
Madina, 23/8 (LintasMedan) – Banyak muncul cerita miris jika menyingkap kegiatan tambang liar di Kecamatan Batang Natal. Tidak tegasnya Forkopimda maupun penegak hukum dalam mengambil sikap, pelaku tambang semakin merajalela menunjukkan power.
Kalangan masyarakat menuding ada orang kuat di belakang kegiatan itu, ada juga yang menilai ketidak seriusan Pemkab Madina karena menilai waktu yang tidak tepat mengingat saat ini suasana jelang Pilkada.
Pada 28 April lalu, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Mandailing Natal telah membahas kegiatan pertambangan emas Liar di DAS Wilayah Kecamatan Batang Natal dan Lingga Bayu. Ketika itu belum ada keputusan hasil rapat dan rencana akan dilanjutkan pembahasan usai lebaran. Namun hingga saat ini belum juga ada informasi kelanjutannya.
Lingkungan sudah semakin rusak. Direktur Walhi Sumut Dana Tarigan sebut sudah berdampak terhadap lingkungan. Sungai – sungai akan tertimbun lumpur dan nantinya akan meluap mengakibatkan banjir.
Semula kegiatan tambang dilakukan oleh masyarakat setempat secara sederhana dan belum mengancam kelestarian lingkungan. Belakangan semakin tidak karu – karuan karena sudah menggunakan banyak alat berat.
Ketua DPRD Madina Erwin Efendi kemarin menyebutkan sudah sebanyak 131 excavator ada di lokasi tambang. Banyaknya alat berat sudah dapat dipastikan merusak lingkungan dan ekosistem.
Sedihnya sekarang yang diuntungkan bukan lagi masyarakat sekitar. Bukan mereka yang menikmati. Mereka kebanyakan penonton dan pekerja pada para pemilik modal.
Erwin sudah berkali – kali mengajak semua pihak harus bertindak arif dan bijaksana. Meminta semua pihak membuka mata, mengesampingkan kepentingan lain.
Tidak adanya keseriusan Pemerintah Kabupaten Madina dan penegak hukum dalam menyikapi persoalan tambang, muncul dugaan karena sangat menggiurkan.
Salah seorang tokoh masyarakat Madina As Imran Khaitamy Daulay berasumsi kegiatan tambang tersebut beromset ratusan juta perhari, menakjubkan.
Media – media sudah berkali – kali mengekspos tambang liar tersebut namun hingga kini tidak ada respon yang positif, kegiatan tambang masih terus beroperasi.
Air sungai yang dulu jernih kini keruh berlumpur. Masyarakat sudah sangat dirugikan. (LMC-04)
