Konfrensi pers kampanye "Kebaya Goes to UNESCO", Jumat (19/8). Kegiatan itu di antaranya melalui acara bertajuk "Parade dan Gebyar Berkebaya" yang digelar sejumlah organisasi wanita di Lapangan Benteng Medan pada 28 Agustus 2022.(Foto:LintasMedan/irma)
Medan, 20/8 (LintasMedan) – Provinsi Sumatera Utara (Sumut) ikut berpartisipasi menggiatkan kampanye “Kebaya Goes to UNESCO”, di antaranya melalui acara bertajuk “Parade dan Gebyar Berkebaya” yang digelar sejumlah organisasi wanita di Lapangan Benteng Medan pada 28 Agustus 2022.
“Acara “Parade dan Gebyar Berkebaya” ini digelar bagian dari upaya promosi kebaya sebagai pakaian khas Indonesia,” kata Ketua Umum Rumah Komunikasi Lintas Agama ( RKLA) Bunda Indah yang juga tokoh wanita nasional kepada pers di Medan, Jumat (19/8).
Ia menuturkan, penyelenggaraan Parade dan Gebyar Berkebaya sebagai bagian gerakan mendukung Kebaya Goes to UNESCO, di mana salah satu warisan Nusantara itu bisa menjadi warisan budaya dunia.
“Diperkirakan ribuan wanita nantinya akan memakai berbagai jenis kebaya seperti kebaya Kartini, kebaya encim, noni dan kutubaru memeriahkan acara tersebut. Mereka dari perwakilan perempuan 8 suku serta 33 kabupaten kota di Sumatera Utara,” kata Bunda Indah.
Melalui acara tersebut, pihaknya turut berharap agar kebaya yang merupakan pakaian tradisional Indonesia dinobatkan sebagai warisan budaya tak benda oleh United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO), sebuah badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
“Keberadaan kebaya sudah saatnya diakui oleh dunia sebagai busana yang khas dengan beroleh pengakuan warisan dunia tak benda dari UNESCO agar tetap lestari,” ujarnya.

Partisipasi segenap elemen masyarakat dalam mengampanyekan gerakan “Kebaya Goes to UNESCO” , kata dia, dapat menjadi bukti bahwa kebaya memperoleh dukungan luas di Tanah Air dan diharapkan terus berkembang mewarnai khasanah busana dunia.
Ia menyebut pihaknya senantiasa siap berkolaborasi dengan berbagai organisasi perempuan dan elemen masyarakat lainnya di Sumut menggiatkan upaya promosi kebaya sebagai pakaian khas Indonesia.
“Mari kita tunjukkan jati diri kita sebagai perempuan Indonesia yang memiliki salah satu kearifan lokal berupa kebaya yang diwariskan nenek moyang sejak ratusan tahun silam,” tuturnya.
Ketua Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) Sumut Syafitra Elizabeth mengatakan acara parade ini adalah untuk menunjukkan jati diri perempuan Indonesia serta menaikkan citra kebaya sebagai peninggalan budaya asli nusantara.
“Kebaya adalah salah satu kategori peninggalan budaya warisan tak benda yang akan didaftarkan ke UNESCO. Seperti halnya dengan negara-negara lain yaitu negara Jepang dengan kimono atau India dengan sari nya,” ucapnya.
Syafitra optimis Sumut bisa menjadi pelopor dan contoh bagi provinsi-provinsi lain di Indonesia bagaimana melestarikan kebaya untuk digunakan dalam acara resmi maupun tak resmi.
“Secara tidak disadari kebaya sudah menjadi busana wajib di masyarakat Sumut. Hal tersebut ditunjukkan dari acara-acara resmi seperti peringatan kelahiran anak, pernikahan, pemakaman, dan lain-lain yang dipadu-padankan dengan sarung khas suku seperti tenun songket, ulos dan lain sebagainya”, tuturnya.
Parade dan Gebyar Berkebaya diprakarsai Ibu- ibu Bhayangkara Sumut, ibu – ibu Persit Kartika, Angkatan Laut, Angkatan Udara, Majelis Taklim Halimah Sumut ( MTH) serta DPP RKLA dan berkolaborasi dengan Komunitas Perempuan Peduli Sumatera Utara (KPPSU), Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) Sumut, Perempuan Indonesia Maju, IWAPI Sumut, Dekranasda Sumut dan Komunitas Perempuan Indonesia Hebat, Ibu- ibu Majelis Pemuda Pancasila ( PP) Sumut, serta para mahasiswa.(LMC-02)
