
Oleh : Irma Yuni SE
Pekan Raya Sumatera Utara tahun ini menjadi momen istimewa, karena genap berusia 50 tahun atau HUT Emas. Namun di balik perayaan itu, terasa ada hal yang belum banyak berubah, hingga pameran di tutup, Minggu malam kemarin.
Acara tahunan ini terasa berjalan di tempat, kurang berkembang, minim inovasi, dan belum menyentuh sisi edukasi, padahal zaman sudah berubah pesat, didorong oleh kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan.
Seringkali muncul anggapan bahwa sepinya pengunjung yang tidak sesuai target disebabkan oleh mahalnya harga tiket—Rp35.000 di hari biasa dan Rp75.000 saat akhir pekan atau saat ada penampilan artis/hiburan.
Padahal intinya bukan soal harga tiket. Sekalipun tiket cuma Rp10.000, orang tetap malas datang jika kualitas dan isi yang ditawarkan kurang bernilai. Pengunjung pulang hanya dengan rasa lelah berjalan dari satu paviliun ke paviliun lainnya, tanpa membawa ilmu, wawasan, atau manfaat baru yang berkesan.
Di sisi lain, pihak panitia mengaku bangga menyebutkan adanya perputaran uang mencapai 50 miliar rupiah lebih selama gelaran PRSU.
Namun diyakini jumlah tersebut sebagian besar diperoleh dari sektor hiburan, kedatangan artis-artis ibu kota, serta belanja aneka penganan dan makanan semata.
Jika ini benar terjadi, hal tersebut sesungguhnya belum bisa disebut sebagai prestasi sebuah pameran. Sebab yang dibangun hanyalah budaya konsumtif belaka, tanpa memberikan nilai tambah, ilmu, atau manfaat berarti bagi warga yang datang berkunjung dan membeli tiket mahal.
Semoga ke depannya terutama tahun depan PRSU bisa makin berinovasi dan mengedepankan nuansa edukasi berbasis teknologi, sehingga benar-benar layak dinantikan semua kalangan, termasuk kawula muda.
Sebagai contoh nyata, di Paviliun Dinas Pertanian, seharusnya ditampilkan teknik budidaya tanaman modern, atau inovasi memodifikasi jenis buah dan sayur seperti yang biasa kita lihat di negara lain misalnya Thailand.
Pasti petani, mahasiswa, dan masyarakat umum akan antusias datang untuk belajar—bukan sekadar disuguhi brosur dan pameran jajanan ataupun cabe, bawang dan sayur-sayuran.
Paviliun Pemkab Madina, bisa menyajikan demo pembuatan dodol khas setempat, bisa lewat video yang menarik atau peragaan langsung agar pengunjung tahu prosesnya, bukan hanya melihat produk akhirnya.
Pemkab Tapanuli Utara, daripada hanya menyusun rangkaian nenas hingga akhirnya mulai layu di pertengahan even , alangkah baiknya turut memberikan edukasi bagaimana tehnik bertanam buah yang menjadi salah satu andalan pertanian daerah itu.
Paviliun Diskominfo, alangkah baiknya jika mengadakan pelatihan singkat soal teknologi informasi, penggunaan AI, atau transformasi digital daripada hanya memajang alat komunikasi zaman dulu yang sudah lama berlalu.
Begitu juga instansi lain seperti Dinas Tenaga Kerja yang bisa berbagi info pelatihan kerja atau keterampilan baru. Bahkan stand yang hanya membagikan bunga, akan jauh lebih menarik jika sekaligus memberi pelatihan cara menanam dan merawat bunga seperti aglonema, kaktus, dan tanaman hias lain agar tumbuh subur pasti akan banyak ibu-ibu dan pecinta tanaman yang berbondong-bondong datang.
PRSU di usia emas ini seharusnya bukan sekadar mengedepankan ajang jual-beli seperti swalayan atau hiburan semata, tapi menjadi etalase kemajuan, ilmu pengetahuan, dan inspirasi bagi masyarakat Sumatera Utara.(Penulis adalah Redaktur Pelaksana di Media Online LintasMedan.Com)
