
Madina, 9/12 (LintasMedan) – Pemerhati Lingkungan, Muhammad Nuh mengatakan, Sungai Batang Natal bisa diselamatkan jika aktifitas mencari butiran emas di Daerah Aliran Sungai (DAS) dilakukan dengan cara tradisional tidak menggunakan alat berat excavator.
“Belum ada kata terlambat bila ingin menyelamatkan Daerah Aliran Sungai, khususnya di Batang Natal dari kehancuran yang lebih parah, asal kita memberhentikan semua aktifitas yang menggunakan excavator,” kata Muhammad Nuh, kepada LintasMedan, Kamis (9/12).
Sarannya, pemerintah dan aparat hukum mulai sekarang harus mengambil tindakan tegas menertibkan alat berat excavator yang sudah menjadi perharian semua pihak agar nantinya tidak terjadi permasalahan di belakang hari.
“Saya sangat setuju dengan statemen Wakil Bupati Madina, Atika Azmi Utammi saat menangani tambang emas ilegal yang beraktifitas di sungai Batang Gadis, Kotanopan,” katanya.
Sebutnya, permasalahan ekonomi bukan alasan mendasar jika aktifitas penambangan tersebut menggunakan alat berat. Karena pastinya tidak dengan biaya yang murah.
“Mari sama-sama kita berfikir jernih dalam situasi ini. Masih ada hak anak cucu dan generasi berikutnya yang harus kita pikirkan agar mereka bisa tetap merasakan kekayaan alam Madina ini,” ajaknya.
Menurut Nuh yang juga seorang pengacara ini, oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab itu hanya mengambil keuntungan pribadi dan kelompoknya saja tanpa memikirkan nasib masyarakat yang tinggal di bantaran sungai.
“Mencari butiran emas bisa dilakukan dengan cara yang tradisional agar ekosistem air, geografis dan lingkungan sekitar terjaga. Karena dengan cara tersebut, selama ini tidak ada yang merasa keberatan,” terangnya.
Dia pun mensinyalir jika penambangan emas dengan alat berat tetap berjalan, maka dikhawatirkan nantinya dapat menyebabkan musibah dan yang menjadi korban juga adalah masyarakat sekitar DAS.(LMC-04)
