
SAMOSIR, 23/8 (LintasMedan) – Peneliti Badan Riset Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI Prof Krismono menjelaskan, penyebab kematian jutaan ekor ikan di dalam keramba jaring apung (KJA) yang terjadi di Pangururan, Kabupaten Samosir Provinsi Sumatera Utara (Sumut), akibat pendangkalan dan perubahan cuaca.
“Saat ini mulai terjadi pengalihan musim dari musim kemarau ke musim penghujan (September-red), sehingga terjadi pencucian daratan. Saat pencucian daratan terjadi akan membawa kotoran atau imbah yang masuk ke Danau Toba,” kata Prof Krismono ketika dihubungi lewat seluler, Rabu malam (22/8/2018).
Kondisi itu, lanjut Krismono, diperparah lagi dengan lokasi budidaya KJA yang dilakukan petani di perairan yang dangkal dan tertutup. Sehingga ketika terjadi pencucian, air yang masuk ke danau yang membawa kotoran (limbah) hanya berputar di lokasi itu dan mengendap.
Menurut Krismono, kematian massal ikan yang terjadi di Pangururan juga pernah terjadi tahun 2016 lalu. “Waktu saya sosialisasi di Jakarta baru-baru ini, saya sudah mengatakan bahwa peristiwa kematian ikan di Pangururan bisa terulang lagi. Dan terbukti, sekarang perisitiwa itu terulang kembali,” paparnya.
Karena itu, kata Krismono, dari hasil penelitian yang telah mereka lakukan, pihaknya tidak merekomendasikan lokasi tersebut sebagai tempat budidaya ikan di dalam KJA.
“Kalaupun tetap dilakukan pembudidayaan, sebaiknya petani membuat lokasi KJA yang lebih jauh atau ke perairan yang lebih dalam dari sekarang, apakah dengan kedalaman100 meter atau lebih. Dengan begitu, perputaran air ketika terjadi perubahan musim risiko yang dialami lebih kecil,” kata Krismono.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Samosir Erkanus Simbolon melalui Sekretaris Dinas Pertanian Samosir Junelis Sinaga memperkirakan, kematian ikan milik petani KJA di Dusun I Kelurahan Pintu Sona, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, berkisar 120 ton dengan 28 petani pemilik KJA.
“Yang sudah terangkat sampai malam ini, berkisar 12 ton. Jenis ikan yang mati yakni ikan mas, dan ikan nila,” jelasnya ketika dihubungi lewat seluler, Rabu malam.
Junelis yang juga menjabat sebagai Plt Kabid Perikanan di Dinas Pertanian Samosir, mengatakan kematian ikan-ikan tersebut diperkirakan akibat perubahan cuaca yang membuat suhu berubah.
Kondisi itu membuat terjadinya pengadukan dari dasar perairan ke permukaan danau. Sehingga lumpur-lumpur atau endapan dari dasar danau naik ke atas, dan itu membuat air keruh yang mengakibatkan ikan kekurangan oksigen.
Dikatakannya, peristiwa kematian massal seperti saat ini pernah terjadi tahun 2016 lalu. Hanya saja lokasinya di Tanjung Bunga, Desa Siogang-ogang, Kecamatan Pangururan, Samosir. Jaraknya hanya berkisar dua-tiga kilometer dari lokasi yang terjadi sekarang.(LMC-02)
