Ilustrasi
Brussel, 20/10 (LintasMedan) – Jutaan orang di Eropa terancam kedinginan karena tidak bisa menggunakan pemanas di rumahnya, akibat bahan bakar langka.
Kelangkaan bahan bakar di Eropa, kata Komisaris Tenaga Kerja Uni Eropa, Nicolas Schmit sekaligus berdampak kepada meningkatnya kemiskinan energi saat musim dingin mendatang, akibat harga uang naik drastis.
“Jutaan orang di Eropa tidak bisa menggunakan pemanas di rumahnya secara layak, angka ini juga bakal terus bertambah,” katanya kepada kantor berita DPA Jerman, Rabu (20/10).
Meski demikian, Schmit mengatakan Komisi Eropa bisa membantu negara Uni Eropa membatasi dampak dari kenaikan harga energi tersebut terhadap masyarakat, namun tergantung masing-masing negara dalam mengambil tindakan.
Sebuah rumah tangga masuk kategori miskin bahan bakar dan energi jika anggota keluarga tidak mampu untuk memanaskan rumah mereka dengan biaya yang wajar saat musim dingin tiba, demikian dikutip dari laman DW Indonesia, Rabu (20/10).
Konfederasi Serikat Tenaga Kerja Eropa bulan September lalu memperingatkan, lebih dari 2,7 juta orang di Eropa tidak mampu untuk menghangatkan rumah mereka secara layak, meskipun mereka memiliki pekerjaan.
Pemerintah Jerman pekan lalu memangkas sepertiga tarif pajak untuk sumber energi terbarukan. Retribusi tersebut menjadi bagian beban sekitar seperlima tagihan listrik konsumen Jerman.
Pemerintah Prancis menawarkan Rp 1,6 juta kepada rumah tangga berpenghasilan rendah untuk subsidi biaya tambahan untuk pemanasan rumah.
Dampak kenaikan harga energi globalHarga gas alam dan batu bara di pasar global, dalam beberapa minggu belakangan mencapai rekor tertingginya, dan harga minyak bumi melambung hingga lebih dari Rp 1,1 juta per barelnya.
Kenaikan harga tersebut dipicu pemulihan perekonomian dari pandemi COVID-19 yang menyebabkan permintaan produksi listrik untuk produk manufaktur meningkat, sehingga terjadi kekurangan pasokan secara global.
Sejumlah politisi menyalahkan Rusia, yang memasok sekitar 50% dari impor gas alam Uni Eropa.
Suplai gas Rusia menurun selama pandemi, meskipun saat ini pasokian sudah kembali normal, namun tidak dapat memenuhi permintaan tambahan.
Terdapat spekulasi bahwa Moskow sengaja menahan pengiriman tambahan guna menekan Jerman agar meresmikan penggunaan pipa gas Nord Stream 2 melalui Laut Baltik, yang selesai bulan lalu.
Pembangunan jaringan pipa gas tersebut dikritik, karena diprediksi akan membuat Eropa menjadi tergantung pada pasokan gas Rusia.
Sebelumnya Uni Eropa meyakini, kenaikan harga energi hanya sementara dan akan pulih saat musim semi.(LMC/net)
