
Medan,11/7 (LintasMedan)- Kabupaten Mandailing Natal (Madina) membawa warisan budaya paling berharga di Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) 2026.
Salah satu produk unggulan paling istimewa adalah Amak Lampisan, tikar yang sejak jaman dahulu disiapkan khusus untuk dipakai dalam pesta-pesta agung raja-raja dan kalangan elit di tanah Mandailing.
Berbeda dengan tikar biasa, Amak Lampisan ditenun dengan teknik khusus, motif yang sangat indah, dan memiliki nilai simbolis tinggi. Tikar ini dulunya hanya dihamparkan untuk menyambut tamu kehormatan atau sebagai alas duduk pemimpin adat di acara-acara besar.
Kini, kemegahan tikar legendaris itu dipajang di stand Kabupaten Madina, memperkenalkan kepada seluruh pengunjung kekayaan budaya yang tak ternilai harganya.
Amak Lampisan bukan sekadar kerajinan, melainkan bukti kejayaan seni dan budaya Mandailing Natal yang tetap terjaga hingga hari ini.
Ervin Ritonga, dari Dinas Perdagangan Kabupaten Mandailing Natal, Sabtu malam mengatakan tikar ini sampai sekarang masih digunakan untuk pesta-pesta adat bagi kalangan elit, salah satunya diacara pernikahan.
Amak lampisan yang dibuat dari anyaman daun pandan dengan desain yang khas ini memiliki peran penting dengan ciri khas yang terletak pada tingkat ketebalan dan ornamennya, yang membedakannya dari alas duduk biasa yang digunakan masyarakat umum.
“Anyaman tikar yang bertingkat-tingkat juga memiliki arti kasta si pengguna,” ucapnya didampingi Ali, penjaga stand di Paviliun Madina.
Salah satu ciri khas amak lampis adalah penggunaan warna-warna tertentu seperti kuning, hijau, merah, hitam, dan biru, yang memiliki filosofi mendalam dalam budaya Mandailing. Selain itu, tikar ini dibuat dengan jumlah lapisan yang ganjil, mulai dari satu hingga tujuh lapisan, sebagai bagian dari aturan adat.
Dari segi ukuran, amak lampis biasanya memiliki panjang 1,5 hingga 2 meter dengan lebar 0,5 hingga 1 meter. Ukuran ini disesuaikan untuk memberikan kenyamanan dan menunjukkan status sosial seseorang dalam acara adat.
Amak Lampisan sekaligus mencerminkan tradisi masyarakat Madina yang kaya akan seni kerajinan tangan. Daerah yang terkenal sebagai penghasil Amak Lampisan adalah perkampungan Malintang Julu, Malintang, Huta Baringin, dan Tangga Bosi di Kabupaten Madina.
Amak lampisan tidak hanya berfungsi sebagai alas duduk, tetapi juga sebagai simbol penghormatan dan kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Selain anyaman tikar Amak Lampisan, di stand Paviliun Madina juga dipamerkan belasan produk kerajinan UMKM yang menjadi andalan di antaranya, dodol, kipang pulut, peyek koin dan lain-lain.
“Dodol Mandailing yang paling best seller. Saat ini kami melakukan pemesanan lagi karena sudah habis terjual,” ucap Ervin Ritonga.(LMC-02)
