
Medan, 31/1 (LintasMedan) – Anggota Komisi IV DPRD Kota Medan Hendra DS meminta pemerintah kota (Pemko) setempat menunda proyek revitalisasi jembatan layang atau skybridge di depan Stasiun Besar Kereta Api Medan.
“Saya minta revitalisasi skybridge ditunda dulu, karena itu bukan prioritas. MoU-nya antara PT Kereta Api Indonesia dengan Pemko Medan juga belum jelas,” katanya, di Medan, Minggu (31/1
Diakuinya, keberadaan skybridge yang mengintegrasikan Lapangan Merdeka Medan dengan Stasiun Besar Kereta Api tersebut memang dibutuhkan untuk memberikan kenyamanan dan keamanan bagi para penumpang kereta api.
Namun, lanjutnya, merevitalisasi jembatan layang di tengah situasi pandemi COVID-19 yang sudah berlangsung selama hampir satu tahun terakhir bukan suatu kebijakan prioritas meski proyek itu
Sebab, kata dia, masih banyak lagi program yang lebih prioritas dibutuhkan oleh masyarakat yang terdampak COVID-19.
Selain itu, menurut Hendra, jika proyek revitalisasi skybridge selesai dikerjakan diperkirakan fungsinya tidak maksimal karena selama masa pandemi COVID-19 jumlah penumpang kereta api mengalami penurunan cukup tajam.
Ia menambahkan, di tengah keterbatasan anggaran saat ini masih banyak lagi program yang lebih prioritas dibutuhkan, seperti meringankan beban ekonomi masyarakat yang terdampak COVID-19, bedah rumah dan subsidi pemasangan sambungan air bersih.
“Dalam kondisi sulit seperti saat ini, jangan ada uang negara yang dialokasikan tidak tepat sasaran. Pastikan setiap pembangunan memang pembangunan yang bermanfaat secara langsung, bukan pembangunan yang mubazir,” tuturnya.
Terbengkalai
Sebagaimana diketahui, proyek skybridge di depan Stasiun Kereta Api Medan sudah lebih dari lima tahun terbengkalai.
Kepala Dinas Perumahan Kawasan Pemukiman dan Penataan Ruang (PKP2R) Medan Benny Iskandar mengatakan, perbaikan skybridge tersebut akan dilanjukan tahun 2021.
Dinas PKP2R Medan telah mengalokasikan anggaran untuk perbaikan skybridge yang saat ini sudah dalam kondisi memperihatinkan akibat sejumlah fasilitasnya tidak dapat difungsikan, seperti eskalator, pengatur suhu dalam ruang (AC) dan dinding kaca.
“Banyak yang rusak, kita ubah konsepnya dengan model tanpa AC, terbuka, tanpa eskalator. Bangunan jembatan akan berkonsep terbuka dan tidak menggunakan kaca lagi,” paparnya.
Apabila pakai eskalator dan AC, kata Benny, biayanya relatif besar dan harus ditopang lagi dengan biaya perawatan rutin. (LMC-03)
