Medan, 26/10 (LintasMedan) – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sumatera Utara terus berbenah paska Pekan Olahraga Nasional (PON) 2021 di Papua berakhir.
Di tengah gencarnya kritik dan desakan mundur kepada pengurus KONI Sumut yang dinilai telah gagal menorehkan prestasi terbaik di even olahraga berskala nasional itu, kalangan organisasi induk olahraga itu terus berbenah.
“Terima kasih, kritik dan hujatan merupakan motivasi bagi kami para pembina maupun pengurus olahraga agar bisa berkinerja lebih baik kedepannya,” kata Wakil Ketua I KONI Sumut Prof. Dr. Agung Sunarno, M.Pd, di Medan, Selasa.
KONI Sumut, kata dia saat ini sedang fokus mempersiapkan atlet muda, sekaligus merupakan lapis ke dua menuju PON -2024 di mana Sumut dan Provinsi Aceh akan menjadi tuan rumah bersama.
Profesor di bidang Pendidikan Keolahragaan ini mengatakan, meski hanya bertengger di posisi 13 klassemen dengan raihan 10 emas, 22 perak dan 23 perunggu di PON 2021 Papua, prestasi kontingen Sumut sebenarnya tidak terlalu mengecewakan karena di arena itu justru muncul kejutan dari sejumlah atlet lapis dua.
Para atlet muda Sumut itu menorehkan prestasi dengan raihan medali perak, seperti Nurainun di cabang atletik, nomor 400 meter gawang puteri.
Begitu juga di cabang Wushu, kata Agung Sumut masih memiliki sederet atlet muda di nomor Sanda, yakni Ridwan, Emanuel dan Roberto.
Sementara untuk cabang biliar, juga ada nama Chandra Wijaya dan sejumlah atlet lainnya yang sedang menempuh Pelatda berjalan sejak 1 September 2021.
“Sejumlah atlet lapis dua di nomor-nomor perorangan ini sedang fokus mengikuti Pelatda berjalan, termasuk peraih medali emas di PON lalu akan kita masukkan jika usianya masih memenuhi syarat,” papar Agung.
Agung menekankan, kegagalan Sumut memenuhi target di PON Papua salah satunya, akibat pandemi Covid-19 yang sedang melanda secara nasional bahkan dunia.
Termasuk juga berimbas terhadap pembinaan dan pengiriman atlet ke luar negeri. “Kita gagal mengirimkan atlet wushu ke China karena ada larangan keluar negeri akibat pandemi, begitu juga sejumlah atlet yang terkendala berlatih ke Jakarta seperti pada cabang biliar,” ucap Agung.
Selain itu, kata dia selama lebih setahun porsi latihan menjadi kurang maksimal akibat pandemi dan PPKM dan hanya dilakukan secara virtual.
KONI Sumut, sebut Agung bahkan harus mengembalikan anggaran Pelatda berjalan dan Pelatda penuh karena memang tidak berjalan (off).
Pada PON 2021 di Papua, Sumatera Utara juga hanya mengikuti 37 cabang olahraga dan 40 atlet tidak bisa diikutsertakan.
Sementara pada PON sebelumnya di Bandung – Jawa Barat provinsi ini berperan di 47 cabor dengan perolehan 16 emas, 17 perak, 33 perunggu dan berada di posisi 9.
Ia meminta, kedepan para pemerhati olahraga juga semakin gencar melakukan kritik, agar sama-sama mendapatkan solusi, karena pembinaan olahraga menuju prestasi dan menjadi juara merupakan sebuah proses panjang.
“Karena ini bukan merupakan pekerjaan yang gampang, makanya KONI Sumut memang harus terbuka menerima kritik dan masukan siapa saja, termasuk juga dari Pengprov-Pengprov olahraga yang selama ini kami nilai juga sangat luar biasa perjuangan dan pengorbanannya dalam mencetak atlet berprestasi,” ucap Agung.
Sebelumnya kritik tajam dari sejumlah kalangan kepada pengurus KONI Sumut muncul paska PON 2021 lalu. Organisasi induk cabang olahraga ini dinilai gagal mencetak atlet berprestasi dan membawa harus nama Sumut.
Kritik juga ramai di media sosial seperti facebook maupun twitter, salah satunya dari cuitan Ahmad Mulyadi.
Mantan Humas KONI Sumut di era lalu ini dalam postingannya mengatakan, PON XX/2021 Papua berakhir. Sepanjang sejarah olahraga inilah prestasi terjelek Sumut berada di urutan 13. Ia juga menuliskan banyak desakan agar para pengurus KONI Sumut mundur efek dari kegagalan itu.
Wakil Ketua Komisi E DPRD Sumut, Hendra Cipta juga meminta Gubernur Sumut Edy Rahmayadi melakukan evaluasi terhadap kinerja pengurus KONI Sumut, akibat prestasi atlet di PON yang dinilai gagal.
“Komisi E prihatin dengan prestasi olahraga Sumut yang melorot dari PON sebelumnya, ujar Politisi PAN ini.
Dia memprediksi kegagalan akan berpengaruh terhadap persiapan Sumut menuju PON 2024 nanti jika tidak ada evaluasi terhadap pengurus KONI.
“Persiapan menuju PON 2024 di mana Sumut menjadi salah satu tuan rumah tidak lama lagi, jadi kita minta gubernur segera melakukan evaluasi tidak hanya kepada jajaran pengurus namun juga program pembinaan,” ucapnya.(LMC/Irma Yuni)

