan investor terpesat dari kalangan milinial umur 18-30 tahun sehingga pertambahan jumlah investor secara nasional tahun 2018 saja mencapai 220.000 orang lebih.
Direktur Riset Pengembangan dan Edukasi PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Hasan Fawzi mengatakan hal itu kepada wartawan di sela peresmian kantor baru PT BEI Perwakilan Sumut di Jalan H Juanda Medan Jumat (14/12).
Saat itu dia didampingi Assistant Vice President Head of Regional Development Area 1 Dedy Priadi dan Kepala PT BEI Perwakilan Sumut Muhammad Pintor Nasution.
Hasan Fawzi menjelaskan jumlah nasabah atau investor dari waktu ke waktu terus mengalami pertumbuhan signifikan, baik nasabah berbentuk perusahaan maupun retail (perorangan). Pengaruh investor milineal membuat jumlahnya kini mencapai 847.000 yang memiliki instrumen saham atau pertumbuhannya hampir 220.000 investor, naik 35 persen dari tahun lalu hanya 628.000 investor.
Ia menegaskan belum ada sepanjang sejarah investor tumbuh sampai 220.000. Pernah dua tahun lalu (tahun 2016) dikategorikan tertinggi karena tumbuh 101.000 investor. Sedangkan tahun 2017 hanya tumbuh 95.000.
Menurut dia, pertumbuhan ini karena gencarnya sosialisasi yang gilirannya literasi (pemahaman tentang saham) bertambah dan inklusi (orang masuk bursa) jadi meningkat.
Ia menyebut per Nopember 2018 pertumbuhan investor milenial yakni umur 18-25 tahun mencapai lebih 281 persen dan umur 26-30 tahun tumbuh lebih 148 persen. Sedangkan investor yang biasa berumur 31-40 tahun hanya tumbuh 75 persen dan umur 41-100 tahun tumbuh 31 persen.
Dari 847.000 investor itu, sekira 20.000 investor asing. Namun dari sisi market capitalisasi (kapitalisasi pasar) kepemilikan asing mencapai 53 persen, sedangkan lokal 47 persen. Kini market capitalisasi mencapai Rp6.800 triliun dari 618 emiten. Transaksi Rp8,5 triliun per hari, meningkat sekira 20 persen dari tahun lalu Rp7,6 triliun per hari. Mayoritas transaksi 60 persen lokal dan asing 35 persen. Sedangkan outstanding obligasi Rp200 triliun.
Hasan menyebut untuk transaksi implementasi penyelesaian ditingkatkan dari T+3 menjadi T+2. Jadi BEI meningkatkan efisiensi proses penyelesaian, peningkatan likuidasi dan penurunan resiko industri. Indonesia merupakan negara ke 3 Asia Tenggara yang telah berhasil menerapkan T+2. “Sehari lebih cepat, selangkah lebih efisien,” katanya.
Saat ini, tambah Hasan, ada 618 perusahaan tercatat, termasuk tujuh dari Sumut. Pada tahun 2018, penambahan emiten (perusahaan tercatat di bursa) sebanyak 56, tercatat rekor tertinggi sepanjang sejarah sejak BEI berdiri tahun 1992. Sebelumnya tahun lalu hanya 37 emiten saja.
Kepala PT BEI Perwakilan Sumut Muhammad Pintor Nasution menambahkan pertumbuhan investor milenial juga signifikan, jumlahnya 36.181 SID dengan rekening efek (SRE) 45.859, sedangkan tahun lalu hanya 32.000 SID. Tercatat ada 9 emiten yakni 2 obligasi (Bank Sumut dan Pelindo). Tujuh saham yakni PT Toba Pulp Lestari (TPL), Bank Mestika, PT Pembangunan Graha Lestari Indah (PGLI), PT Mark Dynamic Indonesia, PT Atmindo, Mahkota Grup dan PT Royal Prima Indonesia. (LMC-05)
