Praktik tambang emas ilegal masih terus berlangsung di Kecamatan Batang Natal Kabupaten Madina dan belum tersentuh hukum.(Foto:LintasMedan/ist)
Madina, 6/12 (LintasMedan) – Saat ini nyaris tak ditemukan lagi air sungai yang bersih di Kecamatan Batal Natal. Daerah Aliran Sungai (DAS) di sana telah luluh lantak akibat ulah penambang emas ilegal.
Bagaikan tak tersentuh hukum, para penambang emas ilegal leluasa melakukan pengerukan di Daerah Aliran Sungai Batang Natal dengan menggunakan alat berat (excavator). Dampaknya pun langsung dirasakan oleh masyarakat, khususnya yang bermukim di bantaran sungai, mulai dari Kecamatan Lingga Bayu hingga sampai ke Kecamatan Natal.
Keruhnya air sungai Batang Natal akibat aktifitas pertambangan ini terkesan tidak tersentuh hukum dan praktik ilegal itu tak kunjung dihentikan.
Rahman, warga Kecamatan Lingga Bayu, Senin (6/12) mengungkapkan, pertambangan sudah berlangsung sejak puluhan tahun. Awalnya penambang hanya menggunakan alat tradisional namun dalam lima tahun terakhir, aktifitas pertambangan menggunakan alat berat dan merusak ekosistem air sungai karena limbah pembuangannya.
“Dulu sungai Batang Natal ini dimanfaatkan semua warga, baik untuk kebutuhan mandi, cuci pakaian bahkan lubuk larangan untuk menjaga ekosistem ikan. Namun saat ini warga yang bermukim di bantaran hilir sungai menderita karena tidak lagi dapat memanfaatkan air secara maksimal untuk kebutuhan hidup. Air sungai telah tercemar, keruh dan berbau,” kata Rahman.
Warga menduga ada “orang besar” di belakang bisnis tambang emas ilegal ini.

Efek penambangan ini juga merugikan para nelayan karena sungai Batang Natal bermuara langsung ke laut. Keruhnya air sungai, sangat mempengaruhi aktifitas mereka.
Seperti yang diutarakan Izal, salah seorang nelayan yang tinggal di Kelurahan Pasar II Natal. Dia berharap, Pemerintah Daerah turun tangan menertibkan pertambangan ilegal tersebut.
“Kami sudah sangat risau untuk menggunakan air sungai dengan kondisi sekarang ini karena kami takut terjangkit penyakit. Tidak hanya itu, saat ini buaya juga sering muncul hingga kami takut untuk beraktifitas seperti biasa di pinggir sungai,” ungkapnya.(LMC-04)
