
Medan, 28/8 (LintasMedan) – Pelaku pembawa bom ke Gereja Katolik Stasi Santo Yosep, IAH, 17, merupakan anak seorang pengacara di Medan. Ayahnya MH sedangkan ibunya AB Boru Purba bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Puskesmas.
Bungsu dari tiga bersaudara ini merupakan pribadi tertutup dan pendiam serta jarang bergaul di lingkungan tempat tinggalnya.
“Anaknya tertutup dan tidak bergaul dengan tetangga. Bertegur sapapun jarang,” kata J boru Sagala, tetangga pelaku, Minggu.
Menurut warga keluarga itu memang terkesan tertutup. “Paling hanya ibunya si boru Purba saja yang mau ngomong sama warga sini. Ayahnya juga jarang terlihat kami bicara sama warga,” ujarnya.
Siagian, tetangga sebelah rumah pelaku juga memaparkan bahwa ia baru tamat dari salah satu SMA Negeri di Medan.
Namun, Siagian mengaku tidak begitu mengenal pelaku. Karena remaja itu tertutup dan kurang bergaul.
“Saya tahu ayahnya pengacara dan ibunya PNS di Puskesmas dan dia memiliki seorang kakak laki-laki dan seorang perempuan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Lingkungan di kawasan Tanjung Sari, Medan Selayang, Y, membenarkan keluarga IAH merupakan warga yang telah lama tinggal di lingkungan itu.
“Mereka orang lama. Sudah sekitar 20 tahun tinggal di sini. Tapi tidak bergaul,” ucapnya.
Sedangkan menurut Y kedua orang tua korban sudah dibawa ke kantor polisi.
“Tadi sudah dibawa mereka sama Polisi. Tapi kita tidak tahu dibawa kemana. Entah ke Polda atau ke Polres,” ujarnya.
Seperti diketahui, pelaku berupaya meledakkan bom di rumah ibadah Santo Yosep, Minggu pagi dan menyerang pemuka agama Albert S. Pandingan dengan sebilah pisau saat akan berkhotbah di depan mimbar. (LMC/int)
